Agam dan lima orang lainnya yang tergabung dalam tim penyelam sudah menaiki perahu boat yang kemudian melaju membawa mereka ke tengah danau. Di titik yang sudah ditentukan para penyelam segera masuk kedalam air dan berpencar secara berpasangan demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Begitu juga dengan Agam yang memang sudah terlatih secara khusus untuk menghadapi situasi seperti ini. Setelah memastikan tidak ada masalah dengan kondisi perlengkapan menyelamnya segera dia mencebur masuk ke dalam air diikuti oleh salah satu penyelam yang lain. Danau tersebut berair jernih pada permukaannya, namun jika menyelam lagi dalam kedalaman lebih dari delapan meter maka akan mulai terasa sulit untuk melihat dengan jelas. Namun hal seperti itu tidaklah menyurutkan keberanian Agam yang memang dikenal diantara teman-temannya sebagai salah seorang anggota Tim SAR yang sangat pemberani. Seperti saat terjadi bencana banjir bandang, dengan bermodalkan tali tambang yang diikatkan pada sebatang pohon dia berjuang melawan derasnya arus banjir bandang demi menyelamatkan seorang anak kecil yang terjebak di salah satu atap rumah. Jika saja dia tidak cepat tanggap maka anak kecil itu sudah pasti hanyut terbawa arus.
Sambil menyalakan lampu senter di kepalanya keduanya terus mencari kesana kemari mencoba mencari petunjuk yang bisa membawanya menemukan korban. Setelah dirasa tak mendapatkan hasil apa-apa akhirnya mereka memutuskan untuk mencari korban ke area yang lebih dalam. Menyelam semakin dalam mereka menemukan sebuah gundukan besar yang ditumbuhi lumut dan ganggang dengan bentuk menonjol seperti sebuah jamur raksasa yang baru tumbuh dari tanah. Keduanya tak bisa memastikan apakah itu gundukan tanah atau bebatuan karena keterbatasan penglihatan. Namun jika dilihat dari luasnya kemungkinan gundukan berlumut itu memiliki ukuran sama besar dengan sebuah rumah dua tingkat berukuran sedang. Agam pun memberikan kode kepada temannya untuk menyisir area sebelah atas gundukan tersebut sementara dia menyisir bagian bawahnya. Temannya memberikan kode setuju dan segera berenang ke arah yang ditunjuk Agam, sedangkan dia sendiri segera menyelam ke arah yang berlawanan.
Pencarian di area sekitar bawah gundukan yang cukup luas itu ternyata masih tak membuahkan hasil juga. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu yang licin di permukaan gundukan berlumut tersebut. Agam segera memeriksa apa yang disentuhnya dan menemukan ternyata permukaan gundukan tersebut dilapisi sesuatu yang berbentuk lempengan setengah bulat yang bertumpuk rapi bersusun seukuran tampah. Agam mencabut pisau belati yang diselipkan di kakinya dan mencoba mencongkel lempengan tersebut namun usahanya sia-sia karena ternyata lempengan tersebut sangat keras. Setelah berpikir sejenak akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu temannya yang menyisir bagian atas gundukan lumut tersebut. Namun sesampainya disana ternyata orang yang dicarinya tidak berada disana. Tadinya dia hendak memastikan dulu posisi temannya sampai kemudian dilihatnya sebuah lubang menganga berukuran cukup besar yang terdapat di permukaan gundukan itu. Lubang tersebut berbentuk memanjang dengan panjang mencapai sekitar tiga meter. Lebarnya sendiri tidak terlalu besar namun cukup untuk dimasuki oleh seorang manusia dewasa. Saat hendak kembali ke permukaan untuk melaporkan apa yang ditemukannya mendadak Agam mengurungkan niatnya ketika sesuatu di dalam lubang itu menarik perhatiannya.
Sesuatu seperti kilatan cahaya nampak beberapa kali terlihat dari dalam lubang. Rupanya temannya sudah masuk terlebih dahulu untuk memeriksa, pikirnya. Dengan hati-hati dia pun berenang masuk ke dalam lubang. Agam mendapat sedikit kesulitan saat memasukinya karena pinggiran lubang tersebut berupa pinggiran yang tidak rata dan beberapa bagian nampak tajam. Akan berbahaya jika tabung oksigennya terbentur atau selang pernafasannya tersangkut. Namun baru saja dia berhasil masuk Agam dibuat kaget ketika dilihatnya sesuatu berwarna putih datang dengan cepat dari gelapnya dasar lubang itu. Dia berusaha menghindarinya namun gerakannya di dalam air sangatlah lambat sehingga tak urung lagi benda besar tadi langsung menabraknya. Wusss! Benda itu menembus tubuhnya. Ketika dilihatnya ke atas ternyata benda yang barusan melewatinya adalah gelembung udara yang sangat besar yang terus keluar melewati lubang masuk. Sambil mengatur nafasnya Agam mencoba mengenali sekelilingnya. Saat itulah pandangannya membentur sesuatu yang mengambang beberapa meter di bawahnya. Dengan hati berdebar perlahan dia berenang mendekati benda tersebut dan terkejutlah dia ketika mengetahui kalau benda itu adalah sebuah selang pernafasan dari tabung oksigen yang ada di punggung seorang penyelam. Benda yang sama dengan yang dipakainya, menandakan sesuatu yang buruk telah terjadi pada temannya. Tanpa menunggu lama lagi dengan cepat dia berenang bermaksud keluar dari lubang itu. Namun tanpa disangkanya lubang di atasnya menutup dengan sangat cepat. Dalam keterkejutannya Agam mencoba membuka paksa lubang tersebut tapi sebuah sambaran dari arah belakangnya menghantam dan membuat tubuh Agam berputar-putar di dalam air. Sementara Agam masih merasa pusing akibat hantaman itu tiba-tiba sesuatu yang licin dan berlendir menggulung sekujur tubuhnya dan menariknya ke bawah. Agam berusaha meronta dan menusukkan pisau belati yang masih berada dalam genggamannya. Namun usahanya sia-sia saja, lilitan tersebut malah semakin kencang membungkus tubuhnya, membawanya menghilang ditelan gelapnya dasar lubang.
Senja datang menjelang bersama awan pekat tanda hujan akan segera turun membasahi tanah. Semua orang yang berada di pinggir danau nampak berduka dalam putus asa setelah harus menerima kenyataan pahit bahwa tidak ada satupun dari tim penyelam yang kembali ke permukaan. Sejak saat itu danau tersebut ditutup secara resmi oleh pemerintah dari akses umum. Warga sekitarpun menamai danau tersebut dengan sebutan Mangantao yang dalam bahasa Batak mangan berarti makan dan tao berarti danau. Sebuah danau yang akan memakan nyawa orang-orang yang memasukinya.
- End -
