Monster

"Monster! Monster! Pergi kau dasar monster!" Teriak beberapa anak kecil yang berkumpul di sudut sebuah gang buntu. Mereka berkerumun mengelilingi seorang anak perempuan yang terduduk di tanah sambil menutupi wajahnya. Rambut anak perempuan itu terlihat berbeda dengan anak seusianya. Dia memiliki warna putih yang rata di keseluruhan rambutnya. Sedangkan anak-anak yang mengerumuninya terus mengejeknya dan terkadang mereka juga melempari anak perempuan tersebut dengan benda-benda disekitarnya. "Ayo, lempari lagi dia!" Teriak salah satu anak laki-laki berambut jabrik. Teman-temannya yang lain segera mengikuti apa yang dia perintahkan. Sementara anak perempuan itu hanya diam saja menerima semua benda yang melayang mengenai tubuhnya.

"Berhenti, anak-anak! Apa yang kalian lakukan?" Sebuah teriakan menggema menghentikan tindakan anak-anak nakal tersebut. Begitu melihat siapa yang berbicara mereka langsung bersurut mundur dan berkumpul menjauhi si anak perempuan. Seorang wanita bertubuh tinggi semampai terlihat berdiri di depan jalan menuju gang. Ditangan kanannya terlihat keranjang belanjaan berisi sayuran dan berbagai bahan masakan. Semua anak mengenalinya, dia adalah bu Arin, seorang guru di sebuah sekolah dasar swasta dan kebetulan memang mereka semua adalah anak didiknya. Bu Arin memiliki paras yang cantik dan lembut. Dia sangat disenangi oleh semua orang karena sikapnya yang lembut dan penyayang kepada siapa saja. Namun walau begitu melihat bu Arin mendatangi mereka, anak-anak itu pun langsung tertunduk diam.

"Kamu tidak apa-apa Eri?" sapa bu Arin sambil meletakan kantung plastik belanjaannya lalu dengan nada lembut membantu membangunkan anak perempuan tersebut. Anak bernama Eri itu cuma menggeleng, kepalanya tetap tertunduk. Sambil membersihkan debu dan kotoran yang menempel pada tubuhnya, bu Arin mengedarkan pandangannya menatap anak didiknya satu persatu yang saat itu berjejer berdesakan dengan wajah ketakutan. "Kenapa kalian jahat sama Eri? Kalian kan teman sekelasnya. Memangnya Eri salah apa sama kalian?" Tanya bu Arin. "Dia... Dia itu monster, bu. Ibu jangan dekat-dekat nanti dia makan ibu." Ujar si anak berambut jabrik. "Iya, bu. Dia itu monster jahat." Timpal anak yang berbadan gemuk. "Lho, kenapa kalian memanggil Eri dengan sebutan monster? Dia kan sama seperti kalian." Tanya bu Arin sambil mengernyitkan kening. "Tapi dia memang monster, bu guru. Dia suka makan telur mentah. Hiiyy!" Ujar seorang anak perempuan sambil bergidik. "Rambutnya aja warnanya putih, katanya yang rambutnya putih itu Wewe Gombel!" Si pendek menimpali sambil bersembunyi di balik tubuh temannya.

Bu Arin berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya ampun. Siapa yang mengajari hal itu sama kalian? Eri itu suka makan telur setengah matang, bukan telur mentah. Telur setengah matang itu sumber protein yang bagus. Dan rambutnya yang putih, itu memang kelainan gen sejak lahir. Itu sama sekali bukan hal yang berbahaya." Jelas Bu Arin membuat anak-anak menjadi tertuduk tak berani mengatakan apa-apa lagi. "Jadi sudah jelas kan kalo Eri itu bukan monster. Dia adalah teman kalian dan sesama teman itu harus saling menjaga. Tidak peduli walau Eri punya fisik yang berbeda dengan kalian, kalian harus berteman selamanya. Kalian mengerti?" Tanya bu Arin sambil memandangi anak-anak. Mereka mengangguk berbarengan. Bu Arin pun tersenyum melihatnya. "Sekarang karena sudah sore, kalian cepat pulang. Eri biar ibu yang antar pulang." Ujarnya diikuti anggukan anak-anak.

Anak-anak segera berlarian pulang. Bu Arin menghampiri Eri yang masih berdiri sambil tetap menunduk menutupi wajahnya. "Eri jangan takut. Mereka tidak akan jahat lagi sama Eri. Tidak akan ada lagi, karena mulai sekarang ibu akan menjaga Eri." Ujarnya sambil mengelus rambut kemudian memeluk anak didiknya itu. Di wajahnya menyeruak sebuah senyuman. Perlahan Eri melepaskan tangannya yang sedari tadi menutupi kedua wajahnya. Nampak sebuah wajah berkulit pucat dengan tatap mata sayu. Perlahan tatapan mata itu melirik ke arah bu Arin yang sedang memeluknya, namun sejurus kemudian tatapannya berubah menjadi sebuah tatapan kosong. Bias cahaya matahari sore itu memantulkan sebuah bayangan mengerikan yang tiba-tiba muncul di dinding tembok gang buntu itu. Sesosok tubuh tinggi besar dengan rambut riap-riapan nampak tergambar dengan jelas, dari kepalanya muncul sebuah tanduk mirip tanduk rusa. Sedangkan tangan dan jemarinya terlihat semakin memanjang dengan kukunya yang runcing dan tajam mencuat mengerikan. Sesaat kemudian terdengar sebuah jeritan pendek memilukan. Hanya sekejap sebelum kemudian hanya desir angin di pepohonan yang terdengar di sore itu.

Malam menjelang. Angin masih berhembus tenang menggoyangkan dedaunan. Namun tidak dengan keluarga kecil yang menghuni sebuah rumah kuno bergaya Belanda. Seorang wanita nampak menangis di pelukan seorang wanita yang berusia lebih tua darinya. Sedangkan seorang pria nampak mondar-mandir sambil sibuk berbicara lewat telepon. Mereka mengkhawatirkan salah satu anggota keluarganya yang menghilang sejak sore tadi. Eri, anak semata wayang mereka, tak pernah kembali ke rumah itu.



- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger