Wahyu masih memejamkan matanya walaupun dokter telah selesai membuka lilitan perbannya. "Silahkan coba buka matanya, pak. Pelan-pelan saja, tidak usah takut." Ujar dokter sambil memegang pundak Wahyu seolah ingin meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Perlahan Wahyu membuka matanya. Silaunya cahaya membuatnya kembali memejamkan matanya. Setelah menarik nafas panjang sedikit demi sedikit kembali dia mencoba membuka matanya.
Beberapa bayangan orang terlihat berdiri di depannya. Pandangannya masih samar dan sedikit berkunang-kunang. Masih terasa perih di kedua matanya, mungkin karena belum terbiasa dengan mata barunya. "Giamana, pak?" Tanya dokter. "Agak sedikit perih, dok. Kedua mata saya bisa melihat namun masih kabur." Wahyu meraba wajahnya. Diusapnya bekas operasi di matanya. "Jadi penglihatan masih kabur ya? Baik. Sudah saya catat dan akan saya buatkan laporan terlebih dahulu. Saya akan segera kembali untuk pengecekan retina." Dokter segera meninggalkan ruangan. Dua orang perawat membantu Wahyu kembali ke tempat tidurnya lalu membereskan peralatan dan keluar dari dalam ruangan. Wahyu mencoba untuk merebahkan diri ketika sudut matanya menangkap gerakan seseorang di dekat dinding.
"Suster?" Tanya Wahyu kepada orang itu. Matanya tak bisa memastikan apakah dia seorang pria ataukah wanita. Sosok yang nampak sedang duduk tersebut nampak berdiri lalu berjalan mendekatinya. Kemudian orang itu duduk dipinggiran tempat tidur. Berada sedekat itu Wahyu bisa mencium wangi tubuhnya yang menebarkan semerbak harum. "Aku senang kamu bisa selamat dan bertahan. Setidaknya tidak ada korban yang bertambah. Aku juga lega operasi matanya berhasil." Suaranya terdengar lembut membuat Wahyu yakin bahwa dia adalah seorang wanita. "Terima kasih atas kepedulianmu. Tapi maaf, apakah aku mengenalmu?" Tanya Wahyu sambil memicingkan matanya berusaha mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. "Nanti juga kamu tahu." Jawab wanita itu singkat sambil tersenyum. Pandangannya beralih ke arah jendela. Memperhatikan dua ekor burung yang berkejaran di ranting sebuah pohon. "Apakah kau bersyukur bisa selamat dari kecelakaan itu?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut wanita itu membuat Wahyu tertegun.
"Sejujurnya aku tidak tahu kenapa Tuhan tidak membiarkan aku pergi dari dunia ini. Kenapa dia hanya mengambil kakakku. Aku sudah kehilangan keluargaku dan kini aku tak memiliki lagi hal yang berharga di dunia ini. Pada akhirnya aku sendiri tak tahu apakah aku harus bersyukur karena masih hidup atau tidak." Wahyu memejamkan matanya sambil memperbaiki posisi duduknya. "Jadi kau tidak bersyukur walau kau mendapat pengganti kedua matamu yang hilang?" Kembali wanita itu bertanya. "Aku yakin kedua mata ini akan jauh lebih berguna jika tetap bersama pemiliknya..." Jawab Wahyu pelan. Wanita itu menghela nafas panjang kemudian bangkit dan berjalan ke arah jendela.
"Pemilik mata itu adalah seorang penderita penyakit langka Complex Regional Pain Syndrome. Jika kau pernah mendengarnya mungkin kau juga tahu kalau penyakit ini memunculkan rasa sakit luar biasa yang menusuk-nusuk tubuh bagi si penderita, kelelahan kronis bahkan seringkali membuat tubuh serasa seperti terbakar. Dia kesulitan untuk pergi kemanapun dia mau, padahal dia ingin sekali menjadi seorang traveler. Kebebasan hidupnya direnggut oleh penyakitnya. Lebih darimu, dia adalah orang paling putus asa." Wanita itu menghentikan ceritanya sejenak sedangkan Wahyu hanya terdiam mendengarkannya. "Tapi sekarang dia tidak lagi menderita. Tubuhnya memang tetap tak bisa pergi kemanapun dia mau, namun dia yakin tetap bisa melihat dan menikmati berbagai tempat yang indah. Untuk itulah di saat-saat terakhirnya dia memutuskan untuk mempercayakan kedua matanya padamu. Orang itu ingin tetap melihat indahnya hidup lewat dirimu. Dialah orang yang bertabrakan denganmu." Ucapan wanita itu membuat Wahyu terkejut.
"Jadi mata ini...." Wahyu tak meneruskan ucapannya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dipenuhi kesedihan. Sedikit ragu perlahan Wahyu membuka matanya. Dia merasa keheranan begitu mendapati bagaimana kini dia bisa melihat dengan sangat jelas, bahkan rasa pedih yang tadi dirasakannya kini sudah hilang sepenuhnya. Selagi dia terpana dengan perkembangannya, didengarnya lagi wanita itu berkata. "Hiduplah, Wahyu. Dengan mata itu, jalanilah hidupmu yang berharga. Itulah yang juga kakakmu inginkan." Wahyu terperanjat. Namun ketika dia mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedari tadi berbicara dengannya, terkejutlah dia. Ternyata di ruangan itu tak ada orang lain selain dirinya. Pandangannya memutar ke seluruh ruangan namun tetap saja orang yang dicarinya tak ada. Hanya setangkai bunga sedap malam yang terlihat tergeletak di jendela kamar...
"Pemilik mata itu adalah seorang penderita penyakit langka Complex Regional Pain Syndrome. Jika kau pernah mendengarnya mungkin kau juga tahu kalau penyakit ini memunculkan rasa sakit luar biasa yang menusuk-nusuk tubuh bagi si penderita, kelelahan kronis bahkan seringkali membuat tubuh serasa seperti terbakar. Dia kesulitan untuk pergi kemanapun dia mau, padahal dia ingin sekali menjadi seorang traveler. Kebebasan hidupnya direnggut oleh penyakitnya. Lebih darimu, dia adalah orang paling putus asa." Wanita itu menghentikan ceritanya sejenak sedangkan Wahyu hanya terdiam mendengarkannya. "Tapi sekarang dia tidak lagi menderita. Tubuhnya memang tetap tak bisa pergi kemanapun dia mau, namun dia yakin tetap bisa melihat dan menikmati berbagai tempat yang indah. Untuk itulah di saat-saat terakhirnya dia memutuskan untuk mempercayakan kedua matanya padamu. Orang itu ingin tetap melihat indahnya hidup lewat dirimu. Dialah orang yang bertabrakan denganmu." Ucapan wanita itu membuat Wahyu terkejut.
"Jadi mata ini...." Wahyu tak meneruskan ucapannya. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dipenuhi kesedihan. Sedikit ragu perlahan Wahyu membuka matanya. Dia merasa keheranan begitu mendapati bagaimana kini dia bisa melihat dengan sangat jelas, bahkan rasa pedih yang tadi dirasakannya kini sudah hilang sepenuhnya. Selagi dia terpana dengan perkembangannya, didengarnya lagi wanita itu berkata. "Hiduplah, Wahyu. Dengan mata itu, jalanilah hidupmu yang berharga. Itulah yang juga kakakmu inginkan." Wahyu terperanjat. Namun ketika dia mengalihkan pandangannya pada wanita yang sedari tadi berbicara dengannya, terkejutlah dia. Ternyata di ruangan itu tak ada orang lain selain dirinya. Pandangannya memutar ke seluruh ruangan namun tetap saja orang yang dicarinya tak ada. Hanya setangkai bunga sedap malam yang terlihat tergeletak di jendela kamar...
- End -
