Comedy Corner : Setan Sawah

"Allahu Akbar Allahu Akbar"

Suara adzan Isya terdengar berkumandang dari sebuah mesjid kecil di kampung Cipoek. Selesai adzan semua orang  segera membentuk shaft untuk melaksanakan shalat Isya. Bias cahaya rembulan yang masuk melalui kaca jendela mesjid menambah kekhusyuan shalat berjamaah tersebut. Mesjid itu adalah satu-satunya mesjid di kampung tersebut sehingga secara tidak langsung menjadi pusat beribadah semua penduduk disana. Hal itu berlaku juga bagi Minah. Walaupun kini dia berstatus seorang siswi di sebuah sekolah menengah kejuruan, namun kegiatan mengaji di mesjid yang terletak cukup jauh dari rumahnya tersebut tetap tak pernah dilewatkannya.

"Min, yakin gak pulang bareng sama kita?" Tanya salah satu temannya sembari melipat mukena yang habis digunakannya.

"Iya, kamu gak takut apa pulang sendirian?" Imbuh temannya yang lain.

"Aku sih pengen bareng sama kalian, tapi tadi ibu menyuruhku mampir dulu ke rumah paman. Katanya ada titipan yang harus diambil. Gak apa-apa koq. Bismillah aja." Minah berusaha meyakinkan teman-temannya.

Setelah berpisah dengan teman-temannya di sebuah tikungan Minah meneruskan perjalanannya seorang diri melewati jalan perkampungan yang cukup sepi dikarenakan jarak antara rumah satu dengan yang lainnya terbilang cukup jauh. Sementara itu langit berubah menjadi gelap dan angin malam kini berhembus terasa sangat dingin. Minah pun memutuskan untuk mengenakan atasan dari mukenanya yang sedari tadi berada di pelukannya. Ternyata hal itu berhasil mengurangi terpaan angin malam yang menusuk kulit. Dengan berbekal lampu senter di tangan dan mulut yang tak berhenti membaca ayat kursi dia pun segera meneruskan perjalanannya.

Setibanya di ujung jalan, kini dia berbelok menuju sebuah pematang sawah. Sawah yang baru saja ditanami benih padi tersebut berukuran cukup luas dan merupakan sawah milik Haji Ruslan, orang terkaya di kampungnya. Diujung sawah itulah terletak rumah pamannya. Dengan hati-hati Minah berjalan menyusuri pematang sawah. Namun tanpa diduga gerimis turun begitu saja dan sialnya lagi lampu senternya tiba-tiba mati. Mungkin lampunya bohlamnya mati, pikir Minah. Hujan gerimis berubah menjadi lebat dengan cepat. Diantara kebingungannya Minah melihat gubuk bambu milik Haji Ruslan. Untungnya cahaya rembulan masih tersisa menembus awan-awan gelap yang berarak, membantu Minah untuk melihat walau dalam keadaan gelap. Tanpa pikir panjang Minah segera berlari menuju gubuk tersebut. Namun alangkah terkejutnya ketika sesampainya di depan gubuk dia mendapati sesosok mahluk hitam berkepala dua menjeplok di lantai gubuk. Belum hilang keterkejutannya kembali dia dikejutkan oleh suara jeritan seorang wanita dari dalam gubuk.

"SE... SETAANN!!"

Bersamaan itu suara teriakan lain terdengar dari tempat yang sama, kali ini suara seorang pria.

"KUNTILANAK!!"

Wuuutt!! Braaakk!! Gedebukkk!!

Dua bayangan berlompatan menghancurkan dinding gubuk yang terbuat dari bilik bambu. Setelah terjerembab ke lumpur sawah beberapa kali keduanya lari tunggang langgang sambil berteriak-teriak tak jelas meninggalkan Minah yang hanya bisa melongo keheranan tanpa mampu mengucap sepatahkatapun.

Keesokan harinya, kampung Cipoek digemparkan dengan kabar bahwa beberapa petak sawah Haji Ruslan yang baru ditanami benih padi habis diinjak-injak oleh babi hutan. Sementara diantara teman-teman Minah beredar cerita bahwa salah satu dari mereka diganggu setan sawah ketika sedang berpacaran. Mendengar itu Minah hanya bisa tersenyum masam. Kalau dipikir lagi justru dialah yang tadi malam bertemu dengan setan sawah yang sesungguhnya.





- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger