Aku sudah muak berada di tempat sempit ini. Sebuah penjara yang telah merenggut hak kebebasan hidupku. Mereka sudah lama memenjarakanku atas kejahatan yang tak pernah kulakukan. Lucunya lagi banyak orang yang tahu tapi menutup mata. Otak cerdasku menolak menerima ketidakadilan ini. Segera ku susun rencana setelah aku menemukan ide untuk kabur dari penjara terkutuk ini. Ide yang cukup bodoh dan beresiko.
Aku akan berpura-pura mati.
Kudengar suara langkah kaki. Itu dia, si penjaga. Aku bisa mengenalinya dari langkah kakinya yang berat. Aku segera mengambil posisi telentang, diam membujur kaku. Ku tahan nafasku untuk menguatkan aktingku. Ketika si penjaga masuk dan menyadari ada yang salah denganku, dia dengan cepat menghampiriku. Aku mendengarnya berbicara sendiri dengan nada panik ketika dia mencoba mengguncangkan tubuhku.
Aha! Dia menyerah. Aku berhasil membuat dia percaya kalau aku sudah mati.
Tubuhku segera dibopongnya keluar dari penjara. Aku bisa merasakan udara segar kebebasan semakin dekat. Cukup lama si penjaga membopong tubuhku, sampai aku sudah hampir tak sanggup menahan nafas. Akhirnya dia sampai di pinggiran sebuah sungai berair deras. Sepertinya dia bermaksud membuang mayatku dengan menghanyutkan tubuhku ke sungai untuk menghilangkan jejak. Setelah sejenak memandang sekeliling diapun melemparkan tubuhku begitu saja ke dalam air sungai yang keruh. Rencanaku sukses besar! Namun aku tak boleh gegabah. Aku harus tetap berpura-pura mati setidaknya sampai akhirnya dia berbalik dan pergi meninggalkan tempat ini
Memang tidak ada yang lebih berharga daripada sebuah kebebasan. Itulah yang kurasakan. Sambil memikirkan langkah apa yang akan kuambil selanjutnya, aku tidak segera beranjak pergi. Aku ingin menikmati kebebasan yang baru saja kudapat. Setelah cukup lama berdiam diri mataku segera memandang sekeliling untuk mencari jalan yang bisa kutempuh dengan aman. Namun belum sempat aku menemukannya tiba-tiba sesuatu menyergap tubuhku, menenggelamkanku lalu dengan cepat menyeretku ke daratan tanpa sempat aku melakukan perlawanan.
Otak cerdasku kali ini menyerah. Orang yang menangkapku sudah menyiapkan sesuatu yang lebih buruk daripada sebuah penjara. Disana, di dekat pojok rumahnya, sebuah penggorengan panas sudah menungguku.
(End)
