Malam itu seperti biasa bang Bokir berjalan menyusuri jalanan perkampungan menembus dinginnya malam sembari mendorong gerobak satenya. Satu-satunya benda yang masih bisa diandalkannya untuk mencari nafkah menghidupi anak istrinya. Walaupun kini tubuhnya sudah dimakan usia sehingga membuatnya rentan terkena penyakit, namun bang Bokir tidak memiliki pilihan lain untuk menyambung hidup.
"Teeee.... Sateeeee!"
Suaranya terdengar beberapa kali memecah keheningan malam. Suasana terasa lenggang mungkin karena waktu yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Setibanya di dekat sebuah pohon besar tempat biasanya dia berjualan, bang Bokir segera menghentikan gerobaknya. Mengambil sebuah kursi kayu dari atas gerobak dan meletakkannya di pinggir gerobak. Selagi dia masih membereskan dagangannya seseorang datang dan segera duduk di kursi kayu yang tadi disediakannya.
"Satenya lima puluh tusuk, bang!" Sapa orang itu membuat bang Bokir sedikit terkejut dan segera memalingkan muka.
Keterkejutan bang Bokir semakin menjadi ketika dilihatnya orang yang barusan menyapanya adalah seorang gadis berambut panjang terurai. Dia mengenakan daster tipis panjang berwarna putih yang bahkan terkesan kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Hal yang semakin membuatnya gelisah adalah wajah gadis itu pucat pasi dan tanpa ekspresi sedikitpun.
"Ya Allah, baru aja mau ngelapak udah didatengin yang beginian. Alamat sial malem ini jualan." Bang Bokir menggerutu dalam hati.
"Satenya lima puluh tusuk, bang!" Gadis itu mengulang perkataannya membuat bang Bokir tersentak dari lamunannya.
"Ya... Yakin... Li... Lima puluh, neng? Bu... Bukan lima belas?" Tanya bang Bokir dengan gemetar.
Si gadis memalingkan mukanya pada bang Bokir. Sorot matanya yang tajam membuat bang Bokir tak berani bertanya lagi. Segera disiapkannya pembakaran dan sejumlah tusuk sate yang diminta gadis itu. Sambil mengipasi satenya sesekali dia menyeka peluh yang membanjiri tubuhnya. Tak beberapa lama pesanan gadis itu pun selesai. Setelah memasukkannya ke dalam kantong plastik bang Bokir pun segera menyerahkannya pada gadis itu.
"Ini uangnya, bang." Ujar si gadis seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
Bang Bokir menerimanya dengan ragu. Setelah menghitungnya uang tersebut tidak langsung dimasukkan ke dalam laci gerobaknya namun malah dipandanginya dalam-dalam.
"Kenapa, bang? Kurang?" Tanya si gadis.
"Ee... Enggak koq, neng? Udah pas koq..." Bang Bokir menjawab sambil menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering seperti orang yang habis tersesat di gurun pasir.
"Abang ini kenapa sih? Koq saya perhatiin dari tingkahnya aneh banget. Emangnya ada yang aneh sama saya?" Tanya si gadis kembali.
"Itu... Anu, neng. Sa... Saya mau tanya. E... Eneng... Orang beneran kan?" Tanya bang Bokir pelan tanpa berani memandang si gadis.
"Ya ampun! Abang kira saya setan apa? Eh, bang! Saya pake baju kayak gini karena tadi udah mau tidur. Kebetulan saya lapar nah pas denger suara abang jadi cepet-cepet kesini. Ini muka aja masih pake maskeran belum sempet saya copot." Si gadis mengomel kesal.
"Ooohhh gitu... Hehehe... Maaf neng, saya kira eneng sundel bolong. Abisnya tadi dateng-dateng langsung pesen lima puluh tusuk kan kaget saya." Ujar bang Bokir cengengesan sambil segera memasukkan uang yang masih di genggamnya ke dalam laci gerobak.
"Kebetulan temen kost saya tadi pada nitip, jadi belinya banyak sekalian. Lagian kayak pernah ketemu sama sundel bolong beneran aja." Si gadis menjawab dengan kesal.
"Yaelah, si neng pasti gak bakal percaya kalo saya cerita. Minggu kemaren saya di datengin sama sundel bolong beneran. Dia makan sate seratus tusuk itu cuma bentaran doank. Saya aja sampe heran. Pas udah selesai makan, uang yang dia bayarin berubah jadi daun kering. Saya kan kaget tuh. Waktu dia berbalik, ternyata punggungnya bolong besar! Berdarah-darah! Banyak belatungnya! Ngeri pokoknya. Saya sampe lari terkencing-kencing!"
"Masa sih, bang? Aduh, saya sampai merinding gini. Ya udah deh saya langsung pulang aja. Makasih ya, bang." Si gadis segera pergi dengan cepat meninggalkan bang Bokir yang memandanginya sampai menghilang di ujung jalan.
Sementara itu dari ujung jalan yang berlawanan seorang wanita paruh baya ditemani seorang pemuda berjalan cepat dengan senter di tangan. Ketika pandangan mereka membentur bang Bokir dan gerobaknya, langkah mereka sempat terhenti. Bang Bokir yang melihat kedatangan mereka berdua tersenyum sambil membetulkan letak lap tangan di pundaknya.
"Mampir dulu, bu. Silahkan satenya." Sapa bang Bokir.
Kedua orang tersebut hanya tersenyum kecil lalu mengangguk dan segera berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan bang Bokir sendiri yang sedang asyik menata dagangannya.
"Bu, ternyata rumor itu benar!" Si pemuda berbisik hampir tak terdengar oleh ibunya.
"Tidak baik membahas hal seperti itu disini, jang. Lagipula kita harus cepat, kasihan nenekmu menunggu sendirian di rumah." Sahut wanita paruh baya itu sambil menepuk punggung anaknya.
"Tapi baru saja kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, bu. Ternyata benar apa kata orang, penjual sate yang mati tertabrak seminggu yang lalu itu sekarang jadi arwah gentayangan!" Si pemuda berkata sambil bergidik, sesekali dia menoleh ke belakang seperti takut diikuti seseorang.
"Ssstt! Lebih baik lupakan saja apa yang kamu lihat tadi. Pamali!" Ujar wanita paruh baya itu pendek sambil memberi isyarat pada pemuda itu untuk berhenti bicara.
Pemuda itu pun tak berani lagi berkata apa-apa. Keduanya semakin mempercepat langkahnya menapaki jalanan yang sunyi lenggang, diikuti oleh desir angin malam yang berhembus dingin menegakkan bulu kuduk.
- End -
