(Prolog)
Cerita ini
merupakan kisah nyata yang viral di dunia maya pada Agustus 2019. Ditulis oleh
pemilik akun twitter @SimpleM81378523. Sesuai penjelasan penulis asli, nama
tempat, kampus dan tokoh di cerita ini disamarkan untuk menjaga privasi mereka.
Ceritanya sendiri saya edit dibeberapa bagian terutama bagian dialog
(menghilangkan versi bahasa jawa agar lebih simpel), tentunya dengan
pengurangan atau penambahan namun tanpa merubah isi cerita sedikitpun dan untuk
mempersingkat cerita karena thread cerita ini sangat-sangat panjang. Tentu saja
tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap penulis asli.
(1)
Tahun 2009
akhir.
Semua anak angkatan 2005/06 sudah hampir merampungkan persyaratan untuk
mengikuti KKN yang di lakukan di beberapa desa sebagai syarat lanjutan untuk
tugas skripsi. Dari semua wajah antusias itu di kampus, terlihat satu orang
tampak menyendiri.
Widya,
begitu anak-anak lain memanggilnya
Ia tampak begitu gugup, menyepi, menyendiri, sampai panggilan telepon itu
membuyarkan lamunanya.
"Aku sudah dapat tempat untuk KKN”, kata seseorang di ujung telpon.
Wajah muram itu, berubah menjadi senyuman penuh harap
"Dimana?”,
Tanyanya.
"Di kota B, di sebuah desa di kabupaten K, banyak proker untuk di
kerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita.
Saat itu juga, Widya segera mengajukan prop KKN. Semua persyaratan sudah
terpenuhi, kecuali kelengkapan anggota dalam setiap kelompok minimal harus
melibatkan 2 fakultas berbeda pun dengan anggota minimal 6 orang.
"Tenang", kata Ayu.
Perempuan
yang tempo hari memberi kabar tempat KKN yang ia observasi bersama abangnya.
Benar saja, tidak beberapa lama, muncul Bima dengan Nur, ia menyampaikan,
kelengkapan anggota 6 orang yang melibatkan 2 fakultas sudah di setujui.
"Siapa yang sudah gabung, Nur?”, tanya Ayu.
"Temanku. Kakak tingkat. Dua angkatan di atas kita, satunya lagi
temannya."
Lega sudah.
batin Widya.
Surat keputusan KKN sudah disetujui semuanya, terdiri dari 2 fakultas dengan
proker kelompok dan individu, untuk pengabdian di masyarakat yang akan di
adakan kurang lebih sekitar 6 minggu.
Jauh hari sebelum malam pembekalan, Widya berpamitan kepada orangtuanya tentang
progress KKN yang wajib ia tempuh, ketika orangtua Widya bertanya kemana Projek
KKN mereka, terlihat wajah tidak suka dari raut ibunya.
"Apa nggak ada tempat lain, kenapa harus kota B?”, wajah ibunya menegang.
"Disana
tempatnya bukannya hutan semua, tidak bagus ditinggali oleh manusia.”
Namun setelah Widya menejelaskan, bahwa sebelumnya sudah dilakukan observasi
wajah ibunya melunak.
"Perasaan ibu nggak enak, apa tidak bisa di undur satu tahun lagi?”
Widya enggan melakukanya. Meski berat kedua orangtuanya pun terpaksa
menyetujuinya.
Hari
pembekalan sebelum keberangkatan, semua anggota sudah berkumpul. Widya, Ayu,
Bima, Nur, ditambah Wahyu dan Anton.
Setelah basa basi, bertanya seputar rencana KKN dari A sampai Z selesai, mereka
akhirnya berangkat.
"Naik apa kita nanti?” kata Wahyu.
"Elf, mas" jawab Nur.
"Sampai desanya naik mobil Elf, dik?”
"Nggak,
mas. Nanti berhenti di jalur hutan D, nanti ada yang jemput.” sahut Nur.
Mendengar itu Widya bertanya ke Ayu.
"Yu,
apa desanya gak bisa di masuki mobil?"
Ayu hanya
menggelengkan kepala.
"Nggak
bisa, tapi dekat kok dari jalan besar, 45 menit kemungkinan.”
Disinilah cerita ini di mulai.
(2)
Sesuai apa
yang Nur katakan. Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4
sampai 5 jam dari kota S, tanpa terasa hari sudah mulai petang di tambah area
dekat dengan hutan membuat pandangan mata terbatas. Belum sampai disana
gerimis mulai turun. Lengkap sudah.
Setelah
menunggu hampir setengah jam, terlihat dari jauh cahaya mendekat. Nur dan Ayu
langsung mengatakan bahwa mereka yang akan menjemput.
Rupanya yang datang adalah 6 lelaki paruh baya, dengan motor butut.
"Cuk, naik sepeda kita." kata Wahyu spontan.
Saat itu ada
yang aneh. Entah disengaja atau tidak, ucapan yang di anggap biasa di kota S
itu di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu. Wajahnya tampak tidak suka, dan
sinis tajam melihat Wahyu.
Hanya saja yang memperhatikan semua sedetail itu, hanya Widya seorang. Apapun
itu, semoga bukan hal yang buruk.
Ditengah
gerimis, jalanan berlumpur, pohon di samping kanan kiri, mereka tempuh dengan
suara motor yang seperti sudah mau ngadat saja. Ditambah medan tanah naik turun
membuat Widya kembali berpikir perjalanan mereka sudah hampir satu jam lebih,
tapi motor masih berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Selama perjalanan, tidak
satupun dari pengendara motor itu yang mengajaknya bicara. Aneh. Apa semua
warga disana pendiam semua.
Malam
semakin gelap dan hutan semakin sunyi sepi. Suara motor memecah suara rintik
gerimis ketika dari jauh sayup-sayup Widya mendengar sebuah suara tabuhan
kendang dan gong, di ikuti suara kenong, kompyang, mebaur menjadi alunan suara
gamelan.
“Apa ada yang sedang mengadakan hajatan di dekat sini?” pikirnya.
Ketika
sayup-sayup suara itu perlahan menghilang, terlihat gapura kayu menyambut
mereka. Sampailah mereka di Desa W, tempat mereka akan mengabdikan diri selama
6 minggu ke depan.
"Permisi.”
Kata lelaki itu, sebelum meninggalkan Widya dengan motornya.
"Sebelah sini." teriak Ayu. Di sampingnya berdiri seorang pria,
wajahnya tenang, dengan kumis tebal, mengenakan kemeja batik khas ketimuran, ia
berdiri seolah sudah menunggu sedari tadi.
"Kenalkan
ini pak Prabu, kepala desa teman kakakku. Pak, ini teman saya dari kota yang
rencananya mau KKN disini."
Pak Prabu
memperkenalkan diri. Bercerita tentang sejarah desanya. Di tengah ia bercerita,
Widya pun bertanya kenapa desanya harus sepelosok ini. Dengan tawa sumringah,
pak Prabu menjawab.
"Pelosok bagaimana maksudnya, nak. Bukanya jarak ke jalan besar hanya 30
menit.”
Tatapan bingung Widya, disambut tatapan bertanya oleh semua temanya, seolah
pertanyaanya kok membingungkan.
"Mbaknya mungkin capek, jadi mari saya antar ke tempat dimana nanti kalian
tinggal.”
Di tengah kebingungan itu, Ayu menegur Widya.
"Maksudnya
gimana sih, Wid. Koq kamu tanya seperti itu, bikin aku jadi sungkan aja kamu.”
Di situ Widya menyadari.
Ada yang
salah.
Tempat
menginap untuk laki-laki adalah rumah gubuk yang dulunya seringkali dipakai
untuk posyandu, tapi sudah di rubah sedemikian rupa. Meski beralaskan tanah,
tapi di dalamnya sudah ada bayang (ranjang tidur) beralasakan tikar. Sedangkan
untuk perempuan menginap di salah satu rumah warga.
Di dalam kamar Widya pun bertanya maksud ucapanya kepada pak Prabu. Karena
sepanjang perjalanan yang Widya rasakan itu lebih dari satu jam. Ayu membantah
bahwa lama perjalanan tidak sampai selama itu. Anehnya, Nur memilih tidak ikut
berdebat dan lebih memilih untuk diam.
"Gini,
kamu dengar tidak, di jalan tadi, ada suara orang main gamelan?” Tanya
Widya.
"Ya palingan ada warga yang mengadakan hajatan. Apalagi?” Jawab Ayu.
Namun
berbeda dengan Ayu, Nur malah menatap Widya dengan ngeri.
“Mbak, tidak
mungkin ada desa lain disini, tidak mungkin ada acara di dekat sini, kalau kata
orang jaman dulu, kalau dengar suara gamelan itu pertanda buruk.” Nur berbicara
lirih.
Mendengar
itu Ayu tersulut dan langsung menuding Nur sudah ngomong yang tidak-tidak.
"Nur, jangan ngomong sembarangan kamu bukanya kamu ikut observasi di
kampung ini sama aku. Belum sehari kamu sudah ngomong hal yang nggak masuk akal
begini.”
Ayu lalu pergi meninggalkan Widya dengan Nur.
Nur mendekati Widya dan berkata.
"Mbak,
aku juga dengar suara gamelan itu koq. Cuma masalahnya, aku juga lihat ada yang
menari di jalan tadi.”
"Astaghfirullah" kata Widya tidak percaya.
Nur menatap nanar Widya, air matanya sudah seperti memaksa keluar, Widya hanya
memeluk dan mencoba menenangkanya.
Sejenak dia
teringat perkataan ibunya tempo hari.
"Banyu
semilir mlayu nang etan (air selalu mengalir ke arah timur).”
Memiliki
makna, bahwa timur adalah tempat dimana semua di kumpulkan menjadi satu, antara
yang buruk dan yang paling buruk. Dan kini Widya harus tinggal di hutan paling
timur
"Nur,
bisa nggak cerita ini jangan sampai menyebar ke teman-teman. Kan jadi nggak
enak kalau sampai warga desa dengar, apalagi kita disini itu sebagai tamu.
Insyaallah, semua akan baik-baik saja ya.”
Nur mengangguk meski enggan menjawab kalimat Widya. Malam itu tanpa terasa di
lewati begitu saja.
(3)
Keesokan
harinya rombongan sudah berkumpul. Sesuai janji pak Prabu, hari ini mereka akan
keliling desa. Melihat semua proker yang sudah di ajukan oleh Ayu tempo hari,
sekaligus meminta saran untuk proker individu yang harus di kerjakan oleh
masing-masing dari mereka.
Sampailah,
mereka di pemberhentian pertama. Sebuah pemakaman desa.
Aneh.
Itulah yang pertama kali di pikirkan Widya, atau mungkin semua orang. Setiap
nisan di tutup oleh kain hitam. Pemakamanya sendiri di kelilingi pohon beringin
dan di setiap pohon beringin ada batu besar di sampingnya. Disana lengkap ada
sesajen di depanya. Nur yang semula mulai ceria tiba-tiba menjadi diam. Ia
menundukkan kepalanya, seolah tidak mau melihat sesuatu.
“Mohon maaf
pak, ini kenapa ya kok...” Belum selesai Widya bicara, pak Prabu memotongnya
"Saya tau apa yang adik mau katakan. Pasti mau tanya, koq pateknya (nisan)
di tutupi pakai kain, ya kan?"
Widya mengangguk. Rombongan menatap serius pak Prabu, terkecuali Wahyu dan
Anton. Terdengar mereka sayup tertawa kecil.
"Ini
namanya Sangkarso. Kepercayaan orang sini. Jadi biar tahu, kalau ini loh
pemakaman." terang pak Prabu. Mendengar penjelasan pak Prabu, Wahyu dan
Anton menyindir pelan namun pak Prabu bisa mendengarnya.
"Orang
bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola, pak.”
Pak Prabu yang sumringah tiba-tiba diam. Raut wajahnya berubah dan tak
tertebak.
"Semoga saja kalian paham dengan apa yang kalian katakan."
Kalimat pak
Prabu seperti penekanan yang mengancam, setidaknya itu yang Widya rasakan.
Sontak Bima langsung meminta maaf. Namun Wahyu dan Anton memilih diam setelah
mendengar respon pak Prabu.
Mereka
kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya yaitu Sinden (kolam tempat
air keluar dari tanah). Bangunan Sinden itu sendiri menyerupai candi kecil,
namun memiliki kolam berbentuk persegi empat yang memiliki air yang jernih
namun berlumut. Pak Prabu mengatakan bahwa Sinden ini bisa di jadikan Proker
paling menjanjikan. Tidak jauh darisana ada sungai dan pak Prabu menginginkan
agar Sinden dan sungai bisa di hubungkan, jadi semacam jalan air.
Ayu dan Widya sudah memetakan semua yang pak Prabu tunjukkan, memberinya sampel
warna merah sampai biru, dari yang paling di utamakan sampai yang paling akhir
di kerjakan.
Nur meminta
izin untuk kembali ke rumah karena merasa tidak enak badan. Bima pun
mengantarkanya sehingga observasi hanya di lakukan oleh empat orang saja.
Mereka pun
dampai di titik paling menakutkan
Tipak talas, begitu kata pak Prabu. Sebuah batas dimana rombongan anak-anak
dilarang keras melintasi sebuah setapak jalan yang di buat serampangan. Di kiri
kanan ada kain merah lengkap diikat oleh janur kuning layaknya pernikahan.
"Kenapa
nggak boleh, pak?" tanya Ayu penasaran.
Pak Prabu diam lama, seperti sudah mempersiapkan jawaban namun ia enggan
mengatakanya.
"Itu adalah hutan belantara, nggak ada apa-apanya. Hanya saja
mempertimbangkan, takutnya kalau kalian kesana, hilang, tersesat, gimana
nanti.”
Sekali lagi, jawaban itu cukup membuat Widya yakin itu bukan yang sebenarnya.
Perasaan merinding melihat jalanan setapak itu nyata.
(4)
Di kampung
tersebut tidak ada satu rumah pun yang memiliki kamar mandi. Hal itu
dikarenakan sulitnya akses air. Berdasarkan penuturan pak Prabu tempat untuk
mandi ada di bagian selatan Sinden berupa bilik dengan kendi besar di dalamnya.
Sore
menjelang malam. Widya meminta Nur untuk menemaninya pergi ke kamar mandi di
bilik samping Sinden. Awalnya Nur tampak tidak mau tapi karena di paksa
akhirnya ia pun bersedia ikut dengan catatan dia yang pertama masuk bilik.
Setelah
mencari dari Sinden, merekapun menemukan bilik itu yang berada tepat di samping
pohon Asem yang besar sekali. Rindang namun mengerikan.
Didalamnya terdapat kendi besar yang sudah terisi penuh air. Nur pun segera
masuk sementara Widya menunggu di depan bilik. Matanya tidak bisa melepaskan
diri dari bangunan Sinden yang entah kenapa seolah menarik perhatianya.
Dari dalam
bilik terdengar suara air bilasan dari Nur. Disaat perhatiannya lepas dari
bangunan Sinden, Widya mencium ada aroma kemenyan di dekat tempatnya berdiri.
Ketika dia menelusurinya, benar saja, di samping pohon asem itu terdapat sebuah
sesajen. Bara dari kemenyannya terlihat baru saja di bakar.
Antara takut dan kaget Widya kembali ke pintu bilik. Saat itu sudah tidak
terdengar suara air bilasan dari dalam.
"Nur! Nur!" teriak Widya sembari menggedor pintu kayu.
Hening.
Tidak ada jawaban dari dalam.
Widya masih
berusaha memanggil ketika terdengar sayup suara yang lirih, sampai-sampai dia
harus menempelkan telinganya di pintu bilik.
Suara orang sedang berkidung.
Kidungnya sendiri menyerupai kidung jawa, suaranya sangat lembut seperti
seorang biduan.
"Nur,
buka Nur! Buka!" spontan Widya menggedor pintu dengan keras.
Ketika pintu
terbuka, Nur melihat Widya dengan ekspresi wajah panik
"Kenapa sih, Wid?” tanya Nur
Ekspresi ganjil Widya membuat Nur kebingungan
"Ayo
cepat mandi, biar aku yang gantian jaga di luar.”
Dengan sedikit ragu Widya akhirnya bergegas masuk bilik. Setelah melepas
pakaiannya dia mulai menyiramkan air ke tubuhnya. Dingin. Suasana terasa sunyi
karena di luar Nur tidak berkata apapun.
Setiap
siraman air di kepalanya membuat Widya memejamkan matanya dan setiap ia
memejamkan mata entah kenapa kemudian terbayang wajah cantik nan jelita yang
sedang tersenyum memandanginya.
“Siapa pemilik wajah cantik itu?”
Kemudian kidung itu terdengar lagi. Widya berbalik, mengamati. Suaranya dari
luar bilik tempat Nur berdiri seorang diri.
“Apakah Nur
yang sedang berkidung?”
Pertanyaan itu menancap keras di kepala Widya.
"Nur, kamu bisa bersenandung kidung jawa ya?” Widya sempat bertanya ketika
sedang dalam perjalanan kembali ke rumah.
Nur mengamati Widya, kemudian terdiam dan pergi tanpa menjawab sepatah katapun.
(5)
Listrik di
desa ini menggunakan tenaga Genset. Jadi ketika jam menunjukkan pukul 9, lampu
sudah mati dan di ganti dengan petromak.
Nur sudah
pergi tidur, hanya tinggal Widya dan Ayu yang masih menyelesaikan progres untuk
proker esok hari.
Di tengah
keheningan mereka menggarap progres, tiba-tiba Ayu mengatakan sesuatu yang
membuat Widya tertarik.
"Tadi
aku sama Bima mengecek progres untuk pembuangan. Ketika memutari desa, ingat
nggak sama Tapak Tilas, ternyata gak jauh darisana ada sebuah bangunan tua
menyerupai sanggar.”
Widya termenung. "Lho, bukanya kamu udah ngerti dilarang berada disana?”
"Bukan aku.” Ayu membela diri.
“Bima yang
ngajak. Katanya ada perempuan cantik, pas di ikuti ternyata nggak ada.”
"Terus
kenapa kamu tetap kesana?” Ayu bersitegang.
"Kamu ini, kan aku ngejar Bima. Masa dibiarkan saja kalau nanti hilang gimana?”
kata-kata Ayu menghentikan perdebatan mereka.
Karena malam semakin larut, Widya pun beranjak pergi ke kamar. Disana ia
melihat Nur sudah terlelap dalam tidurnya. Tak lama Ayu pun menyusul kemudian.
Widya belum terlelap ketika tiba-tiba terdengar langkah kaki. Dilihatnya Nur
melangkah keluar. Merasa ragu apakah mau membangunkan Ayu, Widya pun beranjak
dari tempatnya tidur mengikuti Nur pergi keluar rumah.
Malam itu sangat gelap, sangat sunyi dan sepi dibanding biasanya. Dia mencoba
melihat kesana kemari mencari dimana keberadaan Nur. Widya terpaku ketika
dilihatnya Nur berdiri di tanah lapang depan rumah. Dia sedang menari dengan
sangat anggun, tanpa alas kaki berlenggak-lenggok layaknya penari profesional.
Widya termangu mematung melihat temanya. Dengan ragu-ragu ia mendekatinya. Tak
pernah terpikirkan olehnya bahwa Nur bisa menari seperti ini.
"Nur."
panggil Widya.
Tapi Nur
seperti tidak mendengarkanya. Ia masih berlenggak lenggok, sorot matanya
beberapa kali melirik Widya. Ngeri. Tiba-tiba bulu kuduk terasa Widya berdiri
ketika memandangnya. Dari jauh sayup sayup suara kendang terdengar lagi. Widya
semakin diselimuti ketakutan, tabuhan gamelan sahut menyahut, campur aduk
dengan tarian Nur yang seperti mengikuti alunan itu.
Kaki seperti ingin lari dan melangkah masuk rumah, tapi Nur semakin menggila.
Ia masih menari dengan senyuman ganjil di bibirnya. Sampai akhirnya Widya
memaksa Nur menghentikan tarianya. Dia berteriak meminta temanya agar berhenti
bersikap aneh dan saat itulah wajah Nur terlihat berubah menjadi wajah yang
sangat menakutkan. Sorot matanya tajam, dengan mata nyaris hitam semua. Widya
menjerit sejadi-jadinya. Kali berikutnya, seseorang memegang Widya kuat sekali,
menggoyangkannya sembari memanggil namanya.
Wahyu.
Widya melihat Wahyu yang menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus takut.
"Malam-malam gini ngapain anj-ng! Nari sendirian disini!”
Jeritan Widya rupanya membangunkan semua orang, termasuk si pemilik rumah,
Widya melihat sorot mata semua orang memandangnya, tak terkecuali Nur yang
rupanya baru saja keluar dari dalam rumah. Mereka sama-sama termangu memandang
satu sama lain.
Wahyu pun menceritakan semuanya. Bagaimana awalnya ia sedang menghisap
rokok sembari duduk di teras posyandu. Kemudian tanpa sengaja ia melihat
seseorang, sendirian, menari di tanah lapang. Karena penasaran Wahyu mendekat
sampai dia menyadari jika yang menari itu adalah Widya. Ssemua yang
mendengarkan cerita Wahyu hanya bisa menatap nanar, tidak ada yang berkomentar.
Si pemilik rumah akhirnya menyuruh mereka semua bubar dan masuk ke dalam rumah
lagi karena malam semakin larut. Dia berjanji akan berbicara dengan pak Prabu
esok hari.
Malam itu benar-benar malam yang gila, seolah-olah menjadi pembuka rangkaian
kejadian yang akan mereka hadapi di sela tugas KKN mereka ke dalam situasi yang
paling serius.
(6)
Esok harinya
pak Prabu mengajak Widya, Ayu dan Wahyu untuk pergi menemui seseorang. Berbekal
mengendarai motor butut yang tempo hari digunakan untuk mengantar mereka masuk
ke desa ini, mereka berangkat melalui jalur yang sama seperti saat mereka
pertama kali datang ke desa itu. Anehnya kali ini Widya merasakan sendiri untuk
sampai ke jalan raya tidak sampai satu jam lamanya, bahkan mungkin cuma memakan
waktu 30 menit saja.
Melintasi jalan besar, lalu masuk lagi ke sebuah jalan setapak buatan akhirnya
mereka melihat sebuah rumah berpagar batu bata merah, dengan banyak bambu
kuning, rumah itu terlihat sangat tua namun masih enak dipandang mata.
Di depan rumah, ada orang tua sudah sepuh, berdiri seperti sudah tau bahwa hari
ini akan ada tamu yang berkunjung. Tidak ada yang tahu nama kakek itu, namun
pak Prabu memanggilnya mbah Buyut.
Setelah pak
Prabu selesai menceritakan semuanya, wajah mbah Buyut tampak biasa saja seolah
tidak tertarik sama sekali dengan cerita pak Prabu yang padahal membuat semua
anak-anak masih tidak habis pikir. Sesekali memang mbah Buyut terlihat menatap
Widya, terkesan mencuri pandang.
Dengan suara serak, mbah Buyut pergi kedalam rumah, beliau kembali dengan 5
gelas kopi yang di hidangkan di depan mereka.
"Silahkan."
ujarnya, matanya memandang Widya.
Melihat itu Widya menolak. Mengatakan dirinya tidak pernah meminum kopi namun
senyuman ganjil mbah Buyut membuat Widya sungkan yang akhirnya berbuntut ia
meneguk kopi itu meski hanya satu tegukan saja. Kopinya manis. Ada aroma melati
didalamnya. Awalnya Widya hanya mencoba saja, tanpa sadar gelas kopi itu sudah
kosong.
Tidak hanya Widya, semua orang di tegur agar mencicipi kopi buatan beliau.
"Tidak
baik menolak pemberian tuan rumah."
Semua akhirnya mencobanya. Wahyu dan Ayu kaget setengah mati, sampai harus
menyemburkan kopi yang ia teguk. Mimik wajahnya bingung, karena rasa kopinya
tidak terasa manis, tapi sangat pahit. Sampai tidak bisa masuk ke tenggorokan
sama sekali.
Anehnya, Pak Prabu meneguk kopi itu biasa saja.
Mbah Buyut
pun kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi namun menggunakan bahasa jawa
halus sekali. Sehingga ucapanya kadang tidak bisa di pahami semua anak. Ada
kalimat, penari dan penunggu, namun yang lainya tidak dapat di cerna. Ia juga
sempat menunjuk Widya tepat didepan wajahnya dengan mimik wajahnya sangat
serius. Pak Prabu mendengarkan dengan seksama lalu berpamitan pulang. Sebelum
mereka pulang mbah Buyut memberi kunir tepat di dahi Widya, katanya untuk
menjaga Widya saja.
Kunjungan itu sama sekali tidak di ketahui tujuanya. Selama perjalanan pak
Prabu bercerita tentang kopi yang di hidangkan mbah Buyut tadi yaitu kopi ireng
yang di racik khusus untuk memanggil lelembut, demit dan sejenisnya. Bukan kopi
untuk manusia. Mereka yang belum pernah mencobanya pasti akan memuntahkanya.
Namun bagi lelembut dan sebangsanya, kopi itu manis sekali.
"Mohon
maaf ya nak, kamu ada yang mengikuti" jelas pak Prabu.
Namun pak
Prabu juga mengatakan bahwa ia tidak perlu takut karena Widya tidak akan serta
merta di apa-apakan, hanya di ikuti saja. Yang lebih penting Widya tidak boleh
dibiarkan sendirian, harus selalu ada yang menemaninya.
Untuk itu
pak Prabu punya gagasan. Mulai malam ini mereka akan tinggal dalam satu rumah,
hanya dipisahkan oleh sekat dari bambu anyam. Pak Prabu hanya meminta satu hal,
jangan melanggar etika dan norma saja.
Tempat
tinggal mereka yang baru tepat ada di ujung. Cukup besar dan bekas rumah keluarga
yang merantau sekaligus hal ini menjawab pertanyaan kenapa jarang di temui anak
seumuran mereka di desa ini. Rupanya kebanyakan anak-anak yang sudah akil
baligh pasti pergi merantau. Dibelakang rumah ada sebuah watu item (batu kali)
cukup besar dengan beberapa pohon pisang dan dikelilingi daun tuntas.
Setelah kejadian malam itu, Ayu sedikit menghindari Widya. Namun Wahyu
sebaliknya, ia mendekati Widya dan memberi semangat agar tidak mencerna
mentah-mentah mbah Buyut.
Suatu malam Wahyu menceritakan kejadian yang tidak ia ceritakan di malam itu.
"Wid,
temanmu yang cowok itu baik-baik saja kan?" tanya Wahyu.
"Maksudnya, mas?"
"Temanmu itu setiap larut malam keluar Wid, entah kemana. Terus biasanya
baru balik pagi. Apa sedang mengerjakan prokernya? Tapi koq harus malam?"
"Nggak ngerti aku mas." Widya mengernyitkan dahi.
"Aku
juga sering denger anak itu ngomong sendirian di dalam kamar. Sumpah! Nggak
cuma itu, kadang dia tertawa sendirian, gila mungkin anak itu." lanjut
Wahyu.
"Bima
itu religius, gak mungkin aneh-aneh." Widya tak percaya mendengar
penjelasan Wahyu.
"Yo wes, tanya Anton kalau gak percaya. Malam sebelum kejadian itu,
Bima sebenarnya ada disana. Dia cuma lihat kamu dari jendela. Paham kamu
sekarang? Gila tuh anak!"
Mendengar itu Widya hanya bisa terdiam lama, berusaha memproses kata-kata Wahyu
sampai ia kemudian melihat Wahyu pergi dengan raut wajah kesal.
(7)
Malam itu
semua anak sudah berkumpul di rumah. Nur ada di kamar sedang shalat. Ayu, Wahyu
dan Anton ngobrol di teras rumah sedangkan Bima sedang ada pertemuan dengan pak
Prabu. Widya ada di ruang tengah sendirian.
Tiba-tiba dari arah pawon (dapur) terdengar lagi suara kidung. Ketika berjalan
menuju dapur Widya melewati kamar dan sempat dilihatnya Nur sedang bersujud.
Pawon rumah ini hanya di tutup dengan tirai. Saat Widya menyibak tirai, ia
melihat Nur sedang meneguk air dari kendi dengan masih mengenakan mukenanya.
Widya diam
mematung. Lama sekali sampai Nur yang masih meneguk air melihatnya.
Mata mereka saling memandang satu sama lain.
"Kenapa, Wid?" tanya Nur.
Widya masih diam. Nur pun mendekati Widya. Sontak Widya langsung lari dan
melihat isi kamar, disana tidak ada Nur.
"Ada
apa sih sebenarnya?" tanya Nur yang sekarang di samping Widya.
Ia memegang
bahu Widya. Dingin dan gemetaran. Sampai semua anak melihat mereka kemudian
mendekatinya.
"Kenapa koq ramai sekali." tegur Ayu.
"Nggak
tau, anak ini di tanya dari tadi nggak jawab-jawab."
"Kenapa, Wid?" Wahyu mendekati.
"Tanganmu kenapa gemetaran gitu, ada apa sih?" tanya Anton.
"Nur
ambilkan air gitu loh, koq malah diam saja."
Nur kembali dengan teko kendi yang tadi lalu memberikanya pada Widya. Dia
kemudian meneguknya namun tiba-tiba Widya diam lagi membuat semua orang
bingung. Tangan kiri Widya masih memegang teko ketika tangan kananya terangkat
lalu masuk ke dalam mulut. Widya berusaha mengambil sesuatu. Ada dua sampai
tiga helai rambut hitam panjang dan itu keluar dari dalam mulut Widya. Semua
yang menyaksikanya beringsut mundur.
Kaget.
Begitu
penutup tekonya di buka, di dalamnya terliha segumpal rambut. Benar-benar
segumpal rambut dengan air di dalamnya.
Nur yang melihatnya langsung bereaksi.
"Tadi
aku juga minum dari situ, gak tau ada yang begituanya."
Widya muntah
sejadi-jadinya.
Saat keadaan
tegang seperti itu, Anton tiba-tiba berkata, "Kamu di incar ya, Wid? Kata
mbahku, kalau tiba-tiba muncul rambut itu biasanya kalau nggak di santet ya
diincar makhluk halus."
"Wid,
apa penari itu masih ngikutin kamu? Soalnya dari kemarin aku belum lihat dia di
belakangmu." Tanya Nur.
Kemudian Nur
menyadari kalau dia sudah salah bicara. Karena terus menerus merasa was-was
beberapa hari kemudian Widya jatuh sakit selama tiga hari. Selama sakit dia
sering ditinggal di rumah sendirian dikarenakan yang lainnya tetap harus
mengerjakan proker mereka masing-masing.
Saat sedang
jatuh sakitpun Widya terus mengalami kejadian ganjil seperti didengarnya suara
keras dari belakang rumah. Suara dua lempengan keras beradu. Saat bermaksud mengeceknya
dia memergoki seorang bapak tua yang bersikap mencurigakan berada di kebun
belakang diantara pepohonan pisang nampak mengawasi rumah yang menjadi
penginapan Widya selama KKN. Hal itu terulang keesokan harinya bahkan kali ini
bapak tua itu sudah berdiri di depan pintu pawon. Namun tiba-tiba saja dia lari
tunggang langgang ketika sebuah suara keras terdengar dari arah watu item (batu
kali) di belakang rumah. Ada yang melempar batu cukup besar disana.
Widya pun melaporkan hal itu ke pak Prabu. Setelah diselidiki akhirnya mereka
menemukan bapak tua tersebut yang masih merupakan warga disana. Setelah
ditanyai akhirnya bapak tua itu bercerita, entah benar atau tidak, bahwa ia
melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti dayang (penari) dan masuk
ke rumah yang ditempati Widya. Maka ia pun memutuskan untuk memeriksanya secara
diam-diam. Di hari dimana ia lari tunggang langgang, ia melihat sesuatu di
dalam pawon tersebut. Wanita itu sedang menari dengan anggun disana. Saat ia
mencoba melihat wajahnya, bapak tua itu terkejut setengah mati karena wanita
yang dikiranya berparas cantik jelita tersebut ternyata berwajah polos, rata
tak berbentuk!
(8)
"Mau
ikut, nggak?" Tanya Wahyu di sela-sela kesibukan Widya mengerjakan
prokernya yang sudah tertunda selama beberapa hari.
"Kemana?"
"Ke
kota, ada perlengkapan yang harus ku beli."
"Jauh
nggak?"
"Dua
jam. Aku udah ijin dan pinjam motor sama pak Prabu."
"Ya
udah, ikut."
Lewat jam 11
siang mereka berdua berangkat keluar desa menuju kota B. Sebelumnya pak Prabu
sudah mewanti-wanti Wahyu agar segera pulang sebelum petang. Ketika Wahyu
menanyakan alasannya pak Prabu hanya menjawab dengan raut wajah yang tidak bisa
ditebak.
"Tidak
ada yang pernah tau apa yang tinggal di hutan."
Keluar dari
jalan setapak, mereka sampai di jalan raya. Menyusurinya, cukup jauh hingga
mereka pun sampai di kota B. Wahyu dan Widya berhenti di sebuah pasar dan
segera mencari segala keperluan mereka. Hingga 2 jam berlalu setelah berhasil
menemukan segala keperluannya mereka segera bermaksud kembali.
Wahyu
berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin
penuh. Etika ketika meminjam barang orang lain. Jam sudah menunjukkan pukul 4
sore. Widya menunggunya di samping seorang penjual cilok. Ketika Wahyu sampai
disana diapun membeli cilok untuk dirinya dan Widya. Saat itulah si penjual
cilok memperhatikannya seperti inin menyampaikan sesuatu.
"Mas
nya pendatang?" kata orang itu.
"Nggak pak, saya cuma KKN disini," Jawab Wahyu.
"Tetap saja, orang luar kan?" kata si penjual cilok lalu memmandang
Widya dan Wahyu bergantian.
"Kalau boleh tanya, mas sama mbaknya KKN dimana?"
Setelah
Wahyu menceritakan semuanya termasuk tempat KKN berada, saat itu terlihat jelas
sekali perubahan wajah si penjual cilok.
"Lho, berarti sebentar lagi kalian bakalan lewat hutan D?"
"Iya, pak." Jawab Wahyu membuat si penjual cilok semakin terkejut.
"Lho, halah
dalah. Sudah jam segini mas. Apa nggak bisa besok saja mas? Cari saja
penginapan, soalnya jam segini sudah jarang ada yang lewat."
"Nggak
pak, saya lanjut aja." kata Wahyu.
"Bisa saya minta waktunya sebentar." si penjual cilok tiba-tiba
mengatakan hal itu dengan wajah tegang.
"Ya,
pak?" Wahyu sedikit keheranan.
"Begini, mas. Nanti setelah kalian sampai dan masuk ke jalanan hutanya,
jalan saja ya terus. Nggak usah berhenti, apalagi mengurusi hal apapun. Sampai
sini paham ya, mas?"
Wahyu Mengangguk.
"Jangan lupa berdoa. Yang paling penting jika kalian dengar suara tanpa
wujud, tetap lanjut saja. Jika sampai kalian di bikin celaka tapi kalian masih
bisa melanjutkan, lanjutkan saja. Jangan pernah berhenti disana, apapun yang
terjadi atau yang kalian lihat tidak usah di perdulikan. Kalian percaya saja, doa
yang utama."
Widya tidak
pernah mendengar ada orang yang sampai bercerita dengan mimik wajah yang
tegang, bahkan bibirnya gemetar saat menceritakan.
"Saya doakan kalian selamat sampai tujuan." Ujar si penjual cilok
sambil menatap kepergian Wahyu dan Widya setelah mereka berpamitan.
Langit sudah kemerahan. Motor butut yang mereka tumpangi menembus hutan. Widya
mulai merasakan angin dingin, melewatinya begitu saja. Tidak pernah disangkanya
jika jalan masuk hutan lebih gelap ketika petang mulai menjelang.
Cahaya motor
yang dikendarai Wahyu menembus kegelapan malam, kilasan pohon hutan di samping
kiri kanan jalan menjadi pemandangan tak menyenangkan. Hanya suara motor yang
mampu menghidupkan sepi senyap di sepanjang jalan karena benar saja, tak
ditemui satupun pengendara lain disepanjang perjalanan mereka.
Setelah lama
berdiam diri, Wahyu mencoba mencairkan suasana. Berandai-andai bagaimana bila
motor mogok atau ban meletus di tengah antara hutan ini. Widya hanya menanggapi
kecut. Takut bila pengandaian Wahyu terjadi pada mereka.
Benar saja.
Motor mereka
ngadat tepat setelah Wahyu mengatakan itu.
Widya diam seribu bahasa. Hal kurang pintar yang dilakukan manusia sejak dulu
kala adalah memikirkan sesuatu yang buruk di kondisi yang buruk, yang bahkan tidak
seharusnya mereka lakukan manakala do'a bisa saja di kabulkan sewaktu-waktu.
"Jalan
saja dulu, biar aku bisa tetap memantau kamu." kata Wahyu, sudah tidak
tahan mendengar berapa kali kata "goblok" keluar dari mulut Widya.
Entah berapa
lama mereka berjalan dan masih belum di temui satupun pengendara yang bisa
dimintai pertolongan. Widya berjalan sendirian didepan, tak sekalipun wajahnya
menengok Wahyu seolah-olah Wahyu sudah melakukan kesalahan paling fatal dalam
hidupnya, sampai kemudian langkah kakinya berhenti.
Wahyu yang melihat itu tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang salah.
"Kalau sampai kamu kesurupan, bener-bener keterlaluan kamu, Wid. Apa nggak
bisa lihat kondisiku dari tadi sudah capek dorong motor."
Widya melihat Wahyu, mata mereka saling memandang satu sama lain.
"Kamu dengar, nggak? Ada suara hajatan?"
Bukan hendak
mengatakan Widya sinting, tapi Wahyu juga mendengarnya dan suara itu tidak jauh
dari tempat mereka.
"Wid, ingat nggak kata penjual cilok? Jangan berhenti walau apapun yang
terjadi. Kita lanjut saja."
Seperti kata
Wahyu, Widya pun melanjutkan perjalanan. Semakin mereka berjalan, semakin keras
suara itu diiringi suara tertawa dari orang-orang yang sedang melangsungkan
hajatan. Sampai dilihatnya terdapat janur kuning melengkung. Disana, Widya
melihat sebuah pesta tepat di sebuah tanah lapang samping jalan raya. Seperti
sebuah area perkampungan lengkap dengan orang-orang berkumpul juga sebuah
panggung musik.
Selagi Wahyu dan Widya tercengang dengan apa yang sedang dilihatnya, entah dari
mana datangnya tiba-tiba ada orang tua bungkuk bertanya tepat di samping mereka
membuat keduanya tercekat.
"Ada apa nak?" Tanyanya dengan suara yang halus sekali.
"Motornya
mogok?"
Wahyu dan Widya hanya mengangguk.
Pasrah.
Si orang tua
kemudian memanggil anak-anak yang lebih muda yang lalu menuntun sepeda motor
menepi dari jalan raya. Tidak lupa si orang tua mempersilahkan Wahyu dan Widya
istirahat sebentar, sembari menunggu motornya di betulkan.
Suasananya ramai, semua orang sibuk dengan urusanya sendiri-sendiri. Ada yang
bercanda, ada yang mengobrol satu sama lain, adapula yang menikmati alunan
gamelan yang di tabuh seirama. Lengkap dengan pengantin yang terlihat jauh dari
tempat Wahyu dan Widya duduk.
"Aku tidak tau ada kampung disini?" bisik Wahyu.
Widya hanya
diam saja, matanya fokus pada panggung. Di depan para penabuh gamelan masih ada
ruang, acara apa yang akan mereka adakan dengan ruang seluas itu.
Pertanyaan Widya segera terjawab. Dari jauh tiba-tiba tercium aroma melati.
Aroma yang familiar bagi Widya. Diikuti serombongan orang, dihadapanya ada
seorang penari. Ia dituntun naik ke atas panggung. Kemudian seperti
terhipnotis, semua mata memandang pada satu titik tempat penari mulai
berlenggak lenggok di atas panggung.
"Cantik
banget anjiirrr!" kata Wahyu.
Wahyu nampak terkesima, namun tidak dengan Widya. Entah hanya perasaan saja,
namun mata si penari beberapa kali mencuri pandang padanya. Rasanya ia seperti
mengenal penari itu.
Si bapak tua
kembali, menawarkan makanan pada mereka. Wahyu yang mungkin lapar, melahap
habis mulai dari lemper sampai apem di hadapanya sembari mengobrol dengan si
bapak tua. Setelah si penari selesai dan turun dari panggung, si bapak
mengatakan motor mereka sudah selesai diperbaiki. Benar saja, motor mereka
sudah bisa dihidupkan lagi. Sebelum pergi Wahyu dan Widya berpamitan. Mereka
berterimakasih sudah mau menolong mereka yang kesusahan. Si bapak mengangguk.
Mengatakan mereka harus hati-hati, tidak lupa dia juga memberi bingkisan.
Menunjukkan isinya berupa jajanan yang di hidangkan tadi yang dibungkus dengan
koran. Widya menerimanya, mengucap terimakasih lagi lalu melanjutkan
perjalanan.
Jika Wahyu
heboh sendiri dengan cantiknya paras si penari, Widya lebih tertarik memikirkan
kampung itu. Demi apapun sewaktu diperjalanan dia tidak melihat kampung
tersebut. Jangankan kampung, warung saja tidak ada sama sekali. Namun
kenyataannya motor mereka benar-benar diperbaiki.
Jadi, apa
mungkin hantu bisa membetulkan motor?
Tak terasa desa KKN mereka sudah semakin dekat.
Sesampainya
di rumah, Wahyu pergi mengembalikan motor sedangkan Widya sudah di tunggu oleh
semua anak. Mereka khawatir, berdiri menunggu di teras rumah.
"Dari mana sih? Koq lama sekali" kata Ayu.
"Dari kota, belanja keperluan kita." jawab Widya. Mendengar itu Nur
hanya diam saja
"Ya
sudahlah, ayo masuk. Kamu pasti capek kan?" Bima mencoba mencairkan
suasana,
Tidak
beberapa lama Wahyu datang. Ia masuk ke rumah, alih-alih beristirahat, dengan
menggebu-gebu dia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Mulai dari
insiden motor, dibantu orang kampung, hingga bercerita tentang penari cantik
yang ia temui. Namun bukan sambutan yang Wahyu dapat melainkan tatapan kebingungan
yang ia terima dari semua orang.
"Disini kan nggak ada lagi desa." kata Bima. Mendengar itu Wahyu
tidak terima.
"Tau darimana kamu?"
"Aku sudah sering ke kota, Yu. Prokerku berhubungan sama program hasil
alam, jadi sering ikut ke kota sama orang sini. Sampai sekarang aku belum
pernah nemuin kampung lain di dekat sini.
"Bicara apa, nipu!" kata Wahyu geram.
"Mas." Nur menimpali.
"Memang
gak ada lagi desa disini, kan sudah pernah di bahas dulu."
"Tanya sama
Widya kalo nggak percaya. Ini kalian tak kasih bukti kalau ada desa lain di
sekitar sini." sahut Wahyu sembari menarik Widya yang sedari tadi diam
saja.
Widya
sendiri masih terdiam. Dia sibuk memikirkan kopi yang tadi disuguhkan dan
sempat ia cicipi. Rasanya sama persis dengan yang dulu disuguhkan oleh mbah
Buyut.
Karena tidak sabar, Wahyu membuka paksa tas Widya dan mengambil bingkisan yang
tadi mereka dapat. Bukan koran lagi yang Wahyu temui, namun bungkusan daun
pisang.
Tepat ketika
Wahyu membuka bingkisan itu, semua mata terbelalak begitu mereka melihat isi
bingkisan yang berlendir dan mengeluarkan aroma amis yang menyengat.
Kepala
monyet! Dengan darah segar yang masih menetes.
Setelah kejadian malam itu. Wahyu mengurung diri dalam kamar 3 hari lamanya.
Kadang ia masih tidak percaya dengan hal itu. Bila mengingat bagaimana
kepala-kepala monyet itu jatuh dari tanganya, rasa mualnya akan kembali membuat
Wahyu harus memuntahkan isi perutnya.
Sejatinya
apa yang dilakukan Widya sudah benar. Meski ia tahu ada yang ganjil dan sadar
jika yang menemani mereka bukanlah manusia, namun mereka harus tetap mengikuti
keinginan mereka. Karena jika dia memberitahu Wahyu yang kemudian menolak
pertolongan mereka, menolak pemberian mereka, mungkin jalan ceritanya akan
benar-benar berbeda. Bisa saja, justru penolakan seperti itu akan mendatangkan
bala (bencana) bagi mereka.
Apapun itu,
Widya sudah mengerti satu hal. Ada hubungan yang secara tidak langsung tentang
dirinya dan sang penari.
(9)
Malam itu,
Widya baru selesai melihat prokernya yang di bantu beberapa warga desa. Langit
sudah gelap gulita, ia sampai di rumah penginapan. Tidak seperti biasanya lampu
petromax yang seharusnya menyala di depan rumah, kini mati. Membuat rumah itu
terlihat lebih sunyi dan kelam.
Sudah biasa,
pikirnya.
Sesampainya
di depan pintu, dia mengetuknya dan mengucap salam. Namun suasana rumah begitu
lenggang. Tak ada Ayu yang biasanya menulis laporan di ruang tengah. Wajhyu dan
Anton yang bercanda ditemani asap rokok, atau bahkan suara Nur yang biasanya
sedang mengaji. Sedangkan Bima, entah apa yang sedang dia lakukan.
Selama
tinggal di rumah ini, hanya Bima yang masih terasa asing bagi Widya.
Widya
bersiap masuk ke kamar ketika, suara tawa ringkik terdengar dari pawon. Sesuatu
yang bukan lagi hal baru, ia harus memeriksanya. Ketika Widya menyibak tirai,
ia melihat Nur duduk di sebuah kursi kayu, matanya menatap lurus ke tempat
Widya berdiri. Ia masih mengenakan mukena putihnya. Sepertinya ia baru
menunaikan sholat dan belum menanggalkannya.
"Nur,
lagi ngapain?" tanya Widya.
Nur masih diam, matanya seperti mata orang yang kosong.
Saat itulah Widya melihat Nur menundukkan kepalanya dengan posisi duduk itu, seakan-akan
ia tertidur di atas kursi kayunya. Membuat Widya panik dan segera mendekatinya.
Dia mencoba menggoyangkan tubuhnya, namun Nur tidak bergeming. Saat Widya
mencoba menyentuh kulit wajahnya yang dingin, tiba-tiba Nur terbangun dan
melotot melihat Widya. Tatapanya, seperti orang yang sangat marah.
"Cah
ayu."
Suara yang
keluar dari mulut Nur bukanlah suara Nur melainkan suara yang menyerupai wanita
uzur. Melengking. Membuat bulu kuduk Widya seketika berdiri. Saat Widya mencoba
pergi, tanganya sudah dicengkram sangat kuat.
"Betah,
nak, disini?"
Widya tidak menjawab sepatah katapun.
"Gimana cah ayu, sudah kenal sama penunggu disini?"
Widya mulai menangis.
"Lho,
lho, lho... Cah ayu tidak boleh menangis."
Matanya
masih melotot, pergelangan tangan Widya di cengkram dengan kuku jari Nur.
"Cah lanang itu saja sudah kenal sama dia."
"Nur.."
ucap Widya sembari tidak kuasa menahan takutnya lagi. Suasana di ruangan itu
baru kali ini benar-benar bisa membuat Widya setakut ini.
"Sadar Nur, sadar."
Nur tertawa semakin kencang, tertawanya benar-benar menyerupai seorang nenek
tua.
"Kamu
tidak mengerti siapa aku?"
"Kamu pikir, kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah
membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku? Aku yang selama ini sudah
menjaganya, tidak akan kubiarkan mereka mendekati cucuku. Mengerti!?"
"Mencelakai
bagaimana toh mbah?" Widya berusaha menguatkan diri.
"Cah ayu, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali. Jika kamu
belum sadar, semuanya akan terjadi. Ingatkan anak itu, yang sedang membawa
petaka. Jika di biarkan, semuanya yang ada di desa ini akan kena batunya."
Setelah mengatakan itu, Nur berteriak keras sekali lalu jatuh terjerembap.
Dengan susah
payah Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya. Menungguinya sampai ia
terbangun dari pingsannya. Benar saja, ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur,
pikirnya mungkin terlalu terbawa ketika shalat.
"Sejak kapan bisa lihat begituan?"
Pertanyaan Widya yang tiba-tiba membuat Nur salah tingkah. Namun pada akhirnya
ia mau menjelaskan juga bahwa ia mulai bisa melihatnya sejak mondok.
Menurutnya setiap orang ada yang jaga, jenisnya berbeda-beda. Ada yang jahat,
ada yang baik, ada yang cuma mengikuti, ada juga yang cuma numpang lewat.
"Kamu ada yang jaga?" tanya Widya.
"Katanya
ada." ucap Nur. Suaranya pelan, sepeti tidak mau menjawab.
"Koq katanya?"
"Aku belum pernah melihatnya langsung, Wid. Aku cuma dikasih tau temanku
sebelum keluar dari pondok, katanya wujudnya menyerupai nenekku."
Setelah mendengar itu, Widya hanya mendengarkan Nur bercerita tentang
pengalamanya selama mondok. Pikirannya bercabang.
(10)
23 Hari
berlalu. Setiap hari, perasaan Widya semakin tidak enak. Di mulai dari warga
yang membantu prokernya mulai tidak datang satu persatu. Kabarnya mereka jatuh
sakit. Anehnya, itu hanya terjadi di proker kelompok mereka, yang berurusan
dengan Sinden.
Pernah suatu
hari Widya pernah diberitahu warga bahwa Sinden ini ada yang jaga.
Katanya Sinden ini dulu sering di gunakan untuk mandi oleh dia. Dia yang di
bicarakan ini tidak pernah disebutkan oleh warga. Namun yang mencurigakan dari
kasus ini adalah nama Sinden ini, yaitu Sinden kembar.
Sinden kembar. Widya selalu mengulangi kalimat itu. Membuatnya semakin
pensaran.
Adapun alasan kenapa pak Prabu memasukkan Sinden menjadi proker adalah agar air
sungai dapat dialirkan ke Sinden ini sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh
mengambil air ke sungai yang tanahnya terjal. Namun, sepertinya memang ada yang
ganjil.
Malam itu,
Ayu mengumpulkan semua anak. Membahas perihal masalah yang mereka hadapi,
mengenai hampir setengah warga yang membantu proker mereka tidak mau
melanjutkan pekerjaanya. Alasanya bermacam-macam, sibuk berkebun sampai badanya
sakit semua. Dari semua anak yang punya usul, hanya Bima yang tidak seantusias
yang lain.
Di malam itu juga, Widya ingat yang di katakan Wahyu. Setiap malam Bima pergi
keluar rumah. Entah apa yang dilakukanya.
Widya, sengaja begadang hanya untuk memastikan, dan ternyata benar, malam itu
Bima pergi keluar rumah. Widya masuk ke kamar Bima. Disana ada Wahyu dan Anton.
Widya pun membangunkan Wahyu. Meski enggan, Widya terus memaksanya. Setelah
Wahyu benar-benar terjaga, Widya memberitahu kalau Bima baru saja keluar.
Wahyu hanya menatap Widya keheranan,
"Aku
kan udah pernah bilang!"
"Lha iya, makanya ayo kita ikuti pergi kemana anak itu."
"Buat apa? Palingan dia ke rumah prabu, memperbaiki tong sampahnya yang
dari bambu."
"Ya udah, terserah," Widya melengos kesal.
Widya keluar dari kamar itu, kemudian ia pergi menyusul Bima. Sendirian.
Setahunya,
Bima adalah cowok yang religius, sama seperti Nur, karena mereka pernah satu
pesantren. Namun kata-kata Anton mengganggu pikirannya. Menurut pengakuannya,
dia sering memergoki Bima sedang bermasturbasi. Masalahnya adalah saat Bima
melakukan itu, sering terdengar suara perempuan. Awalnya dia berpikir itu suara
Ayu atau Widya, tapi setiap kali dia menunggu ternyata tidak ada siapa-siapa di
dalam kamar.
Cerita Anton
membuat pandangan Widya berubah terhadap Bima. Saat itu juga, ia melihat Bima
berjalan jauh ke timur, menuju sebuah tempat yang seringkali membuat Widya
merinding tiap memandangnya.
TIPAK TALAS.
Widya
melihat Tipak Talas seperti sebuah lorong panjang yang dindingnya adalah pepohonan
besar dengan akar di sana-sini. Medan tanahnya menanjak. Di depan Tipak talas
ada gapura kecil lengkap dengan kain merah dan hitam di sekelilingnya.
Pak Prabu
pernah bercerita, kain hitam adalah sebuah penanda seperti di pemakaman. Namun
Widya tau kebenarannya dari warga yang bercerita, bahwa hitam yang di maksud
adalah simbol alam lain.
Hitam bukan
untuk yang hidup melainkan tanda bagi mereka yang sudah mati. Konon dari
seluruh tempat yang diberi penanda sebuah kain di desa ini, hanya gapura ini
yang di beri kain warna merah, apalagi kalau bukan simbol petaka.
Widya mulai
melangkah naik, kakinya tidak berhenti mencari pijakan antara akar dan batu
sembari tanganya mencari sesuatu yang bisa menahan berat tubuhnya.
Malam sangat dingin. Hanya kabut di tengah kegelapan yang bisa Widya lihat.
Butuh perjuangan keras untuk sampai di puncak Tipak talas. Dari sana Widya
hanya melihat satu jalan setapak, kelihatanya tidak terlalu curam namun rupanya
akan butuh perjuangan ekstra juga. Widya bisa merasakanya. Perasaan yang tidak
enak dari tempat ini semakin kentara.
Jalan
setapak itu tidak terlalu besar. Di kanan-kiri ditumbuhi rumput dan tumbuhan
yang tingginya hampir sebahu Widya. Sangat mudah mengikuti Bima, karena hanya
tinggal mengikuti jalan setapak itu. Tanahnya keras, dan lembab. Semakin lama
semakin dingin dan sudah beberapa kali Widya berhenti untuk menghela nafas
panjang.
Jalanan itu rasanya sepeti tidak berujung. Namun jika ia kembali maka ia tidak
akan tau apa yang dikerjakan Bima disini. Saat itulah dia mendengar suara yang
familiar baginya. Gending. Nada yang dimainkan adalah kidung yang Widya dengar
saat ia berada di bilik mandi bersama Nur, sedangkan alunan gamelan yang
dimainkan adalah alunan yang sama saat Widya mencuri pandang pada penari yang
menari di malam dia bersama Wahyu.
Bukanya lari, Widya semakin menjadi-jadi. Semakin lama ia berjalan suaranya
semakin jelas dan terdengar disana semakin ramai. Widya tau dia tidak
sendirian. Namun ternyata yang Widya temui adalah ujung Tipak talas yaitu
sebuah tumbuhan yang di tanam tepat di jalan setapak.
Tumbuhan itu adalah beluntas.
Tumbuhanya
kecil tapi rimbun. Tidak mungkin bisa dilewati kecuali dia membawa parang dan
membabatnya. Disinilah hal aneh lain terjadi. Wangi tumbuhan beluntas harusnya
langu, namun yang ini beraroma wangi seperti melati. Seperti tanpa sadar Widya
terus berjalan menembus tumbuhan itu sambil mengunyah daunnya. Dia baru
tersadar ketika tenggorokannya terasa sakit karena tersayat batang beluntas
yang tajam.
Di balik
tumbuhan itu Widya melihat jalan menurun. Pantas saja, ia hanya bisa melihat
ujung jalan setapak berhenti disini. Di bawahnya, dia melihat sanggar yang
diceritakan Ayu dulu dan sanggarnya benar-benar berantakan. Ada 4 pilar kayu
jati yang dipangkas segi empat memanjang ke atas dengan atap mengerucut. Dari
jauh terlihat seperti bangunan balai desa namun lebih besar dengan lantai
panggung.
Dari sana suara gamelan terdengar jelas sekali seolah sumber suara gamelan itu
ada di bangunan ini.
Saat Widya
mendekatinya, ia merasa kehadiranya tidak sendirian. Ramai. Seperti tempat ini
penuh sesak. Namun tidak ada siapapun disana, hanya dia sendiri yang berjalan
mendekati.
Tepat ketika Widya menginjak anak tangga pertama, suara gamelan berhenti. Sunyi
senyap dan hening sekali. Widya merasa kehadiranya seperti tidak diterima
disini. Namun Widya memaksa untuk tetap melihat, dan saat itu, Widya mendengar
seseorang menangis. Suaranya familiar, seperti suara orang yang ia kenal.
Ayu.
Seperti
menangkap angin, ada suara tangisanya namun tak ada wujud dimanapun. Widya
mencoba mencari tetapi tempat sesunyi dan sesepi itu masih terasa ramai bagi
Widya. Rasanya seperti ia ditatap dari berbagai sudut.
Widya melihat dari jauh, di bawah sanggar, ada sebuah gubuk berpintu. Widya
mendekatinya namun enggan membukanya. Ia mengelilingi gubuk itu. Saat itu dari
dalam gubuk terdengarlah suara Bima diikuti suara perempuan mendesah, sangat
jelas. Namun Widya tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana.
Leher Widya perlahan terasa semakin berat. Saat Widya masih bersusah payah
mencari cara untuk melihat, Widya berhasil menemukan beberapa celah kecil untuk
mengintip. Dari tempatnya mengintip Widya menyaksikanya langsung Bima sedang
berendam di Sinden (kolam) dan disekitarnya ia di kelilingi banyak sekali ular
besar. Melihat itu Widya terkejut. Apalagi disaat bersamaan Bima menatap lurus
ke tempat Widya mengintip. Semua ularnya sama. Seperti yang Widya rasakan,
mereka tahu ada tamu tak di undang.
Melihat hal itu, tanpa menunggu lama lagi Widya segera berbalik dan berlari
pergi.
Saat itulah
suara tabuhan gong diikuti suara kendang terdengar lagi. Suara gamelan
terdengar keras, lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan. Kini Widya
melihat Sanggar kosong itu dipenuhi semua yang tidak Widya lihat saat tiba di
tempat ini. Dari ujung ke ujung penuh sesak. Banyak sekali yang dilihat Widya.
Mahluk dengan mata melotot, dari yang wajahnya separuh sampai yang tidak
berwajah. Ada yang pendek adapula yang bertubuh setinggi pohon beringin. Mereka
memenuhi Sanggar dan sekitarnya. Widya mulai menangis. Suara yang nyaris
memenuhi telinga Widya dan hampir membuatnya gila itu tiba-tiba berhenti.
Ketia dia mengangkat wajahnya, dilihatnya ada yang sedang menari didepannya.
Tarianya membuat hampir semua yang ada disana mengalihkan pandangannya.
Widya
sekarang bisa melihatnya dengan jelas, yang menari itu Ayu.
Matanya
sembab, seperti sudah menangis lama. Tapi gelagat ekspresi wajahnya seperti menyuruh
Widya untuk lari, segera pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa tahu apa yang
terjadi, Widya langsung berlari melewati kerumunan yang sedang menyaksikan Ayu
menari di sanggar.
Widya memanjat tempat itu, menangis sejadi-jadinya.
Sampai di
jalan setapak Widya mendengar anjing menggonggong. Tidak beberapa lama seekor
anjing hitam keluar dari semak belukar. Setelah melihat Widya, anjing itu
berlari. Widya segera mengikuti anjing itu.
Akhirnya Widya berhasil keluar dari jalan setapak itu. Dilihatnya langit sudah
berubah jingga, subuh pikirnya. Tapi rupanya ia salah.
Seorang warga desa kaget bukan main ketika melihat Widya, dia langsung lari
sambil berteriak memanggil warga kampung.
"Widya disini! Anaknya sudah kembali!"
Bingung. Hampir semua warga berhamburan memeluk Widya.
"Kesini
nak, kesini. Kamu yang sabar ya, kamu harus siap sama berita yang nanti kamu
dengar." seorang ibu memeluk Widya, dimatanya ia seperti menahan nangis.
Widya hanya
gaguk, diam tak mengerti.
Si ibu menggandeng
Widya. Ia sendiri masih diam, seperti orang linglung. Di jalan ramai warga desa
yang mengikuti, Widya mencuri dengar dari mereka yang bicara di belakang.
"Sudah di cari sampai ujung hutan D. Nggak taunya baru ketemu maghrib anak
ini, aku sudah mikir buruk."
Sehari semalam Widya menghilang.
Ketika Widya
melihat rumah penginapan mereka, dia melihat banyak sekali orang berkumpul
disana. Saat mata mereka melihat Widya, semuanya hampir tercengang tidak habis
pikir. Seperti melihat hantu. Dari dalam pak Prabu keluar. Wajahnya mengeras
melihat Widya.
"Dari
mana kamu, nak?"
Widya tidak menjawab apa yang pak Prabu tanyakan. Si ibu menenangkan pak Prabu
sembari menggiring Widya masuk ke rumah. Dari dalam terdengar Nur menjerit,
menangis seperti kesetanan.
Saat Widya
masuk dilihatnya ruangan itu dipenuhi orang yang duduk bersila. Mereka
mengelilingi 2 orang yang terbujur. Tubuhnya ditutup selendang, di ikat dengan
tali putih menyerupai kafan. Wahyu dan Anto menatap kaget saat Widya masuk.
"Dari
mana kamu, Wid?" ucap Nur yang langsung memeluk Widya.
"Ada apa ini Nur?"
Nur menutup mulutnya, tidak tau harus memulai dari mana, sampai Wahyu berdiri.
"Ayu,
Wid... Nur lihat Ayu, tiba-tiba terbujur kaku. Matanya tidak bisa
ditutup."
Widya
mendekati Ayu. Matanya terbelalak memandang kosong ke langit-langit rumah.
Disampingnya ada Bima. Ia terus menerus menendang-nendang dalam posisi terikat
itu, seperti seseorang yang terserang epilepsi. Mereka berdua terbaring tidak
berdaya,
Sontak Widya
ikut menjerit sebelum kemudian ada yg menenangkan.
Mbah Buyut
muncul dari pawon. Ia melihat Widya kemudian memanggilnya.
"Sini, nak. Mbah baru saja selesai membuat kopi."
Mbah Buyut duduk di kursi kayu yang ada di pawon. Ia melihat Widya lama sekali,
kemudian berkata.
"Temanmu
sudah kelewatan."
"Gimana,
mbah?" sejauh ini Widya masih belum mengerti.
"Bagaimana rasanya dikelilingi makhluk halus satu hutan?"
Mbah Buyut masih mengaduk kopinya, memandang Widya yang tampak mulai kembali
kesadaranya.
"Nih,
diminum dulu."
Widya
menyesap kopi dari mbah Buyut. Rasa pahit yang monohok membuat tenggorokan
Widya seperti di cekik, membuat Widya memuntahkanya. Begitu banyak muntahan air
liur Widya yang keluar. Mbah Buyut tampak mengangguk, seperti memastikan.
"Temanmu
sudah melakukan pantangan yang tidak bisa di terima manusia. Apalagi bangsa
halus." kata mbah Buyut sembari menggelengkan kepala.
"Paham, nak?"
Widya mengangguk.
"Sinden
yang kamu kerjakan, itu kembar. Satu di dekat sungai, satu yang kemarin malam
kamu datangi. Tahu kegunaan Sinden?"
"Nggak
tau, mbah."
"Sinden itu tempat mandinya para penari sebelum tampil. Nah, sinden yang
di dekat sungai tidak apa-apa di kerjakan. Tapi sinden yang satunya, tidak
boleh didatangi. Apalagi ini dipakai kawin."
"Kamu
tahu siapa yang ada di Sinden itu." Mbah Buyut kembali bertanya.
Widya diam lama, sebelum mengatakanya.
"Ular,
mbah."
"Betul." "Yang kamu lihat itu, adalah anaknya Bima sama..."
"Ular itu mbah?" Widya terkejut.
Mbah Buyut mengangguk
"Hal
itu, mbah yang kecolongan. Widya cuma dijadikan pengalih perhatian, biar mbah
mengawasi kamu. Tapi mbah salah, dari awal yang di incar sama..."
Mbah Buyut diam lama, seperti tidak mau menyebut nama makhluk itu.
"Lalu gimana, mbah. Apa Ayu sama Bima bisa kembali?" tanya Widya.
"Bisa... Bisa." kata mbah Buyut.
"Sampai
balanya (bencana) diangkat."
"Balanya
diangkat, mbah?" Widya mengulang kata-kata mbah Buyut.
"Bima sama Ayu sudah kelewatan. Sekarang dia harus menanggung apa yang dia
perbuat. Ayu sekarang harus menari mengelilingi hutan ini. Tampil. Menari di
setiap jengkal tanah ini."
"Bima, mbah?"
"Bima, ya harus mengawini yang punya Sinden."
"Badarawuhi, mbah?" Perkataan Widya membuat mbah Buyut kaget.
"Oh,
begitu. Jadi kamu sudah tau namanya."
"Badarawuhi itu salah satu yang menjaga wilayah ini. Tugasnya ya menari,
jadi bangsa lelembut suka melihat tarian dari Badarawuhi. Sekarang, Ayu harus
menggantikanya. Sedangkan Bima harus mengawini Badarawuhi. Anaknya itu berwujud
ular. Sekali melahirkan, bisa lahir ribuan ular."
"Salah temanmu sendiri, jadi sekarang mereka harus tanggung jawab.
Badarawuhi itu ratunya ular. Bangsa lelembut yang kutukannya sudah tak
terbendung. Tidak bisa ditolak apalagi sampai dibuang. Besok pagi, biar tak
coba ngomong baik-baik. Takutnya temanmu tidak bisa kembali hidup-hidup."
Mbah Buyut
pergi.
Nur, Wahyu
dan Anton melihat Widya sendirian di pawon. Duduk sembari termenung.
"Goblok! Bima sama Ayu anj-ng! Kebanyakan ngent-t!"
Kalimat itu yang mereka semua pikirkan malam itu. Meski yang diucapkan Wahyu
itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu.
(Epilog)
Awalnya Nur
meminta agar masalah ini jangan sampai keluar, namun hilangnya Widya akhirnya
membuat pak Prabu menyerah dan memilih untuk melaporkan kejadian ini ke pihak
kampus.
Rombongan
dari pihak kampus pun datang menjemput. Mereka terdiri dari pihak keluarga dan
panitia KKN. Mereka dijemput paksa, KKN mereka dicoret. Proses penjemputan
sendiri tidak semudah yang dikira. Pihak keluarga Bima dan Ayu marah besar.
Mereka tidak terima anaknya menjadi seperti itu. Bahkan mereka sempat menuntut
pihak kampus dan hampir membawa kasus ini ke media nasional.
Widya dan Nur juga sempat memohon agar mereka mengizinkan Bima dan Ayu untuk
tetap ditinggal disini sesuai dengan perkataan Mbah Buyut dimana balaknya bisa
diambil sewaktu-waktu. Namun pihak keluarga menolak dan mereka tetap membawa
Bima dan Ayu pulang.
Lantas
bagaimanakah akhir dari semua itu?
Ayu hanya
bisa tidur dengan mata terbuka terus menerus. Ibunya pernah bercerita pada
Widya bahwa kadang ia melihat mata Ayu meneteskan air mata. Tapi setiap kali
ditanya, dia hanya diam tak menjawab. Ayu akhirnya meninggal setelah 3 bulan di
rawat.
Nasib Bima
sendiri tak jauh berbeda. Malam sebelum dia meninggal keluarganya mendengar
Bima bertertiak minta tolong. Ketika mereka bertanya kenapa dia meminta tolong,
Bima cuma berteriak "Ular!" berkali-kali. Ia meninggal lebih dulu
dari Ayu.
Awalnya
orang tuanya masih mau memperpanjang masalah ini dengan pihak kampus, tapi
akhirnya di cabut dengan catatan KKN tidak lagi di adakan di timur jawa lagi.
Sejak saat itu kampus ini hanya memperbolehkan KKN ke arah barat saja. Tidak
lagi ke timur, apalagi desa yang jauh...
Catatan
penulis :
Hal lainnya
juga adalah untuk peserta KKN nya, sebenarnya mereka berjumlah 14 orang.
Penulis sengaja merubahnya menjadi 6 orang untuk mempersingkat cerita dan hanya
diambil yang berkaitan satu sama lain.
Akhir kata,
banyak hikmah yang kita petik dari cerita ini. Bahwa siapapun kita, apapun
kepercayaan kita, dimanapun kita berada harus tetap menjunjung tinggi etika
kesopanan dan menghormati serta mentaati adat istiadat yang ada di tempat
tersebut. Salam.
(End)