TRUE STORY : KETEMPELAN



Mereka ada

Bahkan mereka mungkin menjalani kehidupan layaknya kita

Bisa saja kita saling bergesekan

Hanya saja tak saling menemukan



Semua ini terjadi pada Agustus, 2022.


Aku dan istriku merantau ke pulau B dan kebetulan kami sama-sama bekerja di toko handphone, hanya saja berbeda tempat namun masih berdekatan karena masih dimiliki oleh owner yang sama. Aku bekerja sebagai frontliner sedangkan istriku seorang promotor sebuah brand handphone. Aku bekerja di pulau B yang dikenal orang sebagai pulau yang kental dengan budaya dan mistis lebih dari 8 tahun, namun selama itu pula belum pernah sekalipun aku menemukan atau mengalami kejadian mistis sebelum kemudian hari itu tiba.


Hari itu aku tidak bisa masuk kerja seperti biasanya dikarenakan demam yang kurasa sejak semalam. Istriku pada waktu itu sedang hamil berusia 6 bulan, mengandung anak pertama kami. Jika hari-hari biasanya kami berangkat bersama maka hari itu terpaksa istriku berangkat bekerja menggunakan ojek online. Setiap harinya toko tutup jam 9 malam dan malam itu istriku bilang kalo dia pulang nebeng sama Mbok Y. Orang yang dimaksud adalah rekan kerjanya yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh dan jalannya melewati kost tempat tinggal kami. Malam itu berlalu tanpa ada keanehan apapun dan tanpa menyadari bahwa ternyata istriku ternyata kini tidak sedang baik-baik saja.


Keesokan harinya aku masih belum kuat bekerja maka kembali istriku berangkat dengan menggunakan ojek online karena Mbok Y berangkat kerja lebih pagi dari istriku yang mana memang memiliki jam kerja berbeda. Hari itu berlalu seperti biasanya hingga sore hari aku mendapat pesan dari istriku katanya dia mau pulang lebih awal. Semenjak hamil dia memang sering pulang lebih awal, tentunya dengan persetujuan dari owner toko yang sangat mengerti akan status kehamilan istriku. Aku hanya mengiyakan saja sambil memberi pesan agar berhati-hati sembari menyuruh agar tukang ojeknya membawa kendaraan pelan saja.


Benar saja sekitar jam 5 sore terdengar suara istriku mengucapkan salam disusul dia masuk ke dalam kamar kost. Namun alangkah terkejutnya ketika aku melihat dia datang sambil menangis sesegukan. Sambil berusaha menenangkannya aku mencoba menanyakan apa alasan dia sampai menangis seperti itu. Jawabannya cukup membingungkan. Karena menurutnya dia sendiri tidak tau kenapa dia merasa sangat sedih. Tidak ada pertengkaran dengan teman kerja atau pelanggan maupun dimarahi bosnya. Tidak juga bertengkar dengan orangtua atau akibat melihat hal-hal mengerikan di social media dan lain sebagainya. Malam itu berlalu dengan perasaan tak biasa dipikiranku.


Keesokan harinya kami bekerja lagi seperti biasa. Namun mulai saat itu hari-hari istriku mulai menjadi tak biasa. Dia sering melamun. Seringkali datang mengunjungi tokoku dengan berpura-pura mengambil barang hanya agar bisa saling menggenggam tangan untuk beberapa saat. Namun hal yang lebih aneh yang seringkali terjadi adalah setiap kali memasuki waktu Ashar (sore hari) kesedihan yang kerap dia rasakan selalu datang. Dia menjelaskannya sebagai perasaan yang menyayat hati namun tanpa sebab. Dia merasakan hatinya perih dan dadanya sakit bagaikan seseorang yang baru saja kehilangan orang terkasih atau anggota keluarganya. Untuk meredakannya dia sering memintaku untuk izin keluar berkendara tanpa tujuan hanya sekedar untuk berkeliling menemaninya. Semua perasaan itu kemudian akan hilang dengan sendirinya setiap kali waktu menjelang Maghrib (malam).


Suatu malam sepulang kerja, tiba-tiba kesedihan aneh itu menyergap pikirannya lagi. Keadaan istriku mulai mengkhawatirkan ketika tiba-tiba dia muntah-muntah. Akhirnya karena aku sendiri hampir tidak memahami apa yang terjadi, akupun memutuskan untuk segera menghubungi ibuku di kampung. 


Beliau bukan seorang paranormal atau orang pintar dan hanya seorang pensiunan guru sekolah dasar. Namun memang sudah menjadi kebiasaan kami anak-anaknya, bahkan saudara ibuku juga melakukannya, jika kami sedang merasa tidak sehat maka kami sering menghubungi ibu sekedar untuk meminta doa darinya. Lewat panggilan telepon beliau  kemudian membacakan doa dan kami menyimpan handphone di dekat segelas air untuk kemudian kami minum. Mungkin memang kemustajaban doa seorang ibu, biasanya setelah itu kami sering merasa baikan.


Setelah menceritakan apa yang terjadi, ibu menyuruhku menyiapkan sebotol air. Lalu melalui video call beliau mulai membacakan ayat-ayat suci serta beberapa doa pada botol air minum yang sudah kupersiapkan. Kemudian setelah selesai aku memberikan air tersebut pada istriku untuk diminumnya. Hatiku merasa lebih tenang setelah tidak beberapa lama kemudian tangisnya mulai mereda. Malah tidak lama kemudian istriku merasa lapar dan kamipun kemudian makan malam bersama. Waktu berlalu, istriku akhirnya tertidur. Namun malam itu entah kenapa aku sulit memejamkan mata padahal kondisi tubuhku sendiri masih belum pulih. Rasanya belum lama aku tertidur ketika kemudian aku merasa seseorang membangunkanku. Ketika mataku terbuka aku mendapati istriku kembali menangis sesegukan. Aku segera bangun dan berusaha menenangkannya sambil memberinya minum air doa sisa semalam. Butuh waktu sedikit agak lama sebelum akhirnya istriku kembali tenang dan tertidur.


Pagi datang menjelang. Rasa kantuk masih menyerangku dengan hebat. Tadinya aku hendak bersiap untuk berangkat bekerja namun istriku berkata bahwa hari itu dia tidak ingin masuk kerja dan memintaku untuk mengambil libur kerja dengan alasan dia tidak mau ditinggalkan sendiri di kost. Karena merasa khawatir dengan kondisinya akhirnya aku menghubungi bosku dan setelah mendapat persetujuannya akupun mengurungkan niatku untuk bekerja hari itu.


Kami menghabiskan hari dengan beristirahat di rumah tanpa melakukan banyak kegiatan. Semua berlalu baik-baik saja hingga sore menjelang kami memutuskan untuk keluar menikmati angin segar sembari mencari makan. Namun di tengah perjalanan secara tiba-tiba istriku kembali merasakan kesedihan yang tak bisa dijelaskannya dan kemudian kembali menangis sesegukan. Bahkan ketika kami berhenti di sebuah angkringan untuk membeli makanan ringan istriku masih saja menangis sambil berkata bahwa dia enggan untuk pulang ke kost dan ingin terus berkeliling naik motor. Akupun menuruti keinginannya sampai pada akhirnya hari mulai malam dan mau tidak mau kamipun kembali ke kost.


Sesampainya di kost keadaan istriku semakin memburuk. Dia masih terus saja menangis. Beberapa kalimat aneh yang tak biasa terlontar dari mulutnya. Awalnya dia berkata bahwa dia ingin pulang kampung. Aku hanya mengiyakan karena memang sebelumnya kami berencana akan pulang kampung agar istriku bisa melahirkan dengan ditemani keluarganya. Dia lalu berkata bahwa dia takut aku akan meninggalkannya. Itu tidak akan pernah terjadi, jawabku. Sampai kemudian kata-kata yang selanjutnya keluar dari mulutnya cukup membuatku tersentak. Dia bilang kalau dia tidak ingin melihat hari esok. Baginya hari esok itu menakutkan.


Pada waktu itu aku sedang membersihkan rendaman cucian ketika kusadari bahwa tangisan istriku semakin keras. Perasaan tak enak segera memenuhi hatiku. Kutinggalkan pekerjaanku dan mengambil handphone untuk menelpon ibuku. Panggilan pertama tak tersambung. Kucoba menghubungi kakakku yang kebetulan tinggal serumah dengan ibuku. Begitu telepon terhubung tanpa basa-basi segera kutanyakan ibuku. Katanya ibu sedang berbicara dengan pamanku di telepon dan menyuruhku menunggu dulu sampai selesai. Kututup telepon, tangis istriku semakin menjadi-jadi. Kali ini dibarengi dengan muntah-muntah seperti kemarin malam. Dengan tak sabar segera kutelpon kembali ibuku. Kali ini terhubung namun lagi-lagi kakakku yang bicara. Katanya ibu sedang shalat maghrib. Saat itu keadaan istriku sudah semakin mengkhawatirkan. Mulutnya menggeram halus. Betapa terkejutnya ketika kulihat matanya mendelik ke atas sehingga yang terlihat dari bola matanya hanya bagian putihnya saja. Disaat kepanikan melannda, tepat pada saat itu terdengar sebuah panggilan masuk video call dari ibuku.


Kuperlihatkan apa yang sedang terjadi. Ibuku sama terkejutnya. Namun dia tidak meyuruhku mengambil air minum seperti biasanya melainkan menyuruhku untuk menenangkan istriku sementara dia segera menghubungkan panggilan video call ke pamanku yang sebelumnya beliau telepon. Kebetulan pamanku yang ini adalah orang yang sering mengobati orang-orang yang mendapat gangguan atas penyakit yang sulit disembuhkan. Panggilan terhubung tepat disaat kondisi istriku semakin tidak terkendali. Dia mulai memukul-mukul dan mencakar dada sebelah kirinya. Sambil menangis dengan keras dia merengek kesakitan. Aku tak kuasa melihatnya. Dengan segala upaya aku mencoba menahan kedua tangan istriku dengan sebelah tangan sementara tanganku yang lain masih memegang handphone. Disisi lain aku merasa khawatir jika istriku melakukan tindakan yang bisa membahayakan kehamilannya. Tangannya meronta-ronta kuat ketika mendengar suara pamanku yang mulai membacakan doa-doa serta ayat suci terdengar dari loudspeaker handphone. Tangisannya semakin keras. Aku yakin tetangga sebelah kamarku sekarang sedang terdiam mendengarkan sambil menduga-duga apa yang terjadi di kamar kami. Kemudian saat itu terjadilah hal yang membuatku terkesiap dan bulu kudukku merinding ketika pamanku membaca doa semakin keras sementara tubuh istriku bergetar hebat disusul dengan jeritan tinggi yang kemudian membuat seluruh tubuhnya lemas tak berdaya. Seperti berada diambang mimpi dan realita, sambil memeluk tubuh istriku yang kini setenang bayi yang sedang tertidur, aku duduk termangu berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi bahkan hampir tidak menyadari jika panggilan video call masih terhubung dan ibu menanyakan keadaan istriku. Saat itu rasanya seolah reka ulang sebuah adegan film horor yang pernah kutonton namun kali ini aku bukan sebagai penonton melainkan aktor didalamnya.


Malam itu istriku tidur dengan nyenyak sampai pagi menjelang. Namun pagi hari ketika baru terbangun dia sempat mengeluh dadanya masih sedikit sakit dan tengkuknya terasa pegal dan berat. Hari itu kami memutuskan berangkat kerja seperti biasanya. Sesekali aku sempatkan menanyakan perkembangan keadaanya. Dia bilang kini baik-baik saja walaupun saat tengah hari dia sempat mengeluh merasa punggung sampai bagian pinggangnya terasa panas. Namun aku tak mencoba untuk membahasnya karena khawatir hal itu akan mengganggu pekerjaan dan juga membebani pikirannya. Barulah pada malam hari sepulang kerja aku menghubungi kembali pamanku untuk menceritakan perkembangan kondisi istriku. Mendengar apa yang aku sampaikan pamanku hanya mengangguk saja seperti sudah memahami apa yang terjadi. Lewat media video call pamanku kembali membacakan doa-doa sambil menyuruhku agar mengarahkan kamera ke bagian tubuh istriku yang sakit atau terasa janggal sebelumnya. Mungkin terdengar lucu namun nyatanya setelah itu istriku membaik dan tak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya. Malam itu kami habiskan dengan penuh canda tawa sampai istrikupun tertidur nyenyak tanpa terbangun oleh gangguan apapun.


Hari berlalu dan kini semuanya berjalan seperti biasanya. Suatu hari aku yang masih penasaran mencoba bertanya pada pamanku tentang apa yang sebenarnya terjadi di malam itu dan apakah pamanku melihat "sesuatu" saat mengobati istriku. Sambil tertawa dia mengiyakan. Hanya saja ketika kutanya seperti apa wujud mahluk yang menganggu istriku, dia menjawab bahwa aku sebaiknya tak perlu mengetahui detailnya karena yang jelas wujudnya sangat menyeramkan. Kemudian pamanku menjelaskan bahwa istriku ketempelan (diikuti) mahluk halus yang tertarik dengan bayi yang ada di dalam kandungan istriku. Menurut pamanku, mahluk halus menyukai keberadaan bayi dalam kandungan karena "aromanya". Tindakanku waktu itu menurutnya sudah sangat benar ketika aku memutuskan meminta bantuannya karena andai saja saat itu aku membiarkan istriku sendirian maka mahluk itu akan segera menguasai istriku yang mana jika itu sampai terjadi maka bahkan kekuatan fisikku sendirian tidak mungkin mampu menahannya. Bukan juga tidak mungkin jika istriku kemudian malah mencelakaiku.


Di hari lain ketika aku dan istriku sedang berbincang, dia menceritakan tentang rekan kerjanya yaitu Mbok Y yang setiap harinya kini sering mengalami kejadian atau berprilaku aneh. Menurut pengakuan Mbok Y sendiri, dia bercerita bahwa saat ini dia sedang kena guna-guna. Bahkan beberapa hari lalu dia mengambil libur kerja untuk melakukan pengobatan. Istriku dan teman kerjanya yang lain sering melihat Mbok Y mual-mual sampai muntah saat sedang bekerja dan juga menangis sesegukan setiap sore hari! Hal yang kemudian mengingatkanku pada apa yang telah istriku alami. Terlebih jika diingat lagi, entah kebetulan atau tidak, tapi semua kejadian itu dimulai pada hari setelah istriku pulang bareng Mbok Y. Mungkinkah itu mahluk yang sama yang mengganggu Mbok Y ataukah itu mahluk lain yang berbeda?


Wallahua'lam.





- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger