Monster

"Monster! Monster! Pergi kau dasar monster!" Teriak beberapa anak kecil yang berkumpul di sudut sebuah gang buntu. Mereka berkerumun mengelilingi seorang anak perempuan yang terduduk di tanah sambil menutupi wajahnya. Rambut anak perempuan itu terlihat berbeda dengan anak seusianya. Dia memiliki warna putih yang rata di keseluruhan rambutnya. Sedangkan anak-anak yang mengerumuninya terus mengejeknya dan terkadang mereka juga melempari anak perempuan tersebut dengan benda-benda disekitarnya. "Ayo, lempari lagi dia!" Teriak salah satu anak laki-laki berambut jabrik. Teman-temannya yang lain segera mengikuti apa yang dia perintahkan. Sementara anak perempuan itu hanya diam saja menerima semua benda yang melayang mengenai tubuhnya.

"Berhenti, anak-anak! Apa yang kalian lakukan?" Sebuah teriakan menggema menghentikan tindakan anak-anak nakal tersebut. Begitu melihat siapa yang berbicara mereka langsung bersurut mundur dan berkumpul menjauhi si anak perempuan. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai terlihat berdiri di depan jalan menuju gang. Ditangan kanannya terlihat keranjang belanjaan berisi sayuran dan berbagai bahan masakan. Semua anak mengenalinya, dia adalah bu Arin, seorang guru di sebuah sekolah dasar swasta dan kebetulan memang mereka semua adalah anak didiknya. Bu Arin memiliki paras yang cantik dan lembut. Dia sangat disenangi oleh semua orang karena sikapnya yang lembut dan penyayang kepada siapa saja. Namun walau begitu melihat bu Arin mendatangi mereka, anak-anak itu pun langsung tertunduk diam.

"Kamu tidak apa-apa Eri?" sapa bu Arin sambil meletakan kantung plastik belanjaannya lalu dengan nada lembut membantu membangunkan anak perempuan tersebut. Anak bernama Eri itu cuma menggeleng, kepalanya tetap tertunduk. Sambil membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada tubuhnya, bu Arin mengedarkan pandangannya menatap anak didiknya satu persatu yang saat itu berjejer berdesakan dengan wajah ketakutan. "Kenapa kalian jahat sama Eri? Kalian kan teman sekelasnya. Memangnya Eri salah apa sama kalian?" Tanya bu Arin. "Dia... Dia itu monster, bu. Ibu jangan dekat-dekat nanti dia makan ibu." Ujar si anak berambut jabrik. "Iya, bu. Dia itu monster jahat." Timpal anak yang berbadan gemuk. "Lho, kenapa kalian memanggil Eri dengan sebutan monster? Dia kan sama seperti kalian." Tanya bu Arin sambil mengernyitkan kening. "Tapi dia memang monster, bu guru. Dia suka makan telur mentah. Hiiyy!" Ujar seorang anak perempuan sambil bergidik. "Rambutnya aja warnanya putih, katanya yang rambutnya putih itu Wewe Gombel!" Si pendek menimpali sambil bersembunyi di balik tubuh temannya.

Bu Arin berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya ampun. Siapa yang mengajari hal itu sama kalian? Eri itu suka makan telur setengah matang, bukan telur mentah. Telur setengah matang itu sumber protein yang bagus. Dan rambutnya yang putih, itu memang kelainan gen sejak lahir. Itu sama sekali bukan hal yang berbahaya." Jelas Bu Arin membuat anak-anak menjadi tertuduk tak berani mengatakan apa-apa lagi. "Jadi sudah jelas kan kalo Eri itu bukan monster. Dia adalah teman kalian dan sesama teman itu harus saling menjaga. Tidak peduli walau Eri punya fisik yang berbeda dengan kalian, kalian harus berteman selamanya. Kalian mengerti?" Tanya bu Arin sambil memandangi anak-anak. Mereka mengangguk berbarengan. Bu Arin pun tersenyum melihatnya. "Sekarang karena sudah sore, kalian cepat pulang. Eri biar ibu yang antar pulang." Ujarnya diikuti anggukan anak-anak.

Anak-anak segera berlarian pulang. Bu Arin menghampiri Eri yang masih berdiri sambil tetap menunduk menutupi wajahnya. "Eri jangan takut. Mereka tidak akan jahat lagi sama Eri. Tidak akan ada lagi, karena mulai sekarang ibu akan menjaga Eri." Ujarnya sambil mengelus rambut kemudian memeluk anak didiknya itu. Di wajahnya menyeruak sebuah senyuman. Perlahan Eri melepaskan tangannya yang sedari tadi menutupi kedua wajahnya. Nampak sebuah wajah berkulit pucat dengan tatap mata sayu. Perlahan tatapan mata itu melirik ke arah bu Arin yang sedang memeluknya, namun sejurus kemudian tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan kosong. Bias cahaya matahari sore itu memantulkan sebuah bayangan mengerikan yang tiba-tiba muncul di dinding tembok gang buntu itu. Sesosok tubuh tinggi besar dengan rambut riap-riapan nampak tergambar dengan jelas, dari kepalanya muncul sebuah tanduk mirip tanduk rusa. Sedangkan tangan dan jemarinya terlihat semakin memanjang dengan kukunya yang runcing dan tajam mencuat mengerikan. Sesaat kemudian terdengar sebuah jeritan pendek memilukan. Hanya sekejap sebelum kemudian hanya desir angin di pepohonan yang terdengar di sore itu.

Malam menjelang. Angin masih berhembus tenang menggoyangkan dedaunan. Namun tidak dengan keluarga kecil yang menghuni sebuah rumah kuno bergaya Belanda. Seorang wanita nampak menangis di pelukan seorang wanita yang berusia lebih tua darinya. Sedangkan seorang pria nampak mondar-mandir sambil sibuk berbicara lewat telepon. Mereka mengkhawatirkan salah satu anggota keluarganya yang menghilang sejak sore tadi. Eri, anak semata wayang mereka, tak pernah kembali ke rumah itu.



- End -

Lampu Merah

Sambil menunggu lampu hijau kembali menyala, Syaiful menaikkan resleting jaketnya demi melindungi tubuhnya dari serangan angin malam yang menusuk tulang. Menjadi seorang tukang ojek sudah dijalani Syaiful sejak 2 tahun terakhir untuk menutupi kekurangannya sebagai seorang guru honorer di sebuh sekolah dasar. Namun jika dipikirkan lagi profesi tukang ojek bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi jika dilakukan di malam hari, tantangannya akan terasa semakin berat. Bukan hanya masalah udara malam hari yang mudah membuat seseorang jatuh sakit namun juga sulitnya mendapatkan penumpang. Selain itu di malam hari persentase tingkat kejahatan juga meningkat, sehingga dia harus ekstra waspada dalam memilih penumpang. Namun jika memikirkan keluarganya, anak semata wayangnya yang sedang lucu-lucunya dan sering merengek minta jajan padanya maka semua ketakutan itu rasanya sudah menjadi teman dalam setiap perjalanannya. Tanpa disadari lampu hijau sudah menyala sedari tadi, sebuah mobil truk yang baru muncul di belakang Syaiful berkali-kali memencet klakson dengan tidak sabar membuyarkan lamunannya. Rupanya si pengemudi sudah sangat tidak sabar dan tak ingin terjebak lampu merah. Tersadar dari lamunannya dengan sedikit enggan Syaiful menarik tuas gas segera sebelum lampu lalu lintas berubah kembali merah.

Di malam hari lampu-lampu jalan terlihat lebih indah. Warnanya kuning terang membias menerangi jalan membentuk lingkaran-lingkaran. Syaiful mengendarai sepeda motornya dengan perlahan, berharap rejeki pertamanya datang lebih awal. Benar saja, seorang gadis berambut pendek sebahu nampak berdiri di bahu jalan tepat sebelum tikungan menuju jembatan besar. Dilihat dari pakaiannya nampaknya dia seorang pegawai sebuah minimarket dan mungkin baru menyelesaikan shift sorenya. “Ojek, Neng?” sapa Syaiful sambil menghentikan sepeda motornya. Si gadis tidak segera menjawab melainkan nampak sedikit merenung seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Jam segini angkutan umum sudah jarang sekali Neng. Lebih cepat kan naik ojek, tenang nggak mahal koq sama saya mah.” Ujar Syaiful mencoba membujuk. “Tapi kalo nggak mau juga nggak apa-apa Neng, saya nggak bakal maksa.” Tambahnya sambil kembali menyalakan sepeda motornya. Si gadis cepat menghentikan Syaiful ketika dilihatnya dia hendak menjalankan sepeda motornya. “Ya udah deh, Kang, anterin saya ke jalan sekar yah.” Ujar si gadis sambil kemudian menaiki sepeda motor Syaiful. “Alhamdulillah! Siap, Neng.” Syaiful dengan senyum gembira segera menjalankan sepeda motornya. Ketika sepeda motor melewati tikungan dan hampir mendekati jembatan besar, di bahu jalan nampak orang-orang berkerumun sedangkan beberapa sepeda motor nampak berjejer di pinggir jalan. Syaifulpun melambatkan laju sepeda motornya. “Ada apa itu, Kang?” tanya si gadis. Nampaknya dia ikut penasaran melihat kejadian itu. “Kurang tahu, Neng. Kayaknya kecelakaan. Soalnya itu ada ceceran darah di tengah jalan. Belokan ini mah memang rawan kecelakaan, sudah sangat sering kejadian. Sayang saya nggak bisa lihat terhalang banyak orang.” Jawab Syaiful sambil mencoba melihat diantara orang-orang yang berkerumun. “Kalau gitu hati-hati kang bawa sepeda motornya, jangan ngebut yang penting selamat sampai tujuan.” Ujar si gadis. Syaiful hanya mengiyakan ucapan si gadis dengan anggukan kepala.

Tak banyak percakapan selama perjalanan, keduanya lebih sering sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai kemudian mereka berhenti di sebuah perempatan lampu merah, disaat yang bersamaan di sebelah mereka berhenti pula sebuah sepeda motor yang dikendarai berboncengan oleh dua orang pria. “Kasihan ya, Din. Lagi-lagi tikungan maut itu memakan korban.” Ujar si pengemudi motor. “Iya, Sep. Mungkin si korban ngelamun kecapekan sepulang kerja jadi nyebrang nggak nengok kanan kiri. Pelaku tabrak larinya juga nggak mau tanggung jawab dan malah kabur! Kasihan, padahal kalau dia lebih waspada kan mungkin sekarang dia selamat bahkan mungkin aja dikemudian hari berjodoh sama saya.” Jawab temannya sambil cengengesan. “ Hus! Ngaco kamu! Orang meninggal koq dibecandain! Mau kamu diikutin dia?!” Ujar si pengemudi dengan nada kesal. “Amit-amit! Becanda, Sep! Kamu jangan nakutin.” Temannya celingukan lalu kemudian memeluk erat si pengemudi motor.

Syaiful hanya diam mendengar apa yang dibicarakan keduanya sambil menyimpulkan apa yang terjadi dekat jembatan tadi. Begitu juga dengan gadis yang diboncengnya, sepertinya diam-diam dia juga menyimak percakapan mereka. “Habis belokan di depan itu jalan sekar kan, Neng?” Syaiful mencoba mencairkan suasana. “Iya, Kang.” Jawab si gadis pendek. “Oh iya, Kang. Makasih ya udah nganterin saya.” Kembali si gadis berkata. Belum sempat menjawab saat itu lampu merah sudah berubah hijau, Syaiful segera menjalankan lagi sepeda motornya. Sesampainya di sebuah belokan yang tadi ditunjuknya disana memang terlihat ada sebuah jalan kecil. Di pinggirnya terdapat plang dengan tulisan “Jalan Sekar”. Syaiful mengehentikan kendaraannya dan hendak bertanya pada si gadis. Namun alangkah terkejutnya dia sewaktu berpaling ke belakang ternyata gadis yang diboncengnya sudah tidak ada. “Astagfirullah, koq dia menghilang. Mustahil dia terjatuh dan tertinggal kan.” Ucapnya dalam hati sambil memperhatikan ke arah lampu merah tempat sebelumnya dia berhenti. Sejenak Syaiful terpaku di tempatnya berdiri. Hatinya diselimuti berbagai pertanyaan. “Waduh, jangan-jangan gadis yang barusan itu adalah orang yang sama dengan...” Syaiful tidak meneruskan perkataannya. Kabut tipis tiba-tiba menutupi tempat itu membuat perasaan Syaiful makin tak karuan. Segera dia menaiki sepeda motornya kemudian menyalakannya lalu melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu, menghilang di balik kabut yang semakin pekat.

Keesokan harinya surat kabar dan berita televisi dihebohkan dengan kasus tabrak lari yang melibatkan sebuah truk yang kemudian melarikan diri dan sampai saat ini masih diselidiki oleh polisi. Dalam kronologi kejadian dikatakan bahwa truk yang dikemudikan secara ugal-ugalan tersebut menabrak seorang wanita penyebrang jalan yang diduga baru saja pulang dari pekerjaannya. Dilaporkan juga bahwa sebelumnya truk itu juga menabrak seorang tukang ojek yang mengakibatkan korban langsung meninggal di tempat di perempatan lampu merah yang berada beberapa ratus meter sebelum tikungan tersebut.



- End -

Mangantao

Panasnya matahari yang menyengat kulit nampaknya tidak dipedulikan oleh warga sekitar yang terlihat berkerumun di pinggir sebuah danau menyaksikan proses pencarian yang sedang dilakukan oleh gabungan Tim SAR dan kepolisian. Hal ini dikarenakan sebelumnya sepasang kekasih yang sedang bermain kano (perahu kayuh kecil) dilaporkan tenggelam setelah kano yang mereka naiki terbalik. Menurut seorang saksi mata mengatakan bahwa sebelumnya mereka sudah diperingatkan agar tidak mendayung terlalu jauh ke tengah karena berbahaya, namun mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut. Sesaat setelah kano tersebut terbalik, mereka terlihat sempat berteriak meminta tolong. Namun disaat warga tiba di pinggiran danau terdekat keduanya sudah tidak terlihat lagi. Kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya, dalam setahun terakhir tercatat belasan orang tenggelam dan hilang secara misterius di danau tersebut dan tak pernah ditemukan.

Agam dan lima orang lainnya yang tergabung dalam tim penyelam sudah menaiki perahu boat yang kemudian melaju membawa mereka ke tengah danau. Di titik yang sudah ditentukan para penyelam segera masuk kedalam air dan berpencar secara berpasangan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga dengan Agam yang memang sudah terlatih secara khusus untuk menghadapi situasi seperti ini. Setelah memastikan tidak ada masalah dengan kondisi perlengkapan menyelamnya segera dia mencebur masuk ke dalam air diikuti oleh salah satu penyelam yang lain. Danau tersebut berair jernih pada permukaannya, namun jika menyelam lagi dalam kedalaman lebih dari delapan meter maka akan mulai terasa sulit untuk melihat dengan jelas. Namun hal seperti itu tidaklah menyurutkan keberanian Agam yang memang dikenal diantara teman-temannya sebagai salah seorang anggota Tim SAR yang sangat pemberani. Seperti saat terjadi bencana banjir bandang, dengan bermodalkan tali tambang yang diikatkan pada sebatang pohon dia berjuang melawan derasnya arus banjir bandang demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di salah satu atap rumah. Jika saja dia tidak cepat tanggap maka anak kecil itu sudah pasti hanyut terbawa arus.

Sambil menyalakan lampu senter di kepalanya keduanya terus mencari kesana kemari mencoba mencari petunjuk yang bisa membawanya menemukan korban. Setelah dirasa tak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya mereka memutuskan untuk mencari korban ke area yang lebih dalam. Menyelam semakin dalam mereka menemukan sebuah gundukan besar yang ditumbuhi lumut dan ganggang dengan bentuk menonjol seperti sebuah jamur raksasa yang baru tumbuh dari tanah. Keduanya tak bisa memastikan apakah itu gundukan tanah atau bebatuan karena keterbatasan penglihatan. Namun jika dilihat dari luasnya kemungkinan gundukan berlumut itu memiliki ukuran sama besar dengan sebuah rumah dua tingkat berukuran sedang. Agam pun memberikan kode kepada temannya untuk menyisir area sebelah atas gundukan tersebut sementara dia menyisir bagian bawahnya. Temannya memberikan kode setuju dan segera berenang ke arah yang ditunjuk Agam, sedangkan dia sendiri segera menyelam ke arah yang berlawanan.

Pencarian di area sekitar bawah gundukan yang cukup luas itu ternyata masih tak membuahkan hasil juga. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang licin di permukaan gundukan berlumut tersebut. Agam segera memeriksa apa yang disentuhnya dan menemukan ternyata permukaan gundukan tersebut dilapisi sesuatu yang berbentuk lempengan setengah bulat yang bertumpuk rapi bersusun seukuran tampah. Agam mencabut pisau belati yang diselipkan di kakinya dan mencoba mencongkel lempengan tersebut namun usahanya sia-sia karena ternyata lempengan tersebut sangat keras. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu temannya yang menyisir bagian atas gundukan lumut tersebut. Namun sesampainya disana ternyata orang yang dicarinya tidak berada disana. Tadinya dia hendak memastikan dulu posisi temannya sampai kemudian dilihatnya sebuah lubang menganga berukuran cukup besar yang terdapat di permukaan gundukan itu. Lubang tersebut berbentuk memanjang dengan panjang mencapai sekitar tiga meter. Lebarnya sendiri tidak terlalu besar namun cukup untuk dimasuki oleh seorang manusia dewasa. Saat hendak kembali ke permukaan untuk melaporkan apa yang ditemukannya mendadak Agam mengurungkan niatnya ketika sesuatu di dalam lubang itu menarik perhatiannya.

Sesuatu seperti kilatan cahaya nampak beberapa kali terlihat dari dalam lubang. Rupanya temannya sudah masuk terlebih dahulu untuk memeriksa, pikirnya. Dengan hati-hati dia pun berenang masuk ke dalam lubang. Agam mendapat sedikit kesulitan saat memasukinya karena pinggiran lubang tersebut berupa pinggiran yang tidak rata dan beberapa bagian nampak tajam. Akan berbahaya  jika tabung oksigennya terbentur atau selang pernafasannya tersangkut. Namun baru saja dia berhasil masuk Agam dibuat kaget ketika dilihatnya sesuatu berwarna putih datang dengan cepat dari gelapnya dasar lubang itu. Dia berusaha menghindarinya namun gerakannya di dalam air sangatlah lambat sehingga tak urung lagi benda besar tadi langsung menabraknya. Wusss! Benda itu menembus tubuhnya. Ketika dilihatnya ke atas ternyata benda yang barusan melewatinya adalah gelembung udara yang sangat besar yang terus keluar melewati lubang masuk. Sambil mengatur nafasnya Agam mencoba mengenali sekelilingnya. Saat itulah pandangannya membentur sesuatu yang mengambang beberapa meter di bawahnya. Dengan hati berdebar perlahan dia berenang mendekati benda tersebut dan terkejutlah dia ketika mengetahui kalau benda itu adalah sebuah selang pernafasan dari tabung oksigen yang ada di punggung seorang penyelam. Benda yang sama dengan yang dipakainya, menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada temannya. Tanpa menunggu lama lagi dengan cepat dia berenang bermaksud keluar dari lubang itu. Namun tanpa disangkanya lubang di atasnya menutup dengan sangat cepat. Dalam keterkejutannya Agam mencoba membuka paksa lubang tersebut tapi sebuah sambaran dari arah belakangnya menghantam dan membuat tubuh Agam berputar-putar di dalam air. Sementara Agam masih merasa pusing akibat hantaman itu tiba-tiba sesuatu yang licin dan berlendir menggulung sekujur tubuhnya dan menariknya ke bawah. Agam berusaha meronta dan menusukkan pisau belati yang masih berada dalam genggamannya. Namun usahanya sia-sia saja, lilitan tersebut malah semakin kencang membungkus tubuhnya, membawanya menghilang ditelan gelapnya dasar lubang.

Senja datang menjelang bersama awan pekat tanda hujan akan segera turun membasahi tanah. Semua orang yang berada di pinggir danau nampak berduka dalam putus asa setelah harus menerima kenyataan pahit bahwa tidak ada satupun dari tim penyelam yang kembali ke permukaan. Sejak saat itu danau tersebut ditutup secara resmi oleh pemerintah dari akses umum. Warga sekitarpun menamai danau tersebut dengan sebutan Mangantao yang dalam bahasa Batak mangan berarti makan dan tao berarti danau. Sebuah danau yang akan memakan nyawa orang-orang yang memasukinya.



- End -

Pulau nan Ramah

Sebuah kapal dagang milik seorang saudagar kaya terombang-ambing di lautan lepas di hantam badai. Bahkan semua orang sudah merasa pasrah dan berputus asa sampai akhirnya sang nahkoda melihat sebuah pulau kecil terlihat diantara tingginya gelombang laut yang ganas. Setelah berjuang mati-matian akhirnya menjelang malam mereka berhasil melewati badai dengan selamat dan berlabuh di pantai pulau kecil itu.

Di dekat pantai pulau kecil itu ternyata terdapat sebuah perkampungan yang dihuni puluhan penduduk. Mereka menyambut saudagar kaya dan para awak kapalnya dengan ramah setelah mengetahui apa yang telah dialami oleh mereka. Atas kebaikan para penduduk yang menyambut dan menolong mereka, tuan saudagar itupun mengusulkan untuk mengadakan pesta. Malam hari yang biasanya sunyi mendadak riuh dengan gelak tawa dan suara nyanyian. Beberapa wanita nampak menari mengelilingi api unggun diiringi suara gendang. Makanan dan minuman yang disajikan tak terhitung banyaknya menemani mereka sampai larut malam. Akhirnya setelah semua merasa lelah dan puas berpesta, rasa kantukpun datang mengantar mereka tertidur lelap.

Mentari belum juga menampakkan diri sepenuhnya ketika seorang awak kapal dengan tergesa-gesa membangunkan tuan saudagar. Rasa kantuk yang masih menggayut di kelopak matanya hampir saja membuatnya memarahi si awak kapal. Namun setelah mendengar apa yang dia katakan, seketika rasa kantuknya sirna berubah menjadi keterkejutan yang luar bisa. Dengan cepat dia mengumpulkan awak kapalnya den memerintahkan mereka untuk segera berlayar lagi meninggalkan pulau itu.

Layarpun terkembang dan perahu bergerak meninggalkan bibir pantai. Tuan saudagar berdiri di buritan kapal, memandang pulau kecil itu dengan perasaan tak percaya menyaksikan bagaimana pulau yang semalam penuh rumah dan penduduk itu kini berubah menjadi sebuah lapangan yang dipenuhi semak belukar dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan yang hampir rata dengan tanah.



- End -

Mindy

(1)

Hujan gerimis malam itu seperti tak dihiraukan oleh gadis yang baru saja kaluar dari mobilnya. Sambil melindungi kepalanya dengan tas kecil dia berjalan cepat melewati halaman dan sampai di depan pintu sebuah rumah bergaya classic. Setelah merapikan pakaian dan rambutnya, segera dia memencet bel yang berada di sebelah kanan pintu rumah tersebut. "Malam, Ren! Apa kabar?" Sapa Mirna begitu pintu terbuka. "Mirna! Akhirnya kamu datang juga! Aku kangen banget sama kamu!" Rena segera memeluk sahabat baiknya sejak kecil itu. Memang sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Padahal dari semenjak duduk di sekolah dasar mereka selalu bersekolah di sekolah dan kelas yang sama. Kemana-mana selalu berdua seakan hampir tak terpisahkan. Namun selepas lulus SMA karena kesibukan masing-masing dan juga Mirna yang kemudian bekerja di luar kota sehingga membuat satu sama lain akhirnya kehilangan komunikasi. Tapi beberapa minggu lalu secara tidak sengaja mereka bertemu di jejaring sosial Facebook dan karena kebetulan Mirna juga berencana untuk pulang mengunjungi ibunya sehingga akhirnya mereka membuat rencana untuk bertemu di rumah Rena. "Aku turut berbelasungkawa atas kepergian suami kamu Ren. Maaf aku gak ada disamping kamu waktu itu." Ujar Mirna sambil menggenggam tangan Rena. "Tak apa, Mir. Itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Sekarang aku sudah terbiasa koq hidup berdua sama Mindy." Ujar Rena sambil tersenyum. "Oh iya, mana anak kamu itu? Kenalin donk sama tantenya yang cantik ini." Mirna melayangkan kepalanya mencoba mencari ke seluruh ruangan. "Ada, tuh lagi asyik nonton tv. Kalau dari sini kamu nggak bisa lihat orang terhalang kursi. Samperin aja sana, aku bikinin dulu teh buat kamu." Jawab Rena sambil menunjuk ke ruang tengah. Disana terlihat deretan kursi sofa berwarna maroon dengan televisi yang terlihat menyala. Mirna pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kursi yang ditunjuk oleh Rena.

(2)

Seorang gadis kecil berusia 5 tahun dan berambut ikal sebahu tampak serius sedang menonton televisi. Rambutnya dikuncir sebelah dengan hiasan pita merah. Sementara itu dipelukannya terlihat sebuah boneka perempuan yang cukup usang. Ada yang menarik perhatian Mirna, pakaian yang digunakan gadis kecil itu hampir sama persis dengan boneka yang dipeluknya. Gaun pendek berenda selutut berwarna merah dengan motif bunga berwarna hitam. Sejenak Mirna bahkan sempat berpikir mengapa gadis kecil itu masih menggunakan gaun bukannya baju tidur karena saat itu jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul sembilan malam. Namun Mirna tidak terlalu memikirkannya karena memang anak kecil seringkali memiliki pakaian kesukaannya sehingga dia selalu ingin memakainya kapanpun. "Hello, Mindy! Lagi asyik nonton ya? Nonton apa sih?" Sapa Mirna. Tidak ada jawaban dari mulut gadis kecil itu, bahkan menoleh saja tidak. Sepertinya dia sangat fokus menonton tv sampai seperti orang terkena hipnotis saja, pikir Mirna. Ketika dia menoleh ke televisi dia sedikit heran karena di televisi sedang menayangkan sebuah iklan produk pasta gigi. "Aneh, memangnya apa yang menarik dari iklan itu sampai dia mengacuhkanku?" pikir Mirna. "Nama kamu Mindy kan? Tadi mama yang bilang sama tante. Oh iya, kita belum kenalan yah? Kalau gitu kenalin nama tante, Mirna. Salam kenal yah?" Ujar Mirna seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Namun lagi-lagi gadis kecil itu tak merespon sedikitpun ucapan Mirna. Matanya hampir tak berkedip tetap memandangi televisi. Mirna sampai dibuat salah tingkah. Didorong rasa penasaran kembali dia memandang ke arah televisi. Namun tak ada hal yang aneh ataupun menarik, masih tetap menayangkan iklan. Ketika menoleh kembali ke arah gadis kecil itu Mirna dibuat kaget setengah mati saat dilihatnya kini anak itu sedang menatap tajam padanya tanpa berkata sepatah katapun membuatnya sampai tersurut beberapa langkah kebelakang. Diantara kebingungannya dia berbalik bermaksud untuk menemui Rena. PRAAKK! Suara keras disusul jeritan terdengar diruangan itu!

(3)

Mirna jatuh terduduk dengan muka pucat. Dihadapannya sambil berjongkok Rena tampak sibuk memunguti pecahan gelas yang berserakan. Nampaknya ketika Mirna berbalik tanpa sengaja bertabrakan dengan Rena yang sudah berada dibelakangnya membawa nampan berisi teh. "Maaf Ren, aku nggak tahu kamu ada dibelakang." Ujar Mirna serta merta bangkit dan membantu Rena mengumpulkan pecahan gelas. "Nggak apa-apa Mir, udah aku aja yang beresin. Salah aku koq malah berdiri dibelakang kamu. Soalnya kupikir tadi aku nggak mau ganggu kamu ngobrol sama Mindy. Gimana kalian udah kenalan?" Tanya Rena. "Umm... Iya, udah koq Ren." Mindy terpaksa berbohong sambil melirik ke arah Mindy yang kini terlihat kembali fokus menonton televisi. "Oh, baguslah. Pertama kali mungkin agak susah ngajak dia ngobrol. Tapi kalo udah terbiasa dia itu menyenangkan lho." Ujar Rena seraya bangkit membawa pecahan gelas yang sudah terkumpul. "Sebentar, aku bikinkan lagi tehnya yah." Ujarnya sambil kemudian berbalik dan berjalan ke arah dapur. "Tunggu, Ren. Udah nggak usah dibikinin lagi, jangan repot-repot. Kamu tuh kayak sama orang lain aja. Kalaupun aku mau kan aku bisa ngambil sendiri." Mirna mengambil nampan yang tertinggal di meja dan bergegas mengikuti Rena ke dapur. Namun tepat di depan pintu dapur langkahnya terhenti ketika dari dalam dapur didengarnya suara Rena seperti sedang berbicara pada seseorang. "Lho, Rena ngomong sama siapa? Bukannya dia cuma tinggal berdua sama anaknya? Kayaknya dia nggak pernah bilang punya pembantu." Mirna berkata dalam hati. Diam-diam Mirna mendekat ke daun pintu berusaha untuk mendengar suara Rena dengan lebih jelas. Namun yang terdengar hanya suara seperti orang meracau bahkan kadang seperti orang bergumam. Ketika mencoba mengintip dari sela-sela pintu dapur yang sedikit terbuka, sebuah sentuhan dingin di bahunya membuat Mirna melonjak sambil berseru kaget.

(4)

Rena memandangi Mirna yang bersandar ketakutan di pintu dapur dengan tatapan keheranan. Tangannya terlihat membawa kantong plastik kecil berisi pecahan gelas. Sementara Mirna hampir tak bisa mengatur nafas karena rasa terkejutnya. "Kamu nggak apa-apa Mir? Maaf sepertinya aku bikin kamu kaget." Ujar Rena ketika dilihat sahabatnya sudah mulai tenang. "Kamu... Kukira kamu ada di dalam... Di dapur... koq bisa ada..." Mirna berkata sedikit terbata-bata. "Oh, aku tadi nyari kantong plastik dulu." Potong Rena. "Sekalian aku cuci tangan soalnya pecahan kacanya sempat menggores tanganku." Terusnya sambil memperlihatkan telapak tangannya yang sedikit berdarah. Namun seperti tidak mengacuhkan luka Rena, Mirna justru tampak memandangi wajah Rena dalam-dalam. "Tapi tadi... Aku mendengar suara kamu di dapur, mengobrol dengan seseorang." Mirna berkata perlahan. "Hah? Kamu kan tau aku baru datang kesini dan di rumah ini aku cuma tinggal berdua sama Mindy. Mungkin kamu ngelindur." Rena tersenyum mendekati Mirna dan mencubit pipinya. "Nggak Ren, aku yakin itu bukan suara tv." Mirna tetap bersikukuh. "Udah. Mendingan kamu kembali ke ruang tamu. Aku bikinin minuman yang baru biar kamu lebih santai." Ujar Rena seraya segera memasuki dapur. Walau pikirannya diselimuti bermacam pertanyaan namun akhirnya Mirna kembali juga ke ruang tamu. Sebelum duduk dia sempat melirik ke arah sofa tempat Mindy menonton televisi. Wajahnya sedikit terlihat dari balik sofa, seperti sebelumnya memandang tak berkedip pada layar televisi. Entah kenapa rasa tidak tenang terus menyelimuti perasaannya. Tidak lama kemudian Rena kembali dengan membawa nampan berisi teh hangat yang baru dan toples berisi kue kering. Setelah memberikan satu cangkir pada Mirna, dia segera menyeruput cangkir teh miliknya. "Minum dulu biar mood kamu balik. Dari tadi kulihat mukamu pucat, Mir. Kamu nggak lagi sakit kan?" Tanya Rena. Mirna hanya menggeleng perlahan kemudian mengambil cangkir tehnya dan meminumnya sedikit. Harum dan hangatnya teh memang membuat perasaan Mirna sekarang lebih baik. Beberapa kali dia menyeruput pelan cangkir teh ditangannya. "Bener kan yang aku bilang, teh itu pasti bisa balikin mood kamu. Berani taruhan deh, kamu pasti udah lupa sama teh itu." Ujar Rena. Mirna mengernyitkan kening sambil menatap bingung pada Rena. "Sudah kuduga. Kamu pasti udah lupa sama teh yang dulu sering dibuat sama ibuku kalo kita lagi ngerjain tugas bareng." Ujar Rena sambil meletakkan gelasnya. "Oh!" Mirna setengah berseru membuat Rena jadi ikut terkejut. "Pantas saja aku ngerasa akrab banget sama rasanya. Sampai-sampai aku kaget saat menyadari kalau rasa teh bisa seenak gini. Kamu hebat bisa ngejaga warisan orang tua ya. Kalau dipikir lagi, jangan-jangan teh ini juga yang bikin ayahnya Mindy dulu jatuh cinta?" Ujar Mirna sambil tersenyum kecil. "Bisa iya, bisa nggak." Jawab Rena sembari tertawa. Sambil menikmati kue kering yang diambilnya dari toples, Mirna  menceritakan kehidupannya selama dia berada di luar kota. Beberapa kali obrolan mereka diselingi tawa. "Jadi sampai sekarang kamu belum berniat menikah hanya karena ibumu belum membahas soal itu?" Rena tersenyum geli. "Yah, habisnya pekerjaanku di kantor banyak banget. Nggak ada waktu mikirin hal kayak gitu. Ibu juga nggak nuntut jadi ya..." Jawab Mirna mengangkat bahunya. Rena kembali tertawa mendengar jawaban Mirna. Bibirnya kembali seperti hendak mengatakan sesuatu namun tiba-tiba tertahan ketika matanya kemudian terpaku pada sesuatu di belakang Mirna.

(5)

"Ada apa, Ren? Koq malah bengong?" Tanya Mirna sambil perlahan menoleh ke arah belakangnya. Tak ada apa-apa disana selain sebuah jam dinding antik yang terpasang di dinding. "Oh, sorry! Aku terkesima liat waktu di jam dinding. Rasanya koq cepat banget ya sekarang udah jam sepuluh lagi. Padahal rasanya aku baru ngobrol 5 menit sama kamu." Rena cepat berkata begitu sadar dari lamunannya. "Kamu ini ada-ada aja Ren." Mirna menghela nafas lega. Namun tiba-tiba Rena berdiri dan berpaling ke arah sofa di ruang tengah. "Ya ampun! Saking asyiknya ngobrol sama kamu, aku sampai lupa kalo sekarang waktunya Mindy tidur. Eh, nggak apa-apa kan ku tinggal dulu sebentar?" Ujarnya segera beranjak dan pergi ke ruang tengah. "Iya, nggak apa-apa. Sana kamu tidurin dulu Mindy, kasian jangan dibiasain tidur larut malam." Jawab Mirna seraya menikmati sepotong kue kering. Di luar hujan terdengar mulai lebat yang entah kenapa membuat Mirna mendadak teringat akan ibunya di rumah. Perasaan gelisah tiba-tiba menyelimuti pikirannya, khawatir terjadi sesuatu pada ibunya yang hanya tinggal berdua dengan adiknya yang masih kecil. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Masih ada hari esok untuk bertemu dan berbincang dengan Rena, pikirnya. Diapun beranjak hendak berpamitan pada Rena yang berada di kamar Mindy yang terletak bersebelahan dengan ruang tengah. Namun ketika melewati ruang tengah langkahnya terhenti. Di sofa itu nampak seorang anak kecil yang diam tak bergerak memandangi televisi. "Mindy? Bukannya Rena bilang mau menidurkan anak ini, tapi kenapa dia masih ada disini? Atau mungkin Rena malah ketiduran dan anak ini balik lagi nonton tv. Ya ampun, Rena. Kebiasaaan kamu masih nggak ilang ternyata." Mirna tersenyum memikirkan hal itu. Ketika dia bermaksud bertanya pada Mindy, sayup-sayup telinganya mendengar suara dari dalam kamar Mindy. Walau di luar hujan cukup deras, namun Mirna bisa memastikan suara tersebut adalah suara orang yang sedang menyanyikan sebuah lagu tidur. Perlahan Mirna mendekati pintu kamar dan mendengarkan dengan seksama suara tersebut.

Mindy Sayang
Tidurlah dalam diam, jangan menangis
Cukup hujan saja
Tidurlah yang lelap, malam menjemput
Esok pagi kita bermain lagi

Mirna berdiri terpaku di balik pintu. Tengkuknya terasa dingin. "Suara itu jelas suara Rena yang sedang menyanyikan lagu tidur untuk Mindy. Tapi bukankah Mindy sedang menonton televisi? Lalu siapa yang sedang dia tidurkan?" Mirna bertanya-tanya dalam hati. Dengan hati berdebar dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. Cahaya temaram sedikit demi sedikit terlihat. Di dalam kamar nampak Rena sedang tidur menyamping membelakangi Mirna. Mulutnya tak henti menyanyikan lagu tidur. Perasaan Mirna semakin tak menentu. Langkahnya terhenti, dengan sedikit ragu-ragu dia menoleh ke arah sofa. Matanya jelas melihat Mindy sedang duduk disana. Kembali pandangannya tertuju pada Rena. Degup jantungnya semakin kencang seiring langkahnya semakin dekat dengan ranjang tempat Rena menidurkan anaknya. Ketika posisinya sudah berada tepat dibelakang Rena, dengan menguatkan hati dia mencoba mengintip dari balik tubuh Rena. Alangkah terkejutnya dia sewaktu menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Kakinya tersurut beberapa langkah ke belakang sedangkan kedua tangannya berusaha mendekap mulutnya agar tak menjerit!

(6)

"Rena, apa yang kamu lakukan?!" Suara Mirna terdengar bergetar. "Ssst! Mindy hampir tidur." Rena menoleh sebentar pada Mirna. "Ren, kamu sadar nggak sih? Kamu cuma lagi bercanda aja kan?" Suara Mirna terdengar makin serak. "Please deh Mir, jangan berisik. Tidurin Mindy itu susah. Kalau udah dateng rewelnya aku kadang sampai nggak bisa tidur." Ujar Rena kembali mulai menyanyikan lagi lagu tidurnya. "Ren, hentikan Rena. Hentikan!" Mirna melompat dan menarik tangan Rena. Melihat hal itu Rena langsung menepis tangan Mirna dan segera memeluk anaknya. "Kamu kenapa sih!? Jadi kan Mindy bangun lagi! Tuh kan, dia nangis!" Rena segera mengusap-usap rambut anaknya. "Kamu yang kenapa Ren! Apa kamu sudah gila!? Lepaskan dia dari pelukanmu, Ren! LEPASKAN BONEKA ITU!!" Teriakan Mirna terdengar menggema hampir ke seluruh bangunan rumah itu. Sejenak suasana ruangan itu terasa senyap, hanya suara hujan di luar yang terdengar semakin deras. Saat itu terlihat Mirna menangis sesegukan sambil berdiri bersandar pada dinding kamar. Sedangkan Rena berdiri mematung dengan mata membelalak menatap Mirna. Perlahan tatapannya beralih pada boneka lusuh bergaun merah yang ada dipelukannya. Boneka yang tadi berada di pelukan gadis kecil di sofa ruang tengah. Dengan tangan gemetar diangkat dan diperhatikannya boneka itu. Tiba-tiba saja jeritan keras keluar dari mulutnya! Dengan sebuah gerakan cepat dia melompat dari tempat tidur dan mencengkram leher Mirna dengan sebelah tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tampak menggenggam erat boneka lusuhnya. Cengkraman itu luar biasa kuat membuat Mirna yang tak menduga akan diserang seperti itu langsung megap-megap kehabisan nafas hanya dalam beberapa detik saja.

(7)

Mirna mulai kehabisan tenaga, mukanya berubah pucat dengan cepat. Kepalanya mulai terasa berat serasa akan meledak. Tenggorokannya mengeluarkan suara kecil tercekik kesakitan. Disaat Mirna hampir kehilangan kesadarannya, tiba-tiba Rena melepaskan cekikannya. Dengan cepat menggendong boneka lusuhnya dan menimangnya seperti menghibur anak kecil yang sedang menangis. "Ssshh, jangan nangis sayang! Mama disini! Mama bakalan selalu jagain Mindy! Nggak ada yang bisa nyakitin kamu lagi! Seperti lelaki kasar itu, mulutnya yang jahat sudah terkunci selamanya. Dia sudah mendapat karmanya sendiri karena berani berbuat jahat sama kamu. Jangan takut lagi. Mama akan menghapus kesedihan kamu. Mama juga akan menghapus orang-orang yang mengganggu kamu. Hihihi..." Rena tertawa cekikikan sambil membelai rambut bonekanya. Sementara itu Mirna yang jatuh di lantai nampak terbatuk-batuk. Sekujur tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Kepalanya berdenyut sakit sedangkan nafasnya tak teratur. Namun ketakutan dalam dirinya memaksanya untuk segera pergi dari tempat itu. Setengah sempoyongan Mirna bangkit dan segera beranjak pergi dari tempat itu. "Mir, kamu mau pergi kemana?" Ucapan lirih Rena membuat langkah Mirna terhenti. Dilihatnya Rena duduk memeluk erat boneka lusuhnya. Dengan mulut bergetar Mirna menatap Rena. "Aku tak percaya semua ini terjadi. Kamu bukan Rena yang aku kenal lagi. Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi yang jelas aku nggak mau berada disini lagi. Aku nggak mau membahayakan hidup aku sendiri!" Ujarnya sambil menahan tangis. "Kenapa kamu berkata kasar seperti itu padaku, Mir? Apa yang salah denganku? Bukankah kita sahabat? Kenapa sekarang kamu membenciku? Ya, sekarang kamu membenciku dan juga Mindy! Sama seperti lelaki biadab itu!" Rena berdiri dan menatap tajam ke arah Mirna. "Kamu sama saja seperti dia. Kamu pantas lenyap seperti dia!!" Dengan mata nyalang Rena bangkit dan perlahan melangkah mendekati Mirna. Dengan kaki gemetar Mirna bersurut mundur keluar dari kamar itu. Setengah berlari dia melewati ruang tengah menuju ruang tamu, menyambar tasnya dan segera menuju pintu keluar. Sedangkan di belakangnya nampak Rena berjalan dengan cepat sambil menjinjing boneka di tangannya. Tanpa menoleh sedikitpun Mirna segera membuka pintu dan menghambur lari menuju mobilnya yang terparkir di halaman tanpa memperdulikan hujan lebat yang mengguyur tubuhnya. Dengan susah payah dia masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Dilihatnya Rena sudah sampai di ambang pintu, namun anehnya dia tidak meneruskan pengejarannya dan hanya berdiri mematung dengan sorot mata tajam mengikuti mobil yang mulai bergerak keluar dari halaman rumahnya. Sejenak Mirna memandang ke arah Rena, masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sahabat baiknya sejak kecil itu. Sedikitpun dia tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Rena setelah sekian lama terpisah akan berakhir seperti itu. Sambil menyeka air matanya yang terus membasahi kedua pipinya akhirnya Mirna segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Rena dan segala kejadian buruk yang baru saja dilaluinya.

(8)

Di sebuah jalanan lurus yang cukup lenggang, sebuah mobil sedan berwarna merah berjalan pelan kemudian menepi dan berhenti di bawah sebuah lampu jalan. Di dalamnya seorang gadis dengan tubuh basah kuyup nampak bertumpu pada setir mobil. Di luar hujan belum juga reda, kadang diselingi oleh petir yang menyambar membelah langit. Mirna mengangkat wajahnya kemudian bersandar sambil memejamkan mata. Wajah Rena masih membayang di pelupuk matanya. Bagaimana sahabat baiknya itu baru saja mencekik dan mencoba hendak membunuhnya. Padahal beberapa jam yang lalu dia masih ingat semuanya baik-baik saja. Dia mencoba menahan perasaanya dengan menggigit bibirnya namun isak tangisnya kembali terdengar di dalam mobil sedan itu. Semakin lama suaranya tangisnya terdengar semakin kencang seakan-akan Mirna ingin menumpahkan segala ketakutan dan kekecewaan melalui air matanya. Tanpa sedikitpun menyadari jika di kursi belakang mobilnya, dalam gelap, sesosok gadis kecil bergaun merah sedari tadi terus memandang tajam padanya dengan  senyum tersungging di mulut kecilnya...
Malam semakin larut. Suasana jalanan yang lenggang semakin terasa sepi. Kini satu-satunya suara yang masih terdengar hanyalah suara derasnya hujan yang tak kunjung reda.



- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger