Sang Vampire

Nyonya Hellen dikenal sebagai orang paling kaya di desanya. Dia memiliki tanah dan perkebunan yang luas. Selain itu dia juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Oleh karena itu warga desapun sangat menghormatinya. Nyonya Hellen tinggal berdua bersama Mona, anak gadisnya yang kini beranjak dewasa setelah suaminya meninggal dua tahun silam karena penyakit yang dideritanya. Merasa bahwa dirinya semakin tua maka nyonya Hellen menyuruh anak gadisnya agar secepatnya segera mencari pendamping hidup dengan alasan agar kelak ada orang yang menjaganya. Tentu saja hal itu bukan hal yang mudah bagi Mona karena kebanyakan para pemuda di desanya tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya yang merupakan anak gadis dari seorang yang sangat terpandang di desanya.

Suatu hari Mona ditemani oleh seorang pelayannya bermaksud pergi ke pasar di kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Biasanya dia selalu bepergian bersama ibunya namun hari itu ibunya harus pergi ke perkebunan untuk pengecekan rutin sehingga tak bisa ikut menemaninya. Tak ingin pulang terlalu malam maka dini hari sekali Mona sudah berangkat dengan mengendarai kereta kuda. Cuaca masih sedikit berkabut bekas hujan semalam ketika kereta kuda melewati sebuah hutan kecil yang dipenuhi pepohonan tinggi. Di dalam kereta Mona sedang asyik berbincang dengan pelayannya ketika tiba-tiba terdengar suara kuda meringkik keras diikuti laju kereta kuda yang berhenti secara mendadak, membuat Mona dan pelayannya hampir terjerembab ke depan. Tak lama terdengar suara gaduh di luar. Beberapa orang berteriak keras yang kemudian disusul suara jeritan keras seorang lelaki. Mona dan pelayannya masih dilanda kepanikan ketika tiba-tiba pintu kereta kuda di buka paksa oleh seseorang.

Nampak lima orang lelaki bertubuh kekar berpenutup muka dengan masing-masing tangan menggenggam senjata tajam. Salah seorang pria yang bertubuh paling besar segera melompat ke dalam kereta lalu dengan kasar memaksa mereka keluar. Sesampainya di luar Mona mengeluarkan jeritan tertahan ketika tatapannya membentur tubuh kusir kereta kuda yang tergeletak di tanah. Belum hilang keterkejutannya jeritan pendek lain terdengar dari belakang kereta. Pelayannya tersungkur berlumuran darah setelah perampok tersebut menyabetkan golok yang dipegangnya. Mona jatuh terduduk di tanah. Wajahnya pucat pasi ketika perampok yang telah membunuh pelayannya itu mendatanginya dengan golok yang masih berlumuran darah. Ketika jarak mereka hanya terpisah satu langkah tanpa banyak bicara si perampok segera menyabetkan goloknya pada Mona yang duduk ketakutan.

Hanya beberapa centimeter lagi golok itu dari leher Mona ketika sebuah teriakan menggema di tempat itu. Tak lama kemudian suara ribut terdengar dari bagian belakang kereta. Si perampok segera menghentikan niatnya dan berpaling ke arah datangnya suara. Nampak seorang pria yang datang dengan menunggangi seekor kuda coklat kini sudah dikelilingi oleh kawanannya. Orang itu pun segera bergegas mendatangi kawanannya dan meninggalkan Mona. Terdengar beberapa kali suara bentakan yang kemudian disusul suara orang yang sedang berkelahi. Kadang terdengar suara dentingan benda tajam beradu dan juga suara jeritan-jeritan keras. Sedikitpun Mona tak berani melihat apa yang terjadi. Tangannya menutupi kedua telinganya sedangkan tangisnya tak juga mau berhenti. Tak lama kemudian suasana di tempat itu kembali menjadi sepi.

Mona terlonjak kaget ketika tiba-tiba sebuah tangan menyentuh kedua bahunya. Sambil menjerit ketakutan kedua tangannya sibuk menepis tangan orang itu. Namun usahanya segera berhenti setelah menyadari bahwa orang yang ada dihadapannya tersebut ternyata adalah seorang pria tampan berperawakan cukup tinggi. Tak ada penutup wajah ataupun golok di tangannya. Bahkan pakaiannya terlihat bagus dan rapi. Orang itu tersenyum dan menawarkan diri untuk membantu Mona berdiri. Dengan susah payah Mona bangkit lalu kemudian mengusap wajahnya yang masih berlinang air mata. Pria tampan yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Harrad tersebut berkata agar Mona tak perlu merasa takut karena dia berhasil mengalahkan para perampok yang kini sudah melarikan diri. Dia kemudian menanyakan siapa Mona dan kenapa dia ada disana. Dengan tersendat Mona pun menceritakan semuanya. Pria itu sendiri bercerita bahwa dia adalah seorang pengembara dan ketika melewati tempat itu secara tak sengaja bertemu para perampok yang hampir mencelakakan Mona. Demi keselamatan Mona diapun menawarkan diri untuk mengantarkan Mona kembali ke rumah. Mau tak mau Mona pun menerima tawaran orang tersebut. Dengan mengendarai kuda coklat milik Harrad mereka pun akhirnya kembali ke rumah Mona.

Nyonya Hellen sangat terkejut ketika melihat Mona sudah kembali dengan pakaian lusuh dan ditemani seorang pria asing bukan bersama pelayannya. Namun setelah mendengar cerita dari mereka berdua nyonya Hellen pun berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Harrad. Dia pun menawarkan imbalan uang yang sangat besar pada Harrad demi untuk membalas jasanya. Namun Harrad menolaknya dengan halus dan mengatakan bahwa dia menolong Mona dengan tulus dan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Mendengar itu nyonya Hellen dibuat terkesima. baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang rela membahayakan nyawanya demi menolong orang lain tanpa mengharap imbalan. Nyonya Hellen masih dibuat keheranan oleh sikap Harrad ketika matanya menangkap sesuatu. Dia melihat bagaimana anak gadisnya tak bisa melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Terkadang Harrad pun mencuri pandang pada Mona. Maka nyonya Hellen pun menawarkan hal yang akhirnya tak bisa ditolak oleh Harrad, bahkan oleh Mona sekalipun. Seminggu kemudian merekapun menikah.

Lima bulan berlalu setelah Mona dan Harrad melangsungkan pernikahan. Nyonya Hellen sangat terkesan karena Harrad ternyata seorang yang rajin dan juga pintar. Dia sangat cekatan dalam membantu pekerjaan nyonya Hellen mengurus perkebunan. Tak jarang dia memberikan masukan yang sangat membantu saat nyonya Hellen menemukan kesulitan terhadap suatu masalah. Membuat nyonya Hellen semakin mempercayai menantunya tersebut. Sore itu nyonya Hellen sedang menikmati secangkir teh ditemani beberapa potong kue kecil di teras depan rumah. Sejak pagi Mona dan Harrad tak ada di rumah karena mereka pergi ke kota untuk berbelanja kebutuhan bulanan. Langit cerah segera berubah menjadi jingga ketika nampak sebuah gerobak kecil yang ditarik seekor kuda memasuki jalanan menuju halaman rumahnya. Nyonya Hellen segera bangkit berdiri memperhatikan beberapa orang yang duduk diatas gerobak yang dikenalnya sebagai penduduk desa. Sesampainya di depan rumah gerobak berhenti. Seorang lelaki tua terpogoh-pogoh mendatanginya. Belum sempat dia berkata apapun nyonya Hellen sudah terlebih dahulu beranjak menuju gerobak tersebut. Beberapa orang yang baru saja turun menundukkan kepalanya membuat perasaan nyonya Hellen tiba-tiba menjadi tak menentu. Sesampainya di pinggir gerobak nyonya Hellen bisa melihat jelas sesosok tubuh tergeletak dengan ditutupi sebuah kain lusuh. Dengan tangan gemetar nyonya Hellen menyibakkan kain tersebut.

Tangannya bergerak menutup mulutnya berusahan menahan agar tak menjerit sedangkan kakinya tiba-tiba terasa lemas membuat beberapa orang dengan segera menahan tubuhnya agar tak jatuh. Di lantai gerobak nampak Harrad tergeletak dengan keadaan cukup mengenaskan. Dia masih bernafas namun tak sadarkan diri. Pakaiannya lusuh dan sobek dibeberapa tempat. Sedangkan tubuhnya dipenuhi luka-luka seperti bekas cakaran dan penuh lebam. Penduduk desapun segera membawanya ke dalam rumah. Dari mereka nyonya Hellen mengetahui jika Harrad ditemukan di tepi hutan sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Sedangkan Mona kini tak diketahui nasib ataupun keberadaannya. Malam harinya barulah Harrad tersadar. Dengan susah payah dia berusaha bangkit berdiri walaupun nyonya Hellen sudah mencegahnya. Dari mulutnya dia terus meracau bahwa dia harus segera pergi menyelamatkan Mona yang telah diculik. Ketika nyonya Hellen menanyakan siapa yang telah menyerangnya dan menculik Mona, jawaban Harrad membuatnya terkesiap tak percaya. Vampire!

Kabarpun menyebar dengan cepat hanya dalam semalam. Rumor mengenai vampire penghuni hutan yang suka menculik wanitapun segera menjadi buah bibir dikalangan penduduk menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran jika mereka harus melewati hutan tersebut untuk pergi ke kota. Keesokan harinya dengan tubuh masih dibalut perban Harrad berpamitan pada nyonya Hellen untuk pergi mencari Mona. Nyonya Hellen sudah bersaha keras mencegahnya namun dia tetap bersikeras untuk pergi. Pada akhirnya nyonya Hellen hanya bisa melepas kepergian Harrad dengan air mata yang terus membasahi garis-garis tua di wajahnya. Seminggu. Sebulan. Setahun. Waktu berlalu dengan cepat. Nyonya Hellen kini terbaring di kamarnya. Tubuhnya kini kurus kering. Sejak kepergian Harrad tak pernah sekalipun dia mendengar lagi kabar darinya. Bahkan dia sudah tidak yakin apakah Mona dan Harrad masih hidup atau tidak. Kehilangan dua orang yang sangat disayanginya membuatnya menjadi lemah dan sakit-sakitan.

Sementara itu jauh di dalam hutan, terdapat sebuah gubuk tua berukuran cukup besar. Di dalamnya dibalik kegelapan nampak beberapa orang pria sedang bersantai. Empat orang bertubuh kekar sedang duduk melingkar sambil bermain kartu. Seorang yang bertubuh kurus terlihat sedang berbaring sambil memainkan sebuah pisau kecil sedangkan disebelahnya seorang bertubuh tegap sedang asyik menghisap pipa cangklong. Asap yang dihembuskannya memenuhi ruangan tersebut. Seorang lainnya yang berbadan tinggi besar duduk berjaga di dekat pintu sambil menenggak minuman dari sebuah botol kecil. Di pojok kamar hampir tak terlihat nampak sesosok lain yang duduk meringkuk di dalam sebuah kerangkeng besi. Jika diperhatikan lebih seksama sosok itu adalah seorang wanita dengan tubuh kurus dan tak terawat. Keadaannya sangat menyedihkan namun memiliki sorot matanya yang nyalang penuh kebencian yang tergambar jelas dari balik rambutnya yang riap-riapan.

Pria kurus yang sedang berbaring kemudian bangkit dan berjongkok di depan kerangkeng besi. Senyum lebar menyeruak dari bibirnya yang dihiasi kumis tipis melintang. Dipandanginya wanita yang selama ini diperlakukan sebagai budak oleh ketujuh orang yang ada di ruangan tersebut. Seperti melihat sesuatu yang menjijikkan wanita dalam kerangkeng dengan cepat meludahi wajah pria itu sambil berteriak dengan keras. Diperlakukan seperti itu si pria berkumis tipis menggembor marah. Sambil mengusap pipinya dia bangkit dan beberapa kali menendang kerangkeng besi dengan keras membuat wanita kurus itu terbanting kesana kemari. Temannya yang lain hanya tertawa menyaksikan hal itu. Pria yang sedang asyik menghisap pipa cangklong kemudian memberi kode kepada teman-temannya untuk segera berkumpul. Setelah berunding beberapa saat merekapun mengakhirinya dengan bersulang sambil tertawa terbahak-bahak tanpa memperdulikan tangisan wanita dalam kerangkeng.

Seorang pelayan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar nyonya Hellen. Dengan sedikit ragu dia membisikkan sesuatu ke telingan nyonya Hellen yang saat itu terbaring lemah. Bagai mendapat suatu kekuatan mata sayu nyonya Hellen kini terbuka membelalak. Mulutnya bergetar. Dengan susah payah dia menggerakkan kepalanya ke arah pintu. Disana seorang pemuda yang dirindukannya terlihat berdiri dengan mata berkaca-kaca. Harrad dengan cepat berjalan mendekati ranjang tempat nyonya Hellen tergolek lemas. Diciuminya tangan orang tua yang lama tak dijumpainya tersebut. Nyonya Hellen sendiri tak mampu berkata apa-apa. Dipandanginya wajah Harrad yang kini dipenuhi jambang dengan rambut berantakan tak seperti penampilannya dulu yang selalu rapi dan bagus.

Sambil menggenggam tangan nyonya Hellen, Harrad meminta maaf karena dia tak bisa membawa pulang Mona. Selama berbulan-bulan dia terus mngumpulkan informasi dan mendatangi banyak tempat demi menemukan jejak vampire yang telah menculik Mona. Namun dia merasa kesulitan karena kebanyakan orang tidak percaya kepadanya. Sampai akhirnya dia sampai di titik dimana dia merasa menyerah dan memutuskan untuk kembali. Mendengar cerita Harrad, nyonya Hellen hanya bisa menitikkan air mata. Sesungguhnya sudah lama dia merelakan kepergian Mona dan Harrad. Kini kepulangan Harrad merupakan suatu kebahagiaan tersendiri baginya. Setidaknya dia masih bisa bertemu dengan salah satu dari dua orang yang disayanginya. Harrad sendiri baginya sudah seperti anak kandungnya. Disisi lain dia merasa waktunya sudah tidak lama lagi. Maka dari itu diapun memutuskan untuk memberikan seluruh harta warisannya pada Harrad. Tepat setelah menandatangani surat warisan, nyonya Hellen menghembuskan nafasnya yang terakhir diikuti oleh tangisan para pelayan.

Seminggu berlalu setelah pemakaman nyonya Hellen. Nampak Harrad berdiri bertolak pinggang di depan teras rumah. Sambil menghisap pipa cangklongnya dia menatap tajam sebuah kereta kuda yang bergerak memasuki halaman rumah. Setibanya dihadapannya kusir kereta yang bertubuh kurus dan berkumis tipis segera membungkuk memberi hormat kepadanya. Tidak lama dari belakang kereta lima orang pria bertubuh kekar berlompatan keluar. Harrad mengangkat alis. Melihat itu pria yang bertubuh tinggi besar bergegas pergi ke bagian belakang kereta. Usai membuka pintunya nampak empat orang gadis cantik turun dari dalam kereta. Si kusir segera menimpali bahwa gadis-gadis yang lainnya akan segera datang tidak lama lagi. Mendengar itu Harrad tersenyum lebar. Dia segera memberi tanda agar keempat gadis tersebut mendekat. Setelah menyuruh si kusir untuk menyiapkan pesta, sambil tertawa keras dia masuk ke dalam rumah bersama para gadis yang kemudian diikuti oleh tawa keenam orang yang lainnya.

Jauh di dalam hutan, sesosok tubuh kurus kering dengan rambut riap-riapan menutupi wajahnya nampak tergantung di sebuah dahan pohon besar. Sebuah tali tambang melilit mengikat lehernya. Angin dingin menusuk kulit berhembus menggoyangkan tubuh yang nampak tak berdaya tersebut. Seekor gagak terbang mengitari tubuh tersebut kemudian hinggap di atas kepalanya. Namun tak lama kemudian ia segera terbang menjauh sambil mengeluarkan suara keras ketika sosok yang tergantung tiba-tiba membuka matanya. Sepasang mata merah yang menyala menggidikkan.







- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger