Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan

Tampilkan postingan dengan label misteri. Tampilkan semua postingan

Tidur

"Hoooaaaaammm!"

Merlin menguap panjang sambil menggeliatkan badannya yang terasa kaku. Matanya masih terasa berat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggantung di pelupuk matanya. Tubuhnya masih terasa lelah usai menghabiskan malamnya merayakan pesta sweetseventeen-nya.

Gadis yang duduk di kelas 2 SMA Swasta di salah satu kota Garut tersebut merupakan anak semata wayang di keluarga tersebut sehingga orang tuanya sangat memanjakannya. Tak heran pesta ulang tahunnya sangat meriah dan dilakukan sampai lewat tengah malam.

Sekali lagi Merlin menggeliat sebelum kemudian duduk bersandar pada tembok. Tangannya menjuntai dan ujung jemarinya menyentuh lantai keramik yang dingin. Seperti obat mujarab, seketika rasa kantuknya menghilang. Kedua matanya terbuka memandangi lantai, kemudian beralih ke jendela kaca. Sejenak dia memandangi cahaya mentari pagi yang menembus ke dalam melewati kaca, membentuk bias sinar yang indah. Di luar sana sepasang burung kecil berkejaran di ranting pohon jambu yang berdiri di pinggiran sungai kecil di balik pagar rumahnya. Pandangannya kembali pada keramik lantai tempatnya duduk.

Keningnya berkerut.

"Lho?" Merlin berseru pendek.

Kepalanya celingukan kesana kemari seperti orang yang sedang mencari sesuatu.

"Kenapa aku tidur di luar kamar?"

Memang benar saat itu dia terbangun dengan posisi duduk bersandar di tembok di depan pintu kamarnya.

"Seingatku semalam aku berbaring di tempat tidur. Sejak kapan aku punya penyakit sleepwalking?"

Merlin mencoba mengingat apa saja yang terjadi semalam. Namun dia sangat yakin semalam setelah berpamitan pada ibunya yang sedang merapikan kado, dia pergi ke kamar dan langsung berbaring. Setelah itu dia tak ingat apapun lagi. Sejenak kepalanya menoleh ke dalam kamar, nampak selimutnya terlipat rapi di atas tempat tidurnya.

"Memangnya aku mabuk apa sampai nggak sadar tidur dimana. Tapi kalau memang aku tidur di kasur kenapa juga selimutnya masih rapi?" Merlin memijit keningnya sambil kembali mencoba mengingat yang terjadi semalam.

"Sayang! Kamu sudah bangun?" Suara seorang wanita dari lantai bawah menyadarkan Merlin dari lamunannya.

"Ya, bu." Jawab Merlin. Dengan sedikit bermalasan dia segera bangkit dan turun  menemui ibunya.

"Gitu donk. Walaupun ini hari minggu tapi nggak ada salahnya bangun pagi." Ujar ibunya ketika melihat Merlin berjalan menuruni anak tangga.

Di rumah itu mereka hanya tinggal berdua karena orang tuanya berpisah saat dia masih kecil. Ibunya sendiri bekerja mengurusi sebuah toko kelontong milik keluarga. Usai mencuci mukanya Merlin segera mengambil sarapan yang sudah disiapkan ibunya sedari tadi. Segelas susu hangat berhasil membuat Merlin melupakan apa yang terjadi pagi itu.

**

"Sayang, aku ngantuk. Udah dulu ya." Merlin menguap untuk kesekian kalinya. Matanya melirik pada jarum jam yang menunjukkan pukul 10 malam.

"Tapi aku masih kangen kamu. Sepuluh menit lagi aja." Terdengar suara seorang lelaki dari telepon genggam Merlin.

"Besok kan ketemu lagi di sekolah sayang. Kalau aku tidur terlalu malam nanti jerawatan. Memangnya kamu mau punya pacar jelek jerawatan?" Merlin merajuk.

Digosoknya matanya yang semakin sayu.

"Humm... Yaudah deh, kalau gitu met bobo ya sayang. Good Night. Love you. Sampai ketemu besok." Lelaki di telepon akhirnya mengalah.

"Nite, sayang. Love you too." Merlin segera menutup telepon.

Tak menunggu lama matanya segera menutup dan dia pun tertidur.

Cahaya matahari terasa panas membakar kulit. Merlin yang saat itu baru saja pulang sekolah berjalan menepi menuju sebuah pohon yang rindang. Dibawah sana angin terasa sangat sejuk.

Selagi menikmati segarnya angin yang berhembus pandangannya membentur seekor anak kucing yang berdiri di pinggir trotoar. Kedua mata bulatnya nampak memandangi Merlin. Namun tidak lama kemudian dengan tertatih dia berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Ketika diperhatikan lagi nampak kaki kanan sebelah depannya terluka dan berdarah. Karena merasa iba, Merlin beranjak dari tempatnya berdiri bermaksud menghampiri anak kucing tersebut. Namun tiba-tiba tanah yang dipijaknya terasa berguncang. Dengan cepat cuaca berubah menjadi gelap. Angin yang bertiup lembut kini terasa berhembus kencang.

Blaarr!

Sebuah ledakan melemparkan tubuh Merlin. Ketika dilihatnya ke belakang pucatlah wajahnya. Pohon tempatnya berteduh kini hancur terbelah dua setelah tersambar petir. Selagi berusaha melawan rasa paniknya, sebuah retakan besar menguak tepat di tanah tempatnya berdiri. Merlin berusaha  melompat mundur namun retakan yang membesar dengan cepat tak bisa dihindarinya. Tak ayal tubuhnya langsung terperosok dan jatuh berguling-guling.
"Merlin. Sayang. Hey! Merlin!"

Seseorang mengguncangkan tubuhnya. Merlin terbangun dan hampir melompat dari tidurnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Di hadapannya duduk ibunya memandanginya dengan penuh khawatir. 

"Kamu mimpi buruk?" Tanya ibunya sambil menyeka keringat di pelipis anaknya itu.

Merlin hanya menganguk pelan. Tangannya mengusap rambutnya yang lengket dan berantakan.

"Lagian kenapa kamu malah tidur disini? Selain kamu bisa digigit nyamuk, disini kan dingin." Ucapan ibunya membuat Merlin langsung mendongak menatap ibunya keheranan.

Pandangannya kemudian beredar ke sekeliling ruangan yang kemudian membuatnya keningnya mengernyit. Baru disadarinya jika saat itu dia berada di ruang tamu dan tidur di kursi sofa, bukannya berada di kamarnya sendiri.

"Tadi ibu mau ngambil air wudhu, nggak sengaja lihat kamu tidur disini. Kenapa kamu nggak tidur di kamar?" Tanya ibunya.

"Wudhu? Shalat apa bu?" Bukannya segera menjawab pertanyaan ibunya Merlin malah balik bertanya.

"Shalat subuh, sayang. Sekarang jam setengah lima pagi. Shalat berjamaah, yuk?" Ajak ibunya sambil berdiri.

"Aku shalat sendiri aja, bu. Sekarang aku mau ke kamar dulu." Ujar Merlin sambil bangkit dan pergi menuju kamarnya di lantai atas. Ibunya hanya bisa memandanginya sambil menggelengkan kepala.

Hingga mentari pagi menampakkan diri, Merlin tak bisa lagi memejamkan mata. Pikirannya disibukkan dengan seribu pertanyaan mengenai hubungan antara mimpi aneh yang dialaminya, yang terasa dejavu baginya, dengan kali keduanya dia berpindah tempat tidur. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dan dia yakin hal itu bukanlah suatu kebetulan. 


**

"Bu, nanti aku tidur sama ibu ya." Merlin memeluk ibunya.

"Koq tumben anak gadis ibu ini manja. Katanya udah gede, udah dewasa. Masa tidurnya masih dikelonin." Ibunya menggoda. Merlin cemberut membuat ibunya tertawa kecil.

Jarum jam beranjak meninggalkan angka satu di jam dinding kamar ibunya. Merlin masih belum bisa memejamkan matanya. Sementara ibunya sejak tiga jam yang lalu sudah tertidur pulas di sebelahnya. Rasa tak tenang tetap menghantui pikirannya. Ketakutan atas apa yang akan terjadi esok hari saat dia terbangun dari tidurnya. Merlin segera memeluk tubuh ibunya. Ditariknya selimut sehingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ibunya yang terbangun segera memeluk anak semata wayangnya. Pelukan ibunya sedikit menghilangkan kecemasan hati Merlin sehingga tanpa disadari perlahan kantuk datang dan diapun tertidur pulas.

"Ihh, ibu. Jangan dulu dibuka tirai jendelanya. Silau tau. Merlin masih ngantuk". Merlin menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.

Namun setelah menyadari ibunya sudah tak ada di kamar dengan enggan dia bangun dari tempat tidurnya. Matanya menyipit melihat cahaya mentari pagi yang menyilaukan. Dengan bermalasan dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar ketika tiba-tiba didengarnya suara keras bergemuruh dari luar rumah. Ketika Merlin melihat ke luar jendela terkejutlah dia. Di kejauhan nampak air bah yang besar bergulung dengan cepat menuju ke arahnya. Menelan rumah-rumah dan segala sesuatu yang dilewatinya. Dengan lutut gemetar Merlin bergegas lari keluar dari kamar dan mendapati ibunya tengah duduk di kursi ruang tamu sembari membaca sebuah majalah.

"Bu... Ibu! Ayo kita lari, bu! Aa.. Ada air bah menuju kemari!" Ujar Merlin terbata-bata.

Ibunya hanya tersenyum tenang. Mulutnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu namun Merlin tak sempat mendengarnya karena disaat yang bersamaan air bah menerjang rumah, menghancurkan jendela kaca dan dinding lalu menghempaskan tubuh Merlin serta ibunya!

Air bah menghanyutkan tubuh Merlin kesana kemari. Tangan kecilnya berusaha menggapai. Sementara dia mencoba mengambil nafas, matanya tak mampu menemukan ibunya. Air terus menyeret tubuhnya, kadang menenggelamkan tubuhnya. Merlin berusaha menjaga agar kepalanya tetap berada di atas air ketika sebatang pohon tumbang yang mengambang menghantam kepalanya dengan keras.

Gelap.

Udara dingin menusuk kulit membangunkan Merlin. Tubuhnya terasa beku dan kaku ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Jelas saja, sekujur tubuhnya saat itu basah kuyup akibat setengah badannya terendam dalam air sungai.

"Sungai?"

Merlin terbelalak. Sontak dia memalingkan kepalanya ke arah pinggiran atas sungai dimana rumahnya berada. Disana, dilihatnya rumahnya masih berdiri utuh. Pandangannya melihat ke sekeliling, semua masih sama seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda kerusakan apapun.

"Jadi, lagi-lagi aku bermimpi?"

Merlin termenung sesaat sebelum kemudian mencoba bangkit berdiri. Saat itu baru disadarinya jika leher belakangnya terasa berdenyut sakit. Merlin benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi. Mimpi semalam terasa sangat nyata. Namun kenyataannya semuanya masih baik-baik saja. Apakah penyakit sleepwalking ini semakin parah?, batin Merlin. Tanpa disadari air mata menggenang di sudut matanya. Sambil menahan isak tangis dia mencoba merangkak naik ke pinggiran sungai.

"Ya Allah, sayang! Apa yang terjadi sama kamu?"

Sebuah suara terdengar dari atas pinggiran sungai. Merlin menengadah. Dilihatnya ibunya setengah berlari menghampirinya, langsung merangkul anak semata wayangnya itu. Tangis Merlin pun pecah di pelukan ibunya.

Hangat pelukan ibunya berhasil menenangkan Merlin. Namun disaat yang sama dia tahu bahwa mimpi-mimpi buruk itu akan terus menghantuinya untuk waktu yang lama. Dia ingin mengatakan hal itu pada ibunya, namun urung dilakukannya dan hanya memeluk ibunya semakin erat.


**


"Bagaimana, dok. Apakah ada perkembangan signifikan?"

"Maaf, bu. Sejauh ini belum ada perubahan berarti. Namun bisa saya pastikan kondisinya tetap stabil. Tetaplah berdoa di sebelahnya, bu. Saya pamit dulu."

Dokter itu pergi meninggalkan si ibu yang terduduk lesu. Matanya yang terlihat selalu sembab memandang nanar pada sosok gadis yang terbaring di tempat tidur. Dengan tangan kurusnya diusapnya pipi gadis tersebut dengan penuh kasih sayang.

Sudah berbulan-bulan lamanya dia tertidur seperti itu. Semuanya berawal dari kecelakaan yang terjadi saat dia pulang sekolah bersama teman prianya. Sepeda motor mereka kendarai diketahui kehilangan kendali dan menabrak trotoar jalan hingga terpental dan menabrak sebuah pohon besar. Teman prianya meninggal di tempat sedangkan dia berhasil bertahan namun dengan kondisi seperti sekarang.

Si ibu tersadar dari lamunannya ketika dilihatnya ujung jemari anaknya sedikit bergerak. Kelopak matanya bergerak seperti hendak tersadar. Namun ia tahu itu tidak akan terjadi. Sambil menyeka air matanya yang tak terasa membasahi pipinya, dia mengambil kitab suci Al-Quran yang diletakkannya di atas meja lalu duduk disamping tubuh anaknya. Tak lama bibirnya mulai bergerak membaca salah satu ayat yang ada di dalamnya, seperti yang biasa ia lakukan selama ini.





(End)






Posted by
Ikkok Dcock

More

Sang Vampire

Nyonya Hellen dikenal sebagai orang paling kaya di desanya. Dia memiliki tanah dan perkebunan yang luas. Selain itu dia juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Oleh karena itu warga desapun sangat menghormatinya. Nyonya Hellen tinggal berdua bersama Mona, anak gadisnya yang kini beranjak dewasa setelah suaminya meninggal dua tahun silam karena penyakit yang dideritanya. Merasa bahwa dirinya semakin tua maka nyonya Hellen menyuruh anak gadisnya agar secepatnya segera mencari pendamping hidup dengan alasan agar kelak ada orang yang menjaganya. Tentu saja hal itu bukan hal yang mudah bagi Mona karena kebanyakan para pemuda di desanya tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya yang merupakan anak gadis dari seorang yang sangat terpandang di desanya.

Suatu hari Mona ditemani oleh seorang pelayannya bermaksud pergi ke pasar di kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Biasanya dia selalu bepergian bersama ibunya namun hari itu ibunya harus pergi ke perkebunan untuk pengecekan rutin sehingga tak bisa ikut menemaninya. Tak ingin pulang terlalu malam maka dini hari sekali Mona sudah berangkat dengan mengendarai kereta kuda. Cuaca masih sedikit berkabut bekas hujan semalam ketika kereta kuda melewati sebuah hutan kecil yang dipenuhi pepohonan tinggi. Di dalam kereta Mona sedang asyik berbincang dengan pelayannya ketika tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik keras diikuti laju kereta kuda yang berhenti secara mendadak, membuat Mona dan pelayannya hampir terjerembab ke depan. Tak lama terdengar suara gaduh di luar. Beberapa orang berteriak keras yang kemudian disusul suara jeritan keras seorang lelaki. Mona dan pelayannya masih dilanda kepanikan ketika tiba-tiba pintu kereta kuda di buka paksa oleh seseorang.

Nampak lima orang lelaki bertubuh kekar berpenutup muka dengan masing-masing tangan menggenggam senjata tajam. Salah seorang pria yang bertubuh paling besar segera melompat ke dalam kereta lalu dengan kasar memaksa mereka keluar. Sesampainya di luar Mona mengeluarkan jeritan tertahan ketika tatapannya membentur tubuh kusir kereta kuda yang tergeletak di tanah. Belum hilang keterkejutannya jeritan pendek lain terdengar dari belakang kereta. Pelayannya tersungkur berlumuran darah setelah perampok tersebut menyabetkan golok yang dipegangnya. Mona jatuh terduduk di tanah. Wajahnya pucat pasi ketika perampok yang telah membunuh pelayannya itu mendatanginya dengan golok yang masih berlumuran darah. Ketika jarak mereka hanya terpisah satu langkah tanpa banyak bicara si perampok segera menyabetkan goloknya pada Mona yang duduk ketakutan.

Hanya beberapa centimeter lagi golok itu dari leher Mona ketika sebuah teriakan menggema di tempat itu. Tak lama kemudian suara ribut terdengar dari bagian belakang kereta. Si perampok segera menghentikan niatnya dan berpaling ke arah datangnya suara. Nampak seorang pria yang datang dengan menunggangi seekor kuda coklat kini sudah dikelilingi oleh kawanannya. Orang itu pun segera bergegas mendatangi kawanannya dan meninggalkan Mona. Terdengar beberapa kali suara bentakan yang kemudian disusul suara orang yang sedang berkelahi. Kadang terdengar suara dentingan benda tajam beradu dan juga suara jeritan-jeritan keras. Sedikitpun Mona tak berani melihat apa yang terjadi. Tangannya menutupi kedua telinganya sedangkan tangisnya tak juga mau berhenti. Tak lama kemudian suasana di tempat itu kembali menjadi sepi.

Mona terlonjak kaget ketika tiba-tiba sebuah tangan menyentuh kedua bahunya. Sambil menjerit ketakutan kedua tangannya sibuk menepis tangan orang itu. Namun usahanya segera berhenti setelah menyadari bahwa orang yang ada dihadapannya tersebut ternyata adalah seorang pria tampan berperawakan cukup tinggi. Tak ada penutup wajah ataupun golok di tangannya. Bahkan pakaiannya terlihat bagus dan rapi. Orang itu tersenyum dan menawarkan diri untuk membantu Mona berdiri. Dengan susah payah Mona bangkit lalu kemudian mengusap wajahnya yang masih berlinang air mata. Pria tampan yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Harrad tersebut berkata agar Mona tak perlu merasa takut karena dia berhasil mengalahkan para perampok yang kini sudah melarikan diri. Dia kemudian menanyakan siapa Mona dan kenapa dia ada disana. Dengan tersendat Mona pun menceritakan semuanya. Pria itu sendiri bercerita bahwa dia adalah seorang pengembara dan ketika melewati tempat itu secara tak sengaja bertemu para perampok yang hampir mencelakakan Mona. Demi keselamatan Mona diapun menawarkan diri untuk mengantarkan Mona kembali ke rumah. Mau tak mau Mona pun menerima tawaran orang tersebut. Dengan mengendarai kuda coklat milik Harrad mereka pun akhirnya kembali ke rumah Mona.

Nyonya Hellen sangat terkejut ketika melihat Mona sudah kembali dengan pakaian lusuh dan ditemani seorang pria asing bukan bersama pelayannya. Namun setelah mendengar cerita dari mereka berdua nyonya Hellen pun berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Harrad. Dia pun menawarkan imbalan uang yang sangat besar pada Harrad demi untuk membalas jasanya. Namun Harrad menolaknya dengan halus dan mengatakan bahwa dia menolong Mona dengan tulus dan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Mendengar itu nyonya Hellen dibuat terkesima. baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang rela membahayakan nyawanya demi menolong orang lain tanpa mengharap imbalan. Nyonya Hellen masih dibuat keheranan oleh sikap Harrad ketika matanya menangkap sesuatu. Dia melihat bagaimana anak gadisnya tak bisa melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Terkadang Harrad pun mencuri pandang pada Mona. Maka nyonya Hellen pun menawarkan hal yang akhirnya tak bisa ditolak oleh Harrad, bahkan oleh Mona sekalipun. Seminggu kemudian merekapun menikah.

Lima bulan berlalu setelah Mona dan Harrad melangsungkan pernikahan. Nyonya Hellen sangat terkesan karena Harrad ternyata seorang yang rajin dan juga pintar. Dia sangat cekatan dalam membantu pekerjaan nyonya Hellen mengurus perkebunan. Tak jarang dia memberikan masukan yang sangat membantu saat nyonya Hellen menemukan kesulitan terhadap suatu masalah. Membuat nyonya Hellen semakin mempercayai menantunya tersebut. Sore itu nyonya Hellen sedang menikmati secangkir teh ditemani beberapa potong kue kecil di teras depan rumah. Sejak pagi Mona dan Harrad tak ada di rumah karena mereka pergi ke kota untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Langit cerah segera berubah menjadi jingga ketika nampak sebuah gerobak kecil yang ditarik seekor kuda memasuki jalanan menuju halaman rumahnya. Nyonya Hellen segera bangkit berdiri memperhatikan beberapa orang yang duduk diatas gerobak yang dikenalnya sebagai penduduk desa. Sesampainya di depan rumah gerobak berhenti. Seorang lelaki tua terpogoh-pogoh mendatanginya. Belum sempat dia berkata apapun nyonya Hellen sudah terlebih dahulu beranjak menuju gerobak tersebut. Beberapa orang yang baru saja turun menundukkan kepalanya membuat perasaan nyonya Hellen tiba-tiba menjadi tak menentu. Sesampainya di pinggir gerobak nyonya Hellen bisa melihat jelas sesosok tubuh tergeletak dengan ditutupi sebuah kain lusuh. Dengan tangan gemetar nyonya Hellen menyibakkan kain tersebut.

Tangannya bergerak menutup mulutnya berusahan menahan agar tak menjerit sedangkan kakinya tiba-tiba terasa lemas membuat beberapa orang dengan segera menahan tubuhnya agar tak jatuh. Di lantai gerobak nampak Harrad tergeletak dengan keadaan cukup mengenaskan. Dia masih bernafas namun tak sadarkan diri. Pakaiannya lusuh dan sobek dibeberapa tempat. Sedangkan tubuhnya dipenuhi luka-luka seperti bekas cakaran dan penuh lebam. Penduduk desapun segera membawanya ke dalam rumah. Dari mereka nyonya Hellen mengetahui jika Harrad ditemukan di tepi hutan sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan Mona kini tak diketahui nasib ataupun keberadaannya. Malam harinya barulah Harrad tersadar. Dengan susah payah dia berusaha bangkit berdiri walaupun nyonya Hellen sudah mencegahnya. Dari mulutnya dia terus meracau bahwa dia harus segera pergi menyelamatkan Mona yang telah diculik. Ketika nyonya Hellen menanyakan siapa yang telah menyerangnya dan menculik Mona, jawaban Harrad membuatnya terkesiap tak percaya. Vampire!

Kabarpun menyebar dengan cepat hanya dalam semalam. Rumor mengenai vampire penghuni hutan yang suka menculik wanitapun segera menjadi buah bibir dikalangan penduduk menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran jika mereka harus melewati hutan tersebut untuk pergi ke kota. Keesokan harinya dengan tubuh masih dibalut perban Harrad berpamitan pada nyonya Hellen untuk pergi mencari Mona. Nyonya Hellen sudah bersaha keras mencegahnya namun dia tetap bersikeras untuk pergi. Pada akhirnya nyonya Hellen hanya bisa melepas kepergian Harrad dengan air mata yang terus membasahi garis-garis tua di wajahnya. Seminggu. Sebulan. Setahun. Waktu berlalu dengan cepat. Nyonya Hellen kini terbaring di kamarnya. Tubuhnya kini kurus kering. Sejak kepergian Harrad tak pernah sekalipun dia mendengar lagi kabar darinya. Bahkan dia sudah tidak yakin apakah Mona dan Harrad masih hidup atau tidak. Kehilangan dua orang yang sangat disayanginya membuatnya menjadi lemah dan sakit-sakitan.

Sementara itu jauh di dalam hutan, terdapat sebuah gubuk tua berukuran cukup besar. Di dalamnya dibalik kegelapan nampak beberapa orang pria sedang bersantai. Empat orang bertubuh kekar sedang duduk melingkar sambil bermain kartu. Seorang yang bertubuh kurus terlihat sedang berbaring sambil memainkan sebuah pisau kecil sedangkan disebelahnya seorang bertubuh tegap sedang asyik menghisap pipa cangklong. Asap yang dihembuskannya memenuhi ruangan tersebut. Seorang lainnya yang berbadan tinggi besar duduk berjaga di dekat pintu sambil menenggak minuman dari sebuah botol kecil. Di pojok kamar hampir tak terlihat nampak sesosok lain yang duduk meringkuk di dalam sebuah kerangkeng besi. Jika diperhatikan lebih seksama sosok itu adalah seorang wanita dengan tubuh kurus dan tak terawat. Keadaannya sangat menyedihkan namun memiliki sorot matanya yang nyalang penuh kebencian yang tergambar jelas dari balik rambutnya yang riap-riapan.

Pria kurus yang sedang berbaring kemudian bangkit dan berjongkok di depan kerangkeng besi. Senyum lebar menyeruak dari bibirnya yang dihiasi kumis tipis melintang. Dipandanginya wanita yang selama ini diperlakukan sebagai budak oleh ketujuh orang yang ada di ruangan tersebut. Seperti melihat sesuatu yang menjijikkan wanita dalam kerangkeng dengan cepat meludahi wajah pria itu sambil berteriak dengan keras. Diperlakukan seperti itu si pria berkumis tipis menggembor marah. Sambil mengusap pipinya dia bangkit dan beberapa kali menendang kerangkeng besi dengan keras membuat wanita kurus itu terbanting kesana kemari. Temannya yang lain hanya tertawa menyaksikan hal itu. Pria yang sedang asyik menghisap pipa cangklong kemudian memberi kode kepada teman-temannya untuk segera berkumpul. Setelah berunding beberapa saat merekapun mengakhirinya dengan bersulang sambil tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan tangisan wanita dalam kerangkeng.

Seorang pelayan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar nyonya Hellen. Dengan sedikit ragu dia membisikkan sesuatu ke telingan nyonya Hellen yang saat itu terbaring lemah. Bagai mendapat suatu kekuatan mata sayu nyonya Hellen kini terbuka membelalak. Mulutnya bergetar. Dengan susah payah dia menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Disana seorang pemuda yang dirindukannya terlihat berdiri dengan mata berkaca-kaca. Harrad dengan cepat berjalan mendekati ranjang tempat nyonya Hellen tergolek lemas. Diciuminya tangan orang tua yang lama tak dijumpainya tersebut. Nyonya Hellen sendiri tak mampu berkata apa-apa. Dipandanginya wajah Harrad yang kini dipenuhi jambang dengan rambut berantakan tak seperti penampilannya dulu yang selalu rapi dan bagus.

Sambil menggenggam tangan nyonya Hellen, Harrad meminta maaf karena dia tak bisa membawa pulang Mona. Selama berbulan-bulan dia terus mngumpulkan informasi dan mendatangi banyak tempat demi menemukan jejak vampire yang telah menculik Mona. Namun dia merasa kesulitan karena kebanyakan orang tidak percaya kepadanya. Sampai akhirnya dia sampai di titik dimana dia merasa menyerah dan memutuskan untuk kembali. Mendengar cerita Harrad, nyonya Hellen hanya bisa menitikkan air mata. Sesungguhnya sudah lama dia merelakan kepergian Mona dan Harrad. Kini kepulangan Harrad merupakan suatu kebahagiaan tersendiri baginya. Setidaknya dia masih bisa bertemu dengan salah satu dari dua orang yang disayanginya. Harrad sendiri baginya sudah seperti anak kandungnya. Disisi lain dia merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Maka dari itu diapun memutuskan untuk memberikan seluruh harta warisannya pada Harrad. Tepat setelah menandatangani surat warisan, nyonya Hellen menghembuskan nafasnya yang terakhir diikuti oleh tangisan para pelayan.

Seminggu berlalu setelah pemakaman nyonya Hellen. Nampak Harrad berdiri bertolak pinggang di depan teras rumah. Sambil menghisap pipa cangklongnya dia menatap tajam sebuah kereta kuda yang bergerak memasuki halaman rumah. Setibanya dihadapannya kusir kereta yang bertubuh kurus dan berkumis tipis segera membungkuk memberi hormat kepadanya. Tidak lama dari belakang kereta lima orang pria bertubuh kekar berlompatan keluar. Harrad mengangkat alis. Melihat itu pria yang bertubuh tinggi besar bergegas pergi ke bagian belakang kereta. Usai membuka pintunya nampak empat orang gadis cantik turun dari dalam kereta. Si kusir segera menimpali bahwa gadis-gadis yang lainnya akan segera datang tidak lama lagi. Mendengar itu Harrad tersenyum lebar. Dia segera memberi tanda agar keempat gadis tersebut mendekat. Setelah menyuruh si kusir untuk menyiapkan pesta, sambil tertawa keras dia masuk ke dalam rumah bersama para gadis yang kemudian diikuti oleh tawa keenam orang yang lainnya.

Jauh di dalam hutan, sesosok tubuh kurus kering dengan rambut riap-riapan menutupi wajahnya nampak tergantung di sebuah dahan pohon besar. Sebuah tali tambang melilit mengikat lehernya. Angin dingin menusuk kulit berhembus menggoyangkan tubuh yang nampak tak berdaya tersebut. Seekor gagak terbang mengitari tubuh tersebut kemudian hinggap di atas kepalanya. Namun tak lama kemudian ia segera terbang menjauh sambil mengeluarkan suara keras ketika sosok yang tergantung tiba-tiba membuka matanya. Sepasang mata merah yang menyala menggidikkan.







- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Kabut di Bukit Kembar : Side Story


Seminggu sudah suasana rumah bu Marsha dan pak Wira dirundung duka setelah mereka menerima laporan bahwa anak mereka, Roy, dinyatakan hilang saat berkemah bersama teman-temannya. Sampai saat ini mereka masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa anak semata wayangnya. Setiap harinya bu Marsha menghabiskan waktu dengan melamun dan menangis, bahkan pak Wira sendiri tak mampu menghibur istrinya itu. Seperti sore itu bu Marsha sedang duduk melamun di kursi pekarangan rumah ketika telepon selulernya berdering. Pihak kepolisian menelponnya dan memberitahu bu Marsha bahwa mereka telah menemukan satu dari keenam orang yang dinyatakan hilang. Dengan tergesa-gesa sembari ditemani oleh suaminya bu Marsha segera pergi ke kantor polisi.

Benar saja disana mereka bertemu dengan Iwan yang berhasil selamat dengan kondisi menyedihkan. Mukanya pucat, pakaiannya dekil dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Bu Marsha mencoba menanyai Iwan tentang nasib Roy dan yang lainnya. Namun Iwan yang sepertinya masih mengalami shock dan trauma belum bisa berkomunikasi dengan jelas. Dia hanya mengatakan bahwa teman-temannya masih terjebak di air terjun dan membutuhkan pertolongan. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, Iwan ditemukan oleh warga sekitar sedang berjalan sendirian seperti orang linglung di kaki bukit tempat warga menambang pasir.

Hari itu juga pihak kepolisian dibantu oleh anggota SAR segera kembali ke Bukit Kembar melakukan pencarian di daerah air terjun dengan menyusuri daerah bantaran sungai. Bu Marsha dan pak Wira juga pergi kesana bersama Iwan yang sebelumnya menolak untuk beristirahat di rumah sakit. Dia tetap ingin ikut serta mencari teman-temannya yang akhirnya permintaannya tak bisa ditolak oleh mereka.

Lima jam berlalu semenjak tim SAR gabungan melakukan pencarian menyisir sungai. Bu Marsha bersama pak Wira dan Iwan sedang menunggu dengan cemas di posko kecil dekat air terjun ketika walkie talkie milik ketua tim SAR berbunyi. Salah satu anggotanya melaporkan telah menemukan satu mayat yang tersangkut pinggiran sungai dengan kondisi yang sulit dikenali. Ketua tim SAR segera menyuruhnya untuk mengevakuasi mayat tersebut ke posko.

Dengan dada berdebar bu Marsha dan pak Wira saling berpegangan tangan saat kantung mayat tiba di posko. Ketika resletingnya perlahan dibuka seketika lutut bu Marsha terasa gemetar dan lemas hingga jatuh terduduk di tanah. Walaupun wajah mayat tersebut sulit dikenali namun bu Marsha mengenal betul pakaian dan juga sepatu yang dikenakannya. Terlebih lagi di lehernya masih tergantung kalung membuatnya yakin bahwa mayat itu adalah Roy. Kedua orang tua itu hanya bisa terduduk lemas sambil berpelukan dan menangis meratapi nasib nahas yang menimpa anaknya.

Tak lama kemudian mayat yang lain menyusul ditemukan yang bisa dipastikan itu adalah Revia dan Mody. Satu jam kemudian dua mayat terakhir juga berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak keduanya menempel satu sama lain dengan sebatang besi menancap dari bagian punggung dan menembus ke tubuh mayat yang satunya. Mereka adalah Rayha dan Ikal.

Bu Marsha tak bisa berhenti menangis. Di sebelahnya pak Wira berusaha menghiburnya sedangkan Iwan duduk di sebuah kursi dengan tatapan kosong memandangi air terjun yang berderu keras. Sungguh tak disangkanya jika teman-temannya yang hilang ternyata telah menjadi mayat. Namun dia bersyukur setidaknya kini mereka telah berhasil ditemukan. Senyum kecil menyeruak dibibirnya dan air mata nampak menggenangi pelupuk matanya.

Pihak kepolisian segera bertindak cepat menyelidiki kasus kematian Roy dan teman-temannya yang diduga adalah kasus pembunuhan.  Mereka pun menyisir pinggiran air terjun untuk mencari barang bukti. Beberapa penyelam ditugaskan untuk mencari di dasar air terjun. Hari menjelang sore ketika ketua tim SAR kembali mendapat laporan dari para penyelam yang berhasil menemukan temuan yang lebih mengejutkan. Di dasar air terjun, jerjepit diantara bebatuan besar mereka menemukan satu mayat lain dengan kondisi serupa. Mendengar kabar tersebut seketika bu Marsha dan pak Wira tersentak. Setelah bertatapan sejenak perlahan pandangan mereka beralih pada kursi tempat Iwan duduk.

Dia tidak lagi terlihat disana.





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Tukang Sate

Malam itu seperti biasa bang Bokir berjalan menyusuri jalanan perkampungan menembus dinginnya malam sembari mendorong gerobak satenya. Satu-satunya benda yang masih bisa diandalkannya untuk mencari nafkah menghidupi anak istrinya. Walaupun kini tubuhnya sudah dimakan usia sehingga membuatnya rentan terkena penyakit, namun bang Bokir tidak memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup.

"Teeee.... Sateeeee!"

Suaranya terdengar beberapa kali memecah keheningan malam. Suasana terasa lenggang mungkin karena waktu yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Setibanya di dekat sebuah pohon besar tempat biasanya dia berjualan, bang Bokir segera menghentikan gerobaknya. Mengambil sebuah kursi kayu dari atas gerobak dan meletakkannya di pinggir gerobak. Selagi dia masih membereskan dagangannya seseorang datang dan segera duduk di kursi kayu yang tadi disediakannya.

"Satenya lima puluh tusuk, bang!" Sapa orang itu membuat bang Bokir sedikit terkejut dan segera memalingkan muka.

Keterkejutan bang Bokir semakin menjadi ketika dilihatnya orang yang barusan menyapanya adalah seorang gadis berambut panjang terurai. Dia mengenakan daster tipis panjang berwarna putih yang bahkan terkesan kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Hal yang semakin membuatnya gelisah adalah wajah gadis itu pucat pasi dan tanpa ekspresi sedikitpun.

"Ya Allah, baru aja mau ngelapak udah didatengin yang beginian. Alamat sial malem ini jualan." Bang Bokir menggerutu dalam hati.

"Satenya lima puluh tusuk, bang!" Gadis itu mengulang perkataannya membuat bang Bokir tersentak dari lamunannya. 

"Ya... Yakin... Li... Lima puluh, neng? Bu... Bukan lima belas?" Tanya bang Bokir dengan gemetar.

Si gadis memalingkan mukanya pada bang Bokir. Sorot matanya yang tajam membuat bang Bokir tak berani bertanya lagi. Segera disiapkannya pembakaran dan sejumlah tusuk sate yang diminta gadis itu. Sambil mengipasi satenya sesekali dia menyeka peluh yang membanjiri tubuhnya. Tak beberapa lama pesanan gadis itu pun selesai. Setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik bang Bokir pun segera menyerahkannya  pada gadis itu.

"Ini uangnya, bang." Ujar si gadis seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas.

Bang Bokir menerimanya dengan ragu. Setelah menghitungnya uang tersebut tidak langsung dimasukkan ke dalam laci gerobaknya namun malah dipandanginya dalam-dalam.

"Kenapa, bang? Kurang?" Tanya si gadis.

"Ee... Enggak koq, neng? Udah pas koq..." Bang Bokir menjawab sambil menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering seperti orang yang habis tersesat di gurun pasir.

"Abang ini kenapa sih? Koq saya perhatiin dari tingkahnya aneh banget. Emangnya ada yang aneh sama saya?" Tanya si gadis kembali.

"Itu... Anu, neng. Sa... Saya mau tanya. E... Eneng... Orang beneran kan?" Tanya bang Bokir pelan tanpa berani memandang si gadis.

"Ya ampun! Abang kira saya setan apa? Eh, bang! Saya pake baju kayak gini karena tadi udah mau tidur. Kebetulan saya lapar nah pas denger suara abang jadi cepet-cepet kesini. Ini muka aja masih pake maskeran belum sempet saya copot." Si gadis mengomel kesal.

"Ooohhh gitu... Hehehe... Maaf neng, saya kira eneng sundel bolong. Abisnya tadi dateng-dateng langsung pesen lima puluh tusuk kan kaget saya." Ujar bang Bokir cengengesan sambil segera memasukkan uang yang masih di genggamnya ke dalam laci gerobak.

"Kebetulan temen kost saya tadi pada nitip, jadi belinya banyak sekalian. Lagian kayak pernah ketemu sama sundel bolong beneran aja." Si gadis menjawab dengan kesal.

"Yaelah, si neng pasti gak bakal percaya kalo saya cerita. Minggu kemaren saya di datengin sama sundel bolong beneran. Dia makan sate seratus tusuk itu cuma bentaran doank. Saya aja sampe heran. Pas udah selesai makan, uang yang dia bayarin berubah jadi daun kering. Saya kan kaget tuh. Waktu dia berbalik, ternyata punggungnya bolong besar! Berdarah-darah! Banyak belatungnya! Ngeri pokoknya. Saya sampe lari terkencing-kencing!"

"Masa sih, bang? Aduh, saya sampai merinding gini. Ya udah deh saya langsung pulang aja. Makasih ya, bang." Si gadis segera pergi dengan cepat meninggalkan bang Bokir yang memandanginya sampai menghilang di ujung jalan.

Sementara itu dari ujung jalan yang berlawanan seorang wanita paruh baya ditemani seorang pemuda berjalan cepat dengan senter di tangan. Ketika pandangan mereka membentur bang Bokir dan gerobaknya, langkah mereka sempat terhenti. Bang Bokir yang melihat kedatangan mereka berdua tersenyum sambil membetulkan letak lap tangan di pundaknya.

"Mampir dulu, bu. Silahkan satenya." Sapa bang Bokir.

Kedua orang tersebut hanya tersenyum kecil lalu mengangguk dan segera berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan bang Bokir sendiri yang sedang asyik menata dagangannya.

"Bu, ternyata rumor itu benar!" Si pemuda berbisik hampir tak terdengar oleh ibunya.

"Tidak baik membahas hal seperti itu disini, jang. Lagipula kita harus cepat, kasihan nenekmu menunggu sendirian di rumah." Sahut wanita paruh baya itu sambil menepuk punggung anaknya.

"Tapi baru saja kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, bu. Ternyata benar apa kata orang, penjual sate yang mati tertabrak seminggu yang lalu itu sekarang jadi arwah gentayangan!" Si pemuda berkata sambil bergidik, sesekali dia menoleh ke belakang seperti takut diikuti seseorang.

"Ssstt! Lebih baik lupakan saja apa yang kamu lihat tadi. Pamali!" Ujar wanita paruh baya itu pendek sambil memberi isyarat pada pemuda itu untuk berhenti bicara.

Pemuda itu pun tak berani lagi berkata apa-apa. Keduanya semakin mempercepat langkahnya menapaki jalanan yang sunyi lenggang, diikuti oleh desir angin malam yang berhembus dingin menegakkan bulu kuduk. 





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Mangantao

Panasnya matahari yang menyengat kulit nampaknya tidak dipedulikan oleh warga sekitar yang terlihat berkerumun di pinggir sebuah danau menyaksikan proses pencarian yang sedang dilakukan oleh gabungan Tim SAR dan kepolisian. Hal ini dikarenakan sebelumnya sepasang kekasih yang sedang bermain kano (perahu kayuh kecil) dilaporkan tenggelam setelah kano yang mereka naiki terbalik. Menurut seorang saksi mata mengatakan bahwa sebelumnya mereka sudah diperingatkan agar tidak mendayung terlalu jauh ke tengah karena berbahaya, namun mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut. Sesaat setelah kano tersebut terbalik, mereka terlihat sempat berteriak meminta tolong. Namun disaat warga tiba di pinggiran danau terdekat keduanya sudah tidak terlihat lagi. Kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya, dalam setahun terakhir tercatat belasan orang tenggelam dan hilang secara misterius di danau tersebut dan tak pernah ditemukan.

Agam dan lima orang lainnya yang tergabung dalam tim penyelam sudah menaiki perahu boat yang kemudian melaju membawa mereka ke tengah danau. Di titik yang sudah ditentukan para penyelam segera masuk kedalam air dan berpencar secara berpasangan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga dengan Agam yang memang sudah terlatih secara khusus untuk menghadapi situasi seperti ini. Setelah memastikan tidak ada masalah dengan kondisi perlengkapan menyelamnya segera dia mencebur masuk ke dalam air diikuti oleh salah satu penyelam yang lain. Danau tersebut berair jernih pada permukaannya, namun jika menyelam lagi dalam kedalaman lebih dari delapan meter maka akan mulai terasa sulit untuk melihat dengan jelas. Namun hal seperti itu tidaklah menyurutkan keberanian Agam yang memang dikenal diantara teman-temannya sebagai salah seorang anggota Tim SAR yang sangat pemberani. Seperti saat terjadi bencana banjir bandang, dengan bermodalkan tali tambang yang diikatkan pada sebatang pohon dia berjuang melawan derasnya arus banjir bandang demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di salah satu atap rumah. Jika saja dia tidak cepat tanggap maka anak kecil itu sudah pasti hanyut terbawa arus.

Sambil menyalakan lampu senter di kepalanya keduanya terus mencari kesana kemari mencoba mencari petunjuk yang bisa membawanya menemukan korban. Setelah dirasa tak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya mereka memutuskan untuk mencari korban ke area yang lebih dalam. Menyelam semakin dalam mereka menemukan sebuah gundukan besar yang ditumbuhi lumut dan ganggang dengan bentuk menonjol seperti sebuah jamur raksasa yang baru tumbuh dari tanah. Keduanya tak bisa memastikan apakah itu gundukan tanah atau bebatuan karena keterbatasan penglihatan. Namun jika dilihat dari luasnya kemungkinan gundukan berlumut itu memiliki ukuran sama besar dengan sebuah rumah dua tingkat berukuran sedang. Agam pun memberikan kode kepada temannya untuk menyisir area sebelah atas gundukan tersebut sementara dia menyisir bagian bawahnya. Temannya memberikan kode setuju dan segera berenang ke arah yang ditunjuk Agam, sedangkan dia sendiri segera menyelam ke arah yang berlawanan.

Pencarian di area sekitar bawah gundukan yang cukup luas itu ternyata masih tak membuahkan hasil juga. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang licin di permukaan gundukan berlumut tersebut. Agam segera memeriksa apa yang disentuhnya dan menemukan ternyata permukaan gundukan tersebut dilapisi sesuatu yang berbentuk lempengan setengah bulat yang bertumpuk rapi bersusun seukuran tampah. Agam mencabut pisau belati yang diselipkan di kakinya dan mencoba mencongkel lempengan tersebut namun usahanya sia-sia karena ternyata lempengan tersebut sangat keras. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu temannya yang menyisir bagian atas gundukan lumut tersebut. Namun sesampainya disana ternyata orang yang dicarinya tidak berada disana. Tadinya dia hendak memastikan dulu posisi temannya sampai kemudian dilihatnya sebuah lubang menganga berukuran cukup besar yang terdapat di permukaan gundukan itu. Lubang tersebut berbentuk memanjang dengan panjang mencapai sekitar tiga meter. Lebarnya sendiri tidak terlalu besar namun cukup untuk dimasuki oleh seorang manusia dewasa. Saat hendak kembali ke permukaan untuk melaporkan apa yang ditemukannya mendadak Agam mengurungkan niatnya ketika sesuatu di dalam lubang itu menarik perhatiannya.

Sesuatu seperti kilatan cahaya nampak beberapa kali terlihat dari dalam lubang. Rupanya temannya sudah masuk terlebih dahulu untuk memeriksa, pikirnya. Dengan hati-hati dia pun berenang masuk ke dalam lubang. Agam mendapat sedikit kesulitan saat memasukinya karena pinggiran lubang tersebut berupa pinggiran yang tidak rata dan beberapa bagian nampak tajam. Akan berbahaya  jika tabung oksigennya terbentur atau selang pernafasannya tersangkut. Namun baru saja dia berhasil masuk Agam dibuat kaget ketika dilihatnya sesuatu berwarna putih datang dengan cepat dari gelapnya dasar lubang itu. Dia berusaha menghindarinya namun gerakannya di dalam air sangatlah lambat sehingga tak urung lagi benda besar tadi langsung menabraknya. Wusss! Benda itu menembus tubuhnya. Ketika dilihatnya ke atas ternyata benda yang barusan melewatinya adalah gelembung udara yang sangat besar yang terus keluar melewati lubang masuk. Sambil mengatur nafasnya Agam mencoba mengenali sekelilingnya. Saat itulah pandangannya membentur sesuatu yang mengambang beberapa meter di bawahnya. Dengan hati berdebar perlahan dia berenang mendekati benda tersebut dan terkejutlah dia ketika mengetahui kalau benda itu adalah sebuah selang pernafasan dari tabung oksigen yang ada di punggung seorang penyelam. Benda yang sama dengan yang dipakainya, menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada temannya. Tanpa menunggu lama lagi dengan cepat dia berenang bermaksud keluar dari lubang itu. Namun tanpa disangkanya lubang di atasnya menutup dengan sangat cepat. Dalam keterkejutannya Agam mencoba membuka paksa lubang tersebut tapi sebuah sambaran dari arah belakangnya menghantam dan membuat tubuh Agam berputar-putar di dalam air. Sementara Agam masih merasa pusing akibat hantaman itu tiba-tiba sesuatu yang licin dan berlendir menggulung sekujur tubuhnya dan menariknya ke bawah. Agam berusaha meronta dan menusukkan pisau belati yang masih berada dalam genggamannya. Namun usahanya sia-sia saja, lilitan tersebut malah semakin kencang membungkus tubuhnya, membawanya menghilang ditelan gelapnya dasar lubang.

Senja datang menjelang bersama awan pekat tanda hujan akan segera turun membasahi tanah. Semua orang yang berada di pinggir danau nampak berduka dalam putus asa setelah harus menerima kenyataan pahit bahwa tidak ada satupun dari tim penyelam yang kembali ke permukaan. Sejak saat itu danau tersebut ditutup secara resmi oleh pemerintah dari akses umum. Warga sekitarpun menamai danau tersebut dengan sebutan Mangantao yang dalam bahasa Batak mangan berarti makan dan tao berarti danau. Sebuah danau yang akan memakan nyawa orang-orang yang memasukinya.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Pulau nan Ramah

Sebuah kapal dagang milik seorang saudagar kaya terombang-ambing di lautan lepas di hantam badai. Bahkan semua orang sudah merasa pasrah dan berputus asa sampai akhirnya sang nahkoda melihat sebuah pulau kecil terlihat diantara tingginya gelombang laut yang ganas. Setelah berjuang mati-matian akhirnya menjelang malam mereka berhasil melewati badai dengan selamat dan berlabuh di pantai pulau kecil itu.

Di dekat pantai pulau kecil itu ternyata terdapat sebuah perkampungan yang dihuni puluhan penduduk. Mereka menyambut saudagar kaya dan para awak kapalnya dengan ramah setelah mengetahui apa yang telah dialami oleh mereka. Atas kebaikan para penduduk yang menyambut dan menolong mereka, tuan saudagar itupun mengusulkan untuk mengadakan pesta. Malam hari yang biasanya sunyi mendadak riuh dengan gelak tawa dan suara nyanyian. Beberapa wanita nampak menari mengelilingi api unggun diiringi suara gendang. Makanan dan minuman yang disajikan tak terhitung banyaknya menemani mereka sampai larut malam. Akhirnya setelah semua merasa lelah dan puas berpesta, rasa kantukpun datang mengantar mereka tertidur lelap.

Mentari belum juga menampakkan diri sepenuhnya ketika seorang awak kapal dengan tergesa-gesa membangunkan tuan saudagar. Rasa kantuk yang masih menggayut di kelopak matanya hampir saja membuatnya memarahi si awak kapal. Namun setelah mendengar apa yang dia katakan, seketika rasa kantuknya sirna berubah menjadi keterkejutan yang luar bisa. Dengan cepat dia mengumpulkan awak kapalnya den memerintahkan mereka untuk segera berlayar lagi meninggalkan pulau itu.

Layarpun terkembang dan perahu bergerak meninggalkan bibir pantai. Tuan saudagar berdiri di buritan kapal, memandang pulau kecil itu dengan perasaan tak percaya menyaksikan bagaimana pulau yang semalam penuh rumah dan penduduk itu kini berubah menjadi sebuah lapangan yang dipenuhi semak belukar dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan yang hampir rata dengan tanah.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Kutukan Arca Tua

(1)

Cuaca di Pulau Dewata saat ini memang sedang panas-panasnya. Rasanya seolah-olah matahari lebih dekat dari biasanya. Padahal ini bulan Oktober. Normalnya bulan ini termasuk musim penghujan namun krisis pemanasan global memang memberikan efek besar yang nyata terutama pada perubahan iklim. Hal ini dirasakan juga oleh Bono. Lelaki berumur 31 tahun itu terlihat terengah-engah mendorong sepeda motor tuanya di tengah terik matahari. Siang itu dia baru saja kembali dari villa milik seorang temannya. Semalaman dia menghabiskan waktunya dengan bermabuk-mabukan tanpa sempat memberi kabar pada istrinya yang menunggu penuh khawatir di rumah. Sialnya ketika di pagi hari dia terbangun dan hendak menelpon istrinya, dia baru menyadari jika handphone-nya berada di dalam sebuah gelas yang berisi bir. Kemeja putih yang baru saja dibelikan istrinya tiga hari yang lalu kini lusuh dan penuh bekas tumpahan minuman. Kesialannya belum berhenti. Saking tergesa-gesanya sewaktu di perjalanan pulang dia ditilang polantas akibat menerobos lampu merah, sampai akhirnya saat memasuki sebuah jalanan perkampungan yang sepi entah kenapa mendadak sepeda motornya mati. Begitulah akhirnya kini dia harus berjuang diantara sengatan panas matahari. Padahal baginya jangankan mendorong sepeda motor, harus membawa tubuh gempalnya saja rasanya sudah sangat merepotkan.
(2)

Setelah berjalan cukup jauh dan merasa tak sanggup lagi bertahan melawan keringat yang membasahi hampir setengah kemeja lusuhnya, Bono akhirnya memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang lumayan rindang. Tenggorokannya terasa kering. Sambil mengibas-ngibaskan ujung kerah kemejanya, matanya berputar memandang sekitar mencoba menemukan seseorang yang bisa dia mintai pertolongan sampai akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah arca yang berada tak jauh darinya. Sejenak dia mengernyitkan dahi sambil menyeka keringat yang mengucur di dahinya. "Sejak kapan arca itu ada disana? Seingatku tadi sewaktu aku sampai disini aku tidak melihat apapun." pikirnya sambil memandangi arca tersebut dari tempat duduknya. Arca itu adalah sebuah arca tua berbadan manusia dan berkepala gajah. Tubuhnya gemuk dengan posisi sedang duduk seperti seorang pertapa. Bahkan Bono sempat berpikir kalau ukuran tubuh arca tersebut hampir sama dengan tubuhnya. Nampak beberapa bagian dari arca itu sudah keropos dan hancur dimakan usia. "Ah, mungkin mataku saja yang belekan akibat batok kepalaku mendidih kepanasan sampai-sampai arca sebesar itu saja tidak kelihatan." Ujarnya seraya bangkit dari duduknya. Tadinya dia bermaksud untuk meneruskan perjalanan pulang ketika sebuah benda yang berada di dekat arca itu menarik perhatiannya. Ketika dia mendekat terlihat sebuah kendi terbuat dari tanah liat berada tepat di bawah kaki arca tersebut. "Ya ampun. Aku dari tadi kehausan dan kau disini tidak memberitahuku kalau kau punya arak." Bono tertawa sambil berjongkok di depannya. Diintipnya lubang kendi tersebut dan jelas terlihat kilatan air di dalamnya. Entah kenapa tiba-tiba rasa haus yang sudah mulai menghilang kini menjalari tenggorokannya sehingga mendorongnya untuk mengambil kendi tersebut. Dengan perasaan sedikit ragu Bono memperhatikan kendi itu. Walaupun kendinya agak kotor namun air di dalamnya sangat jernih dan terlihat menyegarkan, membuat Bono sampai menelan ludah membayangkan kesegarannya. Sambil tetap memegangi kendi Bono memandang sekeliling. Tak ada seorangpun yang lewat di tempat itu. Pandangannya kembali pada kilatan ari di dalam kendi yang terlihat semakin menggoda. Bono mendekatkan wajahnya pada arca tua tersebut. "Hey, gajah tua. Karena kau diam saja, tidak apa-apa kan kalau air ini ku minum?" Ujarnya sambil menyeringai yang kemudian tanpa pikir panjang, terdorong rasa haus yang amat sangat, Bono langsung meneguk air yang ada di dalam kendi itu. Namun alangkah terkejutnya dia ketika bukan kesegaran yang dirasakannya namun justru malah rasa pahit dan kecut. Beberapa saat kemudian tenggorokannya terasa panas dan gatal. "Bangsat! Air apa ini!?" teriak Bono seraya melemparkan kendi yang masih dipegangnya ke arah kepala arca. Kendi tanah liat itu hancur berkeping-keping. Sambil memegangi tenggorokannya yang terasa terbakar dia menghampiri arca tersebut. "Kurang ajar! Gajah sialan! Beraninya kau cari masalah denganku!" Beberapa kali ditendangnya arca itu. Namun arca tersebut nampak tidak bergeming. Lalu seperti orang kerasukan Bono mengambil sebatang kayu dan mulai memukulinya sampai kayu ditangannya patah menjadi dua. Bahkan dia berusaha menggulingkan arca itu namun tenaganya tidak cukup kuat. Dengan kekesalan memuncak, dia membuka resleting celananya dan mengencingi arca tersebut. "Nih, sekarang giliran kau yang minum air kencingku arca sialan! Rasakan! Sialan kau! Sial! Cuihh!" Bono memaki sambil beberapa kali meludah berusaha menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Sambil terus menggerutu akhirnya dia berjalan kelelahan meninggalkan arca tua itu. Namun ketika dia hendak mengambil sepeda motornya tiba-tiba rasa sakit menyentak kepalanya, membuat Bono menghentikan langkahnya. Telinganya berdengung. Nafasnya terasa sesak. Pandangannya berputar-putar. Setelah terjajar beberapa langkah, dia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.

(3)

"Dimana ini? Uh! Apa yang terjadi? Kepalaku pusing sekali!" rintih Bono saat tersadar dan membuka matanya. Terperanjat dia saat tahu bahwa kondisi tempat itu gelap gulita pertanda siang telah berganti malam. Dengan sedikit sempoyongan dia berusaha berdiri. Kepalanya masih terasa pening dan matanya berkunang-kunang. Sambil mengatur nafasnya dia berusaha duduk sambil mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Saat pikirannya mulai jernih, barulah dia menyadari sesuatu yang ganjil. Saat itu dia berada di tempat yang penuh bebatuan. Padahal seingatnya tadi dia berada di tempat yang penuh pepohonan. Dia tidak bisa menemukan sepeda motornya dan dia juga tidak lagi melihat arca tua berkepala gajah itu. Dengan masih sedikit sempoyongan dia mencoba berjalan dan berusaha mengenali sekitarnya. Namun sia-sia saja. Pekatnya malam memperburuk suasana hatinya. Hanya ada sedikit cahaya yang membantu penglihatannya, bias dari purnama yang tersembunyi dibalik awan. Angin malam yang menusuk kulit membuat Bono mau tidak mau harus beranjak dari tempat itu untuk meminta pertolongan. Tertatih dan meraba-raba Bono berjalan  tak tentu arah diantara gelap malam. Sesekali terdengar dia mengaduh ketika kakinya tersandung batu atau kulitnya tergores duri semak belukar. Berjalan cukup jauh Bono menghentikan langkahnya dan berusaha bersandar di sebuah pohon ketika dia merasakan kakinya terasa perih dan lecet. Baru disadarinya jika saat itu dia tidak lagi mengenakan sepatunya. Terpincang-pincang Bono berusaha mencari sedikit cahaya untuk melihat keadaan kakinya. KRAAKK!! Tiba-tiba sebuah suara keras mengagetkan Bono. Suara itu datang dari arah pepohonan di belakangnya disusul bunyi gemeretak pepohonan tumbang seperti sedang diamuk sesuatu yang besar. Tanah yang dipijak terasa bergetar keras. Bono tersurut mundur. Matanya membelalak memandang ke arah rapatnya pepohonan. Badannya menggigil, giginya saling beradu, sedangkan kedua lututnya terasa goyah dan kakinya laksana terpasung ke dalam tanah ketika dilihatnya sebuah bayangan hitam besar muncul diantara pepohonan. Ukurannya lebih besar dari rumah miliknya dengan sepasang bola mata berwarna merah yang memancarkan kilatan sinar menggidikkan. Semakin lama mahluk tinggi besar itu semakin mendekat dengan suara bergemuruh memekakkan telinga. Tanpa memikirkan lagi kondisi kakinya Bono mengumpulkan seluruh tenaga yang ada di tubuhnya lalu berlari menembus pekatnya malam tanpa menghiraukan apapun. Beberapa kali dia terjatuh dan menabrak, namun ketakutan di hatinya mendorongnya untuk terus berlari sampai kemudian kakinya tersandung sebuah batu besar yang membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke arah sebuah tebing. Tubuh dan kepalanya beberapa kali terantuk bebatuan. Tubuhnya berguling menerobos semak belukar dan terlempar hingga akhirnya mendarat di sebuah gundukan tanah.

(4)

Bono mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa remuk. Sekujur tubuhnya sakit dan perih. Untuk sesaat dia nampak tak bergerak sedikitpun. Seraya berusaha mengumpulkan tenaga dia memandang sekeliling. Dia tertegun ketika ternyata kini dia berada dekat sebuah perkampungan. Padahal dia yakin dari atas tebing tadi dia tidak melihat ada satu cahayapun di sekitar sana. Dengan terpincang-pincang dia berusaha mencapai jalanan terdekat. Namun suasana perkampungan begitu lenggang dengan kabut tipis yang menutupi pandangan. Tidak ada seorangpun yang terlihat. Begitu juga dengan kendaraan, belum ada satu pun yang lewat. Kampung itu rasanya seperti kampung tak berpenghuni. Sejenak Bono memandang ke arah tebing, bahkan mahluk mengerikan yang mengejarnya tadi kini sudah tidak terdengar suaranya sedikitpun. Setengah menyeret langkahnya dia berjalan menuju sebuah warung kecil yang nampaknya masih buka. Dia yakin disana pasti ada orang yang bisa dia mintai pertolongan, setidaknya pasti ada si pemilik warung, pikir Bono. "Permisi! Bu! Pak! Ada orang?" Berkali-kali Bono berusaha memanggil pemilik warung. Beberapa menit berlalu namun masih tak ada tanda-tanda orang di dalam warung tersebut. "Kemana mereka? Punya warung tapi malah ditinggal. Kalo ada maling nanti baru tahu rasa." Gerutu Bono sambil beranjak pergi meninggalkan warung itu. Dia mencoba mengetuk pintu setiap rumah yang dilaluinya, namun tetap saja tak ada satupun yang menjawab panggilannya. Sementara itu dinginnya angin malam terasa sangat menusuk sampai ke tulang. Belum lagi lukanya yang terasa semakin memburuk, Bono merasa hampir tak mampu berjalan lagi. Dia terus berjalan terseok-seok menyeret tubuhnya menyusuri jalan besar yang lenggang tersebut sambil sesekali berteriak meminta tolong sampai kemudian matanya terpaku melihat apa yang berada di depannya.

(5)

Sebuah rumah yang rasanya tak asing kini berada tepat di depan matanya. Dengan rasa tak percaya berulang kali dia menggosok matanya hingga akhirnya dia yakin bahwa itu adalah rumah yang sudah bertahun-tahun dia tinggali. "Aneh. Aku yakin itu adalah rumahku. Bentuknya, pagarnya, bahkan cat dan halamannya sama persis. Tapi bagaimana bisa rumahku ada disini, di kampung asing yang bahkan dalam mimpi pun belum pernah kulihat." Sambil bergumam Bono berjalan menuju rumahnya dengan perasaan tak menentu. Sebuah rumah semi permanen yang setiap hari dia tinggali bersama istri dan anaknya selama bertahun-tahun. Rumah warisan dari kedua orang tuanya yang berhasil dia dapatkan dengan cara yang lebih cepat daripada seharusnya. "Rita! Rita! Buka pintu!" Bono mengetuk pintu rumahnya sambil berteriak memanggil istrinya. "Rita, aku pulang! Suamimu pulang!" Sambil mondar-mandir dan sesekali mengintip lewat celah jendela Bono terus memanggil istrinya. Setelah hampir 15 menit berlalu Bono baru menyadari kalau pintu rumahnya tak dikunci saat dia tak sabaran menggoyang-goyangkan pegangan pintunya. "Dasar istri tolol! Kebiasaan. Pasti ketiduran lagi dan lupa mengunci pintu!" Sedikit tertatih Bono melangkahkan kaki ke dalam rumahnya. Dengan perasaan kesal dia membanting pintu rumahnya. Saat itulah terjadi hal yang mengerikan! Pintu yang baru saja dibantingnya tiba-tiba bergetar hebat. Disusul oleh dinding dan atap yang berderak. Lantai terguncang sangat keras sampai-sampai membuat Bono jatuh terduduk ketakutan. "Rita! Bangun Rita! Ada Gempa! Tolong! Tolong!" Dalam ketakutan yang luar biasa Bono berteriak-teriak memanggil istrinya sambil sesekali meminta tolong berharap seseorang datang menyelamatkannya. Namun teriakannya seketika terhenti ketika dilihatnya bagaimana dinding dan atap rumahnya bergerak sedikit demi sedikit menyusut mengecil! Pecahan kaca dan kayu berhamburan. Atap berjatuhan bahkan beberapa potongannya menimpa Bono. Namun tak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya, Bono hanya ternganga dengan mata melotot menyaksikan kengerian tersebut. Bagaimana tidak, rumah berukuran cukup besar tersebut kini bagaikan kertas yang diremas. Semakin menciut dan mulai menghimpit tubuh Bono, lalu secara perlahan menenggelamkan tubuhnya dalam gemuruh tanah dan debu yang berterbangan.

(6)

Angin berhembus membawa udara sejuk diantara teriknya panas matahari siang itu. Perlahan Bono terbangun dan membuka matanya yang menyipit melihat silaunya matahari. "Ya ampun, sepertinya aku tertidur dan bermimpi buruk. Sial! Sungguh mimpi yang mengerikan. Sampai-sampai rasa sakitnya terasa begitu nyata. Bahkan peningnya masih kurasa. Gila! Sepertinya aku tertidur cukup lama, sebaiknya aku cepat pulang." Bono berucap dalam hati sambil berusaha untuk bangkit. Namun alangkah terkejutnya dia sewaktu dia menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan tubuhnya. Ternyata dia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya. Bagaimanapun dia berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya namun tak ada respon apapun dari tubuhnya. Bahkan untuk mengedipkan matapun dia tak mampu. Seolah tubuhnya mengalami kelumpuhan total. Selagi diserang kepanikan yang luar biasa, tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu. Seorang pria bertumbuh gemuk terlihat berjalan kelelahan sambil mendorong sebuah sepeda motor. Di bawah sebuah pohon rindang dia berhenti, bersandar sambil mengipasi tubuhnya dengan ujung kerah kemejanya. Sejenak kepanikan yang melanda hati Bono mereda ketika melihat ada orang lain yang bisa ia mintai pertolongan. Dia pun segera berteriak memanggil orang itu. "Hei, pak! Bisa tolong bantu saya?!" Dalam hati Bono bersyukur karena ternyata mulutnya tidak lumpuh seperti anggota badannya yang lain. Namun orang di bawah pohon tetap asyik mengipasi tubuhnya sambil memejamkan matanya. "Heran, dia tidak tidur kan? Tapi kenapa dia tidak menoleh. Padahal aku yakin aku berteriak cukup keras. Apa mungkin orang itu tuli?" Ujar Bono dalam hati. "Hei, pak! Yang duduk di bawah pohon! Saya mau minta tolong, pak! Hei, kamu pura-pura tuli atau memang tuli beneran!?" Setengah kesal Bono berteriak-teriak mulai kehilangan kesabaran. Tiba-tiba orang di bawah pohon berhenti menggerakkan tangannya, membuka mata dan perlahan memalingkan wajahnya ke arah Bono. "Akhirnya mau juga si gendut itu mendengarku." Gerutu Bono. "Pak, bisa datang kemari? Saya mau minta tolong!" Kembali Bono berteriak ke orang itu. Sejenak orang itu tak bergerak, hanya diam memperhatikan Bono dari kejauhan. Namun kemudian perlahan dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Bono. "Maaf saya mengganggu. Tapi saya perlu bantuan, pak." Ucap Bono ketika orang itu sudah berdiri tepat dihadapannya. "Tadi saya tertidur disini cukup lama. Dan ketika saya terbangun, saya tidak bisa..." ucapan Bono terhenti ketika dilihatnya orang itu seperti tidak memperdulikan ucapannya dan lebih memilih untuk memperhatikan Bono dari ujung kepala sampai kaki. Lalu dia terlihat memperhatikan sesuatu yang berada di dekat kaki Bono. Bono hanya bisa terheran-heran memperhatikan kelakuan orang itu. Namun rasa heran Bono segera berubah menjadi ketakutan yang luar biasa ketika orang itu kembali menatap Bono. "Hei, gajah tua. Tidak apa-apa kan kalau air di kendi ini aku minum?" Ujar orang itu. Bono terbelalak. 





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger