Di dekat pantai pulau kecil itu ternyata terdapat sebuah perkampungan yang dihuni puluhan penduduk. Mereka menyambut saudagar kaya dan para awak kapalnya dengan ramah setelah mengetahui apa yang telah dialami oleh mereka. Atas kebaikan para penduduk yang menyambut dan menolong mereka, tuan saudagar itupun mengusulkan untuk mengadakan pesta. Malam hari yang biasanya sunyi mendadak riuh dengan gelak tawa dan suara nyanyian. Beberapa wanita nampak menari mengelilingi api unggun diiringi suara gendang. Makanan dan minuman yang disajikan tak terhitung banyaknya menemani mereka sampai larut malam. Akhirnya setelah semua merasa lelah dan puas berpesta, rasa kantukpun datang mengantar mereka tertidur lelap.
Mentari belum juga menampakkan diri sepenuhnya ketika seorang awak kapal dengan tergesa-gesa membangunkan tuan saudagar. Rasa kantuk yang masih menggayut di kelopak matanya hampir saja membuatnya memarahi si awak kapal. Namun setelah mendengar apa yang dia katakan, seketika rasa kantuknya sirna berubah menjadi keterkejutan yang luar bisa. Dengan cepat dia mengumpulkan awak kapalnya den memerintahkan mereka untuk segera berlayar lagi meninggalkan pulau itu.
Layarpun terkembang dan perahu bergerak meninggalkan bibir pantai. Tuan saudagar berdiri di buritan kapal, memandang pulau kecil itu dengan perasaan tak percaya menyaksikan bagaimana pulau yang semalam penuh rumah dan penduduk itu kini berubah menjadi sebuah lapangan yang dipenuhi semak belukar dengan sisa-sisa reruntuhan bangunan yang hampir rata dengan tanah.
- End -
