Tampilkan postingan dengan label horor. Tampilkan semua postingan

Tampilkan postingan dengan label horor. Tampilkan semua postingan

Tukang Sate

Malam itu seperti biasa bang Bokir berjalan menyusuri jalanan perkampungan menembus dinginnya malam sembari mendorong gerobak satenya. Satu-satunya benda yang masih bisa diandalkannya untuk mencari nafkah menghidupi anak istrinya. Walaupun kini tubuhnya sudah dimakan usia sehingga membuatnya rentan terkena penyakit, namun bang Bokir tidak memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup.

"Teeee.... Sateeeee!"

Suaranya terdengar beberapa kali memecah keheningan malam. Suasana terasa lenggang mungkin karena waktu yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Setibanya di dekat sebuah pohon besar tempat biasanya dia berjualan, bang Bokir segera menghentikan gerobaknya. Mengambil sebuah kursi kayu dari atas gerobak dan meletakkannya di pinggir gerobak. Selagi dia masih membereskan dagangannya seseorang datang dan segera duduk di kursi kayu yang tadi disediakannya.

"Satenya lima puluh tusuk, bang!" Sapa orang itu membuat bang Bokir sedikit terkejut dan segera memalingkan muka.

Keterkejutan bang Bokir semakin menjadi ketika dilihatnya orang yang barusan menyapanya adalah seorang gadis berambut panjang terurai. Dia mengenakan daster tipis panjang berwarna putih yang bahkan terkesan kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Hal yang semakin membuatnya gelisah adalah wajah gadis itu pucat pasi dan tanpa ekspresi sedikitpun.

"Ya Allah, baru aja mau ngelapak udah didatengin yang beginian. Alamat sial malem ini jualan." Bang Bokir menggerutu dalam hati.

"Satenya lima puluh tusuk, bang!" Gadis itu mengulang perkataannya membuat bang Bokir tersentak dari lamunannya. 

"Ya... Yakin... Li... Lima puluh, neng? Bu... Bukan lima belas?" Tanya bang Bokir dengan gemetar.

Si gadis memalingkan mukanya pada bang Bokir. Sorot matanya yang tajam membuat bang Bokir tak berani bertanya lagi. Segera disiapkannya pembakaran dan sejumlah tusuk sate yang diminta gadis itu. Sambil mengipasi satenya sesekali dia menyeka peluh yang membanjiri tubuhnya. Tak beberapa lama pesanan gadis itu pun selesai. Setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik bang Bokir pun segera menyerahkannya  pada gadis itu.

"Ini uangnya, bang." Ujar si gadis seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas.

Bang Bokir menerimanya dengan ragu. Setelah menghitungnya uang tersebut tidak langsung dimasukkan ke dalam laci gerobaknya namun malah dipandanginya dalam-dalam.

"Kenapa, bang? Kurang?" Tanya si gadis.

"Ee... Enggak koq, neng? Udah pas koq..." Bang Bokir menjawab sambil menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering seperti orang yang habis tersesat di gurun pasir.

"Abang ini kenapa sih? Koq saya perhatiin dari tingkahnya aneh banget. Emangnya ada yang aneh sama saya?" Tanya si gadis kembali.

"Itu... Anu, neng. Sa... Saya mau tanya. E... Eneng... Orang beneran kan?" Tanya bang Bokir pelan tanpa berani memandang si gadis.

"Ya ampun! Abang kira saya setan apa? Eh, bang! Saya pake baju kayak gini karena tadi udah mau tidur. Kebetulan saya lapar nah pas denger suara abang jadi cepet-cepet kesini. Ini muka aja masih pake maskeran belum sempet saya copot." Si gadis mengomel kesal.

"Ooohhh gitu... Hehehe... Maaf neng, saya kira eneng sundel bolong. Abisnya tadi dateng-dateng langsung pesen lima puluh tusuk kan kaget saya." Ujar bang Bokir cengengesan sambil segera memasukkan uang yang masih di genggamnya ke dalam laci gerobak.

"Kebetulan temen kost saya tadi pada nitip, jadi belinya banyak sekalian. Lagian kayak pernah ketemu sama sundel bolong beneran aja." Si gadis menjawab dengan kesal.

"Yaelah, si neng pasti gak bakal percaya kalo saya cerita. Minggu kemaren saya di datengin sama sundel bolong beneran. Dia makan sate seratus tusuk itu cuma bentaran doank. Saya aja sampe heran. Pas udah selesai makan, uang yang dia bayarin berubah jadi daun kering. Saya kan kaget tuh. Waktu dia berbalik, ternyata punggungnya bolong besar! Berdarah-darah! Banyak belatungnya! Ngeri pokoknya. Saya sampe lari terkencing-kencing!"

"Masa sih, bang? Aduh, saya sampai merinding gini. Ya udah deh saya langsung pulang aja. Makasih ya, bang." Si gadis segera pergi dengan cepat meninggalkan bang Bokir yang memandanginya sampai menghilang di ujung jalan.

Sementara itu dari ujung jalan yang berlawanan seorang wanita paruh baya ditemani seorang pemuda berjalan cepat dengan senter di tangan. Ketika pandangan mereka membentur bang Bokir dan gerobaknya, langkah mereka sempat terhenti. Bang Bokir yang melihat kedatangan mereka berdua tersenyum sambil membetulkan letak lap tangan di pundaknya.

"Mampir dulu, bu. Silahkan satenya." Sapa bang Bokir.

Kedua orang tersebut hanya tersenyum kecil lalu mengangguk dan segera berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan bang Bokir sendiri yang sedang asyik menata dagangannya.

"Bu, ternyata rumor itu benar!" Si pemuda berbisik hampir tak terdengar oleh ibunya.

"Tidak baik membahas hal seperti itu disini, jang. Lagipula kita harus cepat, kasihan nenekmu menunggu sendirian di rumah." Sahut wanita paruh baya itu sambil menepuk punggung anaknya.

"Tapi baru saja kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, bu. Ternyata benar apa kata orang, penjual sate yang mati tertabrak seminggu yang lalu itu sekarang jadi arwah gentayangan!" Si pemuda berkata sambil bergidik, sesekali dia menoleh ke belakang seperti takut diikuti seseorang.

"Ssstt! Lebih baik lupakan saja apa yang kamu lihat tadi. Pamali!" Ujar wanita paruh baya itu pendek sambil memberi isyarat pada pemuda itu untuk berhenti bicara.

Pemuda itu pun tak berani lagi berkata apa-apa. Keduanya semakin mempercepat langkahnya menapaki jalanan yang sunyi lenggang, diikuti oleh desir angin malam yang berhembus dingin menegakkan bulu kuduk. 





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Dear Diary

(27 Februari 2018)

Dear Diary,
Jika ada hari yang paling romantis di dunia, maka itu adalah hari ini! Rian yang kutahu jahil dan cuek, memberiku surprise yang tak terlupakan di hari anniversary kami yang ke-3 tahun. Memberiku bunga mawar yang cantik, kado sepatu yang selalu aku impikan dan akhir sebuah dinner yang sangat romantis. Aku tahu semua orang akan menganggap itu hal yang biasa saja. Tapi tidak jika hal seperti itu dilakukan oleh seorang Rian. Apapun yang dia lakukan selalu menjadi hal yang istimewa! Thanks Bey, never losing your love.

(1 Maret 2018)

Dear Diary,
Hari ini aku tak bisa pergi ke kampus seperti biasa. Mama membawaku ke rumah sakit setelah aku tiba-tiba jatuh pingsan tadi pagi. Padahal hari ini ada mata kuliah Linguistic, pelajaran favoritku. Lagipula sekarang aku merasa baikan, tapi mereka malah melarangku pulang. Katanya aku harus di check ini itu. Menyebalkan! Aku benci bau rumah sakit!

(2 April 2018)

Dear Diary,
Hari ini aku sangat merindukannya. Aku rindu Rian. Rasanya aku tak bisa menghitung berapa lama kami lost contact. Sekarang dia berubah. Tak pernah lagi menghubungiku, apalagi mencariku. Apa dia tidak tahu jika dunia ini terasa sangat sepi tanpa kehadirannya, tanpa canda tawanya. Mungkinkah dia sudah menemukan cinta lain? Tidak! Aku tidak boleh berprasangka buruk tentangnya. Aku akan menemuinya besok.

(3 April 2018)

Dear Diary,
Aku benci hujan! Hujan membuatku kedinginan. Kenapa seharian ini kamu terus datang? Gara-gara kamu aku tidak bisa pergi kemana-mana. Dasar jahat!

(7 April 2018)

Dear Diary,
Dimana Rian? Dia tidak masuk kuliah. Dia juga tidak ada di tempat hangout. Padahal biasanya di waktu senggang dia akan bermain skateboard bersama teman-temannya Ketika dia galau taman adalah tempat terbaik yang menjadi pilihannya. Tapi kenapa sekarang aku tidak menemukannya dimana pun? Lebih aneh lagi teman-temannya tidak ada yang tahu keberadaannya. Apa sih yang mereka lakukan. Sepertinya mereka berusaha menutupi sesuatu. Apa mereka tidak mengerti kalau aku khawatir sama Rian. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. 

(10 April 2018)

Dear Diary,
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Bagaimana bisa dia tidak memberitahuku kalau dia sekarang udah pindah ke kota lain. Padahal aku kan pacarnya. Apa hubungan selama 3 tahun ini tidak ada artinya buat dia? Apa dia sudah tidak peduli lagi padaku? Kenapa dia tega meninggalkanku begitu saja disaat aku sedang benar-benar menyayanginya. Aku butuh dia, aku butuh penjelasan! Besok aku akan menyusulnya. Aku tidak peduli walau mama tidak mengizinkanku. Aku tetap nekat akan pergi!

(13 April 2018)

Dear Diary,
Hari ini perasaanku campur aduk. Sedih namun juga teramat bahagia. Bagaimana tidak, apa yang aku perjuangkan ternyata tidak sia-sia. Kata orang cinta itu penuh pengorbanan, dan aku sekarang percaya. Dengan berbekal informasi yang kudapat dari teman-temannya aku mencari tempat tinggal Rian yang baru. Walau tidak mudah tapi akhirnya aku sampai disana juga. Ternyata dia tinggal di apartemen mewah milik kakaknya yang merupakan seorang musisi. Kamarnya saja ada di lantai 20. Saat kutemui dia sedang melamun sendirian dan, ya Tuhan, dia sangat kurus. Murung dan pucat. Begitu kami bertemu aku segera memeluknya dengan erat. Awalnya dia diam saja, mungkin merasa malu karena telah meninggalkanku. Bahkan ketika kutanya apa alasan dia melakukan itu semua, dia tidak mau menjawab. Namun akhirnya aku mengerti semuanya saat dia berkata bahwa dia pergi bukan untuk melupakanku, namun justru karena tak bisa melupakanku. Karena cintanya yang terlalu besar. Air mataku sampai tak bisa kutahan saat dia mengatakan berulang kali bahwa dia sangat mencintaiku sebelum akhirnya dia melompat keluar dari jendela kamarnya...

Cintalah yang mempertemukan kami. Cinta yang menguatkan kami. Cinta pula yang menyatukan kami. Thanks God, karena sekali lagi telah memberi kami kesempatan untuk bersatu kembali. Kini aku telah menemukan kebahagiaan sejatiku. Selamat tinggal, My Diary. Thanks for everything.





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

7117

Dua bayangan hitam berkelebat diantara sinar lampu jalanan yang menembus pepohonan. Disusul oleh cahaya merah berganti biru yang mengejar mereka melewati dinding-dinding bangunan tua. Tempat itu merupakan bagian dari area sebuah perumahan elite yang terbengkalai selama belasan tahun. Entah apa yang menyebabkan proyek yang tergolong besar tersebut menjadi tidak terselesaikan. Namun rumor mengatakan ketika pembangunan berlangsung banyak dari para pekerja yang terkena demam tinggi dan juga beberapa yang lainnya berhenti bekerja secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Lebih dari itu menurut beberapa sumber dikatakan bahwa tidak sedikit dari para pekerja proyek tersebut yang menghilang secara misterius dan tak pernah ditemukan sampai sekarang.

Dengan nafas terengah-engah kedua orang itu terus berlari menyusuri trotoar jalan. Di sebuah perempatan jalan kedua orang tersebut menghentikan larinya. Salah satu diantara mereka nampak memandang sekeliling kemudian memberi isyarat pada temannya untuk mengikutinya mengambil jalan ke kanan. Meneruskan larinya mereka berbelok ke sebuah halaman rumah, melompati pagar pendek dan segera menyelinap ke balik sebuah pohon tepat ketika dua buah mobil patroli polisi yang mengejar mereka lewat di tempat itu. Beberapa menit setelah kedua mobil berlalu mereka masih diam di tempatnya bersembunyi. Baru kemudian setelah tak terdengar lagi deru mesin kedua kendaraan tersebut mereka berdiri sambil tetap mengawasi keadaan sekitar. Salah satu dari mereka bergerak ke arah pintu rumah dan mencoba mencongkel kuncinya.

Rumah itu nampak masih kokoh jika dibandingkan rumah yang lain. Catnya belum banyak terkelupas. Tidak ada tanaman rambat yang menjalari tembok. Kaca jendelanya masih utuh tanpa ada yang pecah sedikitpun. Bahkan sebuah tirai usang terlihat masih menghiasinya. Hal yang paling mencolok adalah pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati berukir dan nampak masih seperti baru dipasang. Di bagian atasnya terdapat plat besi dengan nomor 7117. Nomor yang terbilang tidak lazim digunakan untuk sebuah nomor rumah. Namun tentu saja hal seperti itu tidak diperdulikan oleh kedua orang yang sedang dilanda kepanikan tersebut. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya terdengar bunyi kunci terbuka. Tanpa menunggu lebih lama keduanya segera menyelinap masuk ke dalam rumah kosong tersebut.

Buukk! Sebuah pukulan tiba-tiba dilayangkan oleh orang yang bertubuh tinggi kurus ke wajah temannya yang bertubuh lebih pendek, membuatnya mengaduh dan tersungkur ke lantai. Selagi temannya meringgis kesakitan si tinggi kurus kembali hendak melayangkan pukulannya namun kemudian diurungkannya. Setengah mendengus dia pergi ke dinding ruangan. "Dasar tolol kau, Badar! Kenapa kau membunuh pria tua itu? Apa untungnya? Yang ada kau malah merusak rencana! Brengsek!" Dengan kesal dia menendang sebuah kotak kayu kosong di dekat kakinya. Temannya yang dipanggil Badar hanya menyeringai sambil mengelus pelipisnya yang berdenyut sakit. Sambil bersandar di tembok dia memindahkan tas yang sedari tadi digendongnya ke pangkuannya. “Aku tidak bermaksud membunuhnya, Sidan. Salah si pria tua itu  tidak mau melepaskan tasnya sedangkan kita kehabisan waktu. Aku tidak punya pilihan lain selain menembaknya.” Badar mencoba membela diri. “Iya, tapi tidak bisakah kau cukup merampasnya saja. Akibat suara tembakanmu tetangga pria tua itu jadi melapor ke polisi.” Tukas Sidan dengan ketus. Diambilnya sebatang rokok dari sakunya dan segera dinyalakannya. “Sudahlah, aku malas berdebat. Itu kan resiko pekerjaan. Toh kita juga bisa mengecoh polisi. Bukankah yang terpenting sekarang adalah ini!” Badar membuka resletting tas yang ada di pangkuannya. Nampak gepokan uang pecahan seratus ribu yang bertumpuk tersusun rapi didalamnya membuat Sidan segera lupa akan kemarahannya. Diambilnya tas itu dari tangan Badar. Setelah sejenak memperhatikan isinya segera dia keluarkan semua uang tersebut sembari menghitungnya dan disusunnya di atas lantai. “Tiga ratus juta. Aku akan membaginya rata seperti yang kujanjikan. Ini bagianmu, dan ini bagianku.” Ujarnya seraya mendorong setumpuk uang ke arah Badar. Sambil menyeringai Badar mengeluarkan sebuah kantong kain dari balik jaketnya dan mulai memasukan uang yang ada dihadapannya. Namun baru saja beberapa gepok uang yang dia masukkan dengan cepat Sidan memberinya isyarat untuk menghentikan yang sedang dilakukannya.

“Aku barusan melihat bayangan melintas di jendela. Jangan-jangan polisi menemukan kita.” Bisik Sidan. Badar melirik ke arah jendela rumah yang tertutup gorden bekas. Lama menunggu tak ada apapun yang bergerak maupun suara yang terdengar. Hanya suara jangkrik yang nyaring terdengar. “Tidak ada apa-apa. Kau ini berkhayal atau gimana?” Ujar Badar setengah meledek temannya itu. Sidan tak menjawab perkataannya. Matanya tetap waspada memandanb ke arah jendela. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dia mengikuti apa yang dilakukan Badar, memasukan uang bagiannya ke dalam tas yang dipegangnya. Wuutt! Kali ini bayangan seseorang jelas berkelebat di jendela membuat keduanya sama-sama terlonjak kaget. Keduanya berpandangan. Badar segera mencabut pistol yang  ada dibalik bajunya sedangkan Sidan mencabut sebuah belati yang terselip di sepatu bootnya. “Cepat kau intip lewat celah di jendela.” Sidan menyuruh Badar untuk mendekati jendela. Setelah mengangguk pelan dengan hati-hati Badar melangkah sambil berusaha tanpa mengeluarkan suara. Begitu sampai di jendela disingkapkannya sedikit gorden yang menutupi kaca, matanya memandang memperhatikan kegelapan malam. Beberapa menit berlalu nampak tak ada sedikitpun peegerakan di luar sana. “Aneh, tak ada tanda-tanda mereka. Apa mereka bersembunyi menunggu kita keluar? Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi lewat jalan belakang?” Ujarnya sambil menutup gorden perlahan. Namun tak ada tanggapan dari Sidan. Badar yang merasa keheranan segera memalingkan wajahnya ke tempat Sidan berdiri. Temannya tidak ada disana.

"Kemana perginya si pengecut itu. Rupanya diam-diam dia kabur duluan. Brengsek!" Badar memaki panjang pendek. Disambarnya tas uangnya dan dengan cepat dimasukkannya tumpukkan uang yang tadi belum sempat dimasukkannya. Ketika dia hendak pergi mencari pintu belakang tanpa sengaja matanya tertuju pada benda yang berserakan di lantai. Uang bagian milik Sidan! Firasat Badar mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat itu. Lebih tepatnya dengan rumah itu. Dia kenal betul siapa Sidan, tidak mungkin orang sepertinya meninggalkan uang yang begitu banyak hanya karena ketakutan yang tidak jelas. Apalagi dia menghilang begitu saja tanpa disadari oleh Badar. Diangkatnya pistol yang ada di genggamannya ke depan dadanya dan berjalan perlahan ke arah sebuah anak tangga yang menuju ke lantai dua rumah tersebut. Ketika baru melangkahkan kakinya hendak naik ke atas Badar merasa menginjak sesuatu. Dirabanya benda itu yang ternyata sebuah korek api yang diketahuinya milik Sidan. Hal itu semakin menguatkan dugaannya bahwa sesuatu telah terjadi pada Sidan. Disaat baru beberapa langkah menaiki tangga, sebuah suara keras yang berasal dari atas mengejutkan Badar sampai terjajar ke dinding.

Suara mirip sesuatu yang berlari cepat terdengar cukup keras disusul oleh suara mencericit yang kemudian segera menghilang. Badar mencoba mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. "Tikus sialan! Membuatku kaget saja!" Badar memaki tak jelas. Tanpa menurunkan kewaspadaannya dia kembali menaiki anak tangga. Tingkat dua rumah tersebut ternyata hanyalah berupa ruangan kosong sepenuhnya. Tidak ada kamar atau ruangan lain namun terlihat samar banyak benda berserakan di lantai. Badar tak bisa memastikan benda apa saja karena kondisi ruangan yang cukup gelap. Dengan hati-hati dia melangkah diantara tumpukan barang. Beberapa kali terdengar bunyi berderak ketika kakinya menginjak pecahan-pecahan barang. Ketika matanya mulai terbiasa dengan gelapnya ruangan tersebut sedikit demi sedikit dia bisa melihat benda-benda yang ada disana. Ternyata semuanya adalah barang-barang yang biasa mengisi rumah. Mulai dari perabotan dapur, kamar, ruang tamu sampai mainan anak-anak ada disana. "Apa yang terjadi dengan rumah ini? Kenapa penghuninya membawa semua barang-barang dan meninggalkannya disini? Bukankah jika mereka pindah harusnya mereka membawa semuanya?" Badar bertanya-tanya dalam hati. Pandangannya melewati kaca memandang ke luar memperhatikan purnama yang menghiasi langit malam. Cahayanya menerangi bangunan-bangunan yang belum rampung di luar sana. Berderet rapi didalam sunyinya malam. Seketika Badar tersentak. Matanya langsung waspada memperhatikan sekitarnya. "Bodoh kau Badar! Bodoh! Kenapa  baru sekarang aku sadar kalau aku berada di tempat terkutuk ini. Pantas saja dari tadi aku merasa ganjil. Setelah kupikir lagi bagaimana mungkin ada begitu banyak barang-barang di sebuah rumah yang bahkan belum pernah dihuni. Tentu saja tidak mungkin untuk sebuah perumahan yang pembangunannya tak pernah selesai. Gawat! Aku harus segera pergi dari tempat ini!" Badar segera bergerak hendak turun kembali melalui tangga. Namun langkahnya seketika terhenti ketika samar-samar didengarnya langkah seseorang sedang menaiki tangga menuju ke arahnya!

Badar bersurut mundur beberapa langkah. Ditodongkan pistolnya ke arah datangnya suara langkah yang terdengar pelan dan berat yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Badar menduga orang itu menggunakan sepatu boot atau semacamnya. "Sidan! Apa itu kau!?" Teriak Badar tak sabar. Tangannya semakin erat menggenggam pistolnya. Tak ada jawaban. Langkah itu berhenti, namun tak lama kemudian mulai melangkah lagi. Tapi ada suara langkah lain yang terdengar. Dua, tidak, tiga orang, atau mungkin lebih dari tiga orang! Badar masih bertanya-tanya dalam hatinya ketika sebuah bayangan nampak terlihat dari arah tangga. Seorang pria dengan perawakan tinggi kurus. Badar hampir berseru namun segera mengurungkan niatnya ketika dibelakang orang itu menyusul beberapa  bayangan orang lainnya yang membuat Badar menjauhi anak tangga. Ketika orang tinggi kurus itu sampai di anak tangga teratas, tercekatlah Badar. Cahaya purnama yang jatuh melewati kaca ruangan tersebut membuat Badar bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di depannya. Orang itu memang Sidan. Namun wajahnya hancur berantakan. Kulit wajahnya terkelupas, matanya hanya berupa rongga dengan darah yang masih segar meleleh membasahi pipinya. Tak ada lagi bola mata disana. Sedangkan rahangnya patah mengerikan dan menggantung hampir lepas. Sebuah sekop tertancap melintang dari dadanya tembus ke punggung. Badar tersurut mundur sampai terjengkang ke  lantai. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya bergetar hebat. Ketika terjatuh tanpa sengaja tangannya memegang sesuatu yang berserakan di lantai menahan tubuhnya. Ketika dilihatnya terkejutlah dia. Benda itu adalah tulang belulang manusia! Lebih buruknya semua benda dan perabotan yang tadi dilihatnya berserakan di lantai kini berubah menjadi tulang belulang dan tengkorak manusia!

Sambil berteriak penuh ketakutan Badar berlari ke arah jendela ruangan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu Sidan diikuti yang lainnya mulai bergerak mendekati Badar. Kini Badar bisa melihat sosok yang berdatangan padanya dengan jelas. Mereka adalah para pekerja bangunan yang menghilang dan berubah menjadi sosok mengerikan seperti Sidan. Badar semakin terdesak, para mahluk mengerikan itu semakin merangsek mendekat padanya. Tidak mungkin baginya menerobos mereka yang semakin berdatangan dari arah tangga dengan hanya bermodal pistol di tangannya. Bahkan dia tidak yakin peluru akan menghentikan mereka. Di tengah kebuntuannya Badar melihat sebuah pohon yang menjulang di luar yang tadi dipakainya bersembunyi. Cabangnya hampir menyentuh kaca jendela di belakangnya. Tanpa pikir panjang dengan gagang pistol dipecahkannya kaca jendela. Seperti tidak memperdulikan beberapa pecahan kaca yang mengenai tangannya dengan cepat dia meloloskan diri lewat jendela. Sesaaat sebelum para mahluk mengerikan itu menangkapnya Badar segera melompat ke cabang pohon. Tubuhnya meluncur deras sedangkan tangannya berusaha menggapai sebisanya. Tangan kanannya berhasil menangkap sebuah cabang pohon, namun dahannya terlalu kecil untuk menahan tubuhnya. Kraakk! Buukk! Terdengar suara dahan pohon patah disusul jerit kesakitan Badar saat tubuhnya terbanting ke tanah. Dia berhasil selamat namun pergelangan kaki kirinya patah. Dengan segera dia bangkit dan terpincang-pincang lari menyelamatkan diri dari rumah itu.

Beberapa puluh meter Badar berlari dilihatnya sebuah mobil patroli polisi terparkir di bahu jalan. Segera dia berteriak meminta pertolongan. Dari dalam mobil seorang polisi keluar dan segera menghampiri serta bertanya mengenai apa yang terjadi padanya. Badar pun menceritakan semua yang terjadi dan mengakui segala kejahatannya. Polisi pun menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan  bermaksud membawanya menuju kantor polisi. Di dalam mobil Badar terduduk lemas. Pikirannya kacau. Sesaat dia menoleh ke belakang memperhatikan rumah dengan nomor 7117 tersebut. Hanya kegelapan yang menyelimutinya. Sementara itu ketika melihat sebuah mobil polisi keluar dari jalan perumahan, seorang gelandangan yang sedang berjalan di tengah dinginnya malam nampak menghentikan langkahnya. Matanya mengikuti arah perginya mobil tersebut. Tangannya membuat gerakan seperti orang sedang berdoa sebelum kemudian mempercepat langkah kakinya setelah dilihatnya mobil yang baru saja melewatinya itu melaju tanpa pengemudi...





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Mata Titipan

Dengan hati-hati dokter membuka perban yang melilit mengelilingi kepala Wahyu, menutupi bagian matanya. Dia baru saja selesai melakukan operasi cangkok mata akibat kecelakaan yang dialaminya. Mobil yang ditumpangi bersama kakaknya menyerempet mobil lain yang muncul dari arah berlawanan di sebuah tikungan pada suatu malam. Mobil yang berserempetan dengannya kehilangan kendali lalu terguling. Pengemudi dan seorang penumpangnya dikabarkan meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit. Kakaknya meninggal di tempat setelah mobil yang keluar dari lajur menabrak sebuah pohon menyebabkan tubuhnya terlempar ke luar dengan posisi kepala membentur kaca depan hinga hancur. Hanya Wahyu yang selamat, karena tubuhnya tertahan oleh sabuk pengaman. Namun dia harus kehilangan kedua matanya akibat terkena pecahan kaca. 

Wahyu masih memejamkan matanya walaupun dokter telah selesai membuka lilitan perbannya. "Silahkan coba buka matanya, pak. Pelan-pelan saja, tidak usah takut." Ujar dokter sambil memegang pundak Wahyu seolah ingin meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Perlahan Wahyu membuka matanya. Silaunya cahaya membuatnya kembali memejamkan matanya. Setelah menarik nafas panjang sedikit demi sedikit kembali dia mencoba membuka matanya.

Beberapa bayangan orang terlihat berdiri di depannya. Pandangannya masih samar dan sedikit berkunang-kunang. Masih terasa perih di kedua matanya, mungkin karena belum terbiasa dengan mata barunya. "Giamana, pak?" Tanya dokter. "Agak sedikit perih, dok. Kedua mata saya bisa melihat namun masih kabur." Wahyu meraba wajahnya. Diusapnya bekas operasi di matanya. "Jadi penglihatan masih kabur ya? Baik. Sudah saya catat dan akan saya buatkan laporan terlebih dahulu. Saya akan segera kembali untuk pengecekan retina." Dokter segera meninggalkan ruangan. Dua orang perawat membantu Wahyu kembali ke tempat tidurnya lalu membereskan peralatan dan keluar dari dalam ruangan. Wahyu mencoba untuk merebahkan diri ketika sudut matanya menangkap gerakan seseorang di dekat dinding.

"Suster?" Tanya Wahyu kepada orang itu. Matanya tak bisa memastikan apakah dia seorang pria ataukah wanita. Sosok yang nampak sedang duduk tersebut nampak berdiri lalu berjalan mendekatinya. Kemudian orang itu duduk dipinggiran tempat tidur. Berada sedekat itu Wahyu bisa mencium wangi tubuhnya yang menebarkan semerbak harum. "Aku senang kamu bisa selamat dan bertahan. Setidaknya tidak ada korban yang bertambah. Aku juga lega operasi matanya berhasil." Suaranya terdengar lembut membuat Wahyu yakin bahwa dia adalah seorang wanita. "Terima kasih atas kepedulianmu. Tapi maaf, apakah aku mengenalmu?" Tanya Wahyu sambil memicingkan matanya berusaha mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. "Nanti juga kamu tahu." Jawab wanita itu singkat sambil tersenyum. Pandangannya beralih ke arah jendela. Memperhatikan dua ekor burung yang berkejaran di ranting sebuah pohon. "Apakah kau bersyukur bisa selamat dari kecelakaan itu?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut wanita itu membuat Wahyu tertegun.

"Sejujurnya aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak membiarkan aku pergi dari dunia ini. Kenapa dia hanya mengambil kakakku. Aku sudah kehilangan keluargaku dan kini aku tak memiliki lagi hal yang berharga di dunia ini. Pada akhirnya aku sendiri tak tahu apakah aku harus bersyukur karena masih hidup atau tidak." Wahyu memejamkan matanya sambil memperbaiki posisi duduknya. "Jadi kau tidak bersyukur walau kau mendapat pengganti kedua matamu yang hilang?" Kembali wanita itu bertanya. "Aku yakin kedua mata ini akan jauh lebih berguna jika tetap bersama pemiliknya..." Jawab Wahyu pelan. Wanita itu menghela nafas panjang kemudian bangkit dan berjalan ke arah jendela.

"Pemilik mata itu adalah seorang penderita penyakit langka Complex Regional Pain Syndrome. Jika kau pernah mendengarnya mungkin kau juga tahu kalau penyakit ini memunculkan rasa sakit luar biasa yang menusuk-nusuk tubuh bagi si penderita, kelelahan kronis bahkan seringkali membuat tubuh serasa seperti terbakar. Dia kesulitan untuk pergi kemanapun dia mau, padahal dia ingin sekali menjadi seorang traveler. Kebebasan hidupnya direnggut oleh penyakitnya. Lebih darimu, dia adalah orang paling putus asa." Wanita itu menghentikan ceritanya sejenak sedangkan Wahyu hanya terdiam mendengarkannya. "Tapi sekarang dia tidak lagi menderita. Tubuhnya memang tetap tak bisa pergi kemanapun dia mau, namun dia yakin tetap bisa melihat dan menikmati berbagai tempat yang indah. Untuk itulah di saat-saat terakhirnya dia memutuskan untuk mempercayakan kedua matanya padamu. Orang itu ingin tetap melihat indahnya hidup lewat dirimu. Dialah orang yang bertabrakan denganmu." Ucapan wanita itu membuat Wahyu terkejut.

"Jadi mata ini...." Wahyu tak meneruskan ucapannya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dipenuhi kesedihan. Sedikit ragu perlahan Wahyu membuka matanya. Dia merasa keheranan begitu mendapati bagaimana kini dia bisa melihat dengan sangat jelas, bahkan rasa pedih yang tadi dirasakannya kini sudah hilang sepenuhnya. Selagi dia terpana dengan perkembangannya, didengarnya lagi wanita itu berkata. "Hiduplah, Wahyu. Dengan mata itu, jalanilah hidupmu yang berharga. Itulah yang juga kakakmu inginkan." Wahyu terperanjat. Namun ketika dia mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedari tadi berbicara dengannya, terkejutlah dia. Ternyata di ruangan itu tak ada orang lain selain dirinya. Pandangannya memutar ke seluruh ruangan namun tetap saja orang yang dicarinya tak ada. Hanya setangkai bunga sedap malam yang terlihat tergeletak di jendela kamar...



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Monster

"Monster! Monster! Pergi kau dasar monster!" Teriak beberapa anak kecil yang berkumpul di sudut sebuah gang buntu. Mereka berkerumun mengelilingi seorang anak perempuan yang terduduk di tanah sambil menutupi wajahnya. Rambut anak perempuan itu terlihat berbeda dengan anak seusianya. Dia memiliki warna putih yang rata di keseluruhan rambutnya. Sedangkan anak-anak yang mengerumuninya terus mengejeknya dan terkadang mereka juga melempari anak perempuan tersebut dengan benda-benda disekitarnya. "Ayo, lempari lagi dia!" Teriak salah satu anak laki-laki berambut jabrik. Teman-temannya yang lain segera mengikuti apa yang dia perintahkan. Sementara anak perempuan itu hanya diam saja menerima semua benda yang melayang mengenai tubuhnya.

"Berhenti, anak-anak! Apa yang kalian lakukan?" Sebuah teriakan menggema menghentikan tindakan anak-anak nakal tersebut. Begitu melihat siapa yang berbicara mereka langsung bersurut mundur dan berkumpul menjauhi si anak perempuan. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai terlihat berdiri di depan jalan menuju gang. Ditangan kanannya terlihat keranjang belanjaan berisi sayuran dan berbagai bahan masakan. Semua anak mengenalinya, dia adalah bu Arin, seorang guru di sebuah sekolah dasar swasta dan kebetulan memang mereka semua adalah anak didiknya. Bu Arin memiliki paras yang cantik dan lembut. Dia sangat disenangi oleh semua orang karena sikapnya yang lembut dan penyayang kepada siapa saja. Namun walau begitu melihat bu Arin mendatangi mereka, anak-anak itu pun langsung tertunduk diam.

"Kamu tidak apa-apa Eri?" sapa bu Arin sambil meletakan kantung plastik belanjaannya lalu dengan nada lembut membantu membangunkan anak perempuan tersebut. Anak bernama Eri itu cuma menggeleng, kepalanya tetap tertunduk. Sambil membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada tubuhnya, bu Arin mengedarkan pandangannya menatap anak didiknya satu persatu yang saat itu berjejer berdesakan dengan wajah ketakutan. "Kenapa kalian jahat sama Eri? Kalian kan teman sekelasnya. Memangnya Eri salah apa sama kalian?" Tanya bu Arin. "Dia... Dia itu monster, bu. Ibu jangan dekat-dekat nanti dia makan ibu." Ujar si anak berambut jabrik. "Iya, bu. Dia itu monster jahat." Timpal anak yang berbadan gemuk. "Lho, kenapa kalian memanggil Eri dengan sebutan monster? Dia kan sama seperti kalian." Tanya bu Arin sambil mengernyitkan kening. "Tapi dia memang monster, bu guru. Dia suka makan telur mentah. Hiiyy!" Ujar seorang anak perempuan sambil bergidik. "Rambutnya aja warnanya putih, katanya yang rambutnya putih itu Wewe Gombel!" Si pendek menimpali sambil bersembunyi di balik tubuh temannya.

Bu Arin berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya ampun. Siapa yang mengajari hal itu sama kalian? Eri itu suka makan telur setengah matang, bukan telur mentah. Telur setengah matang itu sumber protein yang bagus. Dan rambutnya yang putih, itu memang kelainan gen sejak lahir. Itu sama sekali bukan hal yang berbahaya." Jelas Bu Arin membuat anak-anak menjadi tertuduk tak berani mengatakan apa-apa lagi. "Jadi sudah jelas kan kalo Eri itu bukan monster. Dia adalah teman kalian dan sesama teman itu harus saling menjaga. Tidak peduli walau Eri punya fisik yang berbeda dengan kalian, kalian harus berteman selamanya. Kalian mengerti?" Tanya bu Arin sambil memandangi anak-anak. Mereka mengangguk berbarengan. Bu Arin pun tersenyum melihatnya. "Sekarang karena sudah sore, kalian cepat pulang. Eri biar ibu yang antar pulang." Ujarnya diikuti anggukan anak-anak.

Anak-anak segera berlarian pulang. Bu Arin menghampiri Eri yang masih berdiri sambil tetap menunduk menutupi wajahnya. "Eri jangan takut. Mereka tidak akan jahat lagi sama Eri. Tidak akan ada lagi, karena mulai sekarang ibu akan menjaga Eri." Ujarnya sambil mengelus rambut kemudian memeluk anak didiknya itu. Di wajahnya menyeruak sebuah senyuman. Perlahan Eri melepaskan tangannya yang sedari tadi menutupi kedua wajahnya. Nampak sebuah wajah berkulit pucat dengan tatap mata sayu. Perlahan tatapan mata itu melirik ke arah bu Arin yang sedang memeluknya, namun sejurus kemudian tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan kosong. Bias cahaya matahari sore itu memantulkan sebuah bayangan mengerikan yang tiba-tiba muncul di dinding tembok gang buntu itu. Sesosok tubuh tinggi besar dengan rambut riap-riapan nampak tergambar dengan jelas, dari kepalanya muncul sebuah tanduk mirip tanduk rusa. Sedangkan tangan dan jemarinya terlihat semakin memanjang dengan kukunya yang runcing dan tajam mencuat mengerikan. Sesaat kemudian terdengar sebuah jeritan pendek memilukan. Hanya sekejap sebelum kemudian hanya desir angin di pepohonan yang terdengar di sore itu.

Malam menjelang. Angin masih berhembus tenang menggoyangkan dedaunan. Namun tidak dengan keluarga kecil yang menghuni sebuah rumah kuno bergaya Belanda. Seorang wanita nampak menangis di pelukan seorang wanita yang berusia lebih tua darinya. Sedangkan seorang pria nampak mondar-mandir sambil sibuk berbicara lewat telepon. Mereka mengkhawatirkan salah satu anggota keluarganya yang menghilang sejak sore tadi. Eri, anak semata wayang mereka, tak pernah kembali ke rumah itu.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Lampu Merah

Sambil menunggu lampu hijau kembali menyala, Syaiful menaikkan resleting jaketnya demi melindungi tubuhnya dari serangan angin malam yang menusuk tulang. Menjadi seorang tukang ojek sudah dijalani Syaiful sejak 2 tahun terakhir untuk menutupi kekurangannya sebagai seorang guru honorer di sebuh sekolah dasar. Namun jika dipikirkan lagi profesi tukang ojek bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi jika dilakukan di malam hari, tantangannya akan terasa semakin berat. Bukan hanya masalah udara malam hari yang mudah membuat seseorang jatuh sakit namun juga sulitnya mendapatkan penumpang. Selain itu di malam hari persentase tingkat kejahatan juga meningkat, sehingga dia harus ekstra waspada dalam memilih penumpang. Namun jika memikirkan keluarganya, anak semata wayangnya yang sedang lucu-lucunya dan sering merengek minta jajan padanya maka semua ketakutan itu rasanya sudah menjadi teman dalam setiap perjalanannya. Tanpa disadari lampu hijau sudah menyala sedari tadi, sebuah mobil truk yang baru muncul di belakang Syaiful berkali-kali memencet klakson dengan tidak sabar membuyarkan lamunannya. Rupanya si pengemudi sudah sangat tidak sabar dan tak ingin terjebak lampu merah. Tersadar dari lamunannya dengan sedikit enggan Syaiful menarik tuas gas segera sebelum lampu lalu lintas berubah kembali merah.

Di malam hari lampu-lampu jalan terlihat lebih indah. Warnanya kuning terang membias menerangi jalan membentuk lingkaran-lingkaran. Syaiful mengendarai sepeda motornya dengan perlahan, berharap rejeki pertamanya datang lebih awal. Benar saja, seorang gadis berambut pendek sebahu nampak berdiri di bahu jalan tepat sebelum tikungan menuju jembatan besar. Dilihat dari pakaiannya nampaknya dia seorang pegawai sebuah minimarket dan mungkin baru menyelesaikan shift sorenya. “Ojek, Neng?” sapa Syaiful sambil menghentikan sepeda motornya. Si gadis tidak segera menjawab melainkan nampak sedikit merenung seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. “Jam segini angkutan umum sudah jarang sekali Neng. Lebih cepat kan naik ojek, tenang nggak mahal koq sama saya mah.” Ujar Syaiful mencoba membujuk. “Tapi kalo nggak mau juga nggak apa-apa Neng, saya nggak bakal maksa.” Tambahnya sambil kembali menyalakan sepeda motornya. Si gadis cepat menghentikan Syaiful ketika dilihatnya dia hendak menjalankan sepeda motornya. “Ya udah deh, Kang, anterin saya ke jalan sekar yah.” Ujar si gadis sambil kemudian menaiki sepeda motor Syaiful. “Alhamdulillah! Siap, Neng.” Syaiful dengan senyum gembira segera menjalankan sepeda motornya. Ketika sepeda motor melewati tikungan dan hampir mendekati jembatan besar, di bahu jalan nampak orang-orang berkerumun sedangkan beberapa sepeda motor nampak berjejer di pinggir jalan. Syaifulpun melambatkan laju sepeda motornya. “Ada apa itu, Kang?” tanya si gadis. Nampaknya dia ikut penasaran melihat kejadian itu. “Kurang tahu, Neng. Kayaknya kecelakaan. Soalnya itu ada ceceran darah di tengah jalan. Belokan ini mah memang rawan kecelakaan, sudah sangat sering kejadian. Sayang saya nggak bisa lihat terhalang banyak orang.” Jawab Syaiful sambil mencoba melihat diantara orang-orang yang berkerumun. “Kalau gitu hati-hati kang bawa sepeda motornya, jangan ngebut yang penting selamat sampai tujuan.” Ujar si gadis. Syaiful hanya mengiyakan ucapan si gadis dengan anggukan kepala.

Tak banyak percakapan selama perjalanan, keduanya lebih sering sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sampai kemudian mereka berhenti di sebuah perempatan lampu merah, disaat yang bersamaan di sebelah mereka berhenti pula sebuah sepeda motor yang dikendarai berboncengan oleh dua orang pria. “Kasihan ya, Din. Lagi-lagi tikungan maut itu memakan korban.” Ujar si pengemudi motor. “Iya, Sep. Mungkin si korban ngelamun kecapekan sepulang kerja jadi nyebrang nggak nengok kanan kiri. Pelaku tabrak larinya juga nggak mau tanggung jawab dan malah kabur! Kasihan, padahal kalau dia lebih waspada kan mungkin sekarang dia selamat bahkan mungkin aja dikemudian hari berjodoh sama saya.” Jawab temannya sambil cengengesan. “ Hus! Ngaco kamu! Orang meninggal koq dibecandain! Mau kamu diikutin dia?!” Ujar si pengemudi dengan nada kesal. “Amit-amit! Becanda, Sep! Kamu jangan nakutin.” Temannya celingukan lalu kemudian memeluk erat si pengemudi motor.

Syaiful hanya diam mendengar apa yang dibicarakan keduanya sambil menyimpulkan apa yang terjadi dekat jembatan tadi. Begitu juga dengan gadis yang diboncengnya, sepertinya diam-diam dia juga menyimak percakapan mereka. “Habis belokan di depan itu jalan sekar kan, Neng?” Syaiful mencoba mencairkan suasana. “Iya, Kang.” Jawab si gadis pendek. “Oh iya, Kang. Makasih ya udah nganterin saya.” Kembali si gadis berkata. Belum sempat menjawab saat itu lampu merah sudah berubah hijau, Syaiful segera menjalankan lagi sepeda motornya. Sesampainya di sebuah belokan yang tadi ditunjuknya disana memang terlihat ada sebuah jalan kecil. Di pinggirnya terdapat plang dengan tulisan “Jalan Sekar”. Syaiful mengehentikan kendaraannya dan hendak bertanya pada si gadis. Namun alangkah terkejutnya dia sewaktu berpaling ke belakang ternyata gadis yang diboncengnya sudah tidak ada. “Astagfirullah, koq dia menghilang. Mustahil dia terjatuh dan tertinggal kan.” Ucapnya dalam hati sambil memperhatikan ke arah lampu merah tempat sebelumnya dia berhenti. Sejenak Syaiful terpaku di tempatnya berdiri. Hatinya diselimuti berbagai pertanyaan. “Waduh, jangan-jangan gadis yang barusan itu adalah orang yang sama dengan...” Syaiful tidak meneruskan perkataannya. Kabut tipis tiba-tiba menutupi tempat itu membuat perasaan Syaiful makin tak karuan. Segera dia menaiki sepeda motornya kemudian menyalakannya lalu melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu, menghilang di balik kabut yang semakin pekat.

Keesokan harinya surat kabar dan berita televisi dihebohkan dengan kasus tabrak lari yang melibatkan sebuah truk yang kemudian melarikan diri dan sampai saat ini masih diselidiki oleh polisi. Dalam kronologi kejadian dikatakan bahwa truk yang dikemudikan secara ugal-ugalan tersebut menabrak seorang wanita penyebrang jalan yang diduga baru saja pulang dari pekerjaannya. Dilaporkan juga bahwa sebelumnya truk itu juga menabrak seorang tukang ojek yang mengakibatkan korban langsung meninggal di tempat di perempatan lampu merah yang berada beberapa ratus meter sebelum tikungan tersebut.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Mindy

(1)

Hujan gerimis malam itu seperti tak dihiraukan oleh gadis yang baru saja kaluar dari mobilnya. Sambil melindungi kepalanya dengan tas kecil dia berjalan cepat melewati halaman dan sampai di depan pintu sebuah rumah bergaya classic. Setelah merapikan pakaian dan rambutnya, segera dia memencet bel yang berada di sebelah kanan pintu rumah tersebut. "Malam, Ren! Apa kabar?" Sapa Mirna begitu pintu terbuka. "Mirna! Akhirnya kamu datang juga! Aku kangen banget sama kamu!" Rena segera memeluk sahabat baiknya sejak kecil itu. Memang sudah sangat lama mereka tidak bertemu. Padahal dari semenjak duduk di sekolah dasar mereka selalu bersekolah di sekolah dan kelas yang sama. Kemana-mana selalu berdua seakan hampir tak terpisahkan. Namun selepas lulus SMA karena kesibukan masing-masing dan juga Mirna yang kemudian bekerja di luar kota sehingga membuat satu sama lain akhirnya kehilangan komunikasi. Tapi beberapa minggu lalu secara tidak sengaja mereka bertemu di jejaring sosial Facebook dan karena kebetulan Mirna juga berencana untuk pulang mengunjungi ibunya sehingga akhirnya mereka membuat rencana untuk bertemu di rumah Rena. "Aku turut berbelasungkawa atas kepergian suami kamu Ren. Maaf aku gak ada disamping kamu waktu itu." Ujar Mirna sambil menggenggam tangan Rena. "Tak apa, Mir. Itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Sekarang aku sudah terbiasa koq hidup berdua sama Mindy." Ujar Rena sambil tersenyum. "Oh iya, mana anak kamu itu? Kenalin donk sama tantenya yang cantik ini." Mirna melayangkan kepalanya mencoba mencari ke seluruh ruangan. "Ada, tuh lagi asyik nonton tv. Kalau dari sini kamu nggak bisa lihat orang terhalang kursi. Samperin aja sana, aku bikinin dulu teh buat kamu." Jawab Rena sambil menunjuk ke ruang tengah. Disana terlihat deretan kursi sofa berwarna maroon dengan televisi yang terlihat menyala. Mirna pun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kursi yang ditunjuk oleh Rena.

(2)

Seorang gadis kecil berusia 5 tahun dan berambut ikal sebahu tampak serius sedang menonton televisi. Rambutnya dikuncir sebelah dengan hiasan pita merah. Sementara itu dipelukannya terlihat sebuah boneka perempuan yang cukup usang. Ada yang menarik perhatian Mirna, pakaian yang digunakan gadis kecil itu hampir sama persis dengan boneka yang dipeluknya. Gaun pendek berenda selutut berwarna merah dengan motif bunga berwarna hitam. Sejenak Mirna bahkan sempat berpikir mengapa gadis kecil itu masih menggunakan gaun bukannya baju tidur karena saat itu jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul sembilan malam. Namun Mirna tidak terlalu memikirkannya karena memang anak kecil seringkali memiliki pakaian kesukaannya sehingga dia selalu ingin memakainya kapanpun. "Hello, Mindy! Lagi asyik nonton ya? Nonton apa sih?" Sapa Mirna. Tidak ada jawaban dari mulut gadis kecil itu, bahkan menoleh saja tidak. Sepertinya dia sangat fokus menonton tv sampai seperti orang terkena hipnotis saja, pikir Mirna. Ketika dia menoleh ke televisi dia sedikit heran karena di televisi sedang menayangkan sebuah iklan produk pasta gigi. "Aneh, memangnya apa yang menarik dari iklan itu sampai dia mengacuhkanku?" pikir Mirna. "Nama kamu Mindy kan? Tadi mama yang bilang sama tante. Oh iya, kita belum kenalan yah? Kalau gitu kenalin nama tante, Mirna. Salam kenal yah?" Ujar Mirna seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Namun lagi-lagi gadis kecil itu tak merespon sedikitpun ucapan Mirna. Matanya hampir tak berkedip tetap memandangi televisi. Mirna sampai dibuat salah tingkah. Didorong rasa penasaran kembali dia memandang ke arah televisi. Namun tak ada hal yang aneh ataupun menarik, masih tetap menayangkan iklan. Ketika menoleh kembali ke arah gadis kecil itu Mirna dibuat kaget setengah mati saat dilihatnya kini anak itu sedang menatap tajam padanya tanpa berkata sepatah katapun membuatnya sampai tersurut beberapa langkah kebelakang. Diantara kebingungannya dia berbalik bermaksud untuk menemui Rena. PRAAKK! Suara keras disusul jeritan terdengar diruangan itu!

(3)

Mirna jatuh terduduk dengan muka pucat. Dihadapannya sambil berjongkok Rena tampak sibuk memunguti pecahan gelas yang berserakan. Nampaknya ketika Mirna berbalik tanpa sengaja bertabrakan dengan Rena yang sudah berada dibelakangnya membawa nampan berisi teh. "Maaf Ren, aku nggak tahu kamu ada dibelakang." Ujar Mirna serta merta bangkit dan membantu Rena mengumpulkan pecahan gelas. "Nggak apa-apa Mir, udah aku aja yang beresin. Salah aku koq malah berdiri dibelakang kamu. Soalnya kupikir tadi aku nggak mau ganggu kamu ngobrol sama Mindy. Gimana kalian udah kenalan?" Tanya Rena. "Umm... Iya, udah koq Ren." Mindy terpaksa berbohong sambil melirik ke arah Mindy yang kini terlihat kembali fokus menonton televisi. "Oh, baguslah. Pertama kali mungkin agak susah ngajak dia ngobrol. Tapi kalo udah terbiasa dia itu menyenangkan lho." Ujar Rena seraya bangkit membawa pecahan gelas yang sudah terkumpul. "Sebentar, aku bikinkan lagi tehnya yah." Ujarnya sambil kemudian berbalik dan berjalan ke arah dapur. "Tunggu, Ren. Udah nggak usah dibikinin lagi, jangan repot-repot. Kamu tuh kayak sama orang lain aja. Kalaupun aku mau kan aku bisa ngambil sendiri." Mirna mengambil nampan yang tertinggal di meja dan bergegas mengikuti Rena ke dapur. Namun tepat di depan pintu dapur langkahnya terhenti ketika dari dalam dapur didengarnya suara Rena seperti sedang berbicara pada seseorang. "Lho, Rena ngomong sama siapa? Bukannya dia cuma tinggal berdua sama anaknya? Kayaknya dia nggak pernah bilang punya pembantu." Mirna berkata dalam hati. Diam-diam Mirna mendekat ke daun pintu berusaha untuk mendengar suara Rena dengan lebih jelas. Namun yang terdengar hanya suara seperti orang meracau bahkan kadang seperti orang bergumam. Ketika mencoba mengintip dari sela-sela pintu dapur yang sedikit terbuka, sebuah sentuhan dingin di bahunya membuat Mirna melonjak sambil berseru kaget.

(4)

Rena memandangi Mirna yang bersandar ketakutan di pintu dapur dengan tatapan keheranan. Tangannya terlihat membawa kantong plastik kecil berisi pecahan gelas. Sementara Mirna hampir tak bisa mengatur nafas karena rasa terkejutnya. "Kamu nggak apa-apa Mir? Maaf sepertinya aku bikin kamu kaget." Ujar Rena ketika dilihat sahabatnya sudah mulai tenang. "Kamu... Kukira kamu ada di dalam... Di dapur... koq bisa ada..." Mirna berkata sedikit terbata-bata. "Oh, aku tadi nyari kantong plastik dulu." Potong Rena. "Sekalian aku cuci tangan soalnya pecahan kacanya sempat menggores tanganku." Terusnya sambil memperlihatkan telapak tangannya yang sedikit berdarah. Namun seperti tidak mengacuhkan luka Rena, Mirna justru tampak memandangi wajah Rena dalam-dalam. "Tapi tadi... Aku mendengar suara kamu di dapur, mengobrol dengan seseorang." Mirna berkata perlahan. "Hah? Kamu kan tau aku baru datang kesini dan di rumah ini aku cuma tinggal berdua sama Mindy. Mungkin kamu ngelindur." Rena tersenyum mendekati Mirna dan mencubit pipinya. "Nggak Ren, aku yakin itu bukan suara tv." Mirna tetap bersikukuh. "Udah. Mendingan kamu kembali ke ruang tamu. Aku bikinin minuman yang baru biar kamu lebih santai." Ujar Rena seraya segera memasuki dapur. Walau pikirannya diselimuti bermacam pertanyaan namun akhirnya Mirna kembali juga ke ruang tamu. Sebelum duduk dia sempat melirik ke arah sofa tempat Mindy menonton televisi. Wajahnya sedikit terlihat dari balik sofa, seperti sebelumnya memandang tak berkedip pada layar televisi. Entah kenapa rasa tidak tenang terus menyelimuti perasaannya. Tidak lama kemudian Rena kembali dengan membawa nampan berisi teh hangat yang baru dan toples berisi kue kering. Setelah memberikan satu cangkir pada Mirna, dia segera menyeruput cangkir teh miliknya. "Minum dulu biar mood kamu balik. Dari tadi kulihat mukamu pucat, Mir. Kamu nggak lagi sakit kan?" Tanya Rena. Mirna hanya menggeleng perlahan kemudian mengambil cangkir tehnya dan meminumnya sedikit. Harum dan hangatnya teh memang membuat perasaan Mirna sekarang lebih baik. Beberapa kali dia menyeruput pelan cangkir teh ditangannya. "Bener kan yang aku bilang, teh itu pasti bisa balikin mood kamu. Berani taruhan deh, kamu pasti udah lupa sama teh itu." Ujar Rena. Mirna mengernyitkan kening sambil menatap bingung pada Rena. "Sudah kuduga. Kamu pasti udah lupa sama teh yang dulu sering dibuat sama ibuku kalo kita lagi ngerjain tugas bareng." Ujar Rena sambil meletakkan gelasnya. "Oh!" Mirna setengah berseru membuat Rena jadi ikut terkejut. "Pantas saja aku ngerasa akrab banget sama rasanya. Sampai-sampai aku kaget saat menyadari kalau rasa teh bisa seenak gini. Kamu hebat bisa ngejaga warisan orang tua ya. Kalau dipikir lagi, jangan-jangan teh ini juga yang bikin ayahnya Mindy dulu jatuh cinta?" Ujar Mirna sambil tersenyum kecil. "Bisa iya, bisa nggak." Jawab Rena sembari tertawa. Sambil menikmati kue kering yang diambilnya dari toples, Mirna  menceritakan kehidupannya selama dia berada di luar kota. Beberapa kali obrolan mereka diselingi tawa. "Jadi sampai sekarang kamu belum berniat menikah hanya karena ibumu belum membahas soal itu?" Rena tersenyum geli. "Yah, habisnya pekerjaanku di kantor banyak banget. Nggak ada waktu mikirin hal kayak gitu. Ibu juga nggak nuntut jadi ya..." Jawab Mirna mengangkat bahunya. Rena kembali tertawa mendengar jawaban Mirna. Bibirnya kembali seperti hendak mengatakan sesuatu namun tiba-tiba tertahan ketika matanya kemudian terpaku pada sesuatu di belakang Mirna.

(5)

"Ada apa, Ren? Koq malah bengong?" Tanya Mirna sambil perlahan menoleh ke arah belakangnya. Tak ada apa-apa disana selain sebuah jam dinding antik yang terpasang di dinding. "Oh, sorry! Aku terkesima liat waktu di jam dinding. Rasanya koq cepat banget ya sekarang udah jam sepuluh lagi. Padahal rasanya aku baru ngobrol 5 menit sama kamu." Rena cepat berkata begitu sadar dari lamunannya. "Kamu ini ada-ada aja Ren." Mirna menghela nafas lega. Namun tiba-tiba Rena berdiri dan berpaling ke arah sofa di ruang tengah. "Ya ampun! Saking asyiknya ngobrol sama kamu, aku sampai lupa kalo sekarang waktunya Mindy tidur. Eh, nggak apa-apa kan ku tinggal dulu sebentar?" Ujarnya segera beranjak dan pergi ke ruang tengah. "Iya, nggak apa-apa. Sana kamu tidurin dulu Mindy, kasian jangan dibiasain tidur larut malam." Jawab Mirna seraya menikmati sepotong kue kering. Di luar hujan terdengar mulai lebat yang entah kenapa membuat Mirna mendadak teringat akan ibunya di rumah. Perasaan gelisah tiba-tiba menyelimuti pikirannya, khawatir terjadi sesuatu pada ibunya yang hanya tinggal berdua dengan adiknya yang masih kecil. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Masih ada hari esok untuk bertemu dan berbincang dengan Rena, pikirnya. Diapun beranjak hendak berpamitan pada Rena yang berada di kamar Mindy yang terletak bersebelahan dengan ruang tengah. Namun ketika melewati ruang tengah langkahnya terhenti. Di sofa itu nampak seorang anak kecil yang diam tak bergerak memandangi televisi. "Mindy? Bukannya Rena bilang mau menidurkan anak ini, tapi kenapa dia masih ada disini? Atau mungkin Rena malah ketiduran dan anak ini balik lagi nonton tv. Ya ampun, Rena. Kebiasaaan kamu masih nggak ilang ternyata." Mirna tersenyum memikirkan hal itu. Ketika dia bermaksud bertanya pada Mindy, sayup-sayup telinganya mendengar suara dari dalam kamar Mindy. Walau di luar hujan cukup deras, namun Mirna bisa memastikan suara tersebut adalah suara orang yang sedang menyanyikan sebuah lagu tidur. Perlahan Mirna mendekati pintu kamar dan mendengarkan dengan seksama suara tersebut.

Mindy Sayang
Tidurlah dalam diam, jangan menangis
Cukup hujan saja
Tidurlah yang lelap, malam menjemput
Esok pagi kita bermain lagi

Mirna berdiri terpaku di balik pintu. Tengkuknya terasa dingin. "Suara itu jelas suara Rena yang sedang menyanyikan lagu tidur untuk Mindy. Tapi bukankah Mindy sedang menonton televisi? Lalu siapa yang sedang dia tidurkan?" Mirna bertanya-tanya dalam hati. Dengan hati berdebar dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar. Cahaya temaram sedikit demi sedikit terlihat. Di dalam kamar nampak Rena sedang tidur menyamping membelakangi Mirna. Mulutnya tak henti menyanyikan lagu tidur. Perasaan Mirna semakin tak menentu. Langkahnya terhenti, dengan sedikit ragu-ragu dia menoleh ke arah sofa. Matanya jelas melihat Mindy sedang duduk disana. Kembali pandangannya tertuju pada Rena. Degup jantungnya semakin kencang seiring langkahnya semakin dekat dengan ranjang tempat Rena menidurkan anaknya. Ketika posisinya sudah berada tepat dibelakang Rena, dengan menguatkan hati dia mencoba mengintip dari balik tubuh Rena. Alangkah terkejutnya dia sewaktu menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Kakinya tersurut beberapa langkah ke belakang sedangkan kedua tangannya berusaha mendekap mulutnya agar tak menjerit!

(6)

"Rena, apa yang kamu lakukan?!" Suara Mirna terdengar bergetar. "Ssst! Mindy hampir tidur." Rena menoleh sebentar pada Mirna. "Ren, kamu sadar nggak sih? Kamu cuma lagi bercanda aja kan?" Suara Mirna terdengar makin serak. "Please deh Mir, jangan berisik. Tidurin Mindy itu susah. Kalau udah dateng rewelnya aku kadang sampai nggak bisa tidur." Ujar Rena kembali mulai menyanyikan lagi lagu tidurnya. "Ren, hentikan Rena. Hentikan!" Mirna melompat dan menarik tangan Rena. Melihat hal itu Rena langsung menepis tangan Mirna dan segera memeluk anaknya. "Kamu kenapa sih!? Jadi kan Mindy bangun lagi! Tuh kan, dia nangis!" Rena segera mengusap-usap rambut anaknya. "Kamu yang kenapa Ren! Apa kamu sudah gila!? Lepaskan dia dari pelukanmu, Ren! LEPASKAN BONEKA ITU!!" Teriakan Mirna terdengar menggema hampir ke seluruh bangunan rumah itu. Sejenak suasana ruangan itu terasa senyap, hanya suara hujan di luar yang terdengar semakin deras. Saat itu terlihat Mirna menangis sesegukan sambil berdiri bersandar pada dinding kamar. Sedangkan Rena berdiri mematung dengan mata membelalak menatap Mirna. Perlahan tatapannya beralih pada boneka lusuh bergaun merah yang ada dipelukannya. Boneka yang tadi berada di pelukan gadis kecil di sofa ruang tengah. Dengan tangan gemetar diangkat dan diperhatikannya boneka itu. Tiba-tiba saja jeritan keras keluar dari mulutnya! Dengan sebuah gerakan cepat dia melompat dari tempat tidur dan mencengkram leher Mirna dengan sebelah tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya tampak menggenggam erat boneka lusuhnya. Cengkraman itu luar biasa kuat membuat Mirna yang tak menduga akan diserang seperti itu langsung megap-megap kehabisan nafas hanya dalam beberapa detik saja.

(7)

Mirna mulai kehabisan tenaga, mukanya berubah pucat dengan cepat. Kepalanya mulai terasa berat serasa akan meledak. Tenggorokannya mengeluarkan suara kecil tercekik kesakitan. Disaat Mirna hampir kehilangan kesadarannya, tiba-tiba Rena melepaskan cekikannya. Dengan cepat menggendong boneka lusuhnya dan menimangnya seperti menghibur anak kecil yang sedang menangis. "Ssshh, jangan nangis sayang! Mama disini! Mama bakalan selalu jagain Mindy! Nggak ada yang bisa nyakitin kamu lagi! Seperti lelaki kasar itu, mulutnya yang jahat sudah terkunci selamanya. Dia sudah mendapat karmanya sendiri karena berani berbuat jahat sama kamu. Jangan takut lagi. Mama akan menghapus kesedihan kamu. Mama juga akan menghapus orang-orang yang mengganggu kamu. Hihihi..." Rena tertawa cekikikan sambil membelai rambut bonekanya. Sementara itu Mirna yang jatuh di lantai nampak terbatuk-batuk. Sekujur tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Kepalanya berdenyut sakit sedangkan nafasnya tak teratur. Namun ketakutan dalam dirinya memaksanya untuk segera pergi dari tempat itu. Setengah sempoyongan Mirna bangkit dan segera beranjak pergi dari tempat itu. "Mir, kamu mau pergi kemana?" Ucapan lirih Rena membuat langkah Mirna terhenti. Dilihatnya Rena duduk memeluk erat boneka lusuhnya. Dengan mulut bergetar Mirna menatap Rena. "Aku tak percaya semua ini terjadi. Kamu bukan Rena yang aku kenal lagi. Aku nggak tahu apa yang terjadi sama kamu, tapi yang jelas aku nggak mau berada disini lagi. Aku nggak mau membahayakan hidup aku sendiri!" Ujarnya sambil menahan tangis. "Kenapa kamu berkata kasar seperti itu padaku, Mir? Apa yang salah denganku? Bukankah kita sahabat? Kenapa sekarang kamu membenciku? Ya, sekarang kamu membenciku dan juga Mindy! Sama seperti lelaki biadab itu!" Rena berdiri dan menatap tajam ke arah Mirna. "Kamu sama saja seperti dia. Kamu pantas lenyap seperti dia!!" Dengan mata nyalang Rena bangkit dan perlahan melangkah mendekati Mirna. Dengan kaki gemetar Mirna bersurut mundur keluar dari kamar itu. Setengah berlari dia melewati ruang tengah menuju ruang tamu, menyambar tasnya dan segera menuju pintu keluar. Sedangkan di belakangnya nampak Rena berjalan dengan cepat sambil menjinjing boneka di tangannya. Tanpa menoleh sedikitpun Mirna segera membuka pintu dan menghambur lari menuju mobilnya yang terparkir di halaman tanpa memperdulikan hujan lebat yang mengguyur tubuhnya. Dengan susah payah dia masuk dan menyalakan mesin mobilnya. Dilihatnya Rena sudah sampai di ambang pintu, namun anehnya dia tidak meneruskan pengejarannya dan hanya berdiri mematung dengan sorot mata tajam mengikuti mobil yang mulai bergerak keluar dari halaman rumahnya. Sejenak Mirna memandang ke arah Rena, masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan sahabat baiknya sejak kecil itu. Sedikitpun dia tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan Rena setelah sekian lama terpisah akan berakhir seperti itu. Sambil menyeka air matanya yang terus membasahi kedua pipinya akhirnya Mirna segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Rena dan segala kejadian buruk yang baru saja dilaluinya.

(8)

Di sebuah jalanan lurus yang cukup lenggang, sebuah mobil sedan berwarna merah berjalan pelan kemudian menepi dan berhenti di bawah sebuah lampu jalan. Di dalamnya seorang gadis dengan tubuh basah kuyup nampak bertumpu pada setir mobil. Di luar hujan belum juga reda, kadang diselingi oleh petir yang menyambar membelah langit. Mirna mengangkat wajahnya kemudian bersandar sambil memejamkan mata. Wajah Rena masih membayang di pelupuk matanya. Bagaimana sahabat baiknya itu baru saja mencekik dan mencoba hendak membunuhnya. Padahal beberapa jam yang lalu dia masih ingat semuanya baik-baik saja. Dia mencoba menahan perasaanya dengan menggigit bibirnya namun isak tangisnya kembali terdengar di dalam mobil sedan itu. Semakin lama suaranya tangisnya terdengar semakin kencang seakan-akan Mirna ingin menumpahkan segala ketakutan dan kekecewaan melalui air matanya. Tanpa sedikitpun menyadari jika di kursi belakang mobilnya, dalam gelap, sesosok gadis kecil bergaun merah sedari tadi terus memandang tajam padanya dengan  senyum tersungging di mulut kecilnya...
Malam semakin larut. Suasana jalanan yang lenggang semakin terasa sepi. Kini satu-satunya suara yang masih terdengar hanyalah suara derasnya hujan yang tak kunjung reda.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Berburu

Dengan sangat hati-hati Alex melangkahkan kakinya, sambil sesekali menyibakkan semak belukar yang menghalangi pandangannya menggunakan senapan berburu di genggaman tangannya. Hobi berburu diwariskan oleh ayahnya sejak kecil sehingga dia sudah terbiasa pergi berburu sendirian. Matanya yang awas menelusuri jejak hewan buruan sedangkan telinganya terfokus mendengar suara-suara disekitarnya.

Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah jejak yang membuat bulu kuduknya merinding. Jejak beruang! Hewan buas yang sanggup membunuh manusia dengan cakar-cakarnya yang besar dan tajam. Dengan cepat dia merundukkan kepalanya dan terus mengikuti jejak hewan tersebut. Langkah kakinya terhenti saat dilihatnya jejak beruang tersebut berakhir di sepasang kaki yang menyembul dari balik sebuah pohon. Disekitarnya darah terlihat berceceran.

Dengan hati berdebar dan tetap waspada Alex mendekati pohon itu. Sesosok tubuh berlumuran darah nampak menelungkup di tanah tak bergerak. Di sampingnya tergeletak sebuah senapan berburu. Dilihat dari kondisinya bisa dipastikan tubuh tersebut sudah tak bernyawa lagi. Mungkin dia diserang oleh beruang yang aku buru, pikir Alex. Perlahan dia mendekati tubuh itu untuk mencari tahu identitasnya. Namun wajahnya langsung berubah pucat sewaktu dia membalikkan tubuh tersebut yang membuatnya jatuh terduduk di tanah. Tubuh itu adalah tubuhnya.



- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger