"Rayha, bayangan putih apa itu di belakangmu!" Iwan memasang wajah terkejut sambil menunjuk ke arah belakang Rayha. Sontak saja gadis itu menjerit ketakutan dan memeluk lengan Ikal yang ada disebelahnya membuat semua orang menjadi gaduh.
"Humm, kesempatan dalam kesempitan nih anak. Mentang-mentang Mody tidak ada disini mulai berani gandeng cowok lain." Iwan cekikikan.
"Ih, Iwan! Kamu iseng banget sih. Kamu juga, Ikal. Kenapa duduk disini sih, sana pindah ih." Ujar Rayha sambil melepaskan pelukan tangannya sambil mengusir Ikal agar tidak duduk di dekatnya. Wajahnya merah padam. Sedangkan Ikal hanya bisa menggaruk kepalanya kebingungan.
"Kamu juga kenapa sampai segitunya menghayati cerita hantu. Ini kan cuma seru-seruan, kalau terlalu dihayati nanti kamu susah tidur. Ujung-ujungnya Iwan juga yang diminta nganter pipis." Timpal Roy disambut gelak tawa yang lain.
Malam itu suasana di Bukit Kembar memang terlihat lebih hidup dari biasanya. Itu karena Roy bersama Revia, Mody, Rayha, Ikal dan Iwan sedang berkemah disana. Ini adalah malam pertama mereka berada disana dan menurut rencana mereka akan berkemah selama dua malam. Bukit itu terletak disebelah barat kota dan tidak terlalu jauh. Untuk bisa mencapainya bukanlah hal mudah, mereka harus berusaha ekstra karena medan menuju bukit itu terbilang cukup berat. Mereka harus melewati daerah perbukitan tempat menambang pasir sebelum memasuki daerah hutan dengan tebingnya yang cukup terjal. Namun semua rasa lelah akan terbayar setelah sampai di bukit karena di dekat sana terdapat air terjun yang masih alami dengan airnya yang terkenal sangat jernih.
Malam pertama mereka habiskan dengan membuat api unggun kecil. Sambil duduk berkeliling dan menikmati minuman hangat serta beberapa cemilan mereka memutuskan untuk bertukar cerita horor. Iwan menjadi orang yang paling bersemangat dan tentu saja Rayha yang langsung menolak usulan tersebut karena dia sangat tidak menyukai hal-hal yang berbau horor. Namun pada akhirnya ke empat temannya yang lain menyetujui usulan tersebut hingga dia pun tak bisa menolaknya.
"Sekarang giliranmu, Ikal!" Iwan menunjuk Ikal yang sedang asyik mengaduk minuman serealnya.
"Apa ya... Aku tidak tau banyak tentang cerita horor. Tapi sepertinya akan menarik jika kuceritakan sebuah sebuah mitos tentang tempat ini." Ujar Ikal sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Menarik. Lanjutkan, nak." Kata Iwan dengan gaya seorang dosen. Diseruputnya gelas susunya yang kemudian diikuti dengan suara "ah" yang menggelikan semua orang.
"Jadi begini, kenapa bukit ini dinamakan bukit kembar? Itu karena terdapat dua bukit yang memiliki bentuk dan ketinggian yang hampir sama persis yang apabila dilihat dari kejauhan terlihat seperti kembar. Konon katanya diantara kedua bukit tersebut adalah perbatasan menuju ke sebuah kerajaan ghaib. Selain itu kabarnya di air terjun dibawah sana, jika ada orang yang sedang berada disana kemudiaan terjebak oleh kabut pekat maka dirinya akan menghilang." Tutur Ikal.
"Serius itu, Kal?" Revia bertanya dengan raut serius.
"Yah, namanya juga mitos. Belum tentu kebenarannya jadi bisa benar bisa juga..." Ikal tidak meneruskan perkataannya.
Perhatiannya teralihkan dengan suasana yang terasa berubah dengan cepat. Melihat itu teman-temannya yang lain juga ikut memandang sekeliling. Walau tidak terlalu tebal namun kabut yang tiba-tiba saja muncul cukup pekat membatasi jarak pandang. Namun hal itu tak berlangsung lama karena kabut kemudian kembali menipis dan menghilang. Iwan nampak mengusap tengkuknya. Sedangkan yang lain saling berpandangan satu sama lain.
"Tak ada yang perlu ditakutkan." Suara Roy memecah kesunyian.
"Hal terpenting kita semua selalu waspada dan tetap menghormati alam. Jangan berkata atau melakukan hal-hal yang membuat alam marah." Tambahnya.
"Sudah kubilang kan jangan cerita yang horor-horor. Jadi parno deh." Rayha berkata sambil cemberut.
"Oh, iya. Kenapa Mody masih belum gabung sama kita?" Baru disadari Roy jika sejak tadi dia tidak melihat salah satu sahabatnya itu.
"Katanya nggak enak badan, dia lagi istirahat di tenda." Jawab Iwan.
"Coba kamu tengok, Ray. Siapa tau dia lapar jadi sekalian bawakan dia makanan." Ujar Roy menyuruh Rayha.
"Aku takut. Tuh, suruh Iwan saja yang kesana." Rayha menunjuk Iwan. Yang ditunjuk pura-pura tak mendengar sembari asyik memakan cemilannya.
"Kamu kan pacarnya, katanya sayang tapi dibiarkan saja." Ujar Roy lagi.
"Tapi aku takut Roy." Rayha cemberut.
"Sudah, biar aku saja yang kesana. Sekalian aku mau ke tenda mengambil lotion anti nyamuk." Revia menimpali.
Revia segera bangkit dan beranjak pergi diikuti pandangan Roy. Lama dia memandangi ke arah perginya Revia sampai Iwan memukul bahunya dan menyadarkan dia dari lamunan. Malam semakin larut dan udara mulai menusuk kulit. Satu persatu dari mereka beranjak pergi untuk beristirahat hingga akhirnya menyisakan Roy yang masih duduk memandangi nyala api unggun sembari berharap Revia yang tak kunjung kembali.
**
"Selamat pagi, ladies!" Kata Iwan sambil menyibakkan pintu masuk tenda membuat Revia dan Rayha yang masih terlelap menjadi terbangun dan terkaget-kaget.
"Iwan! Kamu ngak sopan masuk tenda cewek ih! Pergi! Pergi ih!" Rayha mengomel sambil melemparkan jaket gunungnya.
Melihat itu Iwan hanya tertawa cekikikan sambil berlari menuju teman-temannya yang sedang duduk mengelilingi perapian bekas api unggun semalam. Terlihat Mody juga ada disana. Revia dan Rayha keluar berbarengan dari dalam tenda. Sambil menggeliat malas Rayha segera bergabung bersama temannya yang lain sedangkan Revia pergi ke belakang tenda mencari air untuk mencuci mukanya. Tak lama Roy muncul sambil memberikan wadah air kecil pada kekasihnya itu tanpa berkata apapun. Malihat itu Revia tersenyum dan segera membasuh wajahnya. Dinginnya air seketika menghapus rasa kantuk yang tadi masih bergayut di pelupuk matanya.
"Makasih, Roy." Kata Revia sambil tersenyum. Roy hanya mengangguk sedikit.
"Kamu kenapa koq diam saja?" Tanya Revia begitu disadarinya jika sikap Roy sedikit berbeda.
"Oh, jangan-jangan kamu marah karena semalam aku tidak kembali ke tempat api unggun lagi? Maaf. Semalam setelah aku pergi ke tenda Mody, aku pergi ke tendaku dan mengambil lotion anti nyamuk. Setelah memakainya aku tiduran sebentar, eh malah tidur beneran. Kalau kamu tidak percaya tanya saja Rayha. Waktu dia kembali ke tenda aku sudah tidur pulas." Jelas Revia.
Roy hanya tersenyum kecil dan segera memberikan handuk kecil yang tadi dibawanya. Sejak pagi dia memang tidak terlalu banyak bicara bahkan ketika Iwan menanyakan padanya tentang rencana kegiatan mereka hari itu.
Akhirnya mereka sepakat setelah makan siang mereka akan pergi ke air terjun bersama. Sebelumnya mereka membagi pekerjaan. Ikal dan Iwan mencari kayu bakar. Rayha menyiapkan masakan dibantu Mody. Sedangkan Roy ditemani Revia akan mengambil air ke sungai dekat air terjun karena kebetulan stok air juga menipis. Namun Mody yang merasa tidak enak karena sejak semalam dia hanya berdiam diri di tenda meminta bertukar tugas dengan Revia. Roy sempat menolak dengan alasan harus ada seorang laki-laki yang tetap bersama Rayha sebab bukan hanya untuk membantunya namun juga untuk berjaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun karena Mody tetap bersikukuh memilih pergi untuk mengambil air maka akhirnya Roy yang bertukar tugas dengannya.
Menjelang siang Ikal sudah pergi terlebih dahulu bersama Iwan ke hutan di belakang lokasi berkemah. Disusul kemudian Mody dan Revia yang pergi ke air terjun di bawah bukit. Rayha segera menyiapkan beberapa bahan makanan untuk dimasaknya. Sup menurutnya adalah pilihan yang tepat. Selain mudah, sehat juga cocok untuk dimakan oleh orang banyak. Dengan cekatan dia segera menyiapkan segala keperluannya. Sambil bekerja diam-diam dia memperhatikan Roy. Sikap Roy memang sedikit berbeda pagi ini. Senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya pagi ini tak banyak terlihat.
"Roy, kamu baik-baik saja?" Rayha mencoba memberanikan diri bertanya.
"Oh, ya. Memangnya ada yang aneh denganku?" Roy balik bertanya.
"Tidak juga, hanya saja dari pagi ku perhatikan kamu tak banyak bicara. Aku khawatir kamu sakit." Jawab Rayha.
"Jadi sejak kapan kamu jadi perhatian dan khawatir keadaanku?" Tanya Roy lagi membuat wajah Rayha langsung berubah merah padam.
"A... Aku... Cuma mewakili Revia koq... Dia segan bertanya padamu langsung soalnya dia bilang kamu marah padanya." Rayha berbohong.
Roy tak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke arah Revia dan Mody pergi. Rayha segera menangkap perubahan sikap Roy. Lima belas menit berlalu sejak kepergian mereka berdua, mungkin Roy memikirkan Revia. Mengingat selama ini mereka berdua selalu pergi bersama kemanapun mereka pergi wajar saja jika Roy khawatir pada Revia, apalagi sekarang dia pergi bersama laki-laki lain. Mungkinkah Roy cemburu? Pikir Rayha. Tapi harusnya dia sendiri merasakan hal yang sama mengingat Mody adalah kekasihnya.
"Kalau kamu mau pergi, tak apa pergi saja. Aku sendirian baik-baik saja koq." Rayha berucap.
"Kenapa kamu tiba-tiba berkata begitu?" Tanya Roy heran.
"Aku bisa lihat dari sorot matamu, kamu mengkhawatirkan Revia. Dia gadis yang ceroboh. Jadi lebih baik kau susul dia. Jangan pikirkan aku, toh sebentar lagi Iwan dan Ikal pasti segera kembali." Raya berusaha meyakinkan Roy.
Setelah menimbang-nimbang sejenak akhirnya Roy mengikuti saran Rayha. Roy beranjak pergi menyusul Revia dan Mondy dengan diikuti pandangan Rayha yang tak menyadari jika kabut tipis mulai turun di tempat itu.
**
"Hati-hati, Rev. Licin. Berpeganglah pada akar yang disana itu." Ujar Mody sambil menunjuk akar-akar pepohonan besar yang menjalar di beberapa bagian tebing.
Revia hanya mengangguk mengiyakan. Jalan setapak menuju air terjun tersebut memang cukup curam dan licin. Jika tak berhati-hati dan sampai terjatuh bukan tidak mungkin mereka berdua akan mengalami cidera yang cukup parah. Walaupun jarak dari tempat mereka berkemah ke air terjun itu tidak terlalu jauh, namun Revia yang tidak terbiasa dengan jalanan yang curam tidak bisa berjalan dengan cepat sehingga membuat perjalanan terasa lambat dan memakan waktu cukup lama.
Air terjun itu memiliki tinggi hanya sekitar lima belas meter saja, namun debit airnya sangat deras. Airnya dikenal sangat jernih dan segar karena jauh dari jamahan tangan-tangan nakal manusia. Di pinggiran air terjun terdapat hamparan rumput yang cukup luas sehingga menambah keindahan tempat itu. Sesampainya disana Mody segera pergi ke tepian sungai dan mengeluarkan dua buah wadah air kecil yang dibawanya dari tempat berkemah. Sementara itu Revia yang melihat jernihnya air sungai menjadi tergoda untuk melepas kedua sepatunya dan turun ke sungai.
"Kamu mau kemana, Rev?" Tanya Mody.
Walaupun tinggi air sungai hanya sebatas lutut namun tetap saja dia mengkhawatirkan kekasih sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan, diantara teman-temannya yang lain Revia dikenal sebagai orang yang paling ceroboh.
"Air sungai ini sangat jernih dan segar. Selagi kita masih disini sayang kan kalau dilewatkan. Kalau sudah kembali lagi ke kota nanti, sulit menemukan lagi suasana yang senyaman disini." Ujar Revia sambil mengambil air dengan telapak tangannya dan membasuhkannya ke wajahnya.
Sungguh terasa sejuk dan menyegarkan. Membuat Revia sejenak melupakan bagaimana sulitnya dia mencapai tempat itu. Melihat itu Mody hanya tersenyum dan meneruskan mengisi air ke wadah yang satunya lagi.
"Kamu tau, sungai adalah salah satu hal yang selalu mengingatkan aku pada Roy." Kembali Revia berkata. Mody berhenti sejenak dan mengalihkan pandangan padanya.
"Memangnya ada cerita apa antara kamu, Roy dan sungai? Itu tak terdengar seperti cinta segitiga." Pertanyaan Mody membuat Revia tertawa.
"Ya, nggak seperti itu lah. Jadi dulu sewaktu kecil aku pernah berenang di sungai tapi cukup dalam. Mungkin karena terlalu lama di dalam air, kakiku kram dan aku hampir tenggelam. Roy adalah orang yang menyelamatkanku saat itu. Walaupun akhirnya handphone kesayangannya jadi korban." Kenang Revia sambil tersenyum.
"Jadi seperti itu ya. Yah, ternyata dia memang selalu begitu ya. Bahkan kadang terlalu mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Itulah kenapa aku senang memiliki sahabat sepertinya." Ujar Mody pula.
Selagi mengisi wadah airnya perhatian Mody teralihkan pada kabut tipis yang mulai menutupi daerah itu. Teringat akan cerita Ikal semalam membuat perasaan Mody mendadak tak enak. Setelah kedua wadah air penuh Mody segera memberi isyarat pada Revia untuk segera pergi dari tempat itu. Revia yang sedang duduk di atas sebuah batu besar segera beranjak turun. Namun ketika kakinya melangkah menginjak pinggiran sungai yang berumput tanpa diduganya ternyata pijakannya bertumpu pada rumput yang mengambang di air. Akibatnya dia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke sungai. Setengah badannya basah terendam air. Melihat itu Mody dengan cepat membantunya berdiri.
"Kamu nggak apa-apa, Rev? Sudah ku bilang kan agar kamu hati-hati." Tanya Mody cemas.
"Sepertinya kakiku terkilir. Aww..." Rintih Revia sambil memengang kaki kanannya.
Melihat itu Mody segera membopong tubuh Revia dan membantunya untuk berjalan ke pinggiran sungai yang lebih kering. Dengan terpincang-pincang Revia berusaha melangkah. Namun baru beberapa langkah keseimbangannya hilang dan kembali dia terjatuh. Tangannya yang masih berada di pundak Mody tak sengaja menarik Mody bersamanya. Keduanya jatuh di rerumputan dengan posisi saling bertindihan. Tubuh keduanya yang saling menempel dan berhadapan dengan wajah yang berada begitu dekat membuat Mody jadi salah tingkah dan terdiam kaku. Begitu juga Revia yang diam tertegun seolah tersihir oleh kejadian itu dan entah bagaimana tanpa mereka sadari wajah keduanya perlahan semakin mendekati kini satu sama lain.
"Brengsek, jadi ini yang kalian lakukan di belakangku!?" Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang mereka. Mody serta merta menoleh. Dilihatnya Roy berdiri dengan mata melotot. Tinjunya mengepal dan tubuhnya terlihat bergetar tanda menahan amarah yang sedang meledak-ledak.
"Sudah kuduga, ada sesuatu diantara kalian berdua. Benar saja. Kalian berdua pengkhianat!" Teriakan Roy menggema keras seolah ingin mengalahkan kerasnya deru air terjun.
"Tu... Tunggu, Roy! Ini semua salah paham." Mody melompat berdiri lalu tersurut mundur.
"Omong kosong! Aku lebih percaya mataku sendiri daripada mulut busukmu!" Bentak Roy yang secepat kilat melompat kehadapan Mody.
Mody yang masih terkejut tak bisa mengelak ketika tinju Roy dengan cepat melayang tepat mengenai rahang kirinya, membuatnya jatuh tersungkur dan merintih kesakitan. Namun belum sempat dia berkata apapun kembali pukulan bertubi-tubi menghujani wajahnya menyudutkan Mody yang berusaha bertahan dengan melindungi wajahnya dengan kedua tanggannya.
Melihat kejadian yang begitu cepat tersebut Revia yang sebelumnya dibuat terkejut oleh kedatangan Roy segera bangkit dan bermaksud menghentikan perkelahian mereka. Namun teriakannya tak digubris oleh Roy. Dengan amarah yang meluap-luap Roy tak memberi kesempatan Mody untuk melawan. Melihat Mody yang terkapar, pandangan Roy membentur sebatang kayu tergeletak di dekat kakinya. Roy yang sudah dibutakan oleh amarah segera meraih batang kayu berukuran hampir sebesar betis tersebut lalu dengan sekuat tenaga dipukulkannya batang kayu itu pada Mody yang masih tergeletak tak berdaya di tanah. Disaat yang bersamaan sebuah bayangan berkelebat memeluk tubuh Mody dan berusaha melindunginya.
PRAAKK!!
Suara benturan keras terdengar disusul oleh sebuah jeritan pendek. Roy terjajar beberapa langkah ke belakang dengan mata melotot dan mulut menganga. Dihadapannya Revia tergeletak dengan kepala pecah. Darah mengalir deras membasahi wajah dan tubuh Mody yang berada di bawah tubuhnya. Mody sendiri tak percaya akan apa yang telah terjadi di depan matanya. Matanya melotot memandangi darah yang mengalir dari kepala Revia yang juga membasahi sebagian wajahnya. Dengan cepat dia bangkit dan menyandarkan kepala Revia di pangkuannya. Dengan penuh kepanikan diguncang-guncangkannya tubuh Revia yang lunglai tak berdaya. Mata Revia terlihat nanar dengan air mata yang mengalir bercampur dengan darah. Sejenak matanya beradu pandang dengan Mody yg berusaha menyadarkannya sebelum kemudian matanya menutup untuk selamanya. Mody masih berusaha membangunkan Revia, hingga akhirnya ia menyadari usahanya sia-sia dan hanya bisa tertunduk lesu sambil memeluk tubuh Revia. Air matanya mengalir deras. Sambil menggigit bibirnya berusaha menghentikan tangis, pandangannya berkilat-kilat perlahan beralih pada Roy.
"Kau... Apa yang sudah kau lakukan? Kau sudah membunuh Revia! Tidak.... Revia, bangun Revia...." Dengan suara lirih Mody mengusap darah yang masih mengalir dan membasahi wajah Revia.
Sementara itu Roy hanya bisa tertegun. Sejenak dia memperhatikan batang kayu yang masih digenggamnya. Benda yang baru saja merenggut nyawa kekasihnya dan hal itu terjadi oleh tangannya sendiri. Semua kenangan bersama Revia semasa mereka bersama tiba-tiba muncul satu persatu bagaikan rintik air hujan. Terbayang jelas wajah Revia yang selalu dihiasi senyuman manisnya yang kini berubah menjadi wajah pucat pasi bersimbah darah. Senyum manisnya takkan pernah bisa dia lihat lagi. Mengingat itu Roy pun langsung berlutut di tanah dan berteriak dengan keras.
"Reviaaaaa! Kenapa kau melindungi dia? Kenapa kau rela mati demi dia? Padahal aku tak bermaksud membunuhmu... Aku tak mau kehilanganmu... Maafkan aku, Revia... Ini salahku... Ini semua salahku! Aku..." Roy tak meneruskan perkataannya lagi.
Kabut semakin tebal menutupi tempat itu. Roy berlutut menengadah. Matanya nanar memandang jauh seolah menembus air terjun yang terdengar semakin bergemuruh. Perlahan tangan kirinya bergerak menutupi wajahnya. Ketika tangan itu bergerak turun nampak mata yang tadi penuh dengan kesedihan dan penyesalan kini berubah menjadi tatapan kosong.
"Aku...? Tidak... Ini bukan salahku! Ini salahmu sendiri! Ini semua akibat dari kelakuanmu sendiri yang berani bermain gila dengan bajingan itu! Kalian sama-sama pengkhianat dan pantas mati!" Roy mengerang keras kemudian perlahan bangkit berdiri.
"Kau tidak mengerti... Kau sama sekali tidak mengerti... Andai saja kau mau mendengarkan penjelasanku dulu maka semua ini tak perlu terjadi. Kau tak akan kehilangan Revia. Kita masih bisa melihatnya tersenyum. Kau harus tau, aku tak pernah berpikir sekalipun untuk merebut Revia darimu. Karena kau adalah sahabat- "
Belum sempat Mody menyelesaikan perkataannya sudut matanya menangkap sesuatu. Ketika dia berbalik dilihatnya Roy sudah berdiri dibelakangnya dengan tangan menggenggam batang kayu yang telah merenggut nyawa Revia. Matanya menatap dingin pada Mody.
PRAAKK!!
Burung-burung hutan berterbangan meninggalkan pepohonan yang menjulang tinggi beserta gemuruh air terjun yang terasa semakin keras terdengar. Kabut perlahan menipis dan semakin menghilang. Tempat itu kembali menjadi tempat yang tenang seperti semula. Hanya saja airnya yang sebelumnya jernih kini samar terlihat bercampur dengan darah segar.
**
"Lho, kamu sudah kembali? Mana Mody dan Revia?" Tanya Rayha ketika melihat Roy datang sendirian.
Diletakkannya pisau dapur yang sedang dipakainya memotong sayuran.
Dengan langkah gontai Roy tak segera menjawab pertanyaan Rayha. Dilemparkannya tubuhnya di atas tikar sedangkan pandangannya menerawang menatap awan hitam yang berarak di langit yang mulai menggelap.
"Roy! Malah ngelamun. Mody dan Revia mana?" Kembali Rayha bertanya. Perasaan aneh menggayuti pikirannya.
"Mereka masih di belakang." Jawab Roy datar.
"Aku... tidak mengerti... Lantas kenapa kamu malah kembali dan tidak membantu mereka?" Sambung Rayha masih penasaran.
Kembali Roy tak memperdulikan pertanyaan Rayha. Setelah beberapa lama dia bangun dan duduk memeluk lutut. Sejenak tatapannya kosong ke depan namun tak lama kemudian dia berpaling dan menatap dalam pada Rayha. Ditatap sedemikian rupa membuat Rayha menjadi merasa tak nyaman. Segera dia kembali ke tempat duduknya, diambilnya pisau dan kembali melanjutkan pekerjaannya memotong sayuran.
"Apa kau benar-benar mencintai Mody?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlontar dari mulut Roy membuat Rayha sedikit terkejut dan segera menghentikan pekerjaannya.
"Maksudmu?" Rayha mengernyitkan kening.
"Apa kau tak bisa menjawab saja pertanyaanku? Aku tanya apa kau benar-benar mencintai Mody?" Roy mengulang pertanyaanya.
"Tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Jawab Rayha.
Sesungguhnya di dalam benaknya berkutat seribu pertanyaan akan sikap aneh Roy namun dia masih hati-hati mengambil sikap. Jelas hal ini belum pernah terjadi sebelumnya dan sikap Roy sendiri tidak seperti sikapnya yang seperti biasanya.
"Jika benar begitu, apa yang akan kau lakukan jika dia ternyata menghianati cintamu?" Roy kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Ada apa dengan semua pertanyaanmu ini? Rasanya sikapmu berbeda sepulangnya dari air terjun. Apa yang terjadi padamu? Apa ada hal yang terjadi diantara Mody dan Revia?" Rayha tak bisa lagi menahan dirinya.
Mendengar itu Roy langsung bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat mendekati Rayha, membuatnya terkejut dan bangun dari duduknya.
"Jawab saja, Rayha." Ujar Roy pendek sambil menatap Rayha dalam-dalam.
"Sesungguhnya aku sama sekali tidak mengerti maksud dari semua pertanyaanmu, tapi yang jelas hal semacam itu tidak akan pernah terjadi. Jika bukan mata kepalaku sendiri yang menyaksikan, maka tak seorangpun yang bisa mempengaruhi pikiranku. Aku sangat percaya pada Mody. Sama seperti bagaimana kau percaya pada sahabatmu itu. Jadi bisa ku katakan jika dia tidak mungkin dan tidak akan pernah mengkhianati hubungan kami!" Rayha berkata dengan berapi-api. Bibirnya bergetar sedangkan air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Begitu ya... Bagaimana jika ku katakan saja bahwa dia memang sudah mengkhianatimu. Lebih tepatnya mengkhianati kita?" Sambil berkata Roy membalikkan tubuhnya membuang muka.
Bagai disambar petir, Rayha sampai terlonjak kaget. Dibalikkannya tubuh Roy agar dia bisa memastikan dia memang tidak salah mendengar.
"Mengkhianati... kita? Jangan bilang kalau kau mau mengatakan bahwa Mody dan Revia berselingkuh..." Ujar Rayha dengan suara yang mulai serak dan berat.
"Aku melihat mereka berciuman di air terjun sana." Ucapan Roy membuat Rayha tak bisa lagi menahan air matanya.
Lututnya terasa lemas membuatnya jatuh terduduk di tanah. Sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dia menangis lirih. Sementara Roy hanya diam berdiri di tempatnya. Matanya memandang sekitar.
"Lantas apa yang terjadi pada mereka berdua? Kenapa sampai sekarang mereka belum juga kembali? Jika benar apa yang kau ucapkan, seharusnya mereka kembali dan menjelaskannya padaku?" Ujar Rayha kemudian setelah tangisnya mereda.
"Saat aku memergoki mereka, keduanya sedang berbaring di rumput. Entah apa yang sudah mereka lakukan. Aku hanya tak ingin melihatnya lebih jauh, dengan penuh kekecewaan aku memutuskan untuk kembali kesini. Mungkin mereka masih menikmati waktu mereka berdua." Jawab Roy berbohong.
"Iwan dan Ikal belum juga kembali?" Sambungnya mencoba mengalihkan pembicaraan. Rayha hanya menjawab dengan gelengan kepala disela isak tangisnya.
"Kalau begitu ayo kita cari mereka terlebih dahulu." Ujar Roy seraya bangkit berdiri.
Dia segera masuk ke dalam tenda mengambil beberapa benda. Rayha masih berdiam diri tak tahu harus melakukan apa. Diusapnya air mata yang masih membasahi wajahnya. Sejenak dipandanginya gelang rajut yang terpasang di lengan kirinya, gelang rajut yang sama yang juga terpasang di lengan Mody. Hati kecilnya membisikkan sesuatu yang lain. Tidak lama kemudian Roy keluar dari dalam tenda sambil membawa sebuah tas kecil.
"Ayo kita berangkat." Dia memberi tanda agar Rayha mengikutinya.
"Apa tidak sebaiknya kita cari dulu Mody dan Revia?" Rayha berkata pelan.
"Apa? Kenapa kau masih peduli pada orang yang sudah mengkhianatimu. Biarkan saja mereka. Lebih baik kita pergi mencari Ikal dan Iwan." Roy berkata dengan nada kesal.
"Walau bagaimanapun mereka tetap sahabatku. Aku tak mau sesuatu yang buruk menimpa mereka. Aku harus mencari mereka!" Setelah berkata begitu Rayha segera membalikkan tubuh dan berlari mengikuti jalan setapak menuju air terjun.
"Tunggu, Rayha!" Teriak Roy.
Dengan geram dia pun segera mengikuti ke arah Rayha pergi. Rayha yang berlari dalam keadaan kalut membuatnya jadi tak memperhatikan jalan dengan baik. Akibatnya beberapa kali dia terpeleset hingga terjatuh. Kaki dan sikut hingga telapak tangannya lecet dan berdarah namun dia seperti tak merasakannya dan terus berlari menuju air terjun diikuti oleh Roy dibelakangnya.
Sesampainya di tepian air terjun dengan nafas terengah-engah dia segera mencari kedua sahabatnya kesana kemari. Sesekali dia berteriak memanggil nama keduanya namun setelah sekian lama usahanya tak kunjung juga membuahkan hasil. Dengan perasaan tak menentu dia berjalan menyusuri tepian sungai hingga matanya membentur sepasang benda yang dikenalnya dengan baik. Sepatu milik Revia. Dengan cepat diambilnya kedua sepatu yang tersimpan rapi di pinggir sungai. Sembari berjalan menyusuri pinggiran sungai, matanya mencari kesana kemari hingga tanpa sengaja kakinya menginjak tepian sungai yang sedikit cekung dan becek. Ketika matanya memandang ke bawah, dia mengeluarkan jeritan tertahan. Genangan Darah. Meninggalkan jejak seperti bekas seretan sepanjang rumput menuju sungai. Disaat dia mencoba hendak mengikuti jejak itu saat itu juga sebuah tali menjirat lehernya dari belakang dengan cepat. Rayha yang terkejut tak sempat mengelak. Seketika lehernya tercekik dengan keras dan nafasnya tertahan. Dia berusaha meronta dan menggapai orang yang mencekiknya namun sia-sia saja. Semakin lama tenaganya semakin melemah sedang wajahnya kini mulai membiru. Setelah beberapa saat dia masih mencoba melakukan perlawanan tapi pada akhirnya kedua tangan mungilnya hanya bisa terkulai lemas.
**
"Ikal, cepetan pulang yuk. Itu kan kayu bakarnya sudah setumpuk gitu. Aku tidak tahan lagi, nyamuknya over kampret ini." Iwan menggerutu panjang pendek. Tangannya sibuk menepuk tangan serta kakinya.
"Kamu ini malah menggerutu saja seperti anak gadis. Dikeroyok genk motor sekampung kamu berani, masa melawan seekor nyamuk saja kewalahan." Ledek Ikal. Tangannya dengan cekatan mematahkan beberapa ranting pohon besar yang ditemuinya.
"Ini gara-gara nyamuknya cuma seukuran upil, coba kalau sebesar gaban habis dia kutempeleng kanan kiri." Ujar Iwan sambil bertolak pinggang.
"Hush! Kita ini sedang di hutan. Jangan asal bicara. Mau kualat kamu? Kalau sampai kamu bertemu dengan nyamuk sebesar gaban, sebelum sempat kamu tamparpun kamu sudah berubah jadi keripik singkong duluan karena darahmu habis disedotnya." Ikal menakut-nakuti.
"Amit-amit! Maaf ya hutan, saya cuma bercanda." Iwan meringgis ketakutan sambil beberapa kali menepuk-nepuk kepalanya.
Ikal hanya tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu. Setelah menyatukan semua ranting dan batang kayu yang ditemukannya diapun segera mengikatnya dengan tali yang sengaja dibawanya dari tenda. Sambil berjalan mengikuti jalan setapak sesekali terdengar tawa mereka. Iwan memang sering bertingkah konyol dalam situasi apapun sehingga teman-temannya selalu mengajaknya kemanapun mereka pergi.
Setibanya di tempat berkemah, Ikal segera melemparkan kayu bakar yang dipikulnya ke tanah. Sementara Iwan segera pergi ke tempat Rayha menyiapkan makanan dan bermaksud mengambil air minum. Namun ketika menyadari bahwa Rayha tidak ada disana segera dia kembali menemui Ikal yang sedang duduk di depan tenda sambil mengipas-ngipas tubuhnya.
"Tidak ada siapa-siapa. Mereka kemana ya?" Tanya Iwan.
"Lah, kenapa kamu bertanya padaku, Wan. Sudah jelas aku juga baru sampai disini jadi ya mana aku tau kemana yang lain pergi." Jawab Ikal dengan nada ketus.
"Oh, iya juga ya." Ujar Iwan polos. Digaruknya kepalanya yang tak gatal.
"Tapi kulihat sayuran yang tadi sedang dipotong Rayha masih ada disana. Maksudku terlihat masih segar, bahkan pisaunya tergeletak disana. Mungkin Rayha baru saja pergi beberapa menit yang lalu. Tapi pergi kemana dia?" Iwan bergumam sendiri.
"Sepertinya Revia dan Mody belum kembali, soalnya wadah air yang mereka bawa juga belum ada jadi sudah pasti mereka masih di air terjun. Sepertinya Rayha dan Roy sudah tidak sabar ingin pergi ke air terjun dan mereka menyusul Revia dan Mody. Mungkin sekarang mereka sedang bermain-main air." Kata Ikal.
Iwan mengangguk tanda setuju. Setelah beberapa saat Ikal segera berdiri dan beranjak hendak pergi. Melihat itu Iwan segera bergerak menghadangnya.
"Eehhh, tunggu... Tunggu... Kamu mau kemana?" Tanya Iwan.
"Aku mau menyusul mereka dulu. Kau lihat langit sudah semakin gelap, lagipula kita belum makan dari pagi. Kalau mereka tidak diingatkan bisa-bisa mereka pulang sore." Jawabnya sambil berlalu meninggalkan Iwan.
"Woy! Terus aku gimana? Masa sendirian..." Teriak Iwan.
"Potong-potong sayurannya. Hati-hati jangan kau potong jarimu sendiri!"
Hanya suara teriakan Ikal yang terdengar dari balik rimbunnya pepohonan.
Mendengar hal itu Iwan hanya bisa memaki panjang pendek. Diambilnya sepotong wortel dan dilahapnya dengan kesal.
**
Ikal berjalan menuruni jalan setapak yang terjal dan licin dengan cepat. Suasana hutan yang sepi membuatnya hatinya sedikit tidak tenang. Terlalu sepi, pikirnya. Apalagi dilihatnya langit telah berubah menjadi gelap, akan berbahaya jadinya jika turun hujan sebelum mereka bisa kembali ke tenda. Mengingat hal itu Ikal segera mempercepat perjalanannya. Setengah berlari akhirnya dia mencapai sebuah gundukan tanah. Dari sana dia bisa melihat cukup jelas ke arah air terjun. Sepi, tak terlihat ada seorangpun dari mereka di air terjun itu. Selagi Ikal berpikir samar-samar tidak jauh dari tempatnya dilihatnya seorang wanita yang sedang berjalan menyusuri pinggiran sungai seperti sedang mencari sesuatu. Rayha. Di belakangnya dari balik pepohonan seorang laki-laki muncul dan mendekatinya. Belum sempat dia mengenali sosok itu karena penglihatannya tertutup kabut, dia dikejutkan oleh kejadian selanjutnya dimana orang yang muncul tadi tiba-tiba menjerat leher Rayha. Sesaat ketika tersadar dari keterkejutannya dengan cepat Ikal segera berlari menolong Rayha. Tanpa pikir panjang Ikal langsung melompat dan menubrukkan tubuhnya pada si pencekik hingga keduanya terlempar ke dalam sungai
Di pinggir sungai Rayha tergeletak lemas. Beberapa kali dia terbatuk-batuk. Kepalanya terasa pening dan dadanya sesak. Sambil berusaha mengatur pernafasannya dia mencoba untuk bangun dan merangkak ke arah sungai. Betapa terkejutnya dia ketika melihat dua orang yang sangat dikenalnya saling berhadapan di sungai. Roy yang saat itu bersandar ke sebuah batu berukuran sedang sambil memegangi dada sebelah kirinya. Dari kepalanya terlihat darah mengalir membasahi pelipisnya. Sedangkan disisi lain Ikal berdiri sambil memegangi tangan kirinya, matanya menyala marah pada Roy. Setelah beberapa saat Rayha menyadari jika Ikal berdiri sedikit terpincang-pincang. Sepertinya saat mereka terlempar ke dalam sungai keduanya sama-sama membentur bebatuan sehingga Roy terluka di dada dan pelipisnya sedangkan Ikal mengalami cidera tangan dan kakinya terkilir.
"Apa kau sudah gila, Roy!? Kenapa kau mencoba membunuh Rayha! Sahabatmu sendiri!?" Teriak Ikal yang membuat Rayha terhenyak tak percaya.
Untuk sesaat hanya deru air terjun yang terdengar keras bergemuruh menggema diantara dinding bukit. Kilat menyambar di langit disusul suara memekakkan telinga. Tak lama kemudian hujan mulai turun dan berubah deras mengguyur tempat itu, namun tak mampu mendinginkan hati kedua orang yang saling berhadapan di dalam sungai.
"Roy... Apa benar yang Ikal katakan? Kenapa kau mencoba membunuhku?" Tanya Rayha dengan suara hampir tak terdengar.
Roy tak segera menjawab. Dia mencoba membetulkan posisi duduknya.
"Kita berenam sudah bersahabat sejak lama. Kemanapun kita pergi kita selalu bersama. Apalagi kau bilang kau sangat mencintai Mody, tentu kau ingin selalu bersamanya bukan? Jadi apa yang aku lakukan itu semata-mata untuk menolongmu. Membantumu agar kau bisa segera bersama dengan Mody." Kata Roy memandang dingin pada Rayha.
Ikal terjajar beberapa langkah. Dilihatnya Rayha mendekap mulutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya pucat pasi seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Jangan bilang... Kalau kau sudah membunuh Mody..." Bibir Ikal bergetar.
"Tak hanya Mody, Revia juga sudah bersamanya." Jawaban Roy bagaikan kilat yang menyambar di siang bolong.
Rayha tak mampu membendung tangisnya. Tenggorokannya terasa tercekik dan dadanya terasa sakit. Sedangkan Ikal hanya berdiri mematung. Otaknya berusaha mencerna semua kejadian yang baru saja dialaminya beserta perkataan yang keluar dari mulut Roy. Semua itu rasanya tak masuk akal. Bagaimana mungkin hal mengerikan seperti itu bisa terjadi padahal beberapa jam lalu semuanya masih baik-baik saja.
"Kenapa kau lakukan ini semua, Roy? Apa yang sudah merasuki dirimu?" Tanya Ikal pelan.
"Aku hanya menghapus keberadaan pada pengkhianat itu. Mereka yang sudah mengkhianatiku sebagai kekasih dan sebagai sahabat. Sekarang tinggal kalian tentukan diri kalian sendiri, apakah kalian memahami tindakanku sebagai suatu kebenaran ataukah kalian juga hendak menjadi pengkhianat seperti mereka. Katakan padaku sekarang!" Roy berteriak lantang.
"Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita sudah melewati banyak konflik selama ini. Bahkan dulu aku adalah orang yang paling membencimu. Kau yang mengajariku kesabaran dan arti setia kawan. Kenapa tak kita bicarakan dulu semua masalah yang menimpa? Kenapa harus kau hakimi mereka!?" Ikal berkata sambil bergerak perlahan mendekati Roy.
"Karena aku adalah laki-laki. Dan jika kau juga laki-laki maka bicaralah dengan tinjumu. Aku sudah muak dengan celotehanmu yang seperti nenek tua!" Tantang Roy.
Mendengar jawaban Roy yang sedemikian rupa membuat Ikal naik pitam. Dengan disertai teriakan keras dia segera menerjang Roy. Keduanya segera bergulat di dalam air. Walaupun tangan kirinya cidera namun tak mengurangi kecepatan menyerang Ikal. Sebaliknya dengan kepala yang berlumuran darah membuat Roy tak bisa berkonsentrasi sehingga beberapa kali pukulan dari Ikal mengenai tubuh dan wajahnya membuatnya terjerembab ke dalam air. Melihat kesempatan terbuka Ikal segera melompat dan bermaksud memberikan sebuah pukulan terakhir. Namun tanpa di duga Rayha melompat ke dalam air dan memaksa Ikal untuk menghentikan pukulannya.
"Cukup kalian berdua! Hentikan semua kegilaan ini!" Teriak Rayha disela tangisnya membuat Ikal dengan cepat menarik pukulannya.
"Darah yang sudah tertumpah tak perlu lagi ditambah. Jangan kau kotori tanganmu sendiri, Ikal. Walau ini semua terlalu sulit tapi aku akan mencoba menerima kenyataan bahwa Mody sudah pergi. Takdir ini memang kejam, tapi aku tak ingin hal ini merubahmu menjadi sosok yang juga kejam. Roy, memang telah melakukan kejahatan keji. Tapi bukan hak kita untuk menghakiminya. Biar hukum yang akan memutuskan hukuman yang setimpal untuknya. Jadi tolong hentikan semua ini dan tunjukkan pada kami dimana mayat Revia dan Mody." Rayha berkata sambil terisak-isak.
Mendengar itu Ikal tersadar dan segera menghentikan usahanya. Kepalanya menengadah ke langit merasakan tetesan demi tetesan air hujan yang jatuh membasahi wajahnya. Sepertinya atmosfer tempat ini sanggup merubah seseorang jadi gila, pikirnya. Dilihatnya tangis Rayha semakin menjadi-jadi. Tangannya bergerak hendak merangkul pundak gadis itu untuk menenangkannya. Namun tanpa disadarinya Roy yang sedari tadi berada di air memanfaatkan kesempatan itu untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang tadi dibawanya dari tenda. Dengan satu gerakan cepat dia melompat ke arah Rayha dan Ikal berdiri.
JLEBB!! CRASH!!
Rayha menjerit keras sedangkan Ikal tegak membelalak. Dari sela mulutnya keluar darah segar meleleh. Nampak sebuah besi tajam menusuk punggung Rayha dan menembus sampai ke dada Ikal. Itu adalah pasak tenda besi yang sengaja dimasukkan Roy ke dalam tas kecilnya. Begitu juga tali yang dipakai untuk menjerat leher Rayha sebelumnya semua itu peralatan yang sudah disiapkannya.
"Berterima kasihlah padaku, Ikal. Bukankah diam-diam kau mencintai Rayha. Kini aku menyatukan kalian dalam kematian yang indah." Roy berkata sambil tersenyum sinis memandangi tubuh kedua sahabatnya yang roboh ke dalam air sungai.
Baru saja Roy hendak beranjak pergi dia dikejutkan oleh suara gemuruh yang samar terdengar mendekat ke arahnya. Benar saja ketika dia menoleh ke belakang dilihatnya bagaimana air terjun yang tadinya jernih kini berubah menjadi kecoklatan. Dengan sisa-sisa tenaganya Roy berusaha mencapai pinggiran sungai. Namun arus banjir bandang datang dengan cepat seolah tak mau memberinya kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Gelombang besarnya dengan keras menghantam dan menenggelamkan Roy yang tak sempat menyelamatkan diri. Hanya teriakannya yang masih terdengar sebentar sebelum kemudian hilang terbawa arus sungai yang deras.
**
"Teman-teman, kalian kemana sih?" Gumam Iwan sambil memeluk lutut.
Dinaikkannya resleting jaketnya. Sementara itu hujan di luar turun begitu deras bagaikan ditumpahkan dari langit. Semenjak ditinggal pergi oleh Ikal yang mengatakan hendak menjemput temannya yang lain, Iwan meneruskan pekerjaan Rayha yang terbengkalai. Namun ketika dia sedang mencoba menyalakan api tiba-tiba saja hujan turun membuatnya segera lari berlindung ke dalam tenda.
Lima jam berlalu sejak kepergian Ikal dan mereka semua masih belum kembali. Hujan juga tak kunjung mereda membuat perasaan Iwan semakin tak menentu. Sudah beberapa kali dia bermaksud untuk kaluar dari tenda dan hendak menyusul yang lainnya namun selalu urung dilakukannya. Selain karena hujan yang terlalu deras juga karena dia tak bisa menemukan senter diantara peralatan berkemahnya. Satu-satunya sumber cahaya adalah lentera portable yang menerangi tenda. Namun dia tak bisa membawanya keluar karena benda itu tidak tahan air. Akhirnya diantara rasa putus asa dia memutuskan untuk menunggu hujan reda. Dia yakin teman-temannya belum pulang karena masih berteduh dan menunggu hujan reda.
Baru saja dia mencoba untuk merebahkan tubuhnya di atas sleeping bag ketika samar dia mendengar sesuatu di luar tenda. Dipasangnya kupingnya lebar-lebar untuk memastikan suara apa yang barusan didengarnya. Suara seseorang yang datang ataukah hewan liar. Ketika dia mencoba menajamkan pendengarannya, matanya membelalak. Suara langkah kaki seseorang! Dia yakin bisa membedakan antara suara langkah hewan dengan manusia. Perlahan dia membuka sedikit demi sedikit resleting tenda dan mengintip keluar. Nafasnya tertahan, benar saja seseorang berdiri disana di kegelapan diantara derasnya hujan. Setelah pandangannya mulai terbiasa dengan gelap malam barulah Iwan tersadar. Orang itu adalah Revia! Dengan segera Iwan membuka resleting tenda dan keluar dari tenda tanpa memperdulikan tubuhnya yang kebasahan.
"Revia! Mana yang lainnya? Cepat kemari nanti kamu masuk angin kalau terus berada disana!" Iwan melambaikan tangannya memberi isyarat agar Revia mendatanginya.
Bukannya melakukan apa yang Iwan katakan, Revia hanya tersenyum kemudian membalikkan badannya berjalan meninggalkan tempat itu. Iwan yang kebingungan segera mengejarnya. Sesampainya di tempat Revia berdiri Iwan mencarinya kesana kemari. Samar terlihat ternyata dia berada beberapa langkah cukup jauh di depannya. Kembali dia berteriak memanggil nama sahabatnya itu namun Revia tak juga berhenti membuatnya mau tak mau terus mengikuti ke arah dia pergi. Sambil sesekali berteriak memanggil namanya, Iwan tak sadar dia masuk semakin dalam ke arah hutan. Semakin jauh suaranya semakin samar hingga akhirnya hilang ditelan oleh derasnya hujan yang tak kunjung juga reda mengguyur Bukit Kembar yang selalu berkabut tersebut.
- End -