TRUE STORY : KETEMPELAN



Mereka ada

Bahkan mereka mungkin menjalani kehidupan layaknya kita

Bisa saja kita saling bergesekan

Hanya saja tak saling menemukan



Semua ini terjadi pada Agustus, 2022.


Aku dan istriku merantau ke pulau B dan kebetulan kami sama-sama bekerja di toko handphone, hanya saja berbeda tempat namun masih berdekatan karena masih dimiliki oleh owner yang sama. Aku bekerja sebagai frontliner sedangkan istriku seorang promotor sebuah brand handphone. Aku bekerja di pulau B yang dikenal orang sebagai pulau yang kental dengan budaya dan mistis lebih dari 8 tahun, namun selama itu pula belum pernah sekalipun aku menemukan atau mengalami kejadian mistis sebelum kemudian hari itu tiba.


Hari itu aku tidak bisa masuk kerja seperti biasanya dikarenakan demam yang kurasa sejak semalam. Istriku pada waktu itu sedang hamil berusia 6 bulan, mengandung anak pertama kami. Jika hari-hari biasanya kami berangkat bersama maka hari itu terpaksa istriku berangkat bekerja menggunakan ojek online. Setiap harinya toko tutup jam 9 malam dan malam itu istriku bilang kalo dia pulang nebeng sama Mbok Y. Orang yang dimaksud adalah rekan kerjanya yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dan jalannya melewati kost tempat tinggal kami. Malam itu berlalu tanpa ada keanehan apapun dan tanpa menyadari bahwa ternyata istriku ternyata kini tidak sedang baik-baik saja.


Keesokan harinya aku masih belum kuat bekerja maka kembali istriku berangkat dengan menggunakan ojek online karena Mbok Y berangkat kerja lebih pagi dari istriku yang mana memang memiliki jam kerja berbeda. Hari itu berlalu seperti biasanya hingga sore hari aku mendapat pesan dari istriku katanya dia mau pulang lebih awal. Semenjak hamil dia memang sering pulang lebih awal, tentunya dengan persetujuan dari owner toko yang sangat mengerti akan status kehamilan istriku. Aku hanya mengiyakan saja sambil memberi pesan agar berhati-hati sembari menyuruh agar tukang ojeknya membawa kendaraan pelan saja.


Benar saja sekitar jam 5 sore terdengar suara istriku mengucapkan salam disusul dia masuk ke dalam kamar kost. Namun alangkah terkejutnya ketika aku melihat dia datang sambil menangis sesegukan. Sambil berusaha menenangkannya aku mencoba menanyakan apa alasan dia sampai menangis seperti itu. Jawabannya cukup membingungkan. Karena menurutnya dia sendiri tidak tau kenapa dia merasa sangat sedih. Tidak ada pertengkaran dengan teman kerja atau pelanggan maupun dimarahi bosnya. Tidak juga bertengkar dengan orangtua atau akibat melihat hal-hal mengerikan di social media dan lain sebagainya. Malam itu berlalu dengan perasaan tak biasa dipikiranku.


Keesokan harinya kami bekerja lagi seperti biasa. Namun mulai saat itu hari-hari istriku mulai menjadi tak biasa. Dia sering melamun. Seringkali datang mengunjungi tokoku dengan berpura-pura mengambil barang hanya agar bisa saling menggenggam tangan untuk beberapa saat. Namun hal yang lebih aneh yang seringkali terjadi adalah setiap kali memasuki waktu Ashar (sore hari) kesedihan yang kerap dia rasakan selalu datang. Dia menjelaskannya sebagai perasaan yang menyayat hati namun tanpa sebab. Dia merasakan hatinya perih dan dadanya sakit bagaikan seseorang yang baru saja kehilangan orang terkasih atau anggota keluarganya. Untuk meredakannya dia sering memintaku untuk izin keluar berkendara tanpa tujuan hanya sekedar untuk berkeliling menemaninya. Semua perasaan itu kemudian akan hilang dengan sendirinya setiap kali waktu menjelang Maghrib (malam).


Suatu malam sepulang kerja, tiba-tiba kesedihan aneh itu menyergap pikirannya lagi. Keadaan istriku mulai mengkhawatirkan ketika tiba-tiba dia muntah-muntah. Akhirnya karena aku sendiri hampir tidak memahami apa yang terjadi, akupun memutuskan untuk segera menghubungi ibuku di kampung. 


Beliau bukan seorang paranormal atau orang pintar dan hanya seorang pensiunan guru sekolah dasar. Namun memang sudah menjadi kebiasaan kami anak-anaknya, bahkan saudara ibuku juga melakukannya, jika kami sedang merasa tidak sehat maka kami sering menghubungi ibu sekedar untuk meminta doa darinya. Lewat panggilan telepon beliau  kemudian membacakan doa dan kami menyimpan handphone di dekat segelas air untuk kemudian kami minum. Mungkin memang kemustajaban doa seorang ibu, biasanya setelah itu kami sering merasa baikan.


Setelah menceritakan apa yang terjadi, ibu menyuruhku menyiapkan sebotol air. Lalu melalui video call beliau mulai membacakan ayat-ayat suci serta beberapa doa pada botol air minum yang sudah kupersiapkan. Kemudian setelah selesai aku memberikan air tersebut pada istriku untuk diminumnya. Hatiku merasa lebih tenang setelah tidak beberapa lama kemudian tangisnya mulai mereda. Malah tidak lama kemudian istriku merasa lapar dan kamipun kemudian makan malam bersama. Waktu berlalu, istriku akhirnya tertidur. Namun malam itu entah kenapa aku sulit memejamkan mata padahal kondisi tubuhku sendiri masih belum pulih. Rasanya belum lama aku tertidur ketika kemudian aku merasa seseorang membangunkanku. Ketika mataku terbuka aku mendapati istriku kembali menangis sesegukan. Aku segera bangun dan berusaha menenangkannya sambil memberinya minum air doa sisa semalam. Butuh waktu sedikit agak lama sebelum akhirnya istriku kembali tenang dan tertidur.


Pagi datang menjelang. Rasa kantuk masih menyerangku dengan hebat. Tadinya aku hendak bersiap untuk berangkat bekerja namun istriku berkata bahwa hari itu dia tidak ingin masuk kerja dan memintaku untuk mengambil libur kerja dengan alasan dia tidak mau ditinggalkan sendiri di kost. Karena merasa khawatir dengan kondisinya akhirnya aku menghubungi bosku dan setelah mendapat persetujuannya akupun mengurungkan niatku untuk bekerja hari itu.


Kami menghabiskan hari dengan beristirahat di rumah tanpa melakukan banyak kegiatan. Semua berlalu baik-baik saja hingga sore menjelang kami memutuskan untuk keluar menikmati angin segar sembari mencari makan. Namun di tengah perjalanan secara tiba-tiba istriku kembali merasakan kesedihan yang tak bisa dijelaskannya dan kemudian kembali menangis sesegukan. Bahkan ketika kami berhenti di sebuah angkringan untuk membeli makanan ringan istriku masih saja menangis sambil berkata bahwa dia enggan untuk pulang ke kost dan ingin terus berkeliling naik motor. Akupun menuruti keinginannya sampai pada akhirnya hari mulai malam dan mau tidak mau kamipun kembali ke kost.


Sesampainya di kost keadaan istriku semakin memburuk. Dia masih terus saja menangis. Beberapa kalimat aneh yang tak biasa terlontar dari mulutnya. Awalnya dia berkata bahwa dia ingin pulang kampung. Aku hanya mengiyakan karena memang sebelumnya kami berencana akan pulang kampung agar istriku bisa melahirkan dengan ditemani keluarganya. Dia lalu berkata bahwa dia takut aku akan meninggalkannya. Itu tidak akan pernah terjadi, jawabku. Sampai kemudian kata-kata yang selanjutnya keluar dari mulutnya cukup membuatku tersentak. Dia bilang kalau dia tidak ingin melihat hari esok. Baginya hari esok itu menakutkan.


Pada waktu itu aku sedang membersihkan rendaman cucian ketika kusadari bahwa tangisan istriku semakin keras. Perasaan tak enak segera memenuhi hatiku. Kutinggalkan pekerjaanku dan mengambil handphone untuk menelpon ibuku. Panggilan pertama tak tersambung. Kucoba menghubungi kakakku yang kebetulan tinggal serumah dengan ibuku. Begitu telepon terhubung tanpa basa-basi segera kutanyakan ibuku. Katanya ibu sedang berbicara dengan pamanku di telepon dan menyuruhku menunggu dulu sampai selesai. Kututup telepon, tangis istriku semakin menjadi-jadi. Kali ini dibarengi dengan muntah-muntah seperti kemarin malam. Dengan tak sabar segera kutelpon kembali ibuku. Kali ini terhubung namun lagi-lagi kakakku yang bicara. Katanya ibu sedang shalat maghrib. Saat itu keadaan istriku sudah semakin mengkhawatirkan. Mulutnya menggeram halus. Betapa terkejutnya ketika kulihat matanya mendelik ke atas sehingga yang terlihat dari bola matanya hanya bagian putihnya saja. Disaat kepanikan melannda, tepat pada saat itu terdengar sebuah panggilan masuk video call dari ibuku.


Kuperlihatkan apa yang sedang terjadi. Ibuku sama terkejutnya. Namun dia tidak meyuruhku mengambil air minum seperti biasanya melainkan menyuruhku untuk menenangkan istriku sementara dia segera menghubungkan panggilan video call ke pamanku yang sebelumnya beliau telepon. Kebetulan pamanku yang ini adalah orang yang sering mengobati orang-orang yang mendapat gangguan atas penyakit yang sulit disembuhkan. Panggilan terhubung tepat disaat kondisi istriku semakin tidak terkendali. Dia mulai memukul-mukul dan mencakar dada sebelah kirinya. Sambil menangis dengan keras dia merengek kesakitan. Aku tak kuasa melihatnya. Dengan segala upaya aku mencoba menahan kedua tangan istriku dengan sebelah tangan sementara tanganku yang lain masih memegang handphone. Disisi lain aku merasa khawatir jika istriku melakukan tindakan yang bisa membahayakan kehamilannya. Tangannya meronta-ronta kuat ketika mendengar suara pamanku yang mulai membacakan doa-doa serta ayat suci terdengar dari loudspeaker handphone. Tangisannya semakin keras. Aku yakin tetangga sebelah kamarku sekarang sedang terdiam mendengarkan sambil menduga-duga apa yang terjadi di kamar kami. Kemudian saat itu terjadilah hal yang membuatku terkesiap dan bulu kudukku merinding ketika pamanku membaca doa semakin keras sementara tubuh istriku bergetar hebat disusul dengan jeritan tinggi yang kemudian membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya. Seperti berada diambang mimpi dan realita, sambil memeluk tubuh istriku yang kini setenang bayi yang sedang tertidur, aku duduk termangu berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi bahkan hampir tidak menyadari jika panggilan video call masih terhubung dan ibu menanyakan keadaan istriku. Saat itu rasanya seolah reka ulang sebuah adegan film horor yang pernah kutonton namun kali ini aku bukan sebagai penonton melainkan aktor didalamnya.


Malam itu istriku tidur dengan nyenyak sampai pagi menjelang. Namun pagi hari ketika baru terbangun dia sempat mengeluh dadanya masih sedikit sakit dan tengkuknya terasa pegal dan berat. Hari itu kami memutuskan berangkat kerja seperti biasanya. Sesekali aku sempatkan menanyakan perkembangan keadaanya. Dia bilang kini baik-baik saja walaupun saat tengah hari dia sempat mengeluh merasa punggung sampai bagian pinggangnya terasa panas. Namun aku tak mencoba untuk membahasnya karena khawatir hal itu akan mengganggu pekerjaan dan juga membebani pikirannya. Barulah pada malam hari sepulang kerja aku menghubungi kembali pamanku untuk menceritakan perkembangan kondisi istriku. Mendengar apa yang aku sampaikan pamanku hanya mengangguk saja seperti sudah memahami apa yang terjadi. Lewat media video call pamanku kembali membacakan doa-doa sambil menyuruhku agar mengarahkan kamera ke bagian tubuh istriku yang sakit atau terasa janggal sebelumnya. Mungkin terdengar lucu namun nyatanya setelah itu istriku membaik dan tak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh canda tawa sampai istrikupun tertidur nyenyak tanpa terbangun oleh gangguan apapun.


Hari berlalu dan kini semuanya berjalan seperti biasanya. Suatu hari aku yang masih penasaran mencoba bertanya pada pamanku tentang apa yang sebenarnya terjadi di malam itu dan apakah pamanku melihat "sesuatu" saat mengobati istriku. Sambil tertawa dia mengiyakan. Hanya saja ketika kutanya seperti apa wujud mahluk yang menganggu istriku, dia menjawab bahwa aku sebaiknya tak perlu mengetahui detailnya karena yang jelas wujudnya sangat menyeramkan. Kemudian pamanku menjelaskan bahwa istriku ketempelan (diikuti) mahluk halus yang tertarik dengan bayi yang ada di dalam kandungan istriku. Menurut pamanku, mahluk halus menyukai keberadaan bayi dalam kandungan karena "aromanya". Tindakanku waktu itu menurutnya sudah sangat benar ketika aku memutuskan meminta bantuannya karena andai saja saat itu aku membiarkan istriku sendirian maka mahluk itu akan segera menguasai istriku yang mana jika itu sampai terjadi maka bahkan kekuatan fisikku sendirian tidak mungkin mampu menahannya. Bukan juga tidak mungkin jika istriku kemudian malah mencelakaiku.


Di hari lain ketika aku dan istriku sedang berbincang, dia menceritakan tentang rekan kerjanya yaitu Mbok Y yang setiap harinya kini sering mengalami kejadian atau berprilaku aneh. Menurut pengakuan Mbok Y sendiri, dia bercerita bahwa saat ini dia sedang kena guna-guna. Bahkan beberapa hari lalu dia mengambil libur kerja untuk melakukan pengobatan. Istriku dan teman kerjanya yang lain sering melihat Mbok Y mual-mual sampai muntah saat sedang bekerja dan juga menangis sesegukan setiap sore hari! Hal yang kemudian mengingatkanku pada apa yang telah istriku alami. Terlebih jika diingat lagi, entah kebetulan atau tidak, tapi semua kejadian itu dimulai pada hari setelah istriku pulang bareng Mbok Y. Mungkinkah itu mahluk yang sama yang mengganggu Mbok Y ataukah itu mahluk lain yang berbeda?


Wallahua'lam.





- End -

Posted by
Ikkok Dcock

More

FYP

Dengan penuh kekesalan Susan melempar handphonenya yang masih menyala ke atas tempat tidur. Layarnya nampak menampilkan video seorang gadis yang sedang menari mengikuti irama musik di sebuah platform social media bernama TikTak yang memang akhir-akhir ini sedang populer dikalangan masyarakat baik tua maupun muda.

Raut wajah Susan terlihat cemberut sambil memandangi dirinya sendiri di depan cermin. Dia merasa kesal hanya karena teman sekelasnya yang bernama Nia lebih populer di TikTak daripada dirinya, bahkan hampir semua orang disekolahnya kini mengenal Nia berkat kepopuleran akunnya tersebut. Seringkali video-videonya mendapat like ratusan ribu bahkan ada yang mencapai jutaan. Tak jarang Nia juga mendapat endorse dari beberapa brand lokal yang membuat Susan semakin iri dengannya. Semua itu tentu saja karena followers Nia yang sudah mencapai angka lima ratus ribu lebih. Berbeda jauh dengannya yang hanya memiliki followers dua ribu.

Setelah terdiam beberapa saat diapun mengambil kembali handphonenya yang tergeletak. Dibukanya halaman profil milik Nia sembari memperhatikan beberapa video milik Nia yang menjadi trending. Susan pun mulai berpikir bahwa mungkin cara termudah agar dia bisa sepopuler Nia adalah dengan meniru video-video miliknya. Setelah dipikirnya itu adalah cara terbaik maka mulailah dia mempelajari gerakan sebuah tarian di postingan Nia dan ketika dirasa sudah cukup bagus maka diapun segera mengunggahnya.

Beberapa jam kemudian dengan hati tak sabar Susan segera mengecek akun TikTak miliknya. Hanya ada 20 like dan bahkan tak ada yang berkomentar satupun. Dengan hati dongkol segera dihapusnya lagi postingan tersebut. Lalu dia membuat video yang lain dan mengunggahnya. Tak puas dia juga coba meniru video milik Nia dengan tema berbeda. Hingga keesokan paginya ketika dia bangun dari tidurnya hal yang pertama dia lakukan adalah mengecek akun TikTak nya. Betapa kesalnya dia sewaktu melihat hasil postingan semalam tak ada satupun yang berhasil masuk FYP (for your page, istilah untuk postingan yang trending). Saking kesalnya bahkan dia sampai melewatkan sarapan paginya sebelum berangkat sekolah.

Ambisinya untuk menyaingi Nia sebagai pemilik akun TikTak populer di sekolahnya semakin hari semakin menjadi. Kini dia mulai meniru cara berpakaian Nia, memotong rambut dengan gaya yang sama bahkan membeli aksesoris yang sama. Teman-temannya yang lain mulai membicarakan Susan dibelakang karena mereka tahu semakin hari perubahan penampilan Susan secara terang-terangan selalu meniru apa yang dilakukan Nia.

Suatu pagi, Nia tidak masuk sekolah. Di hari yang sama Susan juga tidak masuk sekolah tanpa adanya keterangan sama sekali. Sampai salah satu teman sekelasnya dibuat terkejut dengan salah satu postingan akun TikTak yang disukai lebih dari satu juta orang dan memiliki ribuan komentar. Akun tersebut ternyata milik Susan. Namun yang terlihat sedang menari-nari sambil sesekali tertawa di video itu justru adalah Nia. Hanya saja, wajahnya terlihat sedikit aneh. Kulitnya terlihat pucat. Dibeberapa bagian terlihat kencang dibagian lain terlihat keriput. Nia seperti sedang memakai sebuah topeng.





( End )

Posted by
Ikkok Dcock

More

Pelarian


Aku sudah muak berada di tempat sempit ini. Sebuah penjara yang telah merenggut hak kebebasan hidupku. Mereka sudah lama memenjarakanku atas kejahatan yang tak pernah kulakukan. Lucunya lagi banyak orang yang tahu tapi menutup mata. Otak cerdasku menolak menerima ketidakadilan ini. Segera ku susun rencana setelah aku menemukan ide untuk kabur dari penjara terkutuk ini. Ide yang cukup bodoh dan beresiko.

Aku akan berpura-pura mati.

Kudengar suara langkah kaki. Itu dia, si penjaga. Aku bisa mengenalinya dari langkah kakinya yang berat. Aku segera mengambil posisi telentang, diam membujur kaku. Ku tahan nafasku untuk menguatkan aktingku. Ketika si penjaga masuk dan menyadari ada yang salah denganku, dia dengan cepat menghampiriku. Aku mendengarnya berbicara sendiri dengan nada panik ketika dia mencoba mengguncangkan tubuhku.

Aha! Dia menyerah. Aku berhasil membuat dia percaya kalau aku sudah mati.

Tubuhku segera dibopongnya keluar dari penjara. Aku bisa merasakan udara segar kebebasan semakin dekat. Cukup lama si penjaga membopong tubuhku, sampai aku sudah hampir tak sanggup menahan nafas. Akhirnya dia sampai di pinggiran sebuah sungai berair deras. Sepertinya dia bermaksud membuang mayatku dengan menghanyutkan tubuhku ke sungai untuk menghilangkan jejak. Setelah sejenak memandang sekeliling diapun melemparkan tubuhku begitu saja ke dalam air sungai yang keruh. Rencanaku sukses besar! Namun aku tak boleh gegabah. Aku harus tetap berpura-pura mati setidaknya sampai akhirnya dia berbalik dan pergi meninggalkan tempat ini

Memang tidak ada yang lebih berharga daripada sebuah kebebasan. Itulah yang kurasakan. Sambil memikirkan langkah apa yang akan kuambil selanjutnya, aku tidak segera beranjak pergi. Aku ingin menikmati kebebasan yang baru saja kudapat. Setelah cukup lama berdiam diri mataku segera memandang sekeliling untuk mencari jalan yang bisa kutempuh dengan aman. Namun belum sempat aku menemukannya tiba-tiba sesuatu menyergap tubuhku, menenggelamkanku lalu dengan cepat menyeretku ke daratan tanpa sempat aku melakukan perlawanan.

Otak cerdasku kali ini menyerah. Orang yang menangkapku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih buruk daripada sebuah penjara. Disana, di dekat pojok rumahnya, sebuah penggorengan panas sudah menungguku.




(End)

Posted by
Ikkok Dcock

More

Tidur

"Hoooaaaaammm!"

Merlin menguap panjang sambil menggeliatkan badannya yang terasa kaku. Matanya masih terasa berat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggantung di pelupuk matanya. Tubuhnya masih terasa lelah usai menghabiskan malamnya merayakan pesta sweetseventeen-nya.

Gadis yang duduk di kelas 2 SMA Swasta di salah satu kota Garut tersebut merupakan anak semata wayang di keluarga tersebut sehingga orang tuanya sangat memanjakannya. Tak heran pesta ulang tahunnya sangat meriah dan dilakukan sampai lewat tengah malam.

Sekali lagi Merlin menggeliat sebelum kemudian duduk bersandar pada tembok. Tangannya menjuntai dan ujung jemarinya menyentuh lantai keramik yang dingin. Seperti obat mujarab, seketika rasa kantuknya menghilang. Kedua matanya terbuka memandangi lantai, kemudian beralih ke jendela kaca. Sejenak dia memandangi cahaya mentari pagi yang menembus ke dalam melewati kaca, membentuk bias sinar yang indah. Di luar sana sepasang burung kecil berkejaran di ranting pohon jambu yang berdiri di pinggiran sungai kecil di balik pagar rumahnya. Pandangannya kembali pada keramik lantai tempatnya duduk.

Keningnya berkerut.

"Lho?" Merlin berseru pendek.

Kepalanya celingukan kesana kemari seperti orang yang sedang mencari sesuatu.

"Kenapa aku tidur di luar kamar?"

Memang benar saat itu dia terbangun dengan posisi duduk bersandar di tembok di depan pintu kamarnya.

"Seingatku semalam aku berbaring di tempat tidur. Sejak kapan aku punya penyakit sleepwalking?"

Merlin mencoba mengingat apa saja yang terjadi semalam. Namun dia sangat yakin semalam setelah berpamitan pada ibunya yang sedang merapikan kado, dia pergi ke kamar dan langsung berbaring. Setelah itu dia tak ingat apapun lagi. Sejenak kepalanya menoleh ke dalam kamar, nampak selimutnya terlipat rapi di atas tempat tidurnya.

"Memangnya aku mabuk apa sampai nggak sadar tidur dimana. Tapi kalau memang aku tidur di kasur kenapa juga selimutnya masih rapi?" Merlin memijit keningnya sambil kembali mencoba mengingat yang terjadi semalam.

"Sayang! Kamu sudah bangun?" Suara seorang wanita dari lantai bawah menyadarkan Merlin dari lamunannya.

"Ya, bu." Jawab Merlin. Dengan sedikit bermalasan dia segera bangkit dan turun  menemui ibunya.

"Gitu donk. Walaupun ini hari minggu tapi nggak ada salahnya bangun pagi." Ujar ibunya ketika melihat Merlin berjalan menuruni anak tangga.

Di rumah itu mereka hanya tinggal berdua karena orang tuanya berpisah saat dia masih kecil. Ibunya sendiri bekerja mengurusi sebuah toko kelontong milik keluarga. Usai mencuci mukanya Merlin segera mengambil sarapan yang sudah disiapkan ibunya sedari tadi. Segelas susu hangat berhasil membuat Merlin melupakan apa yang terjadi pagi itu.

**

"Sayang, aku ngantuk. Udah dulu ya." Merlin menguap untuk kesekian kalinya. Matanya melirik pada jarum jam yang menunjukkan pukul 10 malam.

"Tapi aku masih kangen kamu. Sepuluh menit lagi aja." Terdengar suara seorang lelaki dari telepon genggam Merlin.

"Besok kan ketemu lagi di sekolah sayang. Kalau aku tidur terlalu malam nanti jerawatan. Memangnya kamu mau punya pacar jelek jerawatan?" Merlin merajuk.

Digosoknya matanya yang semakin sayu.

"Humm... Yaudah deh, kalau gitu met bobo ya sayang. Good Night. Love you. Sampai ketemu besok." Lelaki di telepon akhirnya mengalah.

"Nite, sayang. Love you too." Merlin segera menutup telepon.

Tak menunggu lama matanya segera menutup dan dia pun tertidur.

Cahaya matahari terasa panas membakar kulit. Merlin yang saat itu baru saja pulang sekolah berjalan menepi menuju sebuah pohon yang rindang. Dibawah sana angin terasa sangat sejuk.

Selagi menikmati segarnya angin yang berhembus pandangannya membentur seekor anak kucing yang berdiri di pinggir trotoar. Kedua mata bulatnya nampak memandangi Merlin. Namun tidak lama kemudian dengan tertatih dia berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Ketika diperhatikan lagi nampak kaki kanan sebelah depannya terluka dan berdarah. Karena merasa iba, Merlin beranjak dari tempatnya berdiri bermaksud menghampiri anak kucing tersebut. Namun tiba-tiba tanah yang dipijaknya terasa berguncang. Dengan cepat cuaca berubah menjadi gelap. Angin yang bertiup lembut kini terasa berhembus kencang.

Blaarr!

Sebuah ledakan melemparkan tubuh Merlin. Ketika dilihatnya ke belakang pucatlah wajahnya. Pohon tempatnya berteduh kini hancur terbelah dua setelah tersambar petir. Selagi berusaha melawan rasa paniknya, sebuah retakan besar menguak tepat di tanah tempatnya berdiri. Merlin berusaha  melompat mundur namun retakan yang membesar dengan cepat tak bisa dihindarinya. Tak ayal tubuhnya langsung terperosok dan jatuh berguling-guling.
"Merlin. Sayang. Hey! Merlin!"

Seseorang mengguncangkan tubuhnya. Merlin terbangun dan hampir melompat dari tidurnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Di hadapannya duduk ibunya memandanginya dengan penuh khawatir. 

"Kamu mimpi buruk?" Tanya ibunya sambil menyeka keringat di pelipis anaknya itu.

Merlin hanya menganguk pelan. Tangannya mengusap rambutnya yang lengket dan berantakan.

"Lagian kenapa kamu malah tidur disini? Selain kamu bisa digigit nyamuk, disini kan dingin." Ucapan ibunya membuat Merlin langsung mendongak menatap ibunya keheranan.

Pandangannya kemudian beredar ke sekeliling ruangan yang kemudian membuatnya keningnya mengernyit. Baru disadarinya jika saat itu dia berada di ruang tamu dan tidur di kursi sofa, bukannya berada di kamarnya sendiri.

"Tadi ibu mau ngambil air wudhu, nggak sengaja lihat kamu tidur disini. Kenapa kamu nggak tidur di kamar?" Tanya ibunya.

"Wudhu? Shalat apa bu?" Bukannya segera menjawab pertanyaan ibunya Merlin malah balik bertanya.

"Shalat subuh, sayang. Sekarang jam setengah lima pagi. Shalat berjamaah, yuk?" Ajak ibunya sambil berdiri.

"Aku shalat sendiri aja, bu. Sekarang aku mau ke kamar dulu." Ujar Merlin sambil bangkit dan pergi menuju kamarnya di lantai atas. Ibunya hanya bisa memandanginya sambil menggelengkan kepala.

Hingga mentari pagi menampakkan diri, Merlin tak bisa lagi memejamkan mata. Pikirannya disibukkan dengan seribu pertanyaan mengenai hubungan antara mimpi aneh yang dialaminya, yang terasa dejavu baginya, dengan kali keduanya dia berpindah tempat tidur. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dan dia yakin hal itu bukanlah suatu kebetulan. 


**

"Bu, nanti aku tidur sama ibu ya." Merlin memeluk ibunya.

"Koq tumben anak gadis ibu ini manja. Katanya udah gede, udah dewasa. Masa tidurnya masih dikelonin." Ibunya menggoda. Merlin cemberut membuat ibunya tertawa kecil.

Jarum jam beranjak meninggalkan angka satu di jam dinding kamar ibunya. Merlin masih belum bisa memejamkan matanya. Sementara ibunya sejak tiga jam yang lalu sudah tertidur pulas di sebelahnya. Rasa tak tenang tetap menghantui pikirannya. Ketakutan atas apa yang akan terjadi esok hari saat dia terbangun dari tidurnya. Merlin segera memeluk tubuh ibunya. Ditariknya selimut sehingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ibunya yang terbangun segera memeluk anak semata wayangnya. Pelukan ibunya sedikit menghilangkan kecemasan hati Merlin sehingga tanpa disadari perlahan kantuk datang dan diapun tertidur pulas.

"Ihh, ibu. Jangan dulu dibuka tirai jendelanya. Silau tau. Merlin masih ngantuk". Merlin menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.

Namun setelah menyadari ibunya sudah tak ada di kamar dengan enggan dia bangun dari tempat tidurnya. Matanya menyipit melihat cahaya mentari pagi yang menyilaukan. Dengan bermalasan dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar ketika tiba-tiba didengarnya suara keras bergemuruh dari luar rumah. Ketika Merlin melihat ke luar jendela terkejutlah dia. Di kejauhan nampak air bah yang besar bergulung dengan cepat menuju ke arahnya. Menelan rumah-rumah dan segala sesuatu yang dilewatinya. Dengan lutut gemetar Merlin bergegas lari keluar dari kamar dan mendapati ibunya tengah duduk di kursi ruang tamu sembari membaca sebuah majalah.

"Bu... Ibu! Ayo kita lari, bu! Aa.. Ada air bah menuju kemari!" Ujar Merlin terbata-bata.

Ibunya hanya tersenyum tenang. Mulutnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu namun Merlin tak sempat mendengarnya karena disaat yang bersamaan air bah menerjang rumah, menghancurkan jendela kaca dan dinding lalu menghempaskan tubuh Merlin serta ibunya!

Air bah menghanyutkan tubuh Merlin kesana kemari. Tangan kecilnya berusaha menggapai. Sementara dia mencoba mengambil nafas, matanya tak mampu menemukan ibunya. Air terus menyeret tubuhnya, kadang menenggelamkan tubuhnya. Merlin berusaha menjaga agar kepalanya tetap berada di atas air ketika sebatang pohon tumbang yang mengambang menghantam kepalanya dengan keras.

Gelap.

Udara dingin menusuk kulit membangunkan Merlin. Tubuhnya terasa beku dan kaku ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Jelas saja, sekujur tubuhnya saat itu basah kuyup akibat setengah badannya terendam dalam air sungai.

"Sungai?"

Merlin terbelalak. Sontak dia memalingkan kepalanya ke arah pinggiran atas sungai dimana rumahnya berada. Disana, dilihatnya rumahnya masih berdiri utuh. Pandangannya melihat ke sekeliling, semua masih sama seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda kerusakan apapun.

"Jadi, lagi-lagi aku bermimpi?"

Merlin termenung sesaat sebelum kemudian mencoba bangkit berdiri. Saat itu baru disadarinya jika leher belakangnya terasa berdenyut sakit. Merlin benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi. Mimpi semalam terasa sangat nyata. Namun kenyataannya semuanya masih baik-baik saja. Apakah penyakit sleepwalking ini semakin parah?, batin Merlin. Tanpa disadari air mata menggenang di sudut matanya. Sambil menahan isak tangis dia mencoba merangkak naik ke pinggiran sungai.

"Ya Allah, sayang! Apa yang terjadi sama kamu?"

Sebuah suara terdengar dari atas pinggiran sungai. Merlin menengadah. Dilihatnya ibunya setengah berlari menghampirinya, langsung merangkul anak semata wayangnya itu. Tangis Merlin pun pecah di pelukan ibunya.

Hangat pelukan ibunya berhasil menenangkan Merlin. Namun disaat yang sama dia tahu bahwa mimpi-mimpi buruk itu akan terus menghantuinya untuk waktu yang lama. Dia ingin mengatakan hal itu pada ibunya, namun urung dilakukannya dan hanya memeluk ibunya semakin erat.


**


"Bagaimana, dok. Apakah ada perkembangan signifikan?"

"Maaf, bu. Sejauh ini belum ada perubahan berarti. Namun bisa saya pastikan kondisinya tetap stabil. Tetaplah berdoa di sebelahnya, bu. Saya pamit dulu."

Dokter itu pergi meninggalkan si ibu yang terduduk lesu. Matanya yang terlihat selalu sembab memandang nanar pada sosok gadis yang terbaring di tempat tidur. Dengan tangan kurusnya diusapnya pipi gadis tersebut dengan penuh kasih sayang.

Sudah berbulan-bulan lamanya dia tertidur seperti itu. Semuanya berawal dari kecelakaan yang terjadi saat dia pulang sekolah bersama teman prianya. Sepeda motor mereka kendarai diketahui kehilangan kendali dan menabrak trotoar jalan hingga terpental dan menabrak sebuah pohon besar. Teman prianya meninggal di tempat sedangkan dia berhasil bertahan namun dengan kondisi seperti sekarang.

Si ibu tersadar dari lamunannya ketika dilihatnya ujung jemari anaknya sedikit bergerak. Kelopak matanya bergerak seperti hendak tersadar. Namun ia tahu itu tidak akan terjadi. Sambil menyeka air matanya yang tak terasa membasahi pipinya, dia mengambil kitab suci Al-Quran yang diletakkannya di atas meja lalu duduk disamping tubuh anaknya. Tak lama bibirnya mulai bergerak membaca salah satu ayat yang ada di dalamnya, seperti yang biasa ia lakukan selama ini.





(End)






Posted by
Ikkok Dcock

More

True Story : KKN di Desa Penari



(Prolog)



Cerita ini merupakan kisah nyata yang viral di dunia maya pada Agustus 2019. Ditulis oleh pemilik akun twitter @SimpleM81378523. Sesuai penjelasan penulis asli, nama tempat, kampus dan tokoh di cerita ini disamarkan untuk menjaga privasi mereka. Ceritanya sendiri saya edit dibeberapa bagian terutama bagian dialog (menghilangkan versi bahasa jawa agar lebih simpel), tentunya dengan pengurangan atau penambahan namun tanpa merubah isi cerita sedikitpun dan untuk mempersingkat cerita karena thread cerita ini sangat-sangat panjang. Tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap penulis asli.



(1)

Tahun 2009 akhir.

Semua anak angkatan 2005/06 sudah hampir merampungkan persyaratan untuk mengikuti KKN yang di lakukan di beberapa desa sebagai syarat lanjutan untuk tugas skripsi. Dari semua wajah antusias itu di kampus, terlihat satu orang tampak menyendiri.

Widya, begitu anak-anak lain memanggilnya

Ia tampak begitu gugup, menyepi, menyendiri, sampai panggilan telepon itu membuyarkan lamunanya.

"Aku sudah dapat tempat untuk KKN”,  kata seseorang di ujung telpon.

Wajah muram itu, berubah menjadi senyuman penuh harap

"Dimana?”, Tanyanya.

"Di kota B, di sebuah desa di kabupaten K, banyak proker untuk di kerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita.

Saat itu juga, Widya segera mengajukan prop KKN. Semua persyaratan sudah terpenuhi, kecuali kelengkapan anggota dalam setiap kelompok minimal harus melibatkan 2 fakultas berbeda pun dengan anggota minimal 6 orang.

"Tenang", kata Ayu.

Perempuan yang tempo hari memberi kabar tempat KKN yang ia observasi bersama abangnya. Benar saja, tidak beberapa lama, muncul Bima dengan Nur, ia menyampaikan, kelengkapan anggota 6 orang yang melibatkan 2 fakultas sudah di setujui.

"Siapa yang sudah gabung, Nur?”, tanya Ayu.

"Temanku. Kakak tingkat. Dua angkatan di atas kita, satunya lagi temannya."

Lega sudah. batin Widya.

Surat keputusan KKN sudah disetujui semuanya, terdiri dari 2 fakultas dengan proker kelompok dan individu, untuk pengabdian di masyarakat yang akan di adakan kurang lebih sekitar 6 minggu.

Jauh hari sebelum malam pembekalan, Widya berpamitan kepada orangtuanya tentang progress KKN yang wajib ia tempuh, ketika orangtua Widya bertanya kemana Projek KKN mereka, terlihat wajah tidak suka dari raut ibunya.

"Apa nggak ada tempat lain, kenapa harus kota B?”, wajah ibunya menegang.

"Disana tempatnya bukannya hutan semua, tidak bagus ditinggali oleh manusia.”

Namun setelah Widya menejelaskan, bahwa sebelumnya sudah dilakukan observasi wajah ibunya melunak.

"Perasaan ibu nggak enak, apa tidak bisa di undur satu tahun lagi?”

Widya enggan melakukanya. Meski berat kedua orangtuanya pun terpaksa menyetujuinya.

Hari pembekalan sebelum keberangkatan, semua anggota sudah berkumpul. Widya, Ayu, Bima, Nur, ditambah Wahyu dan Anton.

Setelah basa basi, bertanya seputar rencana KKN dari A sampai Z selesai, mereka akhirnya berangkat.

"Naik apa kita nanti?” kata Wahyu.

"Elf, mas" jawab Nur.

"Sampai desanya naik mobil Elf, dik?”

"Nggak, mas. Nanti berhenti di jalur hutan D, nanti ada yang jemput.” sahut Nur.

Mendengar itu Widya bertanya ke Ayu.

"Yu, apa desanya gak bisa di masuki mobil?"

Ayu hanya menggelengkan kepala.

"Nggak bisa, tapi dekat kok dari jalan besar, 45 menit kemungkinan.”

Disinilah cerita ini di mulai.


(2)
 
Sesuai apa yang Nur katakan. Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S, tanpa terasa hari sudah mulai petang di tambah area dekat dengan hutan  membuat pandangan mata terbatas. Belum sampai disana gerimis mulai turun. Lengkap sudah.

Setelah menunggu hampir setengah jam, terlihat dari jauh cahaya mendekat. Nur dan Ayu langsung mengatakan bahwa mereka yang akan menjemput.

Rupanya yang datang adalah 6 lelaki paruh baya, dengan motor butut.

"Cuk, naik sepeda kita." kata Wahyu spontan.

Saat itu ada yang aneh. Entah disengaja atau tidak, ucapan yang di anggap biasa di kota S itu di tanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu. Wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat Wahyu.

Hanya saja yang memperhatikan semua sedetail itu, hanya Widya seorang. Apapun itu, semoga bukan hal yang buruk.

Ditengah gerimis, jalanan berlumpur, pohon di samping kanan kiri, mereka tempuh dengan suara motor yang seperti sudah mau ngadat saja. Ditambah medan tanah naik turun membuat Widya kembali berpikir perjalanan mereka sudah hampir satu jam lebih, tapi motor masih berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Selama perjalanan, tidak satupun dari pengendara motor itu yang mengajaknya bicara. Aneh. Apa semua warga disana pendiam semua.

Malam semakin gelap dan hutan semakin sunyi sepi. Suara motor memecah suara rintik gerimis ketika dari jauh sayup-sayup Widya mendengar sebuah suara tabuhan kendang dan gong, di ikuti suara kenong, kompyang, mebaur menjadi alunan suara gamelan.

“Apa ada yang sedang mengadakan hajatan di dekat sini?” pikirnya.

Ketika sayup-sayup suara itu perlahan menghilang, terlihat gapura kayu menyambut mereka. Sampailah mereka di Desa W, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan.

"Permisi.” Kata lelaki itu, sebelum meninggalkan Widya dengan motornya.

"Sebelah sini." teriak Ayu. Di sampingnya berdiri seorang pria, wajahnya tenang, dengan kumis tebal, mengenakan kemeja batik khas ketimuran, ia berdiri seolah sudah menunggu sedari tadi.

"Kenalkan ini pak Prabu, kepala desa teman kakakku. Pak, ini teman saya dari kota yang rencananya mau KKN disini."

Pak Prabu memperkenalkan diri. Bercerita tentang sejarah desanya. Di tengah ia bercerita, Widya pun bertanya kenapa desanya harus sepelosok ini. Dengan tawa sumringah, pak Prabu menjawab.

"Pelosok bagaimana maksudnya, nak. Bukanya jarak ke jalan besar hanya 30 menit.”

Tatapan bingung Widya, disambut tatapan bertanya oleh semua temanya, seolah pertanyaanya kok membingungkan.

"Mbaknya mungkin capek, jadi mari saya antar ke tempat dimana nanti kalian tinggal.”

Di tengah kebingungan itu, Ayu menegur Widya.

"Maksudnya gimana sih, Wid. Koq kamu tanya seperti itu, bikin aku jadi sungkan aja kamu.”

Di situ Widya menyadari.

Ada yang salah.

Tempat menginap untuk laki-laki adalah rumah gubuk yang dulunya seringkali dipakai untuk posyandu, tapi sudah di rubah sedemikian rupa. Meski beralaskan tanah, tapi di dalamnya sudah ada bayang (ranjang tidur) beralasakan tikar. Sedangkan untuk perempuan menginap di salah satu rumah warga.

Di dalam kamar Widya pun bertanya maksud ucapanya kepada pak Prabu. Karena sepanjang perjalanan yang Widya rasakan itu lebih dari satu jam. Ayu membantah bahwa lama perjalanan tidak sampai selama itu. Anehnya, Nur memilih tidak ikut berdebat dan lebih memilih untuk diam.

"Gini, kamu dengar  tidak, di jalan tadi, ada suara orang main gamelan?” Tanya Widya.

"Ya palingan ada warga yang mengadakan hajatan. Apalagi?” Jawab Ayu.

Namun berbeda dengan Ayu, Nur malah menatap Widya dengan ngeri.

“Mbak, tidak mungkin ada desa lain disini, tidak mungkin ada acara di dekat sini, kalau kata orang jaman dulu, kalau dengar suara gamelan itu pertanda buruk.” Nur berbicara lirih.

Mendengar itu Ayu tersulut dan langsung menuding Nur sudah ngomong yang tidak-tidak.

"Nur, jangan ngomong sembarangan kamu bukanya kamu ikut observasi di kampung ini sama aku. Belum sehari kamu sudah ngomong hal yang nggak masuk akal begini.”

Ayu lalu pergi meninggalkan Widya dengan Nur.

Nur mendekati Widya dan berkata.

"Mbak, aku juga dengar suara gamelan itu koq. Cuma masalahnya, aku juga lihat ada yang menari di jalan tadi.”

"Astaghfirullah" kata Widya tidak percaya.

Nur menatap nanar Widya, air matanya sudah seperti memaksa keluar, Widya hanya memeluk dan mencoba menenangkanya.

Sejenak dia teringat perkataan ibunya tempo hari.

"Banyu semilir mlayu nang etan (air selalu mengalir ke arah timur).”

Memiliki makna, bahwa timur adalah tempat dimana semua di kumpulkan menjadi satu, antara yang buruk dan yang paling buruk. Dan kini Widya harus tinggal di hutan paling timur

"Nur, bisa nggak cerita ini jangan sampai menyebar ke teman-teman. Kan jadi nggak enak kalau sampai warga desa dengar, apalagi kita disini itu sebagai tamu. Insyaallah, semua akan baik-baik saja ya.”

Nur mengangguk meski enggan menjawab kalimat Widya. Malam itu tanpa terasa di lewati begitu saja.


(3)

Keesokan harinya rombongan sudah berkumpul. Sesuai janji pak Prabu, hari ini mereka akan keliling desa. Melihat semua proker yang sudah di ajukan oleh Ayu tempo hari, sekaligus meminta saran untuk proker individu yang harus di kerjakan oleh masing-masing dari mereka.

Sampailah, mereka di pemberhentian pertama. Sebuah pemakaman desa.

Aneh.

Itulah yang pertama kali di pikirkan Widya, atau mungkin semua orang. Setiap nisan di tutup oleh kain hitam. Pemakamanya sendiri di kelilingi pohon beringin dan di setiap pohon beringin ada batu besar di sampingnya. Disana lengkap ada sesajen di depanya. Nur yang semula mulai ceria tiba-tiba menjadi diam. Ia menundukkan kepalanya, seolah tidak mau melihat sesuatu.

“Mohon maaf pak, ini kenapa ya kok...” Belum selesai Widya bicara, pak Prabu memotongnya

"Saya tau apa yang adik mau katakan. Pasti mau tanya, koq pateknya (nisan) di tutupi pakai kain, ya kan?"

Widya mengangguk. Rombongan menatap serius pak Prabu, terkecuali Wahyu dan Anton. Terdengar mereka sayup tertawa kecil.

"Ini namanya Sangkarso. Kepercayaan orang sini. Jadi biar tahu, kalau ini loh pemakaman." terang pak Prabu. Mendengar penjelasan pak Prabu, Wahyu dan Anton menyindir pelan namun pak Prabu bisa mendengarnya.

"Orang bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola, pak.”

Pak Prabu yang sumringah tiba-tiba diam. Raut wajahnya berubah dan tak tertebak.

"Semoga saja kalian paham dengan apa yang kalian katakan."

Kalimat pak Prabu seperti penekanan yang mengancam, setidaknya itu yang Widya rasakan. Sontak Bima langsung meminta maaf. Namun Wahyu dan Anton memilih diam setelah mendengar respon pak Prabu.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya yaitu Sinden (kolam tempat air keluar dari tanah). Bangunan Sinden itu sendiri menyerupai candi kecil, namun memiliki kolam berbentuk persegi empat yang memiliki air yang jernih namun berlumut. Pak Prabu mengatakan bahwa Sinden ini bisa di jadikan Proker paling menjanjikan. Tidak jauh darisana ada sungai dan pak Prabu menginginkan agar Sinden dan sungai bisa di hubungkan, jadi semacam jalan air.

Ayu dan Widya sudah memetakan semua yang pak Prabu tunjukkan, memberinya sampel warna merah sampai biru, dari yang paling di utamakan sampai yang paling akhir di kerjakan.

Nur meminta izin untuk kembali ke rumah karena merasa tidak enak badan. Bima pun mengantarkanya sehingga observasi hanya di lakukan oleh empat orang saja.

Mereka pun dampai di titik paling menakutkan

Tipak talas, begitu kata pak Prabu. Sebuah batas dimana rombongan anak-anak dilarang keras melintasi sebuah setapak jalan yang di buat serampangan. Di kiri kanan ada kain merah lengkap diikat oleh janur kuning layaknya pernikahan.
"Kenapa nggak boleh, pak?" tanya Ayu penasaran.

Pak Prabu diam lama, seperti sudah mempersiapkan jawaban namun ia enggan mengatakanya.

"Itu adalah hutan belantara, nggak ada apa-apanya. Hanya saja mempertimbangkan, takutnya kalau kalian kesana, hilang, tersesat, gimana nanti.”

Sekali lagi, jawaban itu cukup membuat Widya yakin itu bukan yang sebenarnya. Perasaan merinding melihat jalanan setapak itu nyata.  


(4)

Di kampung tersebut tidak ada satu rumah pun yang memiliki kamar mandi. Hal itu dikarenakan sulitnya akses air. Berdasarkan penuturan pak Prabu tempat untuk mandi ada di bagian selatan Sinden berupa bilik dengan kendi besar di dalamnya.

Sore menjelang malam. Widya meminta Nur untuk menemaninya pergi ke kamar mandi di bilik samping Sinden. Awalnya Nur tampak tidak mau tapi karena di paksa akhirnya ia pun bersedia ikut dengan catatan dia yang pertama masuk bilik.

Setelah mencari dari Sinden, merekapun menemukan bilik itu yang berada tepat di samping pohon Asem yang besar sekali. Rindang namun mengerikan.

Didalamnya terdapat kendi besar yang sudah terisi penuh air. Nur pun segera masuk sementara Widya menunggu di depan bilik. Matanya tidak bisa melepaskan diri dari bangunan Sinden yang entah kenapa seolah menarik perhatianya.

Dari dalam bilik terdengar suara air bilasan dari Nur. Disaat perhatiannya lepas dari bangunan Sinden, Widya mencium ada aroma kemenyan di dekat tempatnya berdiri. Ketika dia menelusurinya, benar saja, di samping pohon asem itu terdapat sebuah sesajen. Bara dari kemenyannya terlihat baru saja di bakar.

Antara takut dan kaget Widya kembali ke pintu bilik. Saat itu sudah tidak terdengar suara air bilasan dari dalam.

"Nur! Nur!" teriak Widya sembari menggedor pintu kayu.

Hening. Tidak ada jawaban dari dalam.

Widya masih berusaha memanggil ketika terdengar sayup suara yang lirih, sampai-sampai dia harus menempelkan telinganya di pintu bilik.

Suara orang sedang berkidung.

Kidungnya sendiri menyerupai kidung jawa, suaranya sangat lembut seperti seorang biduan.

"Nur, buka Nur! Buka!" spontan Widya menggedor pintu dengan keras.

Ketika pintu terbuka, Nur melihat Widya dengan ekspresi wajah panik

"Kenapa sih, Wid?” tanya Nur

Ekspresi ganjil Widya membuat Nur kebingungan

"Ayo cepat mandi, biar aku yang gantian jaga di luar.”

Dengan sedikit ragu Widya akhirnya bergegas masuk bilik. Setelah melepas pakaiannya dia mulai menyiramkan air ke tubuhnya. Dingin. Suasana terasa sunyi karena di luar Nur tidak berkata apapun.

Setiap siraman air di kepalanya membuat Widya memejamkan matanya dan setiap ia memejamkan mata entah kenapa kemudian terbayang wajah cantik nan jelita yang sedang tersenyum memandanginya.

“Siapa pemilik wajah cantik itu?”

Kemudian kidung itu terdengar lagi. Widya berbalik, mengamati. Suaranya dari luar bilik tempat Nur berdiri seorang diri.

“Apakah Nur yang sedang berkidung?”

Pertanyaan itu menancap keras di kepala Widya.

"Nur, kamu bisa bersenandung kidung jawa ya?” Widya sempat bertanya ketika sedang dalam perjalanan kembali ke rumah.

Nur mengamati Widya, kemudian terdiam dan pergi tanpa menjawab sepatah katapun.


(5)

Listrik di desa ini menggunakan tenaga Genset. Jadi ketika jam menunjukkan pukul 9, lampu sudah mati dan di ganti dengan petromak.

Nur sudah pergi tidur, hanya tinggal Widya dan Ayu yang masih menyelesaikan progres untuk proker esok hari.

Di tengah keheningan mereka menggarap progres, tiba-tiba Ayu mengatakan sesuatu yang membuat Widya tertarik.

"Tadi aku sama Bima mengecek progres untuk pembuangan. Ketika memutari desa, ingat nggak sama Tapak Tilas, ternyata gak jauh darisana ada sebuah bangunan tua menyerupai sanggar.”

Widya termenung. "Lho, bukanya kamu udah ngerti dilarang berada disana?”

"Bukan aku.” Ayu membela diri.

“Bima yang ngajak. Katanya ada perempuan cantik, pas di ikuti ternyata nggak ada.”

"Terus kenapa kamu tetap kesana?” Ayu bersitegang.

"Kamu ini, kan aku ngejar Bima. Masa dibiarkan saja kalau nanti hilang gimana?” kata-kata Ayu menghentikan perdebatan mereka.

Karena malam semakin larut, Widya pun beranjak pergi ke kamar. Disana ia melihat Nur sudah terlelap dalam tidurnya. Tak lama Ayu pun menyusul kemudian.

Widya belum terlelap ketika tiba-tiba terdengar langkah kaki. Dilihatnya Nur melangkah keluar. Merasa ragu apakah mau membangunkan Ayu, Widya pun beranjak dari tempatnya tidur mengikuti Nur pergi keluar rumah.

Malam itu sangat gelap, sangat sunyi dan sepi dibanding biasanya. Dia mencoba melihat kesana kemari mencari dimana keberadaan Nur. Widya terpaku ketika dilihatnya Nur berdiri di tanah lapang depan rumah. Dia sedang menari dengan sangat anggun, tanpa alas kaki berlenggak-lenggok layaknya penari profesional.

Widya termangu mematung melihat temanya. Dengan ragu-ragu ia mendekatinya. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Nur bisa menari seperti ini.

"Nur." panggil Widya.

Tapi Nur seperti tidak mendengarkanya. Ia masih berlenggak lenggok, sorot matanya beberapa kali melirik Widya. Ngeri. Tiba-tiba bulu kuduk terasa Widya berdiri ketika memandangnya. Dari jauh sayup sayup suara kendang terdengar lagi. Widya semakin diselimuti ketakutan, tabuhan gamelan sahut menyahut, campur aduk dengan tarian Nur yang seperti mengikuti alunan itu.

Kaki seperti ingin lari dan melangkah masuk rumah, tapi Nur semakin menggila. Ia masih menari dengan senyuman ganjil di bibirnya. Sampai akhirnya Widya memaksa Nur menghentikan tarianya. Dia berteriak meminta temanya agar berhenti bersikap aneh dan saat itulah wajah Nur terlihat berubah menjadi wajah yang sangat menakutkan. Sorot matanya tajam, dengan mata nyaris hitam semua. Widya menjerit sejadi-jadinya. Kali berikutnya, seseorang memegang Widya kuat sekali, menggoyangkannya sembari memanggil namanya.

Wahyu.

Widya melihat Wahyu yang menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus takut.

"Malam-malam gini ngapain anj-ng! Nari sendirian disini!”

Jeritan Widya rupanya membangunkan semua orang, termasuk si pemilik rumah, Widya melihat sorot mata semua orang memandangnya, tak terkecuali Nur yang rupanya baru saja keluar dari dalam rumah. Mereka sama-sama termangu memandang satu sama lain.

Wahyu pun menceritakan semuanya.  Bagaimana awalnya ia sedang menghisap rokok sembari duduk di teras posyandu. Kemudian tanpa sengaja ia melihat seseorang, sendirian, menari di tanah lapang. Karena penasaran Wahyu mendekat sampai dia menyadari jika yang menari itu adalah Widya. Ssemua yang mendengarkan cerita Wahyu hanya bisa menatap nanar, tidak ada yang berkomentar. Si pemilik rumah akhirnya menyuruh mereka semua bubar dan masuk ke dalam rumah lagi karena malam semakin larut. Dia berjanji akan berbicara dengan pak Prabu esok hari.

Malam itu benar-benar malam yang gila, seolah-olah menjadi pembuka rangkaian kejadian yang akan mereka hadapi di sela tugas KKN mereka ke dalam situasi yang paling serius.


(6)

Esok harinya pak Prabu mengajak Widya, Ayu dan Wahyu untuk pergi menemui seseorang. Berbekal mengendarai motor butut yang tempo hari digunakan untuk mengantar mereka masuk ke desa ini, mereka berangkat melalui jalur yang sama seperti saat mereka pertama kali datang ke desa itu. Anehnya kali ini Widya merasakan sendiri untuk sampai ke jalan raya tidak sampai satu jam lamanya, bahkan mungkin cuma memakan waktu 30 menit saja.

Melintasi jalan besar, lalu masuk lagi ke sebuah jalan setapak buatan akhirnya mereka melihat sebuah rumah berpagar batu bata merah, dengan banyak bambu kuning, rumah itu terlihat sangat tua namun masih enak dipandang mata.

Di depan rumah, ada orang tua sudah sepuh, berdiri seperti sudah tau bahwa hari ini akan ada tamu yang berkunjung. Tidak ada yang tahu nama kakek itu, namun pak Prabu memanggilnya mbah Buyut.

Setelah pak Prabu selesai menceritakan semuanya, wajah mbah Buyut tampak biasa saja seolah tidak tertarik sama sekali dengan cerita pak Prabu yang padahal membuat semua anak-anak masih tidak habis pikir. Sesekali memang mbah Buyut terlihat menatap Widya, terkesan mencuri pandang.

Dengan suara serak, mbah Buyut pergi kedalam rumah, beliau kembali dengan 5 gelas kopi yang di hidangkan di depan mereka.

"Silahkan." ujarnya, matanya memandang Widya.

Melihat itu Widya menolak. Mengatakan dirinya tidak pernah meminum kopi namun senyuman ganjil mbah Buyut membuat Widya sungkan yang akhirnya berbuntut ia meneguk kopi itu meski hanya satu tegukan saja. Kopinya manis. Ada aroma melati didalamnya. Awalnya Widya hanya mencoba saja, tanpa sadar gelas kopi itu sudah kosong.

Tidak hanya Widya, semua orang di tegur agar mencicipi kopi buatan beliau.

"Tidak baik menolak pemberian tuan rumah."

Semua akhirnya mencobanya. Wahyu dan Ayu kaget setengah mati, sampai harus menyemburkan kopi yang ia teguk. Mimik wajahnya bingung, karena rasa kopinya tidak terasa manis, tapi sangat pahit. Sampai tidak bisa masuk ke tenggorokan sama sekali.

Anehnya, Pak Prabu meneguk kopi itu biasa saja.

Mbah Buyut pun kemudian menjelaskan apa yang sedang terjadi namun menggunakan bahasa jawa halus sekali. Sehingga ucapanya kadang tidak bisa di pahami semua anak. Ada kalimat, penari dan penunggu, namun yang lainya tidak dapat di cerna. Ia juga sempat menunjuk Widya tepat didepan wajahnya dengan mimik wajahnya sangat serius. Pak Prabu mendengarkan dengan seksama lalu berpamitan pulang. Sebelum mereka pulang mbah Buyut memberi kunir tepat di dahi Widya, katanya untuk menjaga Widya saja.

Kunjungan itu sama sekali tidak di ketahui tujuanya. Selama perjalanan pak Prabu bercerita tentang kopi yang di hidangkan mbah Buyut tadi yaitu kopi ireng yang di racik khusus untuk memanggil lelembut, demit dan sejenisnya. Bukan kopi untuk manusia. Mereka yang belum pernah mencobanya pasti akan memuntahkanya. Namun bagi lelembut dan sebangsanya, kopi itu manis sekali.

"Mohon maaf ya nak, kamu ada yang mengikuti" jelas pak Prabu.

Namun pak Prabu juga mengatakan bahwa ia tidak perlu takut karena Widya tidak akan serta merta di apa-apakan, hanya di ikuti saja. Yang lebih penting Widya tidak boleh dibiarkan sendirian, harus selalu ada yang menemaninya.

Untuk itu pak Prabu punya gagasan. Mulai malam ini mereka akan tinggal dalam satu rumah, hanya dipisahkan oleh sekat dari bambu anyam. Pak Prabu hanya meminta satu hal, jangan melanggar etika dan norma saja.

Tempat tinggal mereka yang baru tepat ada di ujung. Cukup besar dan bekas rumah keluarga yang merantau sekaligus hal ini menjawab pertanyaan kenapa jarang di temui anak seumuran mereka di desa ini. Rupanya kebanyakan anak-anak yang sudah akil baligh pasti pergi merantau. Dibelakang rumah ada sebuah watu item (batu kali) cukup besar dengan beberapa pohon pisang dan dikelilingi daun tuntas.

Setelah kejadian malam itu, Ayu sedikit menghindari Widya. Namun Wahyu sebaliknya, ia mendekati Widya dan memberi semangat agar tidak mencerna mentah-mentah mbah Buyut.

Suatu malam Wahyu menceritakan kejadian yang tidak ia ceritakan di malam itu.
 
"Wid, temanmu yang cowok itu baik-baik saja kan?" tanya Wahyu.

"Maksudnya, mas?"

"Temanmu itu setiap larut malam keluar Wid, entah kemana. Terus biasanya baru balik pagi. Apa sedang mengerjakan prokernya? Tapi koq harus malam?"

"Nggak ngerti aku mas." Widya mengernyitkan dahi.
 
"Aku juga sering denger anak itu ngomong sendirian di dalam kamar. Sumpah! Nggak cuma itu, kadang dia tertawa sendirian, gila mungkin anak itu." lanjut Wahyu.

"Bima itu religius, gak mungkin aneh-aneh." Widya tak percaya mendengar penjelasan Wahyu.

"Yo wes, tanya Anton kalau gak percaya. Malam sebelum kejadian itu, Bima sebenarnya ada disana. Dia cuma lihat kamu dari jendela. Paham kamu sekarang? Gila tuh anak!"

Mendengar itu Widya hanya bisa terdiam lama, berusaha memproses kata-kata Wahyu sampai ia kemudian melihat Wahyu pergi dengan raut wajah kesal.


(7)

Malam itu semua anak sudah berkumpul di rumah. Nur ada di kamar sedang shalat. Ayu, Wahyu dan Anton ngobrol di teras rumah sedangkan Bima sedang ada pertemuan dengan pak Prabu. Widya ada di ruang tengah sendirian.

Tiba-tiba dari arah pawon (dapur) terdengar lagi suara kidung. Ketika berjalan menuju dapur Widya melewati kamar dan sempat dilihatnya Nur sedang bersujud. Pawon rumah ini hanya di tutup dengan tirai. Saat Widya menyibak tirai, ia melihat Nur sedang meneguk air dari kendi dengan masih mengenakan mukenanya.

Widya diam mematung. Lama sekali sampai Nur yang masih meneguk air melihatnya.

Mata mereka saling memandang satu sama lain.

"Kenapa, Wid?" tanya Nur.

Widya masih diam. Nur pun mendekati Widya. Sontak Widya langsung lari dan melihat isi kamar, disana tidak ada Nur.

"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Nur yang sekarang di samping Widya.

Ia memegang bahu Widya. Dingin dan gemetaran. Sampai semua anak melihat mereka kemudian mendekatinya.

"Kenapa koq ramai sekali." tegur Ayu.

"Nggak tau, anak ini di tanya dari tadi nggak jawab-jawab."

"Kenapa, Wid?" Wahyu mendekati.

"Tanganmu kenapa gemetaran gitu, ada apa sih?" tanya Anton.

"Nur ambilkan air gitu loh, koq malah diam saja."

Nur kembali dengan teko kendi yang tadi lalu memberikanya pada Widya. Dia kemudian meneguknya namun tiba-tiba Widya diam lagi membuat semua orang bingung. Tangan kiri Widya masih memegang teko ketika tangan kananya terangkat lalu masuk ke dalam mulut. Widya berusaha mengambil sesuatu. Ada dua sampai tiga helai rambut hitam panjang dan itu keluar dari dalam mulut Widya. Semua yang menyaksikanya beringsut mundur. 

Kaget.
 
Begitu penutup tekonya di buka, di dalamnya terliha segumpal rambut. Benar-benar segumpal rambut dengan air di dalamnya.

Nur yang melihatnya langsung bereaksi.

"Tadi aku juga minum dari situ, gak tau ada yang begituanya."

Widya muntah sejadi-jadinya.

Saat keadaan tegang seperti itu, Anton tiba-tiba berkata, "Kamu di incar ya, Wid? Kata mbahku, kalau tiba-tiba muncul rambut itu biasanya kalau nggak di santet ya diincar makhluk halus."

"Wid, apa penari itu masih ngikutin kamu? Soalnya dari kemarin aku belum lihat dia di belakangmu." Tanya Nur.

Kemudian Nur menyadari kalau dia sudah salah bicara. Karena terus menerus merasa was-was beberapa hari kemudian Widya jatuh sakit selama tiga hari. Selama sakit dia sering ditinggal di rumah sendirian dikarenakan yang lainnya tetap harus mengerjakan proker mereka masing-masing. 

Saat sedang jatuh sakitpun Widya terus mengalami kejadian ganjil seperti didengarnya suara keras dari belakang rumah. Suara dua lempengan keras beradu. Saat bermaksud mengeceknya dia memergoki seorang bapak tua yang bersikap mencurigakan berada di kebun belakang diantara pepohonan pisang nampak mengawasi rumah yang menjadi penginapan Widya selama KKN. Hal itu terulang keesokan harinya bahkan kali ini bapak tua itu sudah berdiri di depan pintu pawon. Namun tiba-tiba saja dia lari tunggang langgang ketika sebuah suara keras terdengar dari arah watu item (batu kali) di belakang rumah. Ada yang melempar batu cukup besar disana.

Widya pun melaporkan hal itu ke pak Prabu. Setelah diselidiki akhirnya mereka menemukan bapak tua tersebut yang masih merupakan warga disana. Setelah ditanyai akhirnya bapak tua itu bercerita, entah benar atau tidak, bahwa ia melihat seorang wanita yang mengenakan pakaian seperti dayang (penari) dan masuk ke rumah yang ditempati Widya. Maka ia pun memutuskan untuk memeriksanya secara diam-diam. Di hari dimana ia lari tunggang langgang, ia melihat sesuatu di dalam pawon tersebut. Wanita itu sedang menari dengan anggun disana. Saat ia mencoba melihat wajahnya, bapak tua itu terkejut setengah mati karena wanita yang dikiranya berparas cantik jelita tersebut ternyata berwajah polos, rata tak berbentuk!


(8)

"Mau ikut, nggak?" Tanya Wahyu di sela-sela kesibukan Widya mengerjakan prokernya yang sudah tertunda selama beberapa hari.

"Kemana?"

"Ke kota, ada perlengkapan yang harus ku beli."

"Jauh nggak?"

"Dua jam. Aku udah ijin dan pinjam motor sama pak Prabu."

"Ya udah, ikut."

Lewat jam 11 siang mereka berdua berangkat keluar desa menuju kota B. Sebelumnya pak Prabu sudah mewanti-wanti Wahyu agar segera pulang sebelum petang. Ketika Wahyu menanyakan alasannya pak Prabu hanya menjawab dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.

"Tidak ada yang pernah tau apa yang tinggal di hutan."

Keluar dari jalan setapak, mereka sampai di jalan raya. Menyusurinya, cukup jauh hingga mereka pun sampai di kota B. Wahyu dan Widya berhenti di sebuah pasar dan segera mencari segala keperluan mereka. Hingga 2 jam berlalu setelah berhasil menemukan segala keperluannya mereka segera bermaksud kembali.

Wahyu berhenti di pom bensin, ia harus mengembalikan motornya dalam keadaan bensin penuh. Etika ketika meminjam barang orang lain. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Widya menunggunya di samping seorang penjual cilok. Ketika Wahyu sampai disana diapun membeli cilok untuk dirinya dan Widya. Saat itulah si penjual cilok memperhatikannya seperti inin menyampaikan sesuatu.

"Mas nya pendatang?" kata orang itu.

"Nggak pak, saya cuma KKN disini," Jawab Wahyu.

"Tetap saja, orang luar kan?" kata si penjual cilok lalu memmandang Widya dan Wahyu bergantian.

"Kalau boleh tanya, mas sama mbaknya KKN dimana?"

Setelah Wahyu menceritakan semuanya termasuk tempat KKN berada, saat itu terlihat jelas sekali perubahan wajah si penjual cilok.

"Lho, berarti sebentar lagi kalian bakalan lewat hutan D?"

"Iya, pak." Jawab Wahyu membuat si penjual cilok semakin terkejut.

"Lho, halah dalah. Sudah jam segini mas. Apa nggak bisa besok saja mas? Cari saja penginapan, soalnya jam segini sudah jarang ada yang lewat."

"Nggak pak, saya lanjut aja." kata Wahyu.

"Bisa saya minta waktunya sebentar." si penjual cilok tiba-tiba mengatakan hal itu dengan wajah tegang.

"Ya, pak?" Wahyu sedikit keheranan.

"Begini, mas. Nanti setelah kalian sampai dan masuk ke jalanan hutanya, jalan saja ya terus. Nggak usah berhenti, apalagi mengurusi hal apapun. Sampai sini paham ya, mas?"

Wahyu Mengangguk.

"Jangan lupa berdoa. Yang paling penting jika kalian dengar suara tanpa wujud, tetap lanjut saja. Jika sampai kalian di bikin celaka tapi kalian masih bisa melanjutkan, lanjutkan saja. Jangan pernah berhenti disana, apapun yang terjadi atau yang kalian lihat tidak usah di perdulikan. Kalian percaya saja, doa yang utama."

Widya tidak pernah mendengar ada orang yang sampai bercerita dengan mimik wajah yang tegang, bahkan bibirnya gemetar saat menceritakan.

"Saya doakan kalian selamat sampai tujuan." Ujar si penjual cilok sambil menatap kepergian Wahyu dan Widya setelah mereka berpamitan.

Langit sudah kemerahan. Motor butut yang mereka tumpangi menembus hutan. Widya mulai merasakan angin dingin, melewatinya begitu saja. Tidak pernah disangkanya jika jalan masuk hutan lebih gelap ketika petang mulai menjelang.

Cahaya motor yang dikendarai Wahyu menembus kegelapan malam, kilasan pohon hutan di samping kiri kanan jalan menjadi pemandangan tak menyenangkan. Hanya suara motor yang mampu menghidupkan sepi senyap di sepanjang jalan karena benar saja, tak ditemui satupun pengendara lain disepanjang perjalanan mereka.

Setelah lama berdiam diri, Wahyu mencoba mencairkan suasana. Berandai-andai bagaimana bila motor mogok atau ban meletus di tengah antara hutan ini. Widya hanya menanggapi kecut. Takut bila pengandaian Wahyu terjadi pada mereka.

Benar saja.

Motor mereka ngadat tepat setelah Wahyu mengatakan itu.

Widya diam seribu bahasa. Hal kurang pintar yang dilakukan manusia sejak dulu kala adalah memikirkan sesuatu yang buruk di kondisi yang buruk, yang bahkan tidak seharusnya mereka lakukan manakala do'a bisa saja di kabulkan sewaktu-waktu.

"Jalan saja dulu, biar aku bisa tetap memantau kamu." kata Wahyu, sudah tidak tahan mendengar berapa kali kata "goblok" keluar dari mulut Widya.

Entah berapa lama mereka berjalan dan masih belum di temui satupun pengendara yang bisa dimintai pertolongan. Widya berjalan sendirian didepan, tak sekalipun wajahnya menengok Wahyu seolah-olah Wahyu sudah melakukan kesalahan paling fatal dalam hidupnya, sampai kemudian langkah kakinya berhenti.

Wahyu yang melihat itu tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang salah.

"Kalau sampai kamu kesurupan, bener-bener keterlaluan kamu, Wid. Apa nggak bisa lihat kondisiku dari tadi sudah capek dorong motor."

Widya melihat Wahyu, mata mereka saling memandang satu sama lain.

"Kamu dengar, nggak? Ada suara hajatan?"

Bukan hendak mengatakan Widya sinting, tapi Wahyu juga mendengarnya dan suara itu tidak jauh dari tempat mereka.

"Wid, ingat nggak kata penjual cilok? Jangan berhenti walau apapun yang terjadi. Kita lanjut saja."

Seperti kata Wahyu, Widya pun melanjutkan perjalanan. Semakin mereka berjalan, semakin keras suara itu diiringi suara tertawa dari orang-orang yang sedang melangsungkan hajatan. Sampai dilihatnya terdapat janur kuning melengkung. Disana, Widya melihat sebuah pesta tepat di sebuah tanah lapang samping jalan raya. Seperti sebuah area perkampungan lengkap dengan orang-orang berkumpul juga sebuah panggung musik.

Selagi Wahyu dan Widya tercengang dengan apa yang sedang dilihatnya, entah dari mana datangnya tiba-tiba ada orang tua bungkuk bertanya tepat di samping mereka membuat keduanya tercekat.

"Ada apa nak?" Tanyanya dengan suara yang halus sekali.

"Motornya mogok?"

Wahyu dan Widya hanya mengangguk. 

Pasrah.

Si orang tua kemudian memanggil anak-anak yang lebih muda yang lalu menuntun sepeda motor menepi dari jalan raya. Tidak lupa si orang tua mempersilahkan Wahyu dan Widya istirahat sebentar, sembari menunggu motornya di betulkan.

Suasananya ramai, semua orang sibuk dengan urusanya sendiri-sendiri. Ada yang bercanda, ada yang mengobrol satu sama lain, adapula yang menikmati alunan gamelan yang di tabuh seirama. Lengkap dengan pengantin yang terlihat jauh dari tempat Wahyu dan Widya duduk.

"Aku tidak tau ada kampung disini?" bisik Wahyu.

Widya hanya diam saja, matanya fokus pada panggung. Di depan para penabuh gamelan masih ada ruang, acara apa yang akan mereka adakan dengan ruang seluas itu.

Pertanyaan Widya segera terjawab. Dari jauh tiba-tiba tercium aroma melati. Aroma yang familiar bagi Widya. Diikuti serombongan orang, dihadapanya ada seorang penari. Ia dituntun naik ke atas panggung. Kemudian seperti terhipnotis, semua mata memandang pada satu titik tempat penari mulai berlenggak lenggok di atas panggung.

"Cantik banget anjiirrr!" kata Wahyu.

Wahyu nampak terkesima, namun tidak dengan Widya. Entah hanya perasaan saja, namun mata si penari beberapa kali mencuri pandang padanya. Rasanya ia seperti mengenal penari itu.

Si bapak tua kembali, menawarkan makanan pada mereka. Wahyu yang mungkin lapar, melahap habis mulai dari lemper sampai apem di hadapanya sembari mengobrol dengan si bapak tua. Setelah si penari selesai dan turun dari panggung, si bapak mengatakan motor mereka sudah selesai diperbaiki. Benar saja, motor mereka sudah bisa dihidupkan lagi. Sebelum pergi Wahyu dan Widya berpamitan. Mereka berterimakasih sudah mau menolong mereka yang kesusahan. Si bapak mengangguk. Mengatakan mereka harus hati-hati, tidak lupa dia juga memberi bingkisan. Menunjukkan isinya berupa jajanan yang di hidangkan tadi yang dibungkus dengan koran. Widya menerimanya, mengucap terimakasih lagi lalu melanjutkan perjalanan.

Jika Wahyu heboh sendiri dengan cantiknya paras si penari, Widya lebih tertarik memikirkan kampung itu. Demi apapun sewaktu diperjalanan dia tidak melihat kampung tersebut. Jangankan kampung, warung saja tidak ada sama sekali. Namun kenyataannya motor mereka benar-benar diperbaiki.

Jadi, apa mungkin hantu bisa membetulkan motor?

Tak terasa desa KKN mereka sudah semakin dekat.

Sesampainya di rumah, Wahyu pergi mengembalikan motor sedangkan Widya sudah di tunggu oleh semua anak. Mereka khawatir, berdiri menunggu di teras rumah.

"Dari mana sih? Koq lama sekali" kata Ayu.

"Dari kota, belanja keperluan kita." jawab Widya. Mendengar itu Nur hanya diam saja
 
"Ya sudahlah, ayo masuk. Kamu pasti capek kan?" Bima mencoba mencairkan suasana,

Tidak beberapa lama Wahyu datang. Ia masuk ke rumah, alih-alih beristirahat, dengan menggebu-gebu dia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. Mulai dari insiden motor, dibantu orang kampung, hingga bercerita tentang penari cantik yang ia temui. Namun bukan sambutan yang Wahyu dapat melainkan tatapan kebingungan yang ia terima dari semua orang.

"Disini kan nggak ada lagi desa." kata Bima. Mendengar itu Wahyu tidak terima.

"Tau darimana kamu?"

"Aku sudah sering ke kota, Yu. Prokerku berhubungan sama program hasil alam, jadi sering ikut ke kota sama orang sini. Sampai sekarang aku belum pernah nemuin kampung lain di dekat sini.

"Bicara apa, nipu!" kata Wahyu geram.

"Mas." Nur menimpali.

"Memang gak ada lagi desa disini, kan sudah pernah di bahas dulu." 

"Tanya sama Widya kalo nggak percaya. Ini kalian tak kasih bukti kalau ada desa lain di sekitar sini." sahut Wahyu sembari menarik Widya yang sedari tadi diam saja.

Widya sendiri masih terdiam. Dia sibuk memikirkan kopi yang tadi disuguhkan dan sempat ia cicipi. Rasanya sama persis dengan yang dulu disuguhkan oleh mbah Buyut.

Karena tidak sabar, Wahyu membuka paksa tas Widya dan mengambil bingkisan yang tadi mereka dapat. Bukan koran lagi yang Wahyu temui, namun bungkusan daun pisang.

Tepat ketika Wahyu membuka bingkisan itu, semua mata terbelalak begitu mereka melihat isi bingkisan yang berlendir dan mengeluarkan aroma amis yang menyengat.

Kepala monyet! Dengan darah segar yang masih menetes.

Setelah kejadian malam itu. Wahyu mengurung diri dalam kamar 3 hari lamanya. Kadang ia masih tidak percaya dengan hal itu. Bila mengingat bagaimana kepala-kepala monyet itu jatuh dari tanganya, rasa mualnya akan kembali membuat Wahyu harus memuntahkan isi perutnya.
 
Sejatinya apa yang dilakukan Widya sudah benar. Meski ia tahu ada yang ganjil dan sadar jika yang menemani mereka bukanlah manusia, namun mereka harus tetap mengikuti keinginan mereka. Karena jika dia memberitahu Wahyu yang kemudian menolak pertolongan mereka, menolak pemberian mereka, mungkin jalan ceritanya akan benar-benar berbeda. Bisa saja, justru penolakan seperti itu akan mendatangkan bala (bencana) bagi mereka.

Apapun itu, Widya sudah mengerti satu hal. Ada hubungan yang secara tidak langsung tentang dirinya dan sang penari.


(9) 

Malam itu, Widya baru selesai melihat prokernya yang di bantu beberapa warga desa. Langit sudah gelap gulita, ia sampai di rumah penginapan. Tidak seperti biasanya lampu petromax yang seharusnya menyala di depan rumah, kini mati. Membuat rumah itu terlihat lebih sunyi dan kelam.

Sudah biasa, pikirnya.

Sesampainya di depan pintu, dia mengetuknya dan mengucap salam. Namun suasana rumah begitu lenggang. Tak ada Ayu yang biasanya menulis laporan di ruang tengah. Wajhyu dan Anton yang bercanda ditemani asap rokok, atau bahkan suara Nur yang biasanya sedang mengaji. Sedangkan Bima, entah apa yang sedang dia lakukan.

Selama tinggal di rumah ini, hanya Bima yang masih terasa asing bagi Widya.

Widya bersiap masuk ke kamar ketika, suara tawa ringkik terdengar dari pawon. Sesuatu yang bukan lagi hal baru, ia harus memeriksanya. Ketika Widya menyibak tirai, ia melihat Nur duduk di sebuah kursi kayu, matanya menatap lurus ke tempat Widya berdiri. Ia masih mengenakan mukena putihnya. Sepertinya ia baru menunaikan sholat dan belum menanggalkannya.

"Nur, lagi ngapain?" tanya Widya.

Nur masih diam, matanya seperti mata orang yang kosong.

Saat itulah Widya melihat Nur menundukkan kepalanya dengan posisi duduk itu, seakan-akan ia tertidur di atas kursi kayunya. Membuat Widya panik dan segera mendekatinya. Dia mencoba menggoyangkan tubuhnya, namun Nur tidak bergeming. Saat Widya mencoba menyentuh kulit wajahnya yang dingin, tiba-tiba Nur terbangun dan melotot melihat Widya. Tatapanya, seperti orang yang sangat marah.

"Cah ayu."

Suara yang keluar dari mulut Nur bukanlah suara Nur melainkan suara yang menyerupai wanita uzur. Melengking. Membuat bulu kuduk Widya seketika berdiri. Saat Widya mencoba pergi, tanganya sudah dicengkram sangat kuat.

"Betah, nak, disini?"

Widya tidak menjawab sepatah katapun.

"Gimana cah ayu, sudah kenal sama penunggu disini?"

Widya mulai menangis.

"Lho, lho, lho... Cah ayu tidak boleh menangis."

Matanya masih melotot, pergelangan tangan Widya di cengkram dengan kuku jari Nur.

"Cah lanang itu saja sudah kenal sama dia."

"Nur.." ucap Widya sembari tidak kuasa menahan takutnya lagi. Suasana di ruangan itu baru kali ini benar-benar bisa membuat Widya setakut ini.

"Sadar Nur, sadar."

Nur tertawa semakin kencang, tertawanya benar-benar menyerupai seorang nenek tua.

"Kamu tidak mengerti siapa aku?"

"Kamu pikir, kalau tidak ada aku, anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku? Aku yang selama ini sudah menjaganya, tidak akan kubiarkan mereka mendekati cucuku. Mengerti!?"

"Mencelakai bagaimana toh mbah?" Widya berusaha menguatkan diri.

"Cah ayu, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali. Jika kamu belum sadar, semuanya akan terjadi. Ingatkan anak itu, yang sedang membawa petaka. Jika di biarkan, semuanya yang ada di desa ini akan kena batunya."

Setelah mengatakan itu, Nur berteriak keras sekali lalu jatuh terjerembap.

Dengan susah payah Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya. Menungguinya sampai ia terbangun dari pingsannya. Benar saja, ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur, pikirnya mungkin terlalu terbawa ketika shalat.

"Sejak kapan bisa lihat begituan?"

Pertanyaan Widya yang tiba-tiba membuat Nur salah tingkah. Namun pada akhirnya ia mau menjelaskan juga bahwa ia mulai bisa melihatnya sejak mondok. Menurutnya setiap orang ada yang jaga, jenisnya berbeda-beda. Ada yang jahat, ada yang baik, ada yang cuma mengikuti, ada juga yang cuma numpang lewat.

"Kamu ada yang jaga?" tanya Widya.

"Katanya ada." ucap Nur. Suaranya pelan, sepeti tidak mau menjawab.

"Koq katanya?"

"Aku belum pernah melihatnya langsung, Wid. Aku cuma dikasih tau temanku sebelum keluar dari pondok, katanya wujudnya menyerupai nenekku."

Setelah mendengar itu, Widya hanya mendengarkan Nur bercerita tentang pengalamanya selama mondok. Pikirannya bercabang.


(10)

23 Hari berlalu. Setiap hari, perasaan Widya semakin tidak enak. Di mulai dari warga yang membantu prokernya mulai tidak datang satu persatu. Kabarnya mereka jatuh sakit. Anehnya, itu hanya terjadi di proker kelompok mereka, yang berurusan dengan Sinden.

Pernah suatu hari Widya pernah diberitahu warga bahwa Sinden ini ada yang jaga.

Katanya Sinden ini dulu sering di gunakan untuk mandi oleh dia. Dia yang di bicarakan ini tidak pernah disebutkan oleh warga. Namun yang mencurigakan dari kasus ini adalah nama Sinden ini, yaitu Sinden kembar.

Sinden kembar. Widya selalu mengulangi kalimat itu. Membuatnya semakin pensaran.

Adapun alasan kenapa pak Prabu memasukkan Sinden menjadi proker adalah agar air sungai dapat dialirkan ke Sinden ini sehingga warga tidak perlu lagi jauh-jauh mengambil air ke sungai yang tanahnya terjal. Namun, sepertinya memang ada yang ganjil.

Malam itu, Ayu mengumpulkan semua anak. Membahas perihal masalah yang mereka hadapi, mengenai hampir setengah warga yang membantu proker mereka tidak mau melanjutkan pekerjaanya. Alasanya bermacam-macam, sibuk berkebun sampai badanya sakit semua. Dari semua anak yang punya usul, hanya Bima yang tidak seantusias yang lain.

Di malam itu juga, Widya ingat yang di katakan Wahyu. Setiap malam Bima pergi keluar rumah. Entah apa yang dilakukanya.

Widya, sengaja begadang hanya untuk memastikan, dan ternyata benar, malam itu Bima pergi keluar rumah. Widya masuk ke kamar Bima. Disana ada Wahyu dan Anton. Widya pun membangunkan Wahyu. Meski enggan, Widya terus memaksanya. Setelah Wahyu benar-benar terjaga, Widya memberitahu kalau Bima baru saja keluar.

Wahyu hanya menatap Widya keheranan,

"Aku kan udah pernah bilang!"

"Lha iya, makanya ayo kita ikuti pergi kemana anak itu."

"Buat apa? Palingan dia ke rumah prabu, memperbaiki tong sampahnya yang dari bambu."

"Ya udah, terserah," Widya melengos kesal.

Widya keluar dari kamar itu, kemudian ia pergi menyusul Bima. Sendirian.

Setahunya, Bima adalah cowok yang religius, sama seperti Nur, karena mereka pernah satu pesantren. Namun kata-kata Anton mengganggu pikirannya. Menurut pengakuannya, dia sering memergoki Bima sedang bermasturbasi. Masalahnya adalah saat Bima melakukan itu, sering terdengar suara perempuan. Awalnya dia berpikir itu suara Ayu atau Widya, tapi setiap kali dia menunggu ternyata tidak ada siapa-siapa di dalam kamar.

Cerita Anton membuat pandangan Widya berubah terhadap Bima. Saat itu juga, ia melihat Bima berjalan jauh ke timur, menuju sebuah tempat yang seringkali membuat Widya merinding tiap memandangnya.

TIPAK TALAS.

Widya melihat Tipak Talas seperti sebuah lorong panjang yang dindingnya adalah pepohonan besar dengan akar di sana-sini. Medan tanahnya menanjak. Di depan Tipak talas ada gapura kecil lengkap dengan kain merah dan hitam di sekelilingnya.

Pak Prabu pernah bercerita, kain hitam adalah sebuah penanda seperti di pemakaman. Namun Widya tau kebenarannya dari warga yang bercerita, bahwa hitam yang di maksud adalah simbol alam lain.
Hitam bukan untuk yang hidup melainkan tanda bagi mereka yang sudah mati. Konon dari seluruh tempat yang diberi penanda sebuah kain di desa ini, hanya gapura ini yang di beri kain warna merah, apalagi kalau bukan simbol petaka.

Widya mulai melangkah naik, kakinya tidak berhenti mencari pijakan antara akar dan batu sembari tanganya mencari sesuatu yang bisa menahan berat tubuhnya.

Malam sangat dingin. Hanya kabut di tengah kegelapan yang bisa Widya lihat. Butuh perjuangan keras untuk sampai di puncak Tipak talas. Dari sana Widya hanya melihat satu jalan setapak, kelihatanya tidak terlalu curam namun rupanya akan butuh perjuangan ekstra juga. Widya bisa merasakanya. Perasaan yang tidak enak dari tempat ini semakin kentara.

Jalan setapak itu tidak terlalu besar. Di kanan-kiri ditumbuhi rumput dan tumbuhan yang tingginya hampir sebahu Widya. Sangat mudah mengikuti Bima, karena hanya tinggal mengikuti jalan setapak itu. Tanahnya keras, dan lembab. Semakin lama semakin dingin dan sudah beberapa kali Widya berhenti untuk menghela nafas panjang.

Jalanan itu rasanya sepeti tidak berujung. Namun jika ia kembali maka ia tidak akan tau apa yang dikerjakan Bima disini. Saat itulah dia mendengar suara yang familiar baginya. Gending. Nada yang dimainkan adalah kidung yang Widya dengar saat ia berada di bilik mandi bersama Nur, sedangkan alunan gamelan yang dimainkan adalah alunan yang sama saat Widya mencuri pandang pada penari yang menari di malam dia bersama Wahyu.

Bukanya lari, Widya semakin menjadi-jadi. Semakin lama ia berjalan suaranya semakin jelas dan terdengar disana semakin ramai. Widya tau dia tidak sendirian. Namun ternyata yang Widya temui adalah ujung Tipak talas yaitu sebuah tumbuhan yang di tanam tepat di jalan setapak.

Tumbuhan itu adalah beluntas.

Tumbuhanya kecil tapi rimbun. Tidak mungkin bisa dilewati kecuali dia membawa parang dan membabatnya. Disinilah hal aneh lain terjadi. Wangi tumbuhan beluntas harusnya langu, namun yang ini beraroma wangi seperti melati. Seperti tanpa sadar Widya terus berjalan menembus tumbuhan itu sambil mengunyah daunnya. Dia baru tersadar ketika tenggorokannya terasa sakit karena tersayat batang beluntas yang tajam.

Di balik tumbuhan itu Widya melihat jalan menurun. Pantas saja, ia hanya bisa melihat ujung jalan setapak berhenti disini. Di bawahnya, dia melihat sanggar yang diceritakan Ayu dulu dan sanggarnya benar-benar berantakan. Ada 4 pilar kayu jati yang dipangkas segi empat memanjang ke atas dengan atap mengerucut. Dari jauh terlihat seperti bangunan balai desa namun lebih besar dengan lantai panggung.

Dari sana suara gamelan terdengar jelas sekali seolah sumber suara gamelan itu ada di bangunan ini.
Saat Widya mendekatinya, ia merasa kehadiranya tidak sendirian. Ramai. Seperti tempat ini penuh sesak. Namun tidak ada siapapun disana, hanya dia sendiri yang berjalan mendekati.

Tepat ketika Widya menginjak anak tangga pertama, suara gamelan berhenti. Sunyi senyap dan hening sekali. Widya merasa kehadiranya seperti tidak diterima disini. Namun Widya memaksa untuk tetap melihat, dan saat itu, Widya mendengar seseorang menangis. Suaranya familiar, seperti suara orang yang ia kenal.

Ayu.

Seperti menangkap angin, ada suara tangisanya namun tak ada wujud dimanapun. Widya mencoba mencari tetapi tempat sesunyi dan sesepi itu masih terasa ramai bagi Widya. Rasanya seperti ia ditatap dari berbagai sudut.

Widya melihat dari jauh, di bawah sanggar, ada sebuah gubuk berpintu. Widya mendekatinya namun enggan membukanya. Ia mengelilingi gubuk itu. Saat itu dari dalam gubuk terdengarlah suara Bima diikuti suara perempuan mendesah, sangat jelas. Namun Widya tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana.

Leher Widya perlahan terasa semakin berat. Saat Widya masih bersusah payah mencari cara untuk melihat, Widya berhasil menemukan beberapa celah kecil untuk mengintip. Dari tempatnya mengintip Widya menyaksikanya langsung Bima sedang berendam di Sinden (kolam) dan disekitarnya ia di kelilingi banyak sekali ular besar. Melihat itu Widya terkejut. Apalagi disaat bersamaan Bima menatap lurus ke tempat Widya mengintip. Semua ularnya sama. Seperti yang Widya rasakan, mereka tahu ada tamu tak di undang.

Melihat hal itu, tanpa menunggu lama lagi Widya segera berbalik dan berlari pergi.

Saat itulah suara tabuhan gong diikuti suara kendang terdengar lagi. Suara gamelan terdengar keras, lengkap dengan suara tertawa yang bersahut-sahutan. Kini Widya melihat Sanggar kosong itu dipenuhi semua yang tidak Widya lihat saat tiba di tempat ini. Dari ujung ke ujung penuh sesak. Banyak sekali yang dilihat Widya. Mahluk dengan mata melotot, dari yang wajahnya separuh sampai yang tidak berwajah. Ada yang pendek adapula yang bertubuh setinggi pohon beringin. Mereka memenuhi Sanggar dan sekitarnya. Widya mulai menangis. Suara yang nyaris memenuhi telinga Widya dan hampir membuatnya gila itu tiba-tiba berhenti.

Ketia dia mengangkat wajahnya, dilihatnya ada yang sedang menari didepannya. Tarianya membuat hampir semua yang ada disana mengalihkan pandangannya.
 
Widya sekarang bisa melihatnya dengan jelas, yang menari itu Ayu.

Matanya sembab, seperti sudah menangis lama. Tapi gelagat ekspresi wajahnya seperti menyuruh Widya untuk lari, segera pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa tahu apa yang terjadi, Widya langsung berlari melewati kerumunan yang sedang menyaksikan Ayu menari di sanggar.

Widya memanjat tempat itu, menangis sejadi-jadinya.

Sampai di jalan setapak Widya mendengar anjing menggonggong. Tidak beberapa lama seekor anjing hitam keluar dari semak belukar. Setelah melihat Widya, anjing itu berlari. Widya segera mengikuti anjing itu.

Akhirnya Widya berhasil keluar dari jalan setapak itu. Dilihatnya langit sudah berubah jingga, subuh pikirnya. Tapi rupanya ia salah.

Seorang warga desa kaget bukan main ketika melihat Widya, dia langsung lari sambil berteriak memanggil warga kampung.

"Widya disini! Anaknya sudah kembali!"

Bingung. Hampir semua warga berhamburan memeluk Widya.

"Kesini nak, kesini. Kamu yang sabar ya, kamu harus siap sama berita yang nanti kamu dengar." seorang ibu memeluk Widya, dimatanya ia seperti menahan nangis.

Widya hanya gaguk, diam tak mengerti.

Si ibu menggandeng Widya. Ia sendiri masih diam, seperti orang linglung. Di jalan ramai warga desa yang mengikuti, Widya mencuri dengar dari mereka yang bicara di belakang.

"Sudah di cari sampai ujung hutan D. Nggak taunya baru ketemu maghrib anak ini, aku sudah mikir buruk."

Sehari semalam Widya menghilang.

Ketika Widya melihat rumah penginapan mereka, dia melihat banyak sekali orang berkumpul disana. Saat mata mereka melihat Widya, semuanya hampir tercengang tidak habis pikir. Seperti melihat hantu. Dari dalam pak Prabu keluar. Wajahnya mengeras melihat Widya.

"Dari mana kamu, nak?"

Widya tidak menjawab apa yang pak Prabu tanyakan. Si ibu menenangkan pak Prabu sembari menggiring Widya masuk ke rumah. Dari dalam terdengar Nur menjerit, menangis seperti kesetanan.
Saat Widya masuk dilihatnya ruangan itu dipenuhi orang yang duduk bersila. Mereka mengelilingi 2 orang yang terbujur. Tubuhnya ditutup selendang, di ikat dengan tali putih menyerupai kafan. Wahyu dan Anto menatap kaget saat Widya masuk.

"Dari mana kamu, Wid?" ucap Nur yang langsung memeluk Widya.

"Ada apa ini Nur?"

Nur menutup mulutnya, tidak tau harus memulai dari mana, sampai Wahyu berdiri.

"Ayu, Wid... Nur lihat Ayu, tiba-tiba terbujur kaku. Matanya tidak bisa ditutup."

Widya mendekati Ayu. Matanya terbelalak memandang kosong ke langit-langit rumah. Disampingnya ada Bima. Ia terus menerus menendang-nendang dalam posisi terikat itu, seperti seseorang yang terserang epilepsi. Mereka berdua terbaring tidak berdaya, 

Sontak Widya ikut menjerit sebelum kemudian ada yg menenangkan.

Mbah Buyut muncul dari pawon. Ia melihat Widya kemudian memanggilnya.

"Sini, nak. Mbah baru saja selesai membuat kopi."

Mbah Buyut duduk di kursi kayu yang ada di pawon. Ia melihat Widya lama sekali, kemudian berkata.

"Temanmu sudah kelewatan."

"Gimana, mbah?" sejauh ini Widya masih belum mengerti.

"Bagaimana rasanya dikelilingi makhluk halus satu hutan?"

Mbah Buyut masih mengaduk kopinya, memandang Widya yang tampak mulai kembali kesadaranya.

"Nih, diminum dulu."

Widya menyesap kopi dari mbah Buyut. Rasa pahit yang monohok membuat tenggorokan Widya seperti di cekik, membuat Widya memuntahkanya. Begitu banyak muntahan air liur Widya yang keluar. Mbah Buyut tampak mengangguk, seperti memastikan.

"Temanmu sudah melakukan pantangan yang tidak bisa di terima manusia. Apalagi bangsa halus." kata mbah Buyut sembari menggelengkan kepala.

"Paham, nak?"

Widya mengangguk.

"Sinden yang kamu kerjakan, itu kembar. Satu di dekat sungai, satu yang kemarin malam kamu datangi. Tahu kegunaan Sinden?"

"Nggak tau, mbah."

"Sinden itu tempat mandinya para penari sebelum tampil. Nah, sinden yang di dekat sungai tidak apa-apa di kerjakan. Tapi sinden yang satunya, tidak boleh didatangi. Apalagi ini dipakai kawin."

"Kamu tahu siapa yang ada di Sinden itu." Mbah Buyut kembali bertanya.

Widya diam lama, sebelum mengatakanya.

"Ular, mbah."

"Betul." "Yang kamu lihat itu, adalah anaknya Bima sama..."

"Ular itu mbah?" Widya terkejut.

Mbah Buyut mengangguk

"Hal itu, mbah yang kecolongan. Widya cuma dijadikan pengalih perhatian, biar mbah mengawasi kamu. Tapi mbah salah, dari awal yang di incar sama..."

Mbah Buyut diam lama, seperti tidak mau menyebut nama makhluk itu.

"Lalu gimana, mbah. Apa Ayu sama Bima bisa kembali?" tanya Widya.

"Bisa... Bisa." kata mbah Buyut.

"Sampai balanya (bencana) diangkat."

"Balanya diangkat, mbah?" Widya mengulang kata-kata mbah Buyut.

"Bima sama Ayu sudah kelewatan. Sekarang dia harus menanggung apa yang dia perbuat. Ayu sekarang harus menari mengelilingi hutan ini. Tampil. Menari di setiap jengkal tanah ini."

"Bima, mbah?"

"Bima, ya harus mengawini yang punya Sinden."

"Badarawuhi, mbah?" Perkataan Widya membuat mbah Buyut kaget.

"Oh, begitu. Jadi kamu sudah tau namanya."

"Badarawuhi itu salah satu yang menjaga wilayah ini. Tugasnya ya menari, jadi bangsa lelembut suka melihat tarian dari Badarawuhi. Sekarang, Ayu harus menggantikanya. Sedangkan Bima harus mengawini Badarawuhi. Anaknya itu berwujud ular. Sekali melahirkan, bisa lahir ribuan ular."

"Salah temanmu sendiri, jadi sekarang mereka harus tanggung jawab. Badarawuhi itu ratunya ular. Bangsa lelembut yang kutukannya sudah tak terbendung. Tidak bisa ditolak apalagi sampai dibuang. Besok pagi, biar tak coba ngomong baik-baik. Takutnya temanmu tidak bisa kembali hidup-hidup."

Mbah Buyut pergi.

Nur, Wahyu dan Anton melihat Widya sendirian di pawon. Duduk sembari termenung.

"Goblok! Bima sama Ayu anj-ng! Kebanyakan ngent-t!"

Kalimat itu yang mereka semua pikirkan malam itu. Meski yang diucapkan Wahyu itu kasar, namun tidak ada yang keberatan dengan semua itu.



(Epilog)

Awalnya Nur meminta agar masalah ini jangan sampai keluar, namun hilangnya Widya akhirnya membuat pak Prabu menyerah dan memilih untuk melaporkan kejadian ini ke pihak kampus.

Rombongan dari pihak kampus pun datang menjemput. Mereka terdiri dari pihak keluarga dan panitia KKN. Mereka dijemput paksa, KKN mereka dicoret. Proses penjemputan sendiri tidak semudah yang dikira. Pihak keluarga Bima dan Ayu marah besar. Mereka tidak terima anaknya menjadi seperti itu. Bahkan mereka sempat menuntut pihak kampus dan hampir membawa kasus ini ke media nasional.

Widya dan Nur juga sempat memohon agar mereka mengizinkan Bima dan Ayu untuk tetap ditinggal disini sesuai dengan perkataan Mbah Buyut dimana balaknya bisa diambil sewaktu-waktu. Namun pihak keluarga menolak dan mereka tetap membawa Bima dan Ayu pulang.

Lantas bagaimanakah akhir dari semua itu?

Ayu hanya bisa tidur dengan mata terbuka terus menerus. Ibunya pernah bercerita pada Widya bahwa kadang ia melihat mata Ayu meneteskan air mata. Tapi setiap kali ditanya, dia hanya diam tak menjawab. Ayu akhirnya meninggal setelah 3 bulan di rawat. 

Nasib Bima sendiri tak jauh berbeda. Malam sebelum dia meninggal keluarganya mendengar Bima bertertiak minta tolong. Ketika mereka bertanya kenapa dia meminta tolong, Bima cuma berteriak "Ular!" berkali-kali. Ia meninggal lebih dulu dari Ayu.

Awalnya orang tuanya masih mau memperpanjang masalah ini dengan pihak kampus, tapi akhirnya di cabut dengan catatan KKN tidak lagi di adakan di timur jawa lagi. Sejak saat itu kampus ini hanya memperbolehkan KKN ke arah barat saja. Tidak lagi ke timur, apalagi desa yang jauh...

Catatan penulis :

Hal lainnya juga adalah untuk peserta KKN nya, sebenarnya mereka berjumlah 14 orang. Penulis sengaja merubahnya menjadi 6 orang untuk mempersingkat cerita dan hanya diambil yang berkaitan satu sama lain.

Akhir kata, banyak hikmah yang kita petik dari cerita ini. Bahwa siapapun kita, apapun kepercayaan kita, dimanapun kita berada harus tetap menjunjung tinggi etika kesopanan dan menghormati serta mentaati adat istiadat yang ada di tempat tersebut. Salam.







(End)

Posted by
Ikkok Dcock

More

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger