Di sebuah pos ronda kampung terlihat dua orang lelaki sedang berjaga. Seorang yang lebih tua nampak sedang menikmati segelas kopi hitam sambil menghisap rokok daun kawungnya. Sedangkan lelaki yang berusia lebih muda nampak sedang menghangatkan tubuhnya di depan perapian. Dihadapkannya telapak tangannya ke perapian kemudian sesekali digosok-gosokan ke wajahnya. Mereka adalah Kang Oto dan Jang Ono yang memang sedang kebagian jadwal ronda malam itu.
"Jang, sudah jangan dipanasin terus itu tangan. Nanti tambah gosong kulit kamu. Kalau sudah begitu saya juga yang repot!" Ujar Kang Oto memecah kesunyian.
Jang Ono memutar tubuhnya. Kedua alisnya mengernyit hampir menjadi satu mendengar perkataan Kang Oto.
"Memangnya kenapa saya kalau kulit saya makin hitam? Kenapa akang yang repot?" Tanya Jang Ono sedikit ketus.
Kang Oto menghisap dalam rokok kawungnya. Meniupkan asapnya ke udara beberapa kali. Dengan tatapan tajam dipandangnya Jang Ono membuat dia merasa gelisah sendiri dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Soalnya kalau kamu tambah hitam, saya bakalan kesulitan nyari kamu nanti pas ronda keliling. Jadi satu kamu sama gelap malam!" Kang Oto tertawa sampai terbatuk-batuk.
Jang Ono hanya bisa mencibir diledek seperti itu. Dengan kesal ditendangnya kayu bakar diperapian dengan kakinya.
"Kamu ini ngeronda malah terus duduk di depan api. Bukannya jadi hangat yang ada makin dingin tubuh kamu. Duduk sini, ngopi dulu." Kang Oto menepuk tempat duduk di sebelahnya.
Sedikit bermalasan Jang Ono bangkit dan duduk disebelah Kang Oto. Diambilnya sebatang rokok yang disodorkan Kang Oto padanya.
"Kang, biar nggak ngantuk ceritain sama saya cerita horor atau apalah. Akang kan katanya pintar mendongeng." Ujar Jang Ono sambil menyalakan rokoknya.
Tapi baru dihisapnya sekali dia langsung terbatuk. Dilemparkannya rokok tersebut ke arah perapian. Lidahnya dijulurkannya keluar seperti orang tercekik.
"Rokok apa itu, kang? Koq baunya kayak kencing gorila." Jang Ono meludah ke tanah beberapa kali.
Kang Oto santai saja menghisap rokoknya.
"Mau kuceritakan apa?" Tanya Kang Oto.
Jang Ono cemberut protesnya tidak ditanggapi Kang Oto. Diseruputnya kopi di gelas milik Kang Oto.
"Terserah akang saja." Jang Ono masih merasa kesal.
Kang Oto memperbaiki posisi duduknya, setelah berpikir sejenak dia pun memulai ceritanya.
"Pada suatu malam yang gelap, seorang lelaki bertubuh tinggi besar nampak berjalan terbungkuk-bungkuk. Rambutnya gondrong riap-riapan tertiup angin malam. Ketika menyusuri sebuah jalan perkampungan yang sepi tatapannya membentur sesosok wanita yang berdiri beberapa langkah dihadapannya.
Diapun menghentikan langkahnya dan berusaha mengenali sosok yang berpapasan dengannya tersebut. Saat itu kondisi cukup gelap karena rembulan tertutup awan sehingga lelaki itu merasa kesulitan untuk melihat wajah wanita di hadapannya. Barulah disaat awan mulai bergerak perlahan cahaya rembulan jatuh sedikit demi sedikit menerangi tempat itu.
Sekarang lelaki itu bisa melihat wajah seorang gadis berwajah pucat dan berambut hitam panjang dengan tatapan dingin memandang padanya. Namun ketika cahaya rembulan menyinari sekujur tubuh wanita itu, terkejutlah si lelaki. Tubuh wanita itu berlubang besar di bagian perutnya tembus sampai ke punggungnya. Isi perutnya terburai keluar dan dipenuhi belatung yang menggeliat-geliat. Kontan saja si lelaki itu ketakutan dan segera ambil langkah seribu meninggalkan tempat itu.
"To... To... Toloooong! Ada sundel bolong!" Teriak lelaki itu.
Sementara itu disaat yang bersamaan terdengar jeritan seorang wanita. Ternyata Sundel Bolong itu juga berlari ketakutan ke arah yang berlawanan sambil berteriak.
"Aaaahhh! Toloooong! Ada Genderuwo!"
Jang Ono termangu untuk beberapa detik sebelum kemudian tawanya meledak memecah keheningan malam.
"Bentar... Bentar... Jadi lelaki gondrong itu sebenernya Genderuwo?" Ujarnya kembali tertawa sambil mengusap kedua matanya yang basah.
Kang Oto ikut tertawa sambil mengangguk.
"Keduanya sama-sama tolol. Masa setan takut sama setan. Makanya jadi orang mesti pinter. Percuma kamu punya tubuh tinggi besar seperti si genderuwo tapi otak di dengkul." Ujar Kang Oto disambut tawa Jang Ono.
"Punten. (Permisi) " Sapa seseorang yang lewat di depan pos ronda mereka.
"Mangga. (Silahkan)." Jawab Jang Ono sambil meraih gelas berisi kopi.
Namun ketika hendak meminumnya, gerakannya terhenti. Kepalanya mendongak keluar melihat orang yang barusan lewat. Kang Oto yang penasaran juga ikut memandang ke arah perginya orang itu. Nampak bayangan seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berambut gondrong sedang berjalan dengan sedikit terbungkuk-bungkuk. Mereka pun berpandangan.
"Aaaaaaahhhh!!"
Dengan penuh ketakutan mereka melompat ke dalam pos ronda dan bersembunyi di balik kain sarung masing-masing.
- End -
