ComedyCorner : Lupa Jati Diri

Di sebuah pos ronda kampung terlihat dua orang lelaki sedang berjaga. Seorang yang lebih tua nampak sedang menikmati segelas kopi hitam sambil menghisap rokok daun kawungnya. Sedangkan lelaki yang berusia lebih muda nampak sedang menghangatkan tubuhnya di depan perapian. Dihadapkannya telapak tangannya ke perapian kemudian sesekali digosok-gosokan ke wajahnya. Mereka adalah Kang Oto dan Jang Ono yang memang sedang kebagian jadwal ronda malam itu.

"Jang, sudah jangan dipanasin terus itu tangan. Nanti tambah gosong kulit kamu. Kalau sudah begitu saya juga yang repot!" Ujar Kang Oto memecah kesunyian.

Jang Ono memutar tubuhnya. Kedua alisnya mengernyit hampir menjadi satu mendengar perkataan Kang Oto.

"Memangnya kenapa saya kalau kulit saya makin hitam? Kenapa akang yang repot?" Tanya Jang Ono sedikit ketus.

Kang Oto menghisap dalam rokok kawungnya. Meniupkan asapnya ke udara beberapa kali. Dengan tatapan tajam dipandangnya Jang Ono membuat dia merasa gelisah sendiri dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Soalnya kalau kamu tambah hitam, saya bakalan kesulitan nyari kamu nanti pas ronda keliling. Jadi satu kamu sama gelap malam!" Kang Oto tertawa sampai terbatuk-batuk.

Jang Ono hanya bisa mencibir diledek seperti itu. Dengan kesal ditendangnya kayu bakar diperapian dengan kakinya.

"Kamu ini ngeronda malah terus duduk di depan api. Bukannya jadi hangat yang ada makin dingin tubuh kamu. Duduk sini, ngopi dulu." Kang Oto menepuk tempat duduk di sebelahnya.

Sedikit bermalasan Jang Ono bangkit dan duduk disebelah Kang Oto. Diambilnya sebatang rokok yang disodorkan Kang Oto padanya.

"Kang, biar nggak ngantuk ceritain sama saya cerita horor atau apalah. Akang kan katanya pintar mendongeng." Ujar Jang Ono sambil menyalakan rokoknya.

Tapi baru dihisapnya sekali dia langsung terbatuk. Dilemparkannya rokok tersebut ke arah perapian. Lidahnya dijulurkannya keluar seperti orang tercekik.

"Rokok apa itu, kang? Koq baunya kayak kencing gorila." Jang Ono meludah ke tanah beberapa kali.

Kang Oto santai saja menghisap rokoknya. 

"Mau kuceritakan apa?" Tanya Kang Oto.

Jang Ono cemberut protesnya tidak ditanggapi Kang Oto. Diseruputnya kopi di gelas milik Kang Oto.

"Terserah akang saja." Jang Ono masih merasa kesal.

Kang Oto memperbaiki posisi duduknya, setelah berpikir sejenak dia pun memulai ceritanya.

"Pada suatu malam yang gelap, seorang lelaki bertubuh tinggi besar nampak berjalan terbungkuk-bungkuk. Rambutnya gondrong riap-riapan tertiup angin malam. Ketika menyusuri sebuah jalan perkampungan yang sepi tatapannya membentur sesosok wanita yang berdiri beberapa langkah dihadapannya.

Diapun menghentikan langkahnya dan berusaha mengenali sosok yang berpapasan dengannya tersebut. Saat itu kondisi cukup gelap karena rembulan tertutup awan sehingga lelaki itu merasa kesulitan untuk melihat wajah wanita di hadapannya. Barulah disaat awan mulai bergerak perlahan cahaya rembulan jatuh sedikit demi sedikit menerangi tempat itu.

Sekarang lelaki itu bisa melihat wajah seorang gadis berwajah pucat dan berambut hitam panjang dengan tatapan dingin memandang padanya. Namun ketika cahaya rembulan menyinari sekujur tubuh wanita itu, terkejutlah si lelaki. Tubuh wanita itu berlubang besar di bagian perutnya tembus sampai ke punggungnya. Isi perutnya terburai keluar dan dipenuhi belatung yang menggeliat-geliat. Kontan saja si lelaki itu ketakutan dan segera ambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.

"To... To... Toloooong! Ada sundel bolong!" Teriak lelaki itu.

Sementara itu disaat yang bersamaan terdengar jeritan seorang wanita. Ternyata Sundel Bolong itu juga berlari ketakutan ke arah yang berlawanan sambil berteriak.

"Aaaahhh! Toloooong! Ada Genderuwo!"

Jang Ono termangu untuk beberapa detik sebelum kemudian tawanya meledak memecah keheningan malam. 

"Bentar... Bentar... Jadi lelaki gondrong itu sebenernya Genderuwo?" Ujarnya kembali tertawa sambil mengusap kedua matanya yang basah.

Kang Oto ikut tertawa sambil mengangguk.

"Keduanya sama-sama tolol. Masa setan takut sama setan. Makanya jadi orang mesti pinter. Percuma kamu punya tubuh tinggi besar seperti si genderuwo tapi otak di dengkul." Ujar Kang Oto disambut tawa Jang Ono.

"Punten. (Permisi) " Sapa seseorang yang lewat di depan pos ronda mereka.

"Mangga. (Silahkan)." Jawab Jang Ono sambil meraih gelas berisi kopi.

Namun ketika hendak meminumnya, gerakannya terhenti. Kepalanya mendongak keluar melihat orang yang barusan lewat. Kang Oto yang penasaran juga ikut memandang ke arah perginya orang itu. Nampak bayangan seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berambut gondrong sedang berjalan dengan sedikit terbungkuk-bungkuk. Mereka pun berpandangan.

"Aaaaaaahhhh!!"

Dengan penuh ketakutan mereka melompat ke dalam pos ronda dan bersembunyi di balik kain sarung masing-masing.





- End -

Dear Diary

(27 Februari 2018)

Dear Diary,
Jika ada hari yang paling romantis di dunia, maka itu adalah hari ini! Rian yang kutahu jahil dan cuek, memberiku surprise yang tak terlupakan di hari anniversary kami yang ke-3 tahun. Memberiku bunga mawar yang cantik, kado sepatu yang selalu aku impikan dan akhir sebuah dinner yang sangat romantis. Aku tahu semua orang akan menganggap itu hal yang biasa saja. Tapi tidak jika hal seperti itu dilakukan oleh seorang Rian. Apapun yang dia lakukan selalu menjadi hal yang istimewa! Thanks Bey, never losing your love.

(1 Maret 2018)

Dear Diary,
Hari ini aku tak bisa pergi ke kampus seperti biasa. Mama membawaku ke rumah sakit setelah aku tiba-tiba jatuh pingsan tadi pagi. Padahal hari ini ada mata kuliah Linguistic, pelajaran favoritku. Lagipula sekarang aku merasa baikan, tapi mereka malah melarangku pulang. Katanya aku harus di check ini itu. Menyebalkan! Aku benci bau rumah sakit!

(2 April 2018)

Dear Diary,
Hari ini aku sangat merindukannya. Aku rindu Rian. Rasanya aku tak bisa menghitung berapa lama kami lost contact. Sekarang dia berubah. Tak pernah lagi menghubungiku, apalagi mencariku. Apa dia tidak tahu jika dunia ini terasa sangat sepi tanpa kehadirannya, tanpa canda tawanya. Mungkinkah dia sudah menemukan cinta lain? Tidak! Aku tidak boleh berprasangka buruk tentangnya. Aku akan menemuinya besok.

(3 April 2018)

Dear Diary,
Aku benci hujan! Hujan membuatku kedinginan. Kenapa seharian ini kamu terus datang? Gara-gara kamu aku tidak bisa pergi kemana-mana. Dasar jahat!

(7 April 2018)

Dear Diary,
Dimana Rian? Dia tidak masuk kuliah. Dia juga tidak ada di tempat hangout. Padahal biasanya di waktu senggang dia akan bermain skateboard bersama teman-temannya Ketika dia galau taman adalah tempat terbaik yang menjadi pilihannya. Tapi kenapa sekarang aku tidak menemukannya dimana pun? Lebih aneh lagi teman-temannya tidak ada yang tahu keberadaannya. Apa sih yang mereka lakukan. Sepertinya mereka berusaha menutupi sesuatu. Apa mereka tidak mengerti kalau aku khawatir sama Rian. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. 

(10 April 2018)

Dear Diary,
Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Bagaimana bisa dia tidak memberitahuku kalau dia sekarang udah pindah ke kota lain. Padahal aku kan pacarnya. Apa hubungan selama 3 tahun ini tidak ada artinya buat dia? Apa dia sudah tidak peduli lagi padaku? Kenapa dia tega meninggalkanku begitu saja disaat aku sedang benar-benar menyayanginya. Aku butuh dia, aku butuh penjelasan! Besok aku akan menyusulnya. Aku tidak peduli walau mama tidak mengizinkanku. Aku tetap nekat akan pergi!

(13 April 2018)

Dear Diary,
Hari ini perasaanku campur aduk. Sedih namun juga teramat bahagia. Bagaimana tidak, apa yang aku perjuangkan ternyata tidak sia-sia. Kata orang cinta itu penuh pengorbanan, dan aku sekarang percaya. Dengan berbekal informasi yang kudapat dari teman-temannya aku mencari tempat tinggal Rian yang baru. Walau tidak mudah tapi akhirnya aku sampai disana juga. Ternyata dia tinggal di apartemen mewah milik kakaknya yang merupakan seorang musisi. Kamarnya saja ada di lantai 20. Saat kutemui dia sedang melamun sendirian dan, ya Tuhan, dia sangat kurus. Murung dan pucat. Begitu kami bertemu aku segera memeluknya dengan erat. Awalnya dia diam saja, mungkin merasa malu karena telah meninggalkanku. Bahkan ketika kutanya apa alasan dia melakukan itu semua, dia tidak mau menjawab. Namun akhirnya aku mengerti semuanya saat dia berkata bahwa dia pergi bukan untuk melupakanku, namun justru karena tak bisa melupakanku. Karena cintanya yang terlalu besar. Air mataku sampai tak bisa kutahan saat dia mengatakan berulang kali bahwa dia sangat mencintaiku sebelum akhirnya dia melompat keluar dari jendela kamarnya...

Cintalah yang mempertemukan kami. Cinta yang menguatkan kami. Cinta pula yang menyatukan kami. Thanks God, karena sekali lagi telah memberi kami kesempatan untuk bersatu kembali. Kini aku telah menemukan kebahagiaan sejatiku. Selamat tinggal, My Diary. Thanks for everything.





- End -

7117

Dua bayangan hitam berkelebat diantara sinar lampu jalanan yang menembus pepohonan. Disusul oleh cahaya merah berganti biru yang mengejar mereka melewati dinding-dinding bangunan tua. Tempat itu merupakan bagian dari area sebuah perumahan elite yang terbengkalai selama belasan tahun. Entah apa yang menyebabkan proyek yang tergolong besar tersebut menjadi tidak terselesaikan. Namun rumor mengatakan ketika pembangunan berlangsung banyak dari para pekerja yang terkena demam tinggi dan juga beberapa yang lainnya berhenti bekerja secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Lebih dari itu menurut beberapa sumber dikatakan bahwa tidak sedikit dari para pekerja proyek tersebut yang menghilang secara misterius dan tak pernah ditemukan sampai sekarang.

Dengan nafas terengah-engah kedua orang itu terus berlari menyusuri trotoar jalan. Di sebuah perempatan jalan kedua orang tersebut menghentikan larinya. Salah satu diantara mereka nampak memandang sekeliling kemudian memberi isyarat pada temannya untuk mengikutinya mengambil jalan ke kanan. Meneruskan larinya mereka berbelok ke sebuah halaman rumah, melompati pagar pendek dan segera menyelinap ke balik sebuah pohon tepat ketika dua buah mobil patroli polisi yang mengejar mereka lewat di tempat itu. Beberapa menit setelah kedua mobil berlalu mereka masih diam di tempatnya bersembunyi. Baru kemudian setelah tak terdengar lagi deru mesin kedua kendaraan tersebut mereka berdiri sambil tetap mengawasi keadaan sekitar. Salah satu dari mereka bergerak ke arah pintu rumah dan mencoba mencongkel kuncinya.

Rumah itu nampak masih kokoh jika dibandingkan rumah yang lain. Catnya belum banyak terkelupas. Tidak ada tanaman rambat yang menjalari tembok. Kaca jendelanya masih utuh tanpa ada yang pecah sedikitpun. Bahkan sebuah tirai usang terlihat masih menghiasinya. Hal yang paling mencolok adalah pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati berukir dan nampak masih seperti baru dipasang. Di bagian atasnya terdapat plat besi dengan nomor 7117. Nomor yang terbilang tidak lazim digunakan untuk sebuah nomor rumah. Namun tentu saja hal seperti itu tidak diperdulikan oleh kedua orang yang sedang dilanda kepanikan tersebut. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya terdengar bunyi kunci terbuka. Tanpa menunggu lebih lama keduanya segera menyelinap masuk ke dalam rumah kosong tersebut.

Buukk! Sebuah pukulan tiba-tiba dilayangkan oleh orang yang bertubuh tinggi kurus ke wajah temannya yang bertubuh lebih pendek, membuatnya mengaduh dan tersungkur ke lantai. Selagi temannya meringgis kesakitan si tinggi kurus kembali hendak melayangkan pukulannya namun kemudian diurungkannya. Setengah mendengus dia pergi ke dinding ruangan. "Dasar tolol kau, Badar! Kenapa kau membunuh pria tua itu? Apa untungnya? Yang ada kau malah merusak rencana! Brengsek!" Dengan kesal dia menendang sebuah kotak kayu kosong di dekat kakinya. Temannya yang dipanggil Badar hanya menyeringai sambil mengelus pelipisnya yang berdenyut sakit. Sambil bersandar di tembok dia memindahkan tas yang sedari tadi digendongnya ke pangkuannya. “Aku tidak bermaksud membunuhnya, Sidan. Salah si pria tua itu  tidak mau melepaskan tasnya sedangkan kita kehabisan waktu. Aku tidak punya pilihan lain selain menembaknya.” Badar mencoba membela diri. “Iya, tapi tidak bisakah kau cukup merampasnya saja. Akibat suara tembakanmu tetangga pria tua itu jadi melapor ke polisi.” Tukas Sidan dengan ketus. Diambilnya sebatang rokok dari sakunya dan segera dinyalakannya. “Sudahlah, aku malas berdebat. Itu kan resiko pekerjaan. Toh kita juga bisa mengecoh polisi. Bukankah yang terpenting sekarang adalah ini!” Badar membuka resletting tas yang ada di pangkuannya. Nampak gepokan uang pecahan seratus ribu yang bertumpuk tersusun rapi didalamnya membuat Sidan segera lupa akan kemarahannya. Diambilnya tas itu dari tangan Badar. Setelah sejenak memperhatikan isinya segera dia keluarkan semua uang tersebut sembari menghitungnya dan disusunnya di atas lantai. “Tiga ratus juta. Aku akan membaginya rata seperti yang kujanjikan. Ini bagianmu, dan ini bagianku.” Ujarnya seraya mendorong setumpuk uang ke arah Badar. Sambil menyeringai Badar mengeluarkan sebuah kantong kain dari balik jaketnya dan mulai memasukan uang yang ada dihadapannya. Namun baru saja beberapa gepok uang yang dia masukkan dengan cepat Sidan memberinya isyarat untuk menghentikan yang sedang dilakukannya.

“Aku barusan melihat bayangan melintas di jendela. Jangan-jangan polisi menemukan kita.” Bisik Sidan. Badar melirik ke arah jendela rumah yang tertutup gorden bekas. Lama menunggu tak ada apapun yang bergerak maupun suara yang terdengar. Hanya suara jangkrik yang nyaring terdengar. “Tidak ada apa-apa. Kau ini berkhayal atau gimana?” Ujar Badar setengah meledek temannya itu. Sidan tak menjawab perkataannya. Matanya tetap waspada memandanb ke arah jendela. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dia mengikuti apa yang dilakukan Badar, memasukan uang bagiannya ke dalam tas yang dipegangnya. Wuutt! Kali ini bayangan seseorang jelas berkelebat di jendela membuat keduanya sama-sama terlonjak kaget. Keduanya berpandangan. Badar segera mencabut pistol yang  ada dibalik bajunya sedangkan Sidan mencabut sebuah belati yang terselip di sepatu bootnya. “Cepat kau intip lewat celah di jendela.” Sidan menyuruh Badar untuk mendekati jendela. Setelah mengangguk pelan dengan hati-hati Badar melangkah sambil berusaha tanpa mengeluarkan suara. Begitu sampai di jendela disingkapkannya sedikit gorden yang menutupi kaca, matanya memandang memperhatikan kegelapan malam. Beberapa menit berlalu nampak tak ada sedikitpun peegerakan di luar sana. “Aneh, tak ada tanda-tanda mereka. Apa mereka bersembunyi menunggu kita keluar? Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi lewat jalan belakang?” Ujarnya sambil menutup gorden perlahan. Namun tak ada tanggapan dari Sidan. Badar yang merasa keheranan segera memalingkan wajahnya ke tempat Sidan berdiri. Temannya tidak ada disana.

"Kemana perginya si pengecut itu. Rupanya diam-diam dia kabur duluan. Brengsek!" Badar memaki panjang pendek. Disambarnya tas uangnya dan dengan cepat dimasukkannya tumpukkan uang yang tadi belum sempat dimasukkannya. Ketika dia hendak pergi mencari pintu belakang tanpa sengaja matanya tertuju pada benda yang berserakan di lantai. Uang bagian milik Sidan! Firasat Badar mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat itu. Lebih tepatnya dengan rumah itu. Dia kenal betul siapa Sidan, tidak mungkin orang sepertinya meninggalkan uang yang begitu banyak hanya karena ketakutan yang tidak jelas. Apalagi dia menghilang begitu saja tanpa disadari oleh Badar. Diangkatnya pistol yang ada di genggamannya ke depan dadanya dan berjalan perlahan ke arah sebuah anak tangga yang menuju ke lantai dua rumah tersebut. Ketika baru melangkahkan kakinya hendak naik ke atas Badar merasa menginjak sesuatu. Dirabanya benda itu yang ternyata sebuah korek api yang diketahuinya milik Sidan. Hal itu semakin menguatkan dugaannya bahwa sesuatu telah terjadi pada Sidan. Disaat baru beberapa langkah menaiki tangga, sebuah suara keras yang berasal dari atas mengejutkan Badar sampai terjajar ke dinding.

Suara mirip sesuatu yang berlari cepat terdengar cukup keras disusul oleh suara mencericit yang kemudian segera menghilang. Badar mencoba mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. "Tikus sialan! Membuatku kaget saja!" Badar memaki tak jelas. Tanpa menurunkan kewaspadaannya dia kembali menaiki anak tangga. Tingkat dua rumah tersebut ternyata hanyalah berupa ruangan kosong sepenuhnya. Tidak ada kamar atau ruangan lain namun terlihat samar banyak benda berserakan di lantai. Badar tak bisa memastikan benda apa saja karena kondisi ruangan yang cukup gelap. Dengan hati-hati dia melangkah diantara tumpukan barang. Beberapa kali terdengar bunyi berderak ketika kakinya menginjak pecahan-pecahan barang. Ketika matanya mulai terbiasa dengan gelapnya ruangan tersebut sedikit demi sedikit dia bisa melihat benda-benda yang ada disana. Ternyata semuanya adalah barang-barang yang biasa mengisi rumah. Mulai dari perabotan dapur, kamar, ruang tamu sampai mainan anak-anak ada disana. "Apa yang terjadi dengan rumah ini? Kenapa penghuninya membawa semua barang-barang dan meninggalkannya disini? Bukankah jika mereka pindah harusnya mereka membawa semuanya?" Badar bertanya-tanya dalam hati. Pandangannya melewati kaca memandang ke luar memperhatikan purnama yang menghiasi langit malam. Cahayanya menerangi bangunan-bangunan yang belum rampung di luar sana. Berderet rapi didalam sunyinya malam. Seketika Badar tersentak. Matanya langsung waspada memperhatikan sekitarnya. "Bodoh kau Badar! Bodoh! Kenapa  baru sekarang aku sadar kalau aku berada di tempat terkutuk ini. Pantas saja dari tadi aku merasa ganjil. Setelah kupikir lagi bagaimana mungkin ada begitu banyak barang-barang di sebuah rumah yang bahkan belum pernah dihuni. Tentu saja tidak mungkin untuk sebuah perumahan yang pembangunannya tak pernah selesai. Gawat! Aku harus segera pergi dari tempat ini!" Badar segera bergerak hendak turun kembali melalui tangga. Namun langkahnya seketika terhenti ketika samar-samar didengarnya langkah seseorang sedang menaiki tangga menuju ke arahnya!

Badar bersurut mundur beberapa langkah. Ditodongkan pistolnya ke arah datangnya suara langkah yang terdengar pelan dan berat yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Badar menduga orang itu menggunakan sepatu boot atau semacamnya. "Sidan! Apa itu kau!?" Teriak Badar tak sabar. Tangannya semakin erat menggenggam pistolnya. Tak ada jawaban. Langkah itu berhenti, namun tak lama kemudian mulai melangkah lagi. Tapi ada suara langkah lain yang terdengar. Dua, tidak, tiga orang, atau mungkin lebih dari tiga orang! Badar masih bertanya-tanya dalam hatinya ketika sebuah bayangan nampak terlihat dari arah tangga. Seorang pria dengan perawakan tinggi kurus. Badar hampir berseru namun segera mengurungkan niatnya ketika dibelakang orang itu menyusul beberapa  bayangan orang lainnya yang membuat Badar menjauhi anak tangga. Ketika orang tinggi kurus itu sampai di anak tangga teratas, tercekatlah Badar. Cahaya purnama yang jatuh melewati kaca ruangan tersebut membuat Badar bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di depannya. Orang itu memang Sidan. Namun wajahnya hancur berantakan. Kulit wajahnya terkelupas, matanya hanya berupa rongga dengan darah yang masih segar meleleh membasahi pipinya. Tak ada lagi bola mata disana. Sedangkan rahangnya patah mengerikan dan menggantung hampir lepas. Sebuah sekop tertancap melintang dari dadanya tembus ke punggung. Badar tersurut mundur sampai terjengkang ke  lantai. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya bergetar hebat. Ketika terjatuh tanpa sengaja tangannya memegang sesuatu yang berserakan di lantai menahan tubuhnya. Ketika dilihatnya terkejutlah dia. Benda itu adalah tulang belulang manusia! Lebih buruknya semua benda dan perabotan yang tadi dilihatnya berserakan di lantai kini berubah menjadi tulang belulang dan tengkorak manusia!

Sambil berteriak penuh ketakutan Badar berlari ke arah jendela ruangan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu Sidan diikuti yang lainnya mulai bergerak mendekati Badar. Kini Badar bisa melihat sosok yang berdatangan padanya dengan jelas. Mereka adalah para pekerja bangunan yang menghilang dan berubah menjadi sosok mengerikan seperti Sidan. Badar semakin terdesak, para mahluk mengerikan itu semakin merangsek mendekat padanya. Tidak mungkin baginya menerobos mereka yang semakin berdatangan dari arah tangga dengan hanya bermodal pistol di tangannya. Bahkan dia tidak yakin peluru akan menghentikan mereka. Di tengah kebuntuannya Badar melihat sebuah pohon yang menjulang di luar yang tadi dipakainya bersembunyi. Cabangnya hampir menyentuh kaca jendela di belakangnya. Tanpa pikir panjang dengan gagang pistol dipecahkannya kaca jendela. Seperti tidak memperdulikan beberapa pecahan kaca yang mengenai tangannya dengan cepat dia meloloskan diri lewat jendela. Sesaaat sebelum para mahluk mengerikan itu menangkapnya Badar segera melompat ke cabang pohon. Tubuhnya meluncur deras sedangkan tangannya berusaha menggapai sebisanya. Tangan kanannya berhasil menangkap sebuah cabang pohon, namun dahannya terlalu kecil untuk menahan tubuhnya. Kraakk! Buukk! Terdengar suara dahan pohon patah disusul jerit kesakitan Badar saat tubuhnya terbanting ke tanah. Dia berhasil selamat namun pergelangan kaki kirinya patah. Dengan segera dia bangkit dan terpincang-pincang lari menyelamatkan diri dari rumah itu.

Beberapa puluh meter Badar berlari dilihatnya sebuah mobil patroli polisi terparkir di bahu jalan. Segera dia berteriak meminta pertolongan. Dari dalam mobil seorang polisi keluar dan segera menghampiri serta bertanya mengenai apa yang terjadi padanya. Badar pun menceritakan semua yang terjadi dan mengakui segala kejahatannya. Polisi pun menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan  bermaksud membawanya menuju kantor polisi. Di dalam mobil Badar terduduk lemas. Pikirannya kacau. Sesaat dia menoleh ke belakang memperhatikan rumah dengan nomor 7117 tersebut. Hanya kegelapan yang menyelimutinya. Sementara itu ketika melihat sebuah mobil polisi keluar dari jalan perumahan, seorang gelandangan yang sedang berjalan di tengah dinginnya malam nampak menghentikan langkahnya. Matanya mengikuti arah perginya mobil tersebut. Tangannya membuat gerakan seperti orang sedang berdoa sebelum kemudian mempercepat langkah kakinya setelah dilihatnya mobil yang baru saja melewatinya itu melaju tanpa pengemudi...





- End -

Korban

Aku masih bisa menggeliat walau seluruh tubuhku terasa sangat menyakitkan. Mencoba meminta tolong pada seseorang namun yang keluar dari mulutku hanyalah rintihan. Bagaimana tidak, walaupun tidak sampai membunuhku tapi sebuah besi besar dan tajam menusuk mulai dari ubun-ubun sampai ke pinggangku. Ya, cuma sampai pinggang karena sebagian lagi tubuhku entah kemana. Aku tidak tau apa yang terjadi. Padahal baru saja aku sedang berjalan-jalan hendak ke rumah pacarku sampai kemudian diperjalanan tanah berguncang begitu keras sampai akhirnya beginilah aku sekarang. Selagi aku meringgis kesakitan tiba-tiba sebuah sentakan keras membuatku terlempar dengan keras. Dunia terasa berputar-putar dan kemudian aku tenggelam dalam air yang gelap. Aku mencoba untuk berontak namun sia-sia saja, malah membuatku lemah dan kehilangan banyak darah. Saat aku mulai kehilangan kesadaranku itulah aku melihat sebuah bayangan hitam besar berkelebat ke arahku. Hal yang terakhir kuingat adalah sebuah mulut besar menganga dengan gigi-gigi kecil runcing dan tajam!

"Ayah! Ayah! Lihat aku dapat ikan besar!" Teriak seorang anak laki-laki sambil mengangkat tali pancingnya tinggi-tinggi. Seekor ikan tergantung menggelepar mencoba melepaskan diri. "Bagus sekali, nak! Kamu memang anak ayah yang hebat!" Sang ayah memuji sambil mengusap kepala anaknya. "Ayo, beri umpan lagi kail pancingnya." Sambungnya disambut anggukan anaknya.



- End -

Mata Titipan

Dengan hati-hati dokter membuka perban yang melilit mengelilingi kepala Wahyu, menutupi bagian matanya. Dia baru saja selesai melakukan operasi cangkok mata akibat kecelakaan yang dialaminya. Mobil yang ditumpangi bersama kakaknya menyerempet mobil lain yang muncul dari arah berlawanan di sebuah tikungan pada suatu malam. Mobil yang berserempetan dengannya kehilangan kendali lalu terguling. Pengemudi dan seorang penumpangnya dikabarkan meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit. Kakaknya meninggal di tempat setelah mobil yang keluar dari lajur menabrak sebuah pohon menyebabkan tubuhnya terlempar ke luar dengan posisi kepala membentur kaca depan hinga hancur. Hanya Wahyu yang selamat, karena tubuhnya tertahan oleh sabuk pengaman. Namun dia harus kehilangan kedua matanya akibat terkena pecahan kaca. 

Wahyu masih memejamkan matanya walaupun dokter telah selesai membuka lilitan perbannya. "Silahkan coba buka matanya, pak. Pelan-pelan saja, tidak usah takut." Ujar dokter sambil memegang pundak Wahyu seolah ingin meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Perlahan Wahyu membuka matanya. Silaunya cahaya membuatnya kembali memejamkan matanya. Setelah menarik nafas panjang sedikit demi sedikit kembali dia mencoba membuka matanya.

Beberapa bayangan orang terlihat berdiri di depannya. Pandangannya masih samar dan sedikit berkunang-kunang. Masih terasa perih di kedua matanya, mungkin karena belum terbiasa dengan mata barunya. "Giamana, pak?" Tanya dokter. "Agak sedikit perih, dok. Kedua mata saya bisa melihat namun masih kabur." Wahyu meraba wajahnya. Diusapnya bekas operasi di matanya. "Jadi penglihatan masih kabur ya? Baik. Sudah saya catat dan akan saya buatkan laporan terlebih dahulu. Saya akan segera kembali untuk pengecekan retina." Dokter segera meninggalkan ruangan. Dua orang perawat membantu Wahyu kembali ke tempat tidurnya lalu membereskan peralatan dan keluar dari dalam ruangan. Wahyu mencoba untuk merebahkan diri ketika sudut matanya menangkap gerakan seseorang di dekat dinding.

"Suster?" Tanya Wahyu kepada orang itu. Matanya tak bisa memastikan apakah dia seorang pria ataukah wanita. Sosok yang nampak sedang duduk tersebut nampak berdiri lalu berjalan mendekatinya. Kemudian orang itu duduk dipinggiran tempat tidur. Berada sedekat itu Wahyu bisa mencium wangi tubuhnya yang menebarkan semerbak harum. "Aku senang kamu bisa selamat dan bertahan. Setidaknya tidak ada korban yang bertambah. Aku juga lega operasi matanya berhasil." Suaranya terdengar lembut membuat Wahyu yakin bahwa dia adalah seorang wanita. "Terima kasih atas kepedulianmu. Tapi maaf, apakah aku mengenalmu?" Tanya Wahyu sambil memicingkan matanya berusaha mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. "Nanti juga kamu tahu." Jawab wanita itu singkat sambil tersenyum. Pandangannya beralih ke arah jendela. Memperhatikan dua ekor burung yang berkejaran di ranting sebuah pohon. "Apakah kau bersyukur bisa selamat dari kecelakaan itu?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut wanita itu membuat Wahyu tertegun.

"Sejujurnya aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak membiarkan aku pergi dari dunia ini. Kenapa dia hanya mengambil kakakku. Aku sudah kehilangan keluargaku dan kini aku tak memiliki lagi hal yang berharga di dunia ini. Pada akhirnya aku sendiri tak tahu apakah aku harus bersyukur karena masih hidup atau tidak." Wahyu memejamkan matanya sambil memperbaiki posisi duduknya. "Jadi kau tidak bersyukur walau kau mendapat pengganti kedua matamu yang hilang?" Kembali wanita itu bertanya. "Aku yakin kedua mata ini akan jauh lebih berguna jika tetap bersama pemiliknya..." Jawab Wahyu pelan. Wanita itu menghela nafas panjang kemudian bangkit dan berjalan ke arah jendela.

"Pemilik mata itu adalah seorang penderita penyakit langka Complex Regional Pain Syndrome. Jika kau pernah mendengarnya mungkin kau juga tahu kalau penyakit ini memunculkan rasa sakit luar biasa yang menusuk-nusuk tubuh bagi si penderita, kelelahan kronis bahkan seringkali membuat tubuh serasa seperti terbakar. Dia kesulitan untuk pergi kemanapun dia mau, padahal dia ingin sekali menjadi seorang traveler. Kebebasan hidupnya direnggut oleh penyakitnya. Lebih darimu, dia adalah orang paling putus asa." Wanita itu menghentikan ceritanya sejenak sedangkan Wahyu hanya terdiam mendengarkannya. "Tapi sekarang dia tidak lagi menderita. Tubuhnya memang tetap tak bisa pergi kemanapun dia mau, namun dia yakin tetap bisa melihat dan menikmati berbagai tempat yang indah. Untuk itulah di saat-saat terakhirnya dia memutuskan untuk mempercayakan kedua matanya padamu. Orang itu ingin tetap melihat indahnya hidup lewat dirimu. Dialah orang yang bertabrakan denganmu." Ucapan wanita itu membuat Wahyu terkejut.

"Jadi mata ini...." Wahyu tak meneruskan ucapannya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dipenuhi kesedihan. Sedikit ragu perlahan Wahyu membuka matanya. Dia merasa keheranan begitu mendapati bagaimana kini dia bisa melihat dengan sangat jelas, bahkan rasa pedih yang tadi dirasakannya kini sudah hilang sepenuhnya. Selagi dia terpana dengan perkembangannya, didengarnya lagi wanita itu berkata. "Hiduplah, Wahyu. Dengan mata itu, jalanilah hidupmu yang berharga. Itulah yang juga kakakmu inginkan." Wahyu terperanjat. Namun ketika dia mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedari tadi berbicara dengannya, terkejutlah dia. Ternyata di ruangan itu tak ada orang lain selain dirinya. Pandangannya memutar ke seluruh ruangan namun tetap saja orang yang dicarinya tak ada. Hanya setangkai bunga sedap malam yang terlihat tergeletak di jendela kamar...



- End -

April Fool's Day

Tanggal 1 April mungkin merupakan hari yang menyebalkan bagi kebanyakan orang. Karena di hari yang dikenal sebagai April Mop atau April Fool's Day tersebut orang-orang diperbolehkan untuk berbohong atau melakukan lelucon kepada orang lain. Banyak orang yang menikmatinya walaupun tidak jarang lelucon yang dibuat malah membuat orang lain marah dan berujung pertengkaran. Begitu juga yang sering dialami oleh Edwin. Rekan kerja sekaligus teman sekamar di apartemennya yang bernama Doni adalah orang yang selalu menikmati melakukan April Mop. Dia dikenal sangat jahil diantara teman-temannya. Sudah tak terhitung mereka yang termakan kebohongan dan dibuat kesal olehnya dan yang paling sering diantara mereka adalah Edwin atau yang lebih sering disapa Ed. Entah itu  karena dia sangat polos atau memang dia bodoh, namun sudah tak terhitung berapa kali Ed kena dijahili oleh Doni. Bahkan pada bulan April tahun lalu hubungan Ed dan pacarnya berakhir hanya karena Doni meyakinkannya bahwa dia melihat pacar Ed itu berkencan dengan lelaki lain.

Siang itu panas matahari cukup terik. Suasana apartemen terasa lenggang seperti tak berpenghuni. Tidak lama kemudian terdengar suara kunci berputar disusul suara pintu terbuka. Kemudian langkah-langkah kaki menaiki anak tangga terdengar dengan sangat jelas di apartemen tersebut. Ed nampak berjalan terbungkuk-bungkuk membawa barang belanjaan dari minimarket. Namun tanpa disadarinya seorang pria bertopeng diam-diam mengikutinya sejak dari anak tangga tadi. Begitu Ed membuka pintu kamar apartemennya orang itu segera menyergapnya dari belakang seraya menodongkan sebuah senjata api. "Jangan teriak! Atau kepalamu kuledakkan sekarang juga!" Bisiknya dengan suara berat dan serak. Tentu saja hal itu membuat Ed terkejut sampai menjatuhkan barang belanjaannya hingga berserakkan di lantai. Dengan tubuh gemetar dia mengangkat kedua tangannya. Keringat dingin segera membasahi tubuhnya.

"Ja.. Jangan tembak saya. Tolong... Jangan tembak saya." Ujar Ed terbata-bata. Tanpa berbicara si penodong segera mendorongnya masuk ke dalam kamar sehingga Ed jatuh terduduk di karpet kamar. "Serahkan semua uang dan barang berhargamu! Cepat!" Teriaknya seraya berjongkok di hadapan Ed. Tergagap ia mengeluarkan handphone dan juga dompetnya. Mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya yang hanya terdiri dari beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan sepuluh ribuan. "Jangan bercanda! Tidak mungkin kau tinggal di apartemen dengan uang cuma segini! Cepat keluarkan semua!" Kembali orang itu berteriak sambil menodongkan senjatanya ke wajah Ed. "Aku tidak berbohong. Uangku yang tersisa cuma segini. Jika kau ingin uang lebih aku harus mengambil dulu di ATM." Ujar Ed dengan nada seperti hendak menangis. "Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkanku! Mungkin lebih baik kuledakkan saja kepalamu!" Bentak Si penodong kehilangan kesabaran seraya menekankan senjatanya di kening Ed. Karuan saja di puncak ketakutannya tanpa disadari Ed celananya mendadak basah oleh air kencingnya!

Suara tawa tiba-tiba menggema di kamar apartemen tersebut. Si penodong nampak tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sesekali dia menunjuk ke arah Ed yang memandanginya dengan keheranan kemudian kembali tertawa sampai dirinya bersandar di dinding kamar. "April Mop, Ed!" Ujarnya sambil melepaskan topeng yang menutupi wajahnya. Doni tersenyum lebar. Ed memandang kaku pada teman sekamarnya yang terus tertawa sambil menyeka air matanya.

"Aku tak menyangka kau sepenakut itu. Sampai terkencing-kencing segala. Astaga!" Ujar Doni disusul dengan tawanya yang menjengkelkan. Ed diam tak menjawab. Dia bangkit dari duduknya kemudian melepaskan celananya yang basah oleh air kencing. Sejenak dia diam tak bergerak baru kemudian melirik ke arah Doni. "Dari awal aku sudah tahu itu kau, Don." Ujarnya dengan nada datar. Doni menghentikan tawanya. Keningnya mengernyit memandang Ed dengan sedikit heran. "Mana mungkin kau tahu tapi ketakutan sampai kencing di celana begitu. Kau cuma mengelak untuk menutupi rasa malumu." Doni tersenyum mengejek. "Dari saat kau mengikutiku aku sudah tau dari suara langkahmu yang sedikit pincang. Lagipula senjata yang kau todongkan itu bukan senjata asli. Itu pistol airsoft gun. Aku bisa mengetahuinya dari merek yang ada di pegangannya." Balas Ed dengan tenang. "Tapi kau kencing..." Ucapan Doni terhenti karena keburu dipotong oleh Ed. "Semua itu akting, kulakukan agar kau berhenti dengan leluconmu. Asal kau tahu, sekarang leluconmu sudah tidak lucu lagi." Dengan hanya mengenakan celana dalam Ed berjalan ke luar kamar memunguti barang belanjaannya yang berserakan, meninggalkan Doni yang terdiam dengan raut wajah kesal.

"Sial! Bagaimana mungkin si dungu itu jadi lebih pintar dariku. Sekarang malah aku yang kena tipu." Doni merutuk dalam hati. Diperhatikannya baik-baik senjata yang masih ada digenggamannya. "Bego! Tolol! Kenapa juga aku tidak bisa membedakan mana pistol asli dan pistol mainan!" Dengan kesal ditodongkannya pistol itu ke kepalanya seraya menarik pelatuknya.

DOR!

Tubuh Doni ambruk. Darah segar menyembur dari lubang dikepalanya, dengan cepat membasahi lantai dan mengubah warna karpet menjadi kemerahan. Di pintu kamar apartemen nampak Ed berdiri sambil bersandar dengan santai. Tangannya menggenggam sebuah apel merah. Senyum mengembang di wajahnya. "April Mop, Don." Ujarnya seraya menggigit apelnya.




- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger