Dengan nafas terengah-engah kedua orang itu terus berlari menyusuri trotoar jalan. Di sebuah perempatan jalan kedua orang tersebut menghentikan larinya. Salah satu diantara mereka nampak memandang sekeliling kemudian memberi isyarat pada temannya untuk mengikutinya mengambil jalan ke kanan. Meneruskan larinya mereka berbelok ke sebuah halaman rumah, melompati pagar pendek dan segera menyelinap ke balik sebuah pohon tepat ketika dua buah mobil patroli polisi yang mengejar mereka lewat di tempat itu. Beberapa menit setelah kedua mobil berlalu mereka masih diam di tempatnya bersembunyi. Baru kemudian setelah tak terdengar lagi deru mesin kedua kendaraan tersebut mereka berdiri sambil tetap mengawasi keadaan sekitar. Salah satu dari mereka bergerak ke arah pintu rumah dan mencoba mencongkel kuncinya.
Rumah itu nampak masih kokoh jika dibandingkan rumah yang lain. Catnya belum banyak terkelupas. Tidak ada tanaman rambat yang menjalari tembok. Kaca jendelanya masih utuh tanpa ada yang pecah sedikitpun. Bahkan sebuah tirai usang terlihat masih menghiasinya. Hal yang paling mencolok adalah pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati berukir dan nampak masih seperti baru dipasang. Di bagian atasnya terdapat plat besi dengan nomor 7117. Nomor yang terbilang tidak lazim digunakan untuk sebuah nomor rumah. Namun tentu saja hal seperti itu tidak diperdulikan oleh kedua orang yang sedang dilanda kepanikan tersebut. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya terdengar bunyi kunci terbuka. Tanpa menunggu lebih lama keduanya segera menyelinap masuk ke dalam rumah kosong tersebut.
Rumah itu nampak masih kokoh jika dibandingkan rumah yang lain. Catnya belum banyak terkelupas. Tidak ada tanaman rambat yang menjalari tembok. Kaca jendelanya masih utuh tanpa ada yang pecah sedikitpun. Bahkan sebuah tirai usang terlihat masih menghiasinya. Hal yang paling mencolok adalah pintu rumahnya yang terbuat dari kayu jati berukir dan nampak masih seperti baru dipasang. Di bagian atasnya terdapat plat besi dengan nomor 7117. Nomor yang terbilang tidak lazim digunakan untuk sebuah nomor rumah. Namun tentu saja hal seperti itu tidak diperdulikan oleh kedua orang yang sedang dilanda kepanikan tersebut. Setelah beberapa saat kemudian akhirnya terdengar bunyi kunci terbuka. Tanpa menunggu lebih lama keduanya segera menyelinap masuk ke dalam rumah kosong tersebut.
Buukk! Sebuah pukulan tiba-tiba dilayangkan oleh orang yang bertubuh tinggi kurus ke wajah temannya yang bertubuh lebih pendek, membuatnya mengaduh dan tersungkur ke lantai. Selagi temannya meringgis kesakitan si tinggi kurus kembali hendak melayangkan pukulannya namun kemudian diurungkannya. Setengah mendengus dia pergi ke dinding ruangan. "Dasar tolol kau, Badar! Kenapa kau membunuh pria tua itu? Apa untungnya? Yang ada kau malah merusak rencana! Brengsek!" Dengan kesal dia menendang sebuah kotak kayu kosong di dekat kakinya. Temannya yang dipanggil Badar hanya menyeringai sambil mengelus pelipisnya yang berdenyut sakit. Sambil bersandar di tembok dia memindahkan tas yang sedari tadi digendongnya ke pangkuannya. “Aku tidak bermaksud membunuhnya, Sidan. Salah si pria tua itu tidak mau melepaskan tasnya sedangkan kita kehabisan waktu. Aku tidak punya pilihan lain selain menembaknya.” Badar mencoba membela diri. “Iya, tapi tidak bisakah kau cukup merampasnya saja. Akibat suara tembakanmu tetangga pria tua itu jadi melapor ke polisi.” Tukas Sidan dengan ketus. Diambilnya sebatang rokok dari sakunya dan segera dinyalakannya. “Sudahlah, aku malas berdebat. Itu kan resiko pekerjaan. Toh kita juga bisa mengecoh polisi. Bukankah yang terpenting sekarang adalah ini!” Badar membuka resletting tas yang ada di pangkuannya. Nampak gepokan uang pecahan seratus ribu yang bertumpuk tersusun rapi didalamnya membuat Sidan segera lupa akan kemarahannya. Diambilnya tas itu dari tangan Badar. Setelah sejenak memperhatikan isinya segera dia keluarkan semua uang tersebut sembari menghitungnya dan disusunnya di atas lantai. “Tiga ratus juta. Aku akan membaginya rata seperti yang kujanjikan. Ini bagianmu, dan ini bagianku.” Ujarnya seraya mendorong setumpuk uang ke arah Badar. Sambil menyeringai Badar mengeluarkan sebuah kantong kain dari balik jaketnya dan mulai memasukan uang yang ada dihadapannya. Namun baru saja beberapa gepok uang yang dia masukkan dengan cepat Sidan memberinya isyarat untuk menghentikan yang sedang dilakukannya.
“Aku barusan melihat bayangan melintas di jendela. Jangan-jangan polisi menemukan kita.” Bisik Sidan. Badar melirik ke arah jendela rumah yang tertutup gorden bekas. Lama menunggu tak ada apapun yang bergerak maupun suara yang terdengar. Hanya suara jangkrik yang nyaring terdengar. “Tidak ada apa-apa. Kau ini berkhayal atau gimana?” Ujar Badar setengah meledek temannya itu. Sidan tak menjawab perkataannya. Matanya tetap waspada memandanb ke arah jendela. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dia mengikuti apa yang dilakukan Badar, memasukan uang bagiannya ke dalam tas yang dipegangnya. Wuutt! Kali ini bayangan seseorang jelas berkelebat di jendela membuat keduanya sama-sama terlonjak kaget. Keduanya berpandangan. Badar segera mencabut pistol yang ada dibalik bajunya sedangkan Sidan mencabut sebuah belati yang terselip di sepatu bootnya. “Cepat kau intip lewat celah di jendela.” Sidan menyuruh Badar untuk mendekati jendela. Setelah mengangguk pelan dengan hati-hati Badar melangkah sambil berusaha tanpa mengeluarkan suara. Begitu sampai di jendela disingkapkannya sedikit gorden yang menutupi kaca, matanya memandang memperhatikan kegelapan malam. Beberapa menit berlalu nampak tak ada sedikitpun peegerakan di luar sana. “Aneh, tak ada tanda-tanda mereka. Apa mereka bersembunyi menunggu kita keluar? Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi lewat jalan belakang?” Ujarnya sambil menutup gorden perlahan. Namun tak ada tanggapan dari Sidan. Badar yang merasa keheranan segera memalingkan wajahnya ke tempat Sidan berdiri. Temannya tidak ada disana.
"Kemana perginya si pengecut itu. Rupanya diam-diam dia kabur duluan. Brengsek!" Badar memaki panjang pendek. Disambarnya tas uangnya dan dengan cepat dimasukkannya tumpukkan uang yang tadi belum sempat dimasukkannya. Ketika dia hendak pergi mencari pintu belakang tanpa sengaja matanya tertuju pada benda yang berserakan di lantai. Uang bagian milik Sidan! Firasat Badar mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat itu. Lebih tepatnya dengan rumah itu. Dia kenal betul siapa Sidan, tidak mungkin orang sepertinya meninggalkan uang yang begitu banyak hanya karena ketakutan yang tidak jelas. Apalagi dia menghilang begitu saja tanpa disadari oleh Badar. Diangkatnya pistol yang ada di genggamannya ke depan dadanya dan berjalan perlahan ke arah sebuah anak tangga yang menuju ke lantai dua rumah tersebut. Ketika baru melangkahkan kakinya hendak naik ke atas Badar merasa menginjak sesuatu. Dirabanya benda itu yang ternyata sebuah korek api yang diketahuinya milik Sidan. Hal itu semakin menguatkan dugaannya bahwa sesuatu telah terjadi pada Sidan. Disaat baru beberapa langkah menaiki tangga, sebuah suara keras yang berasal dari atas mengejutkan Badar sampai terjajar ke dinding.
Suara mirip sesuatu yang berlari cepat terdengar cukup keras disusul oleh suara mencericit yang kemudian segera menghilang. Badar mencoba mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. "Tikus sialan! Membuatku kaget saja!" Badar memaki tak jelas. Tanpa menurunkan kewaspadaannya dia kembali menaiki anak tangga. Tingkat dua rumah tersebut ternyata hanyalah berupa ruangan kosong sepenuhnya. Tidak ada kamar atau ruangan lain namun terlihat samar banyak benda berserakan di lantai. Badar tak bisa memastikan benda apa saja karena kondisi ruangan yang cukup gelap. Dengan hati-hati dia melangkah diantara tumpukan barang. Beberapa kali terdengar bunyi berderak ketika kakinya menginjak pecahan-pecahan barang. Ketika matanya mulai terbiasa dengan gelapnya ruangan tersebut sedikit demi sedikit dia bisa melihat benda-benda yang ada disana. Ternyata semuanya adalah barang-barang yang biasa mengisi rumah. Mulai dari perabotan dapur, kamar, ruang tamu sampai mainan anak-anak ada disana. "Apa yang terjadi dengan rumah ini? Kenapa penghuninya membawa semua barang-barang dan meninggalkannya disini? Bukankah jika mereka pindah harusnya mereka membawa semuanya?" Badar bertanya-tanya dalam hati. Pandangannya melewati kaca memandang ke luar memperhatikan purnama yang menghiasi langit malam. Cahayanya menerangi bangunan-bangunan yang belum rampung di luar sana. Berderet rapi didalam sunyinya malam. Seketika Badar tersentak. Matanya langsung waspada memperhatikan sekitarnya. "Bodoh kau Badar! Bodoh! Kenapa baru sekarang aku sadar kalau aku berada di tempat terkutuk ini. Pantas saja dari tadi aku merasa ganjil. Setelah kupikir lagi bagaimana mungkin ada begitu banyak barang-barang di sebuah rumah yang bahkan belum pernah dihuni. Tentu saja tidak mungkin untuk sebuah perumahan yang pembangunannya tak pernah selesai. Gawat! Aku harus segera pergi dari tempat ini!" Badar segera bergerak hendak turun kembali melalui tangga. Namun langkahnya seketika terhenti ketika samar-samar didengarnya langkah seseorang sedang menaiki tangga menuju ke arahnya!
Badar bersurut mundur beberapa langkah. Ditodongkan pistolnya ke arah datangnya suara langkah yang terdengar pelan dan berat yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Badar menduga orang itu menggunakan sepatu boot atau semacamnya. "Sidan! Apa itu kau!?" Teriak Badar tak sabar. Tangannya semakin erat menggenggam pistolnya. Tak ada jawaban. Langkah itu berhenti, namun tak lama kemudian mulai melangkah lagi. Tapi ada suara langkah lain yang terdengar. Dua, tidak, tiga orang, atau mungkin lebih dari tiga orang! Badar masih bertanya-tanya dalam hatinya ketika sebuah bayangan nampak terlihat dari arah tangga. Seorang pria dengan perawakan tinggi kurus. Badar hampir berseru namun segera mengurungkan niatnya ketika dibelakang orang itu menyusul beberapa bayangan orang lainnya yang membuat Badar menjauhi anak tangga. Ketika orang tinggi kurus itu sampai di anak tangga teratas, tercekatlah Badar. Cahaya purnama yang jatuh melewati kaca ruangan tersebut membuat Badar bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di depannya. Orang itu memang Sidan. Namun wajahnya hancur berantakan. Kulit wajahnya terkelupas, matanya hanya berupa rongga dengan darah yang masih segar meleleh membasahi pipinya. Tak ada lagi bola mata disana. Sedangkan rahangnya patah mengerikan dan menggantung hampir lepas. Sebuah sekop tertancap melintang dari dadanya tembus ke punggung. Badar tersurut mundur sampai terjengkang ke lantai. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya bergetar hebat. Ketika terjatuh tanpa sengaja tangannya memegang sesuatu yang berserakan di lantai menahan tubuhnya. Ketika dilihatnya terkejutlah dia. Benda itu adalah tulang belulang manusia! Lebih buruknya semua benda dan perabotan yang tadi dilihatnya berserakan di lantai kini berubah menjadi tulang belulang dan tengkorak manusia!
Sambil berteriak penuh ketakutan Badar berlari ke arah jendela ruangan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu Sidan diikuti yang lainnya mulai bergerak mendekati Badar. Kini Badar bisa melihat sosok yang berdatangan padanya dengan jelas. Mereka adalah para pekerja bangunan yang menghilang dan berubah menjadi sosok mengerikan seperti Sidan. Badar semakin terdesak, para mahluk mengerikan itu semakin merangsek mendekat padanya. Tidak mungkin baginya menerobos mereka yang semakin berdatangan dari arah tangga dengan hanya bermodal pistol di tangannya. Bahkan dia tidak yakin peluru akan menghentikan mereka. Di tengah kebuntuannya Badar melihat sebuah pohon yang menjulang di luar yang tadi dipakainya bersembunyi. Cabangnya hampir menyentuh kaca jendela di belakangnya. Tanpa pikir panjang dengan gagang pistol dipecahkannya kaca jendela. Seperti tidak memperdulikan beberapa pecahan kaca yang mengenai tangannya dengan cepat dia meloloskan diri lewat jendela. Sesaaat sebelum para mahluk mengerikan itu menangkapnya Badar segera melompat ke cabang pohon. Tubuhnya meluncur deras sedangkan tangannya berusaha menggapai sebisanya. Tangan kanannya berhasil menangkap sebuah cabang pohon, namun dahannya terlalu kecil untuk menahan tubuhnya. Kraakk! Buukk! Terdengar suara dahan pohon patah disusul jerit kesakitan Badar saat tubuhnya terbanting ke tanah. Dia berhasil selamat namun pergelangan kaki kirinya patah. Dengan segera dia bangkit dan terpincang-pincang lari menyelamatkan diri dari rumah itu.
Beberapa puluh meter Badar berlari dilihatnya sebuah mobil patroli polisi terparkir di bahu jalan. Segera dia berteriak meminta pertolongan. Dari dalam mobil seorang polisi keluar dan segera menghampiri serta bertanya mengenai apa yang terjadi padanya. Badar pun menceritakan semua yang terjadi dan mengakui segala kejahatannya. Polisi pun menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan bermaksud membawanya menuju kantor polisi. Di dalam mobil Badar terduduk lemas. Pikirannya kacau. Sesaat dia menoleh ke belakang memperhatikan rumah dengan nomor 7117 tersebut. Hanya kegelapan yang menyelimutinya. Sementara itu ketika melihat sebuah mobil polisi keluar dari jalan perumahan, seorang gelandangan yang sedang berjalan di tengah dinginnya malam nampak menghentikan langkahnya. Matanya mengikuti arah perginya mobil tersebut. Tangannya membuat gerakan seperti orang sedang berdoa sebelum kemudian mempercepat langkah kakinya setelah dilihatnya mobil yang baru saja melewatinya itu melaju tanpa pengemudi...
Suara mirip sesuatu yang berlari cepat terdengar cukup keras disusul oleh suara mencericit yang kemudian segera menghilang. Badar mencoba mengambil nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. "Tikus sialan! Membuatku kaget saja!" Badar memaki tak jelas. Tanpa menurunkan kewaspadaannya dia kembali menaiki anak tangga. Tingkat dua rumah tersebut ternyata hanyalah berupa ruangan kosong sepenuhnya. Tidak ada kamar atau ruangan lain namun terlihat samar banyak benda berserakan di lantai. Badar tak bisa memastikan benda apa saja karena kondisi ruangan yang cukup gelap. Dengan hati-hati dia melangkah diantara tumpukan barang. Beberapa kali terdengar bunyi berderak ketika kakinya menginjak pecahan-pecahan barang. Ketika matanya mulai terbiasa dengan gelapnya ruangan tersebut sedikit demi sedikit dia bisa melihat benda-benda yang ada disana. Ternyata semuanya adalah barang-barang yang biasa mengisi rumah. Mulai dari perabotan dapur, kamar, ruang tamu sampai mainan anak-anak ada disana. "Apa yang terjadi dengan rumah ini? Kenapa penghuninya membawa semua barang-barang dan meninggalkannya disini? Bukankah jika mereka pindah harusnya mereka membawa semuanya?" Badar bertanya-tanya dalam hati. Pandangannya melewati kaca memandang ke luar memperhatikan purnama yang menghiasi langit malam. Cahayanya menerangi bangunan-bangunan yang belum rampung di luar sana. Berderet rapi didalam sunyinya malam. Seketika Badar tersentak. Matanya langsung waspada memperhatikan sekitarnya. "Bodoh kau Badar! Bodoh! Kenapa baru sekarang aku sadar kalau aku berada di tempat terkutuk ini. Pantas saja dari tadi aku merasa ganjil. Setelah kupikir lagi bagaimana mungkin ada begitu banyak barang-barang di sebuah rumah yang bahkan belum pernah dihuni. Tentu saja tidak mungkin untuk sebuah perumahan yang pembangunannya tak pernah selesai. Gawat! Aku harus segera pergi dari tempat ini!" Badar segera bergerak hendak turun kembali melalui tangga. Namun langkahnya seketika terhenti ketika samar-samar didengarnya langkah seseorang sedang menaiki tangga menuju ke arahnya!
Badar bersurut mundur beberapa langkah. Ditodongkan pistolnya ke arah datangnya suara langkah yang terdengar pelan dan berat yang semakin lama semakin terdengar dengan jelas. Badar menduga orang itu menggunakan sepatu boot atau semacamnya. "Sidan! Apa itu kau!?" Teriak Badar tak sabar. Tangannya semakin erat menggenggam pistolnya. Tak ada jawaban. Langkah itu berhenti, namun tak lama kemudian mulai melangkah lagi. Tapi ada suara langkah lain yang terdengar. Dua, tidak, tiga orang, atau mungkin lebih dari tiga orang! Badar masih bertanya-tanya dalam hatinya ketika sebuah bayangan nampak terlihat dari arah tangga. Seorang pria dengan perawakan tinggi kurus. Badar hampir berseru namun segera mengurungkan niatnya ketika dibelakang orang itu menyusul beberapa bayangan orang lainnya yang membuat Badar menjauhi anak tangga. Ketika orang tinggi kurus itu sampai di anak tangga teratas, tercekatlah Badar. Cahaya purnama yang jatuh melewati kaca ruangan tersebut membuat Badar bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di depannya. Orang itu memang Sidan. Namun wajahnya hancur berantakan. Kulit wajahnya terkelupas, matanya hanya berupa rongga dengan darah yang masih segar meleleh membasahi pipinya. Tak ada lagi bola mata disana. Sedangkan rahangnya patah mengerikan dan menggantung hampir lepas. Sebuah sekop tertancap melintang dari dadanya tembus ke punggung. Badar tersurut mundur sampai terjengkang ke lantai. Tubuhnya terasa lemas dan kakinya bergetar hebat. Ketika terjatuh tanpa sengaja tangannya memegang sesuatu yang berserakan di lantai menahan tubuhnya. Ketika dilihatnya terkejutlah dia. Benda itu adalah tulang belulang manusia! Lebih buruknya semua benda dan perabotan yang tadi dilihatnya berserakan di lantai kini berubah menjadi tulang belulang dan tengkorak manusia!
Sambil berteriak penuh ketakutan Badar berlari ke arah jendela ruangan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu Sidan diikuti yang lainnya mulai bergerak mendekati Badar. Kini Badar bisa melihat sosok yang berdatangan padanya dengan jelas. Mereka adalah para pekerja bangunan yang menghilang dan berubah menjadi sosok mengerikan seperti Sidan. Badar semakin terdesak, para mahluk mengerikan itu semakin merangsek mendekat padanya. Tidak mungkin baginya menerobos mereka yang semakin berdatangan dari arah tangga dengan hanya bermodal pistol di tangannya. Bahkan dia tidak yakin peluru akan menghentikan mereka. Di tengah kebuntuannya Badar melihat sebuah pohon yang menjulang di luar yang tadi dipakainya bersembunyi. Cabangnya hampir menyentuh kaca jendela di belakangnya. Tanpa pikir panjang dengan gagang pistol dipecahkannya kaca jendela. Seperti tidak memperdulikan beberapa pecahan kaca yang mengenai tangannya dengan cepat dia meloloskan diri lewat jendela. Sesaaat sebelum para mahluk mengerikan itu menangkapnya Badar segera melompat ke cabang pohon. Tubuhnya meluncur deras sedangkan tangannya berusaha menggapai sebisanya. Tangan kanannya berhasil menangkap sebuah cabang pohon, namun dahannya terlalu kecil untuk menahan tubuhnya. Kraakk! Buukk! Terdengar suara dahan pohon patah disusul jerit kesakitan Badar saat tubuhnya terbanting ke tanah. Dia berhasil selamat namun pergelangan kaki kirinya patah. Dengan segera dia bangkit dan terpincang-pincang lari menyelamatkan diri dari rumah itu.
Beberapa puluh meter Badar berlari dilihatnya sebuah mobil patroli polisi terparkir di bahu jalan. Segera dia berteriak meminta pertolongan. Dari dalam mobil seorang polisi keluar dan segera menghampiri serta bertanya mengenai apa yang terjadi padanya. Badar pun menceritakan semua yang terjadi dan mengakui segala kejahatannya. Polisi pun menyuruhnya masuk ke dalam mobil dan bermaksud membawanya menuju kantor polisi. Di dalam mobil Badar terduduk lemas. Pikirannya kacau. Sesaat dia menoleh ke belakang memperhatikan rumah dengan nomor 7117 tersebut. Hanya kegelapan yang menyelimutinya. Sementara itu ketika melihat sebuah mobil polisi keluar dari jalan perumahan, seorang gelandangan yang sedang berjalan di tengah dinginnya malam nampak menghentikan langkahnya. Matanya mengikuti arah perginya mobil tersebut. Tangannya membuat gerakan seperti orang sedang berdoa sebelum kemudian mempercepat langkah kakinya setelah dilihatnya mobil yang baru saja melewatinya itu melaju tanpa pengemudi...
- End -
