Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Tampilkan postingan dengan label short story. Tampilkan semua postingan

Pelarian


Aku sudah muak berada di tempat sempit ini. Sebuah penjara yang telah merenggut hak kebebasan hidupku. Mereka sudah lama memenjarakanku atas kejahatan yang tak pernah kulakukan. Lucunya lagi banyak orang yang tahu tapi menutup mata. Otak cerdasku menolak menerima ketidakadilan ini. Segera ku susun rencana setelah aku menemukan ide untuk kabur dari penjara terkutuk ini. Ide yang cukup bodoh dan beresiko.

Aku akan berpura-pura mati.

Kudengar suara langkah kaki. Itu dia, si penjaga. Aku bisa mengenalinya dari langkah kakinya yang berat. Aku segera mengambil posisi telentang, diam membujur kaku. Ku tahan nafasku untuk menguatkan aktingku. Ketika si penjaga masuk dan menyadari ada yang salah denganku, dia dengan cepat menghampiriku. Aku mendengarnya berbicara sendiri dengan nada panik ketika dia mencoba mengguncangkan tubuhku.

Aha! Dia menyerah. Aku berhasil membuat dia percaya kalau aku sudah mati.

Tubuhku segera dibopongnya keluar dari penjara. Aku bisa merasakan udara segar kebebasan semakin dekat. Cukup lama si penjaga membopong tubuhku, sampai aku sudah hampir tak sanggup menahan nafas. Akhirnya dia sampai di pinggiran sebuah sungai berair deras. Sepertinya dia bermaksud membuang mayatku dengan menghanyutkan tubuhku ke sungai untuk menghilangkan jejak. Setelah sejenak memandang sekeliling diapun melemparkan tubuhku begitu saja ke dalam air sungai yang keruh. Rencanaku sukses besar! Namun aku tak boleh gegabah. Aku harus tetap berpura-pura mati setidaknya sampai akhirnya dia berbalik dan pergi meninggalkan tempat ini

Memang tidak ada yang lebih berharga daripada sebuah kebebasan. Itulah yang kurasakan. Sambil memikirkan langkah apa yang akan kuambil selanjutnya, aku tidak segera beranjak pergi. Aku ingin menikmati kebebasan yang baru saja kudapat. Setelah cukup lama berdiam diri mataku segera memandang sekeliling untuk mencari jalan yang bisa kutempuh dengan aman. Namun belum sempat aku menemukannya tiba-tiba sesuatu menyergap tubuhku, menenggelamkanku lalu dengan cepat menyeretku ke daratan tanpa sempat aku melakukan perlawanan.

Otak cerdasku kali ini menyerah. Orang yang menangkapku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih buruk daripada sebuah penjara. Disana, di dekat pojok rumahnya, sebuah penggorengan panas sudah menungguku.




(End)

Posted by
Ikkok Dcock

More

Make A Wish

Sebentar lagi Dena genap berusia sepuluh tahun. Ibunya pun berencana untuk merayakan ulang tahun anak semata wayangnya itu. Awalnya Dena sempat menolak namun sang ibu terus membujuknya agar mau merayakannya dan mengundang teman-temannya. Bukan tanpa alasan hal itu dilakukan ibunya agar anaknya mau bersosialisasi dengan teman sebayanya. Selama ini Dena dikenal sebagai anak yang penyendiri dan jarang bergaul. Setiap hari sepulang sekolah hanya dihabiskannya di kamar. Ibunya yang merasa khawatir lalu berkonsultasi dengan guru di sekolahnya yang kemudian menyarankan agar dia mengadakan sebuah pesta kecil  yang bisa membuat Dena merasa dekat dengan teman-temannya. Kebetulan besok adalah hari ulang tahunnya.

Malam itu semua anak-anak sudah berkumpul di rumah kecil milik orang tua Dena. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja di ruang tengah dimana sebuah kue ulang tahun berbentuk kepala robot terlihat tersimpan diatasnya. Sedangkan para orang tua berkumpul dan berbincang-bincang di ruang tamu disebelahnya. Di kamar Dena masih enggan untuk keluar walau ibunya sudah beberapa kali memanggilnya. Setelah ibunya datang dan membujuknya barulah Dena mau keluar dari kamar dan menemui teman-temannya.

Sambil menundukkan wajahnya Dena berjalan menuju meja tempat kue ulang tahunnya berada. Sepasang mata kecilnya memandang lekat pada kue ulang tahun yang dihiasi lilin berbentuk angka sepuluh dengan hiasan namanya dibagian bawah kue, tanpa sedikitpun berani menatap teman-temannya. Setelah memberikan beberapa sambutan pendek ibunya kemudian mengajak mereka untuk menyanyikan lagu ulang tahun dan menyuruh Dena bersiap untuk meniup lilin. Dalam sekejap suasana rumah berubah menjadi riuh dengan nyanyian ulang tahun. Namun bukannya terlihat senang, Dena malah terlihat tegang. Wajahnya menyiratkan rasa panik dan ketakutan. Semakin keras nyanyian teman-temannya malah membuat wajahnya pucat pasi. Melihat itu ibunya segera merangkul kedua bahu Dena. Dengan lembut dia meyakinkan Dena bahwa semuanya baik-baik saja dan tak ada yang perlu dia takutkan. Kemudian dia menyuruh anaknya itu untuk memejamkan matanya dan membuat sebuah permintaan dalam hatinya lalu kemudian meniup lilin di atas kue ulang tahunnya.

Beberapa menit berlalu Dena masih memejamkan matanya. Teman-temannya yang merasa keheranan mulai berhenti bernyanyi. Semua mata tertuju pada Dena yang berdiri terpaku. Tak lama matanya perlahan terbuka. Pandangan matanya menyapu keseluruh ruangan, memperhatikan satu persatu temannya yang menatapnya keheranan. Ketika pandangannya beralih pada nyala api di atas lilin, dengan satu tarikan nafas panjang ditiupnya lilin tersebut. Disaat yang bersamaan lampu di rumah tersebut seketika mati. Para orang tua yang sedang asyik berbincang merasa terkejut dan segera berusaha mencari sumber cahaya. Mereka menggunakan lampu dari telepon seluler untuk menerangi ruangan. Namun tak lama kemudian lampu kembali menyala membuat mereka bisa bernafas lega. Sebuah jeritan dari ruang tengah membuat mereka tersentak dan seketika bergegas ke arah datangnya suara.

Di ruang tengah nampak ibu Dena terduduk di lantai dengan mata melotot dan mulut menganga tak bersuara. Tangannya nampak tegang menunjuk anak-anak yang bergeletakan di lantai tak bergerak. Semua orang segera dilanda kepanikan. Namun langkah mereka tertahan ketika pandangannya membentur sosok Dena yang masih berdiri membelakangi mereka. Perlahan Dena memutar tubuhnya. Nampak jelas kali ini mata sayu yang biasanya menghiasai wajah murungnya telah berganti dengan tatapan yang berbinar-binar. Senyum lebar menyeruak menghiasai wajahnya. Diambilnya pisau kue lalu dia membuat sebuah irisan kecil di kue ulang tahunnya. Sambil memasukan potongan kue ke dalam mulutnya dia mengatakan hal yang kemudian membuat semua orang tercekat ketakutan. Dia mengaku sangat bahagia di hari ulang tahunnya tersebut karena malaikat benar-benar mengabulkan permintaannya agar menghapus semua teman-temannya yang selama ini selalu bersikap jahat padanya.





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Kabut di Bukit Kembar : Side Story


Seminggu sudah suasana rumah bu Marsha dan pak Wira dirundung duka setelah mereka menerima laporan bahwa anak mereka, Roy, dinyatakan hilang saat berkemah bersama teman-temannya. Sampai saat ini mereka masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa anak semata wayangnya. Setiap harinya bu Marsha menghabiskan waktu dengan melamun dan menangis, bahkan pak Wira sendiri tak mampu menghibur istrinya itu. Seperti sore itu bu Marsha sedang duduk melamun di kursi pekarangan rumah ketika telepon selulernya berdering. Pihak kepolisian menelponnya dan memberitahu bu Marsha bahwa mereka telah menemukan satu dari keenam orang yang dinyatakan hilang. Dengan tergesa-gesa sembari ditemani oleh suaminya bu Marsha segera pergi ke kantor polisi.

Benar saja disana mereka bertemu dengan Iwan yang berhasil selamat dengan kondisi menyedihkan. Mukanya pucat, pakaiannya dekil dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Bu Marsha mencoba menanyai Iwan tentang nasib Roy dan yang lainnya. Namun Iwan yang sepertinya masih mengalami shock dan trauma belum bisa berkomunikasi dengan jelas. Dia hanya mengatakan bahwa teman-temannya masih terjebak di air terjun dan membutuhkan pertolongan. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, Iwan ditemukan oleh warga sekitar sedang berjalan sendirian seperti orang linglung di kaki bukit tempat warga menambang pasir.

Hari itu juga pihak kepolisian dibantu oleh anggota SAR segera kembali ke Bukit Kembar melakukan pencarian di daerah air terjun dengan menyusuri daerah bantaran sungai. Bu Marsha dan pak Wira juga pergi kesana bersama Iwan yang sebelumnya menolak untuk beristirahat di rumah sakit. Dia tetap ingin ikut serta mencari teman-temannya yang akhirnya permintaannya tak bisa ditolak oleh mereka.

Lima jam berlalu semenjak tim SAR gabungan melakukan pencarian menyisir sungai. Bu Marsha bersama pak Wira dan Iwan sedang menunggu dengan cemas di posko kecil dekat air terjun ketika walkie talkie milik ketua tim SAR berbunyi. Salah satu anggotanya melaporkan telah menemukan satu mayat yang tersangkut pinggiran sungai dengan kondisi yang sulit dikenali. Ketua tim SAR segera menyuruhnya untuk mengevakuasi mayat tersebut ke posko.

Dengan dada berdebar bu Marsha dan pak Wira saling berpegangan tangan saat kantung mayat tiba di posko. Ketika resletingnya perlahan dibuka seketika lutut bu Marsha terasa gemetar dan lemas hingga jatuh terduduk di tanah. Walaupun wajah mayat tersebut sulit dikenali namun bu Marsha mengenal betul pakaian dan juga sepatu yang dikenakannya. Terlebih lagi di lehernya masih tergantung kalung membuatnya yakin bahwa mayat itu adalah Roy. Kedua orang tua itu hanya bisa terduduk lemas sambil berpelukan dan menangis meratapi nasib nahas yang menimpa anaknya.

Tak lama kemudian mayat yang lain menyusul ditemukan yang bisa dipastikan itu adalah Revia dan Mody. Satu jam kemudian dua mayat terakhir juga berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak keduanya menempel satu sama lain dengan sebatang besi menancap dari bagian punggung dan menembus ke tubuh mayat yang satunya. Mereka adalah Rayha dan Ikal.

Bu Marsha tak bisa berhenti menangis. Di sebelahnya pak Wira berusaha menghiburnya sedangkan Iwan duduk di sebuah kursi dengan tatapan kosong memandangi air terjun yang berderu keras. Sungguh tak disangkanya jika teman-temannya yang hilang ternyata telah menjadi mayat. Namun dia bersyukur setidaknya kini mereka telah berhasil ditemukan. Senyum kecil menyeruak dibibirnya dan air mata nampak menggenangi pelupuk matanya.

Pihak kepolisian segera bertindak cepat menyelidiki kasus kematian Roy dan teman-temannya yang diduga adalah kasus pembunuhan.  Mereka pun menyisir pinggiran air terjun untuk mencari barang bukti. Beberapa penyelam ditugaskan untuk mencari di dasar air terjun. Hari menjelang sore ketika ketua tim SAR kembali mendapat laporan dari para penyelam yang berhasil menemukan temuan yang lebih mengejutkan. Di dasar air terjun, jerjepit diantara bebatuan besar mereka menemukan satu mayat lain dengan kondisi serupa. Mendengar kabar tersebut seketika bu Marsha dan pak Wira tersentak. Setelah bertatapan sejenak perlahan pandangan mereka beralih pada kursi tempat Iwan duduk.

Dia tidak lagi terlihat disana.





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Korban

Aku masih bisa menggeliat walau seluruh tubuhku terasa sangat menyakitkan. Mencoba meminta tolong pada seseorang namun yang keluar dari mulutku hanyalah rintihan. Bagaimana tidak, walaupun tidak sampai membunuhku tapi sebuah besi besar dan tajam menusuk mulai dari ubun-ubun sampai ke pinggangku. Ya, cuma sampai pinggang karena sebagian lagi tubuhku entah kemana. Aku tidak tau apa yang terjadi. Padahal baru saja aku sedang berjalan-jalan hendak ke rumah pacarku sampai kemudian diperjalanan tanah berguncang begitu keras sampai akhirnya beginilah aku sekarang. Selagi aku meringgis kesakitan tiba-tiba sebuah sentakan keras membuatku terlempar dengan keras. Dunia terasa berputar-putar dan kemudian aku tenggelam dalam air yang gelap. Aku mencoba untuk berontak namun sia-sia saja, malah membuatku lemah dan kehilangan banyak darah. Saat aku mulai kehilangan kesadaranku itulah aku melihat sebuah bayangan hitam besar berkelebat ke arahku. Hal yang terakhir kuingat adalah sebuah mulut besar menganga dengan gigi-gigi kecil runcing dan tajam!

"Ayah! Ayah! Lihat aku dapat ikan besar!" Teriak seorang anak laki-laki sambil mengangkat tali pancingnya tinggi-tinggi. Seekor ikan tergantung menggelepar mencoba melepaskan diri. "Bagus sekali, nak! Kamu memang anak ayah yang hebat!" Sang ayah memuji sambil mengusap kepala anaknya. "Ayo, beri umpan lagi kail pancingnya." Sambungnya disambut anggukan anaknya.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Pulau nan Ramah

Sebuah kapal dagang milik seorang saudagar kaya terombang-ambing di lautan lepas di hantam badai. Bahkan semua orang sudah merasa pasrah dan berputus asa sampai akhirnya sang nahkoda melihat sebuah pulau kecil terlihat diantara tingginya gelombang laut yang ganas. Setelah berjuang mati-matian akhirnya menjelang malam mereka berhasil melewati badai dengan selamat dan berlabuh di pantai pulau kecil itu.

Di dekat pantai pulau kecil itu ternyata terdapat sebuah perkampungan yang dihuni puluhan penduduk. Mereka menyambut saudagar kaya dan para awak kapalnya dengan ramah setelah mengetahui apa yang telah dialami oleh mereka. Atas kebaikan para penduduk yang menyambut dan menolong mereka, tuan saudagar itupun mengusulkan untuk mengadakan pesta. Malam hari yang biasanya sunyi mendadak riuh dengan gelak tawa dan suara nyanyian. Beberapa wanita nampak menari mengelilingi api unggun diiringi suara gendang. Makanan dan minuman yang disajikan tak terhitung banyaknya menemani mereka sampai larut malam. Akhirnya setelah semua merasa lelah dan puas berpesta, rasa kantukpun datang mengantar mereka tertidur lelap.

Mentari belum juga menampakkan diri sepenuhnya ketika seorang awak kapal dengan tergesa-gesa membangunkan tuan saudagar. Rasa kantuk yang masih menggayut di kelopak matanya hampir saja membuatnya memarahi si awak kapal. Namun setelah mendengar apa yang dia katakan, seketika rasa kantuknya sirna berubah menjadi keterkejutan yang luar bisa. Dengan cepat dia mengumpulkan awak kapalnya den memerintahkan mereka untuk segera berlayar lagi meninggalkan pulau itu.

Layarpun terkembang dan perahu bergerak meninggalkan bibir pantai. Tuan saudagar berdiri di buritan kapal, memandang pulau kecil itu dengan perasaan tak percaya menyaksikan bagaimana pulau yang semalam penuh rumah dan penduduk itu kini berubah menjadi sebuah lapangan yang dipenuhi semak belukar dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan yang hampir rata dengan tanah.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Berburu

Dengan sangat hati-hati Alex melangkahkan kakinya, sambil sesekali menyibakkan semak belukar yang menghalangi pandangannya menggunakan senapan berburu di genggaman tangannya. Hobi berburu diwariskan oleh ayahnya sejak kecil sehingga dia sudah terbiasa pergi berburu sendirian. Matanya yang awas menelusuri jejak hewan buruan sedangkan telinganya terfokus mendengar suara-suara disekitarnya.

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah jejak yang membuat bulu kuduknya merinding. Jejak beruang! Hewan buas yang sanggup membunuh manusia dengan cakar-cakarnya yang besar dan tajam. Dengan cepat dia merundukkan kepalanya dan terus mengikuti jejak hewan tersebut. Langkah kakinya terhenti saat dilihatnya jejak beruang tersebut berakhir di sepasang kaki yang menyembul dari balik sebuah pohon. Disekitarnya darah terlihat berceceran.

Dengan hati berdebar dan tetap waspada Alex mendekati pohon itu. Sesosok tubuh berlumuran darah nampak menelungkup di tanah tak bergerak. Di sampingnya tergeletak sebuah senapan berburu. Dilihat dari kondisinya bisa dipastikan tubuh tersebut sudah tak bernyawa lagi. Mungkin dia diserang oleh beruang yang aku buru, pikir Alex. Perlahan dia mendekati tubuh itu untuk mencari tahu identitasnya. Namun wajahnya langsung berubah pucat sewaktu dia membalikkan tubuh tersebut yang membuatnya jatuh terduduk di tanah. Tubuh itu adalah tubuhnya.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger