Kabut di Bukit Kembar : Side Story


Seminggu sudah suasana rumah bu Marsha dan pak Wira dirundung duka setelah mereka menerima laporan bahwa anak mereka, Roy, dinyatakan hilang saat berkemah bersama teman-temannya. Sampai saat ini mereka masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang menimpa anak semata wayangnya. Setiap harinya bu Marsha menghabiskan waktu dengan melamun dan menangis, bahkan pak Wira sendiri tak mampu menghibur istrinya itu. Seperti sore itu bu Marsha sedang duduk melamun di kursi pekarangan rumah ketika telepon selulernya berdering. Pihak kepolisian menelponnya dan memberitahu bu Marsha bahwa mereka telah menemukan satu dari keenam orang yang dinyatakan hilang. Dengan tergesa-gesa sembari ditemani oleh suaminya bu Marsha segera pergi ke kantor polisi.

Benar saja disana mereka bertemu dengan Iwan yang berhasil selamat dengan kondisi menyedihkan. Mukanya pucat, pakaiannya dekil dan tubuhnya terlihat lebih kurus. Bu Marsha mencoba menanyai Iwan tentang nasib Roy dan yang lainnya. Namun Iwan yang sepertinya masih mengalami shock dan trauma belum bisa berkomunikasi dengan jelas. Dia hanya mengatakan bahwa teman-temannya masih terjebak di air terjun dan membutuhkan pertolongan. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, Iwan ditemukan oleh warga sekitar sedang berjalan sendirian seperti orang linglung di kaki bukit tempat warga menambang pasir.

Hari itu juga pihak kepolisian dibantu oleh anggota SAR segera kembali ke Bukit Kembar melakukan pencarian di daerah air terjun dengan menyusuri daerah bantaran sungai. Bu Marsha dan pak Wira juga pergi kesana bersama Iwan yang sebelumnya menolak untuk beristirahat di rumah sakit. Dia tetap ingin ikut serta mencari teman-temannya yang akhirnya permintaannya tak bisa ditolak oleh mereka.

Lima jam berlalu semenjak tim SAR gabungan melakukan pencarian menyisir sungai. Bu Marsha bersama pak Wira dan Iwan sedang menunggu dengan cemas di posko kecil dekat air terjun ketika walkie talkie milik ketua tim SAR berbunyi. Salah satu anggotanya melaporkan telah menemukan satu mayat yang tersangkut pinggiran sungai dengan kondisi yang sulit dikenali. Ketua tim SAR segera menyuruhnya untuk mengevakuasi mayat tersebut ke posko.

Dengan dada berdebar bu Marsha dan pak Wira saling berpegangan tangan saat kantung mayat tiba di posko. Ketika resletingnya perlahan dibuka seketika lutut bu Marsha terasa gemetar dan lemas hingga jatuh terduduk di tanah. Walaupun wajah mayat tersebut sulit dikenali namun bu Marsha mengenal betul pakaian dan juga sepatu yang dikenakannya. Terlebih lagi di lehernya masih tergantung kalung membuatnya yakin bahwa mayat itu adalah Roy. Kedua orang tua itu hanya bisa terduduk lemas sambil berpelukan dan menangis meratapi nasib nahas yang menimpa anaknya.

Tak lama kemudian mayat yang lain menyusul ditemukan yang bisa dipastikan itu adalah Revia dan Mody. Satu jam kemudian dua mayat terakhir juga berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengejutkan semua orang. Bagaimana tidak keduanya menempel satu sama lain dengan sebatang besi menancap dari bagian punggung dan menembus ke tubuh mayat yang satunya. Mereka adalah Rayha dan Ikal.

Bu Marsha tak bisa berhenti menangis. Di sebelahnya pak Wira berusaha menghiburnya sedangkan Iwan duduk di sebuah kursi dengan tatapan kosong memandangi air terjun yang berderu keras. Sungguh tak disangkanya jika teman-temannya yang hilang ternyata telah menjadi mayat. Namun dia bersyukur setidaknya kini mereka telah berhasil ditemukan. Senyum kecil menyeruak dibibirnya dan air mata nampak menggenangi pelupuk matanya.

Pihak kepolisian segera bertindak cepat menyelidiki kasus kematian Roy dan teman-temannya yang diduga adalah kasus pembunuhan.  Mereka pun menyisir pinggiran air terjun untuk mencari barang bukti. Beberapa penyelam ditugaskan untuk mencari di dasar air terjun. Hari menjelang sore ketika ketua tim SAR kembali mendapat laporan dari para penyelam yang berhasil menemukan temuan yang lebih mengejutkan. Di dasar air terjun, jerjepit diantara bebatuan besar mereka menemukan satu mayat lain dengan kondisi serupa. Mendengar kabar tersebut seketika bu Marsha dan pak Wira tersentak. Setelah bertatapan sejenak perlahan pandangan mereka beralih pada kursi tempat Iwan duduk.

Dia tidak lagi terlihat disana.





- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger