Tidur

"Hoooaaaaammm!"

Merlin menguap panjang sambil menggeliatkan badannya yang terasa kaku. Matanya masih terasa berat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggantung di pelupuk matanya. Tubuhnya masih terasa lelah usai menghabiskan malamnya merayakan pesta sweetseventeen-nya.

Gadis yang duduk di kelas 2 SMA Swasta di salah satu kota Garut tersebut merupakan anak semata wayang di keluarga tersebut sehingga orang tuanya sangat memanjakannya. Tak heran pesta ulang tahunnya sangat meriah dan dilakukan sampai lewat tengah malam.

Sekali lagi Merlin menggeliat sebelum kemudian duduk bersandar pada tembok. Tangannya menjuntai dan ujung jemarinya menyentuh lantai keramik yang dingin. Seperti obat mujarab, seketika rasa kantuknya menghilang. Kedua matanya terbuka memandangi lantai, kemudian beralih ke jendela kaca. Sejenak dia memandangi cahaya mentari pagi yang menembus ke dalam melewati kaca, membentuk bias sinar yang indah. Di luar sana sepasang burung kecil berkejaran di ranting pohon jambu yang berdiri di pinggiran sungai kecil di balik pagar rumahnya. Pandangannya kembali pada keramik lantai tempatnya duduk.

Keningnya berkerut.

"Lho?" Merlin berseru pendek.

Kepalanya celingukan kesana kemari seperti orang yang sedang mencari sesuatu.

"Kenapa aku tidur di luar kamar?"

Memang benar saat itu dia terbangun dengan posisi duduk bersandar di tembok di depan pintu kamarnya.

"Seingatku semalam aku berbaring di tempat tidur. Sejak kapan aku punya penyakit sleepwalking?"

Merlin mencoba mengingat apa saja yang terjadi semalam. Namun dia sangat yakin semalam setelah berpamitan pada ibunya yang sedang merapikan kado, dia pergi ke kamar dan langsung berbaring. Setelah itu dia tak ingat apapun lagi. Sejenak kepalanya menoleh ke dalam kamar, nampak selimutnya terlipat rapi di atas tempat tidurnya.

"Memangnya aku mabuk apa sampai nggak sadar tidur dimana. Tapi kalau memang aku tidur di kasur kenapa juga selimutnya masih rapi?" Merlin memijit keningnya sambil kembali mencoba mengingat yang terjadi semalam.

"Sayang! Kamu sudah bangun?" Suara seorang wanita dari lantai bawah menyadarkan Merlin dari lamunannya.

"Ya, bu." Jawab Merlin. Dengan sedikit bermalasan dia segera bangkit dan turun  menemui ibunya.

"Gitu donk. Walaupun ini hari minggu tapi nggak ada salahnya bangun pagi." Ujar ibunya ketika melihat Merlin berjalan menuruni anak tangga.

Di rumah itu mereka hanya tinggal berdua karena orang tuanya berpisah saat dia masih kecil. Ibunya sendiri bekerja mengurusi sebuah toko kelontong milik keluarga. Usai mencuci mukanya Merlin segera mengambil sarapan yang sudah disiapkan ibunya sedari tadi. Segelas susu hangat berhasil membuat Merlin melupakan apa yang terjadi pagi itu.

**

"Sayang, aku ngantuk. Udah dulu ya." Merlin menguap untuk kesekian kalinya. Matanya melirik pada jarum jam yang menunjukkan pukul 10 malam.

"Tapi aku masih kangen kamu. Sepuluh menit lagi aja." Terdengar suara seorang lelaki dari telepon genggam Merlin.

"Besok kan ketemu lagi di sekolah sayang. Kalau aku tidur terlalu malam nanti jerawatan. Memangnya kamu mau punya pacar jelek jerawatan?" Merlin merajuk.

Digosoknya matanya yang semakin sayu.

"Humm... Yaudah deh, kalau gitu met bobo ya sayang. Good Night. Love you. Sampai ketemu besok." Lelaki di telepon akhirnya mengalah.

"Nite, sayang. Love you too." Merlin segera menutup telepon.

Tak menunggu lama matanya segera menutup dan dia pun tertidur.

Cahaya matahari terasa panas membakar kulit. Merlin yang saat itu baru saja pulang sekolah berjalan menepi menuju sebuah pohon yang rindang. Dibawah sana angin terasa sangat sejuk.

Selagi menikmati segarnya angin yang berhembus pandangannya membentur seekor anak kucing yang berdiri di pinggir trotoar. Kedua mata bulatnya nampak memandangi Merlin. Namun tidak lama kemudian dengan tertatih dia berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Ketika diperhatikan lagi nampak kaki kanan sebelah depannya terluka dan berdarah. Karena merasa iba, Merlin beranjak dari tempatnya berdiri bermaksud menghampiri anak kucing tersebut. Namun tiba-tiba tanah yang dipijaknya terasa berguncang. Dengan cepat cuaca berubah menjadi gelap. Angin yang bertiup lembut kini terasa berhembus kencang.

Blaarr!

Sebuah ledakan melemparkan tubuh Merlin. Ketika dilihatnya ke belakang pucatlah wajahnya. Pohon tempatnya berteduh kini hancur terbelah dua setelah tersambar petir. Selagi berusaha melawan rasa paniknya, sebuah retakan besar menguak tepat di tanah tempatnya berdiri. Merlin berusaha  melompat mundur namun retakan yang membesar dengan cepat tak bisa dihindarinya. Tak ayal tubuhnya langsung terperosok dan jatuh berguling-guling.
"Merlin. Sayang. Hey! Merlin!"

Seseorang mengguncangkan tubuhnya. Merlin terbangun dan hampir melompat dari tidurnya. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Di hadapannya duduk ibunya memandanginya dengan penuh khawatir. 

"Kamu mimpi buruk?" Tanya ibunya sambil menyeka keringat di pelipis anaknya itu.

Merlin hanya menganguk pelan. Tangannya mengusap rambutnya yang lengket dan berantakan.

"Lagian kenapa kamu malah tidur disini? Selain kamu bisa digigit nyamuk, disini kan dingin." Ucapan ibunya membuat Merlin langsung mendongak menatap ibunya keheranan.

Pandangannya kemudian beredar ke sekeliling ruangan yang kemudian membuatnya keningnya mengernyit. Baru disadarinya jika saat itu dia berada di ruang tamu dan tidur di kursi sofa, bukannya berada di kamarnya sendiri.

"Tadi ibu mau ngambil air wudhu, nggak sengaja lihat kamu tidur disini. Kenapa kamu nggak tidur di kamar?" Tanya ibunya.

"Wudhu? Shalat apa bu?" Bukannya segera menjawab pertanyaan ibunya Merlin malah balik bertanya.

"Shalat subuh, sayang. Sekarang jam setengah lima pagi. Shalat berjamaah, yuk?" Ajak ibunya sambil berdiri.

"Aku shalat sendiri aja, bu. Sekarang aku mau ke kamar dulu." Ujar Merlin sambil bangkit dan pergi menuju kamarnya di lantai atas. Ibunya hanya bisa memandanginya sambil menggelengkan kepala.

Hingga mentari pagi menampakkan diri, Merlin tak bisa lagi memejamkan mata. Pikirannya disibukkan dengan seribu pertanyaan mengenai hubungan antara mimpi aneh yang dialaminya, yang terasa dejavu baginya, dengan kali keduanya dia berpindah tempat tidur. Dia merasa ada sesuatu yang janggal dan dia yakin hal itu bukanlah suatu kebetulan. 


**

"Bu, nanti aku tidur sama ibu ya." Merlin memeluk ibunya.

"Koq tumben anak gadis ibu ini manja. Katanya udah gede, udah dewasa. Masa tidurnya masih dikelonin." Ibunya menggoda. Merlin cemberut membuat ibunya tertawa kecil.

Jarum jam beranjak meninggalkan angka satu di jam dinding kamar ibunya. Merlin masih belum bisa memejamkan matanya. Sementara ibunya sejak tiga jam yang lalu sudah tertidur pulas di sebelahnya. Rasa tak tenang tetap menghantui pikirannya. Ketakutan atas apa yang akan terjadi esok hari saat dia terbangun dari tidurnya. Merlin segera memeluk tubuh ibunya. Ditariknya selimut sehingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ibunya yang terbangun segera memeluk anak semata wayangnya. Pelukan ibunya sedikit menghilangkan kecemasan hati Merlin sehingga tanpa disadari perlahan kantuk datang dan diapun tertidur pulas.

"Ihh, ibu. Jangan dulu dibuka tirai jendelanya. Silau tau. Merlin masih ngantuk". Merlin menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.

Namun setelah menyadari ibunya sudah tak ada di kamar dengan enggan dia bangun dari tempat tidurnya. Matanya menyipit melihat cahaya mentari pagi yang menyilaukan. Dengan bermalasan dia turun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar ketika tiba-tiba didengarnya suara keras bergemuruh dari luar rumah. Ketika Merlin melihat ke luar jendela terkejutlah dia. Di kejauhan nampak air bah yang besar bergulung dengan cepat menuju ke arahnya. Menelan rumah-rumah dan segala sesuatu yang dilewatinya. Dengan lutut gemetar Merlin bergegas lari keluar dari kamar dan mendapati ibunya tengah duduk di kursi ruang tamu sembari membaca sebuah majalah.

"Bu... Ibu! Ayo kita lari, bu! Aa.. Ada air bah menuju kemari!" Ujar Merlin terbata-bata.

Ibunya hanya tersenyum tenang. Mulutnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu namun Merlin tak sempat mendengarnya karena disaat yang bersamaan air bah menerjang rumah, menghancurkan jendela kaca dan dinding lalu menghempaskan tubuh Merlin serta ibunya!

Air bah menghanyutkan tubuh Merlin kesana kemari. Tangan kecilnya berusaha menggapai. Sementara dia mencoba mengambil nafas, matanya tak mampu menemukan ibunya. Air terus menyeret tubuhnya, kadang menenggelamkan tubuhnya. Merlin berusaha menjaga agar kepalanya tetap berada di atas air ketika sebatang pohon tumbang yang mengambang menghantam kepalanya dengan keras.

Gelap.

Udara dingin menusuk kulit membangunkan Merlin. Tubuhnya terasa beku dan kaku ketika ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Jelas saja, sekujur tubuhnya saat itu basah kuyup akibat setengah badannya terendam dalam air sungai.

"Sungai?"

Merlin terbelalak. Sontak dia memalingkan kepalanya ke arah pinggiran atas sungai dimana rumahnya berada. Disana, dilihatnya rumahnya masih berdiri utuh. Pandangannya melihat ke sekeliling, semua masih sama seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda kerusakan apapun.

"Jadi, lagi-lagi aku bermimpi?"

Merlin termenung sesaat sebelum kemudian mencoba bangkit berdiri. Saat itu baru disadarinya jika leher belakangnya terasa berdenyut sakit. Merlin benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi. Mimpi semalam terasa sangat nyata. Namun kenyataannya semuanya masih baik-baik saja. Apakah penyakit sleepwalking ini semakin parah?, batin Merlin. Tanpa disadari air mata menggenang di sudut matanya. Sambil menahan isak tangis dia mencoba merangkak naik ke pinggiran sungai.

"Ya Allah, sayang! Apa yang terjadi sama kamu?"

Sebuah suara terdengar dari atas pinggiran sungai. Merlin menengadah. Dilihatnya ibunya setengah berlari menghampirinya, langsung merangkul anak semata wayangnya itu. Tangis Merlin pun pecah di pelukan ibunya.

Hangat pelukan ibunya berhasil menenangkan Merlin. Namun disaat yang sama dia tahu bahwa mimpi-mimpi buruk itu akan terus menghantuinya untuk waktu yang lama. Dia ingin mengatakan hal itu pada ibunya, namun urung dilakukannya dan hanya memeluk ibunya semakin erat.


**


"Bagaimana, dok. Apakah ada perkembangan signifikan?"

"Maaf, bu. Sejauh ini belum ada perubahan berarti. Namun bisa saya pastikan kondisinya tetap stabil. Tetaplah berdoa di sebelahnya, bu. Saya pamit dulu."

Dokter itu pergi meninggalkan si ibu yang terduduk lesu. Matanya yang terlihat selalu sembab memandang nanar pada sosok gadis yang terbaring di tempat tidur. Dengan tangan kurusnya diusapnya pipi gadis tersebut dengan penuh kasih sayang.

Sudah berbulan-bulan lamanya dia tertidur seperti itu. Semuanya berawal dari kecelakaan yang terjadi saat dia pulang sekolah bersama teman prianya. Sepeda motor mereka kendarai diketahui kehilangan kendali dan menabrak trotoar jalan hingga terpental dan menabrak sebuah pohon besar. Teman prianya meninggal di tempat sedangkan dia berhasil bertahan namun dengan kondisi seperti sekarang.

Si ibu tersadar dari lamunannya ketika dilihatnya ujung jemari anaknya sedikit bergerak. Kelopak matanya bergerak seperti hendak tersadar. Namun ia tahu itu tidak akan terjadi. Sambil menyeka air matanya yang tak terasa membasahi pipinya, dia mengambil kitab suci Al-Quran yang diletakkannya di atas meja lalu duduk disamping tubuh anaknya. Tak lama bibirnya mulai bergerak membaca salah satu ayat yang ada di dalamnya, seperti yang biasa ia lakukan selama ini.





(End)






Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger