(1)
Hujan gerimis malam itu seperti tak dihiraukan oleh gadis yang baru saja kaluar dari mobilnya. Sambil melindungi kepalanya dengan tas kecil dia berjalan cepat melewati halaman dan sampai di depan pintu sebuah rumah bergaya classic. Setelah merapikan pakaian dan rambutnya, segera dia memencet bel yang berada di sebelah kanan pintu rumah tersebut. "Malam, Ren! Apa kabar?" Sapa Mirna begitu pintu terbuka. "Mirna! Akhirnya kamu datang juga! Aku kangen banget sama kamu!" Rena segera memeluk sahabat baiknya sejak kecil itu. Memang sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Padahal dari semenjak duduk di sekolah dasar mereka selalu bersekolah di sekolah dan kelas yang sama. Kemana-mana selalu berdua seakan hampir tak terpisahkan. Namun selepas lulus SMA karena kesibukan masing-masing dan juga Mirna yang kemudian bekerja di luar kota sehingga membuat satu sama lain akhirnya kehilangan komunikasi. Tapi beberapa minggu lalu secara tidak sengaja mereka bertemu di jejaring sosial Facebook dan karena kebetulan Mirna juga berencana untuk pulang mengunjungi ibunya sehingga akhirnya mereka membuat rencana untuk bertemu di rumah Rena. "Aku turut berbelasungkawa atas kepergian suami kamu Ren. Maaf aku gak ada disamping kamu waktu itu." Ujar Mirna sambil menggenggam tangan Rena. "Tak apa, Mir. Itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Sekarang aku sudah terbiasa koq hidup berdua sama Mindy." Ujar Rena sambil tersenyum. "Oh iya, mana anak kamu itu? Kenalin donk sama tantenya yang cantik ini." Mirna melayangkan kepalanya mencoba mencari ke seluruh ruangan. "Ada, tuh lagi asyik nonton tv. Kalau dari sini kamu nggak bisa lihat orang terhalang kursi. Samperin aja sana, aku bikinin dulu teh buat kamu." Jawab Rena sambil menunjuk ke ruang tengah. Disana terlihat deretan kursi sofa berwarna maroon dengan televisi yang terlihat menyala. Mirna pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kursi yang ditunjuk oleh Rena.
(2)
Seorang gadis kecil berusia 5 tahun dan berambut ikal sebahu tampak serius sedang menonton televisi. Rambutnya dikuncir sebelah dengan hiasan pita merah. Sementara itu dipelukannya terlihat sebuah boneka perempuan yang cukup usang. Ada yang menarik perhatian Mirna, pakaian yang digunakan gadis kecil itu hampir sama persis dengan boneka yang dipeluknya. Gaun pendek berenda selutut berwarna merah dengan motif bunga berwarna hitam. Sejenak Mirna bahkan sempat berpikir mengapa gadis kecil itu masih menggunakan gaun bukannya baju tidur karena saat itu jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul sembilan malam. Namun Mirna tidak terlalu memikirkannya karena memang anak kecil seringkali memiliki pakaian kesukaannya sehingga dia selalu ingin memakainya kapanpun. "Hello, Mindy! Lagi asyik nonton ya? Nonton apa sih?" Sapa Mirna. Tidak ada jawaban dari mulut gadis kecil itu, bahkan menoleh saja tidak. Sepertinya dia sangat fokus menonton tv sampai seperti orang terkena hipnotis saja, pikir Mirna. Ketika dia menoleh ke televisi dia sedikit heran karena di televisi sedang menayangkan sebuah iklan produk pasta gigi. "Aneh, memangnya apa yang menarik dari iklan itu sampai dia mengacuhkanku?" pikir Mirna. "Nama kamu Mindy kan? Tadi mama yang bilang sama tante. Oh iya, kita belum kenalan yah? Kalau gitu kenalin nama tante, Mirna. Salam kenal yah?" Ujar Mirna seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Namun lagi-lagi gadis kecil itu tak merespon sedikitpun ucapan Mirna. Matanya hampir tak berkedip tetap memandangi televisi. Mirna sampai dibuat salah tingkah. Didorong rasa penasaran kembali dia memandang ke arah televisi. Namun tak ada hal yang aneh ataupun menarik, masih tetap menayangkan iklan. Ketika menoleh kembali ke arah gadis kecil itu Mirna dibuat kaget setengah mati saat dilihatnya kini anak itu sedang menatap tajam padanya tanpa berkata sepatah katapun membuatnya sampai tersurut beberapa langkah kebelakang. Diantara kebingungannya dia berbalik bermaksud untuk menemui Rena. PRAAKK! Suara keras disusul jeritan terdengar diruangan itu!
(3)
Mirna jatuh terduduk dengan muka pucat. Dihadapannya sambil berjongkok Rena tampak sibuk memunguti pecahan gelas yang berserakan. Nampaknya ketika Mirna berbalik tanpa sengaja bertabrakan dengan Rena yang sudah berada dibelakangnya membawa nampan berisi teh. "Maaf Ren, aku nggak tahu kamu ada dibelakang." Ujar Mirna serta merta bangkit dan membantu Rena mengumpulkan pecahan gelas. "Nggak apa-apa Mir, udah aku aja yang beresin. Salah aku koq malah berdiri dibelakang kamu. Soalnya kupikir tadi aku nggak mau ganggu kamu ngobrol sama Mindy. Gimana kalian udah kenalan?" Tanya Rena. "Umm... Iya, udah koq Ren." Mindy terpaksa berbohong sambil melirik ke arah Mindy yang kini terlihat kembali fokus menonton televisi. "Oh, baguslah. Pertama kali mungkin agak susah ngajak dia ngobrol. Tapi kalo udah terbiasa dia itu menyenangkan lho." Ujar Rena seraya bangkit membawa pecahan gelas yang sudah terkumpul. "Sebentar, aku bikinkan lagi tehnya yah." Ujarnya sambil kemudian berbalik dan berjalan ke arah dapur. "Tunggu, Ren. Udah nggak usah dibikinin lagi, jangan repot-repot. Kamu tuh kayak sama orang lain aja. Kalaupun aku mau kan aku bisa ngambil sendiri." Mirna mengambil nampan yang tertinggal di meja dan bergegas mengikuti Rena ke dapur. Namun tepat di depan pintu dapur langkahnya terhenti ketika dari dalam dapur didengarnya suara Rena seperti sedang berbicara pada seseorang. "Lho, Rena ngomong sama siapa? Bukannya dia cuma tinggal berdua sama anaknya? Kayaknya dia nggak pernah bilang punya pembantu." Mirna berkata dalam hati. Diam-diam Mirna mendekat ke daun pintu berusaha untuk mendengar suara Rena dengan lebih jelas. Namun yang terdengar hanya suara seperti orang meracau bahkan kadang seperti orang bergumam. Ketika mencoba mengintip dari sela-sela pintu dapur yang sedikit terbuka, sebuah sentuhan dingin di bahunya membuat Mirna melonjak sambil berseru kaget.
(4)
Rena memandangi Mirna yang bersandar ketakutan di pintu dapur dengan tatapan keheranan. Tangannya terlihat membawa kantong plastik kecil berisi pecahan gelas. Sementara Mirna hampir tak bisa mengatur nafas karena rasa terkejutnya. "Kamu nggak apa-apa Mir? Maaf sepertinya aku bikin kamu kaget." Ujar Rena ketika dilihat sahabatnya sudah mulai tenang. "Kamu... Kukira kamu ada di dalam... Di dapur... koq bisa ada..." Mirna berkata sedikit terbata-bata. "Oh, aku tadi nyari kantong plastik dulu." Potong Rena. "Sekalian aku cuci tangan soalnya pecahan kacanya sempat menggores tanganku." Terusnya sambil memperlihatkan telapak tangannya yang sedikit berdarah. Namun seperti tidak mengacuhkan luka Rena, Mirna justru tampak memandangi wajah Rena dalam-dalam. "Tapi tadi... Aku mendengar suara kamu di dapur, mengobrol dengan seseorang." Mirna berkata perlahan. "Hah? Kamu kan tau aku baru datang kesini dan di rumah ini aku cuma tinggal berdua sama Mindy. Mungkin kamu ngelindur." Rena tersenyum mendekati Mirna dan mencubit pipinya. "Nggak Ren, aku yakin itu bukan suara tv." Mirna tetap bersikukuh. "Udah. Mendingan kamu kembali ke ruang tamu. Aku bikinin minuman yang baru biar kamu lebih santai." Ujar Rena seraya segera memasuki dapur. Walau pikirannya diselimuti bermacam pertanyaan namun akhirnya Mirna kembali juga ke ruang tamu. Sebelum duduk dia sempat melirik ke arah sofa tempat Mindy menonton televisi. Wajahnya sedikit terlihat dari balik sofa, seperti sebelumnya memandang tak berkedip pada layar televisi. Entah kenapa rasa tidak tenang terus menyelimuti perasaannya. Tidak lama kemudian Rena kembali dengan membawa nampan berisi teh hangat yang baru dan toples berisi kue kering. Setelah memberikan satu cangkir pada Mirna, dia segera menyeruput cangkir teh miliknya. "Minum dulu biar mood kamu balik. Dari tadi kulihat mukamu pucat, Mir. Kamu nggak lagi sakit kan?" Tanya Rena. Mirna hanya menggeleng perlahan kemudian mengambil cangkir tehnya dan meminumnya sedikit. Harum dan hangatnya teh memang membuat perasaan Mirna sekarang lebih baik. Beberapa kali dia menyeruput pelan cangkir teh ditangannya. "Bener kan yang aku bilang, teh itu pasti bisa balikin mood kamu. Berani taruhan deh, kamu pasti udah lupa sama teh itu." Ujar Rena. Mirna mengernyitkan kening sambil menatap bingung pada Rena. "Sudah kuduga. Kamu pasti udah lupa sama teh yang dulu sering dibuat sama ibuku kalo kita lagi ngerjain tugas bareng." Ujar Rena sambil meletakkan gelasnya. "Oh!" Mirna setengah berseru membuat Rena jadi ikut terkejut. "Pantas saja aku ngerasa akrab banget sama rasanya. Sampai-sampai aku kaget saat menyadari kalau rasa teh bisa seenak gini. Kamu hebat bisa ngejaga warisan orang tua ya. Kalau dipikir lagi, jangan-jangan teh ini juga yang bikin ayahnya Mindy dulu jatuh cinta?" Ujar Mirna sambil tersenyum kecil. "Bisa iya, bisa nggak." Jawab Rena sembari tertawa. Sambil menikmati kue kering yang diambilnya dari toples, Mirna menceritakan kehidupannya selama dia berada di luar kota. Beberapa kali obrolan mereka diselingi tawa. "Jadi sampai sekarang kamu belum berniat menikah hanya karena ibumu belum membahas soal itu?" Rena tersenyum geli. "Yah, habisnya pekerjaanku di kantor banyak banget. Nggak ada waktu mikirin hal kayak gitu. Ibu juga nggak nuntut jadi ya..." Jawab Mirna mengangkat bahunya. Rena kembali tertawa mendengar jawaban Mirna. Bibirnya kembali seperti hendak mengatakan sesuatu namun tiba-tiba tertahan ketika matanya kemudian terpaku pada sesuatu di belakang Mirna.
(5)
"Ada apa, Ren? Koq malah bengong?" Tanya Mirna sambil perlahan menoleh ke arah belakangnya. Tak ada apa-apa disana selain sebuah jam dinding antik yang terpasang di dinding. "Oh, sorry! Aku terkesima liat waktu di jam dinding. Rasanya koq cepat banget ya sekarang udah jam sepuluh lagi. Padahal rasanya aku baru ngobrol 5 menit sama kamu." Rena cepat berkata begitu sadar dari lamunannya. "Kamu ini ada-ada aja Ren." Mirna menghela nafas lega. Namun tiba-tiba Rena berdiri dan berpaling ke arah sofa di ruang tengah. "Ya ampun! Saking asyiknya ngobrol sama kamu, aku sampai lupa kalo sekarang waktunya Mindy tidur. Eh, nggak apa-apa kan ku tinggal dulu sebentar?" Ujarnya segera beranjak dan pergi ke ruang tengah. "Iya, nggak apa-apa. Sana kamu tidurin dulu Mindy, kasian jangan dibiasain tidur larut malam." Jawab Mirna seraya menikmati sepotong kue kering. Di luar hujan terdengar mulai lebat yang entah kenapa membuat Mirna mendadak teringat akan ibunya di rumah. Perasaan gelisah tiba-tiba menyelimuti pikirannya, khawatir terjadi sesuatu pada ibunya yang hanya tinggal berdua dengan adiknya yang masih kecil. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Masih ada hari esok untuk bertemu dan berbincang dengan Rena, pikirnya. Diapun beranjak hendak berpamitan pada Rena yang berada di kamar Mindy yang terletak bersebelahan dengan ruang tengah. Namun ketika melewati ruang tengah langkahnya terhenti. Di sofa itu nampak seorang anak kecil yang diam tak bergerak memandangi televisi. "Mindy? Bukannya Rena bilang mau menidurkan anak ini, tapi kenapa dia masih ada disini? Atau mungkin Rena malah ketiduran dan anak ini balik lagi nonton tv. Ya ampun, Rena. Kebiasaaan kamu masih nggak ilang ternyata." Mirna tersenyum memikirkan hal itu. Ketika dia bermaksud bertanya pada Mindy, sayup-sayup telinganya mendengar suara dari dalam kamar Mindy. Walau di luar hujan cukup deras, namun Mirna bisa memastikan suara tersebut adalah suara orang yang sedang menyanyikan sebuah lagu tidur. Perlahan Mirna mendekati pintu kamar dan mendengarkan dengan seksama suara tersebut.
Mindy Sayang
Tidurlah dalam diam, jangan menangis
Cukup hujan saja
Tidurlah yang lelap, malam menjemput
Esok pagi kita bermain lagi
Mirna berdiri terpaku di balik pintu. Tengkuknya terasa dingin. "Suara itu jelas suara Rena yang sedang menyanyikan lagu tidur untuk Mindy. Tapi bukankah Mindy sedang menonton televisi? Lalu siapa yang sedang dia tidurkan?" Mirna bertanya-tanya dalam hati. Dengan hati berdebar dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. Cahaya temaram sedikit demi sedikit terlihat. Di dalam kamar nampak Rena sedang tidur menyamping membelakangi Mirna. Mulutnya tak henti menyanyikan lagu tidur. Perasaan Mirna semakin tak menentu. Langkahnya terhenti, dengan sedikit ragu-ragu dia menoleh ke arah sofa. Matanya jelas melihat Mindy sedang duduk disana. Kembali pandangannya tertuju pada Rena. Degup jantungnya semakin kencang seiring langkahnya semakin dekat dengan ranjang tempat Rena menidurkan anaknya. Ketika posisinya sudah berada tepat dibelakang Rena, dengan menguatkan hati dia mencoba mengintip dari balik tubuh Rena. Alangkah terkejutnya dia sewaktu menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Kakinya tersurut beberapa langkah ke belakang sedangkan kedua tangannya berusaha mendekap mulutnya agar tak menjerit!
(6)
"Rena, apa yang kamu lakukan?!" Suara Mirna terdengar bergetar. "Ssst! Mindy hampir tidur." Rena menoleh sebentar pada Mirna. "Ren, kamu sadar nggak sih? Kamu cuma lagi bercanda aja kan?" Suara Mirna terdengar makin serak. "Please deh Mir, jangan berisik. Tidurin Mindy itu susah. Kalau udah dateng rewelnya aku kadang sampai nggak bisa tidur." Ujar Rena kembali mulai menyanyikan lagi lagu tidurnya. "Ren, hentikan Rena. Hentikan!" Mirna melompat dan menarik tangan Rena. Melihat hal itu Rena langsung menepis tangan Mirna dan segera memeluk anaknya. "Kamu kenapa sih!? Jadi kan Mindy bangun lagi! Tuh kan, dia nangis!" Rena segera mengusap-usap rambut anaknya. "Kamu yang kenapa Ren! Apa kamu sudah gila!? Lepaskan dia dari pelukanmu, Ren! LEPASKAN BONEKA ITU!!" Teriakan Mirna terdengar menggema hampir ke seluruh bangunan rumah itu. Sejenak suasana ruangan itu terasa senyap, hanya suara hujan di luar yang terdengar semakin deras. Saat itu terlihat Mirna menangis sesegukan sambil berdiri bersandar pada dinding kamar. Sedangkan Rena berdiri mematung dengan mata membelalak menatap Mirna. Perlahan tatapannya beralih pada boneka lusuh bergaun merah yang ada dipelukannya. Boneka yang tadi berada di pelukan gadis kecil di sofa ruang tengah. Dengan tangan gemetar diangkat dan diperhatikannya boneka itu. Tiba-tiba saja jeritan keras keluar dari mulutnya! Dengan sebuah gerakan cepat dia melompat dari tempat tidur dan mencengkram leher Mirna dengan sebelah tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tampak menggenggam erat boneka lusuhnya. Cengkraman itu luar biasa kuat membuat Mirna yang tak menduga akan diserang seperti itu langsung megap-megap kehabisan nafas hanya dalam beberapa detik saja.
(7)
Mirna mulai kehabisan tenaga, mukanya berubah pucat dengan cepat. Kepalanya mulai terasa berat serasa akan meledak. Tenggorokannya mengeluarkan suara kecil tercekik kesakitan. Disaat Mirna hampir kehilangan kesadarannya, tiba-tiba Rena melepaskan cekikannya. Dengan cepat menggendong boneka lusuhnya dan menimangnya seperti menghibur anak kecil yang sedang menangis. "Ssshh, jangan nangis sayang! Mama disini! Mama bakalan selalu jagain Mindy! Nggak ada yang bisa nyakitin kamu lagi! Seperti lelaki kasar itu, mulutnya yang jahat sudah terkunci selamanya. Dia sudah mendapat karmanya sendiri karena berani berbuat jahat sama kamu. Jangan takut lagi. Mama akan menghapus kesedihan kamu. Mama juga akan menghapus orang-orang yang mengganggu kamu. Hihihi..." Rena tertawa cekikikan sambil membelai rambut bonekanya. Sementara itu Mirna yang jatuh di lantai nampak terbatuk-batuk. Sekujur tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Kepalanya berdenyut sakit sedangkan nafasnya tak teratur. Namun ketakutan dalam dirinya memaksanya untuk segera pergi dari tempat itu. Setengah sempoyongan Mirna bangkit dan segera beranjak pergi dari tempat itu. "Mir, kamu mau pergi kemana?" Ucapan lirih Rena membuat langkah Mirna terhenti. Dilihatnya Rena duduk memeluk erat boneka lusuhnya. Dengan mulut bergetar Mirna menatap Rena. "Aku tak percaya semua ini terjadi. Kamu bukan Rena yang aku kenal lagi. Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi yang jelas aku nggak mau berada disini lagi. Aku nggak mau membahayakan hidup aku sendiri!" Ujarnya sambil menahan tangis. "Kenapa kamu berkata kasar seperti itu padaku, Mir? Apa yang salah denganku? Bukankah kita sahabat? Kenapa sekarang kamu membenciku? Ya, sekarang kamu membenciku dan juga Mindy! Sama seperti lelaki biadab itu!" Rena berdiri dan menatap tajam ke arah Mirna. "Kamu sama saja seperti dia. Kamu pantas lenyap seperti dia!!" Dengan mata nyalang Rena bangkit dan perlahan melangkah mendekati Mirna. Dengan kaki gemetar Mirna bersurut mundur keluar dari kamar itu. Setengah berlari dia melewati ruang tengah menuju ruang tamu, menyambar tasnya dan segera menuju pintu keluar. Sedangkan di belakangnya nampak Rena berjalan dengan cepat sambil menjinjing boneka di tangannya. Tanpa menoleh sedikitpun Mirna segera membuka pintu dan menghambur lari menuju mobilnya yang terparkir di halaman tanpa memperdulikan hujan lebat yang mengguyur tubuhnya. Dengan susah payah dia masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Dilihatnya Rena sudah sampai di ambang pintu, namun anehnya dia tidak meneruskan pengejarannya dan hanya berdiri mematung dengan sorot mata tajam mengikuti mobil yang mulai bergerak keluar dari halaman rumahnya. Sejenak Mirna memandang ke arah Rena, masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sahabat baiknya sejak kecil itu. Sedikitpun dia tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Rena setelah sekian lama terpisah akan berakhir seperti itu. Sambil menyeka air matanya yang terus membasahi kedua pipinya akhirnya Mirna segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Rena dan segala kejadian buruk yang baru saja dilaluinya.
(8)
Di sebuah jalanan lurus yang cukup lenggang, sebuah mobil sedan berwarna merah berjalan pelan kemudian menepi dan berhenti di bawah sebuah lampu jalan. Di dalamnya seorang gadis dengan tubuh basah kuyup nampak bertumpu pada setir mobil. Di luar hujan belum juga reda, kadang diselingi oleh petir yang menyambar membelah langit. Mirna mengangkat wajahnya kemudian bersandar sambil memejamkan mata. Wajah Rena masih membayang di pelupuk matanya. Bagaimana sahabat baiknya itu baru saja mencekik dan mencoba hendak membunuhnya. Padahal beberapa jam yang lalu dia masih ingat semuanya baik-baik saja. Dia mencoba menahan perasaanya dengan menggigit bibirnya namun isak tangisnya kembali terdengar di dalam mobil sedan itu. Semakin lama suaranya tangisnya terdengar semakin kencang seakan-akan Mirna ingin menumpahkan segala ketakutan dan kekecewaan melalui air matanya. Tanpa sedikitpun menyadari jika di kursi belakang mobilnya, dalam gelap, sesosok gadis kecil bergaun merah sedari tadi terus memandang tajam padanya dengan senyum tersungging di mulut kecilnya...
Malam semakin larut. Suasana jalanan yang lenggang semakin terasa sepi. Kini satu-satunya suara yang masih terdengar hanyalah suara derasnya hujan yang tak kunjung reda.
- End -