Siang itu panas matahari cukup terik. Suasana apartemen terasa lenggang seperti tak berpenghuni. Tidak lama kemudian terdengar suara kunci berputar disusul suara pintu terbuka. Kemudian langkah-langkah kaki menaiki anak tangga terdengar dengan sangat jelas di apartemen tersebut. Ed nampak berjalan terbungkuk-bungkuk membawa barang belanjaan dari minimarket. Namun tanpa disadarinya seorang pria bertopeng diam-diam mengikutinya sejak dari anak tangga tadi. Begitu Ed membuka pintu kamar apartemennya orang itu segera menyergapnya dari belakang seraya menodongkan sebuah senjata api. "Jangan teriak! Atau kepalamu kuledakkan sekarang juga!" Bisiknya dengan suara berat dan serak. Tentu saja hal itu membuat Ed terkejut sampai menjatuhkan barang belanjaannya hingga berserakkan di lantai. Dengan tubuh gemetar dia mengangkat kedua tangannya. Keringat dingin segera membasahi tubuhnya.
"Ja.. Jangan tembak saya. Tolong... Jangan tembak saya." Ujar Ed terbata-bata. Tanpa berbicara si penodong segera mendorongnya masuk ke dalam kamar sehingga Ed jatuh terduduk di karpet kamar. "Serahkan semua uang dan barang berhargamu! Cepat!" Teriaknya seraya berjongkok di hadapan Ed. Tergagap ia mengeluarkan handphone dan juga dompetnya. Mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya yang hanya terdiri dari beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan sepuluh ribuan. "Jangan bercanda! Tidak mungkin kau tinggal di apartemen dengan uang cuma segini! Cepat keluarkan semua!" Kembali orang itu berteriak sambil menodongkan senjatanya ke wajah Ed. "Aku tidak berbohong. Uangku yang tersisa cuma segini. Jika kau ingin uang lebih aku harus mengambil dulu di ATM." Ujar Ed dengan nada seperti hendak menangis. "Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkanku! Mungkin lebih baik kuledakkan saja kepalamu!" Bentak Si penodong kehilangan kesabaran seraya menekankan senjatanya di kening Ed. Karuan saja di puncak ketakutannya tanpa disadari Ed celananya mendadak basah oleh air kencingnya!
Suara tawa tiba-tiba menggema di kamar apartemen tersebut. Si penodong nampak tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sesekali dia menunjuk ke arah Ed yang memandanginya dengan keheranan kemudian kembali tertawa sampai dirinya bersandar di dinding kamar. "April Mop, Ed!" Ujarnya sambil melepaskan topeng yang menutupi wajahnya. Doni tersenyum lebar. Ed memandang kaku pada teman sekamarnya yang terus tertawa sambil menyeka air matanya.
"Aku tak menyangka kau sepenakut itu. Sampai terkencing-kencing segala. Astaga!" Ujar Doni disusul dengan tawanya yang menjengkelkan. Ed diam tak menjawab. Dia bangkit dari duduknya kemudian melepaskan celananya yang basah oleh air kencing. Sejenak dia diam tak bergerak baru kemudian melirik ke arah Doni. "Dari awal aku sudah tahu itu kau, Don." Ujarnya dengan nada datar. Doni menghentikan tawanya. Keningnya mengernyit memandang Ed dengan sedikit heran. "Mana mungkin kau tahu tapi ketakutan sampai kencing di celana begitu. Kau cuma mengelak untuk menutupi rasa malumu." Doni tersenyum mengejek. "Dari saat kau mengikutiku aku sudah tau dari suara langkahmu yang sedikit pincang. Lagipula senjata yang kau todongkan itu bukan senjata asli. Itu pistol airsoft gun. Aku bisa mengetahuinya dari merek yang ada di pegangannya." Balas Ed dengan tenang. "Tapi kau kencing..." Ucapan Doni terhenti karena keburu dipotong oleh Ed. "Semua itu akting, kulakukan agar kau berhenti dengan leluconmu. Asal kau tahu, sekarang leluconmu sudah tidak lucu lagi." Dengan hanya mengenakan celana dalam Ed berjalan ke luar kamar memunguti barang belanjaannya yang berserakan, meninggalkan Doni yang terdiam dengan raut wajah kesal.
"Sial! Bagaimana mungkin si dungu itu jadi lebih pintar dariku. Sekarang malah aku yang kena tipu." Doni merutuk dalam hati. Diperhatikannya baik-baik senjata yang masih ada digenggamannya. "Bego! Tolol! Kenapa juga aku tidak bisa membedakan mana pistol asli dan pistol mainan!" Dengan kesal ditodongkannya pistol itu ke kepalanya seraya menarik pelatuknya.
DOR!
Tubuh Doni ambruk. Darah segar menyembur dari lubang dikepalanya, dengan cepat membasahi lantai dan mengubah warna karpet menjadi kemerahan. Di pintu kamar apartemen nampak Ed berdiri sambil bersandar dengan santai. Tangannya menggenggam sebuah apel merah. Senyum mengembang di wajahnya. "April Mop, Don." Ujarnya seraya menggigit apelnya.
"Ja.. Jangan tembak saya. Tolong... Jangan tembak saya." Ujar Ed terbata-bata. Tanpa berbicara si penodong segera mendorongnya masuk ke dalam kamar sehingga Ed jatuh terduduk di karpet kamar. "Serahkan semua uang dan barang berhargamu! Cepat!" Teriaknya seraya berjongkok di hadapan Ed. Tergagap ia mengeluarkan handphone dan juga dompetnya. Mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya yang hanya terdiri dari beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan sepuluh ribuan. "Jangan bercanda! Tidak mungkin kau tinggal di apartemen dengan uang cuma segini! Cepat keluarkan semua!" Kembali orang itu berteriak sambil menodongkan senjatanya ke wajah Ed. "Aku tidak berbohong. Uangku yang tersisa cuma segini. Jika kau ingin uang lebih aku harus mengambil dulu di ATM." Ujar Ed dengan nada seperti hendak menangis. "Kurang ajar! Beraninya kau mempermainkanku! Mungkin lebih baik kuledakkan saja kepalamu!" Bentak Si penodong kehilangan kesabaran seraya menekankan senjatanya di kening Ed. Karuan saja di puncak ketakutannya tanpa disadari Ed celananya mendadak basah oleh air kencingnya!
Suara tawa tiba-tiba menggema di kamar apartemen tersebut. Si penodong nampak tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Sesekali dia menunjuk ke arah Ed yang memandanginya dengan keheranan kemudian kembali tertawa sampai dirinya bersandar di dinding kamar. "April Mop, Ed!" Ujarnya sambil melepaskan topeng yang menutupi wajahnya. Doni tersenyum lebar. Ed memandang kaku pada teman sekamarnya yang terus tertawa sambil menyeka air matanya.
"Aku tak menyangka kau sepenakut itu. Sampai terkencing-kencing segala. Astaga!" Ujar Doni disusul dengan tawanya yang menjengkelkan. Ed diam tak menjawab. Dia bangkit dari duduknya kemudian melepaskan celananya yang basah oleh air kencing. Sejenak dia diam tak bergerak baru kemudian melirik ke arah Doni. "Dari awal aku sudah tahu itu kau, Don." Ujarnya dengan nada datar. Doni menghentikan tawanya. Keningnya mengernyit memandang Ed dengan sedikit heran. "Mana mungkin kau tahu tapi ketakutan sampai kencing di celana begitu. Kau cuma mengelak untuk menutupi rasa malumu." Doni tersenyum mengejek. "Dari saat kau mengikutiku aku sudah tau dari suara langkahmu yang sedikit pincang. Lagipula senjata yang kau todongkan itu bukan senjata asli. Itu pistol airsoft gun. Aku bisa mengetahuinya dari merek yang ada di pegangannya." Balas Ed dengan tenang. "Tapi kau kencing..." Ucapan Doni terhenti karena keburu dipotong oleh Ed. "Semua itu akting, kulakukan agar kau berhenti dengan leluconmu. Asal kau tahu, sekarang leluconmu sudah tidak lucu lagi." Dengan hanya mengenakan celana dalam Ed berjalan ke luar kamar memunguti barang belanjaannya yang berserakan, meninggalkan Doni yang terdiam dengan raut wajah kesal.
"Sial! Bagaimana mungkin si dungu itu jadi lebih pintar dariku. Sekarang malah aku yang kena tipu." Doni merutuk dalam hati. Diperhatikannya baik-baik senjata yang masih ada digenggamannya. "Bego! Tolol! Kenapa juga aku tidak bisa membedakan mana pistol asli dan pistol mainan!" Dengan kesal ditodongkannya pistol itu ke kepalanya seraya menarik pelatuknya.
DOR!
Tubuh Doni ambruk. Darah segar menyembur dari lubang dikepalanya, dengan cepat membasahi lantai dan mengubah warna karpet menjadi kemerahan. Di pintu kamar apartemen nampak Ed berdiri sambil bersandar dengan santai. Tangannya menggenggam sebuah apel merah. Senyum mengembang di wajahnya. "April Mop, Don." Ujarnya seraya menggigit apelnya.
- End -
