Kutukan Arca Tua

(1)

Cuaca di Pulau Dewata saat ini memang sedang panas-panasnya. Rasanya seolah-olah matahari lebih dekat dari biasanya. Padahal ini bulan Oktober. Normalnya bulan ini termasuk musim penghujan namun krisis pemanasan global memang memberikan efek besar yang nyata terutama pada perubahan iklim. Hal ini dirasakan juga oleh Bono. Lelaki berumur 31 tahun itu terlihat terengah-engah mendorong sepeda motor tuanya di tengah terik matahari. Siang itu dia baru saja kembali dari villa milik seorang temannya. Semalaman dia menghabiskan waktunya dengan bermabuk-mabukan tanpa sempat memberi kabar pada istrinya yang menunggu penuh khawatir di rumah. Sialnya ketika di pagi hari dia terbangun dan hendak menelpon istrinya, dia baru menyadari jika handphone-nya berada di dalam sebuah gelas yang berisi bir. Kemeja putih yang baru saja dibelikan istrinya tiga hari yang lalu kini lusuh dan penuh bekas tumpahan minuman. Kesialannya belum berhenti. Saking tergesa-gesanya sewaktu di perjalanan pulang dia ditilang polantas akibat menerobos lampu merah, sampai akhirnya saat memasuki sebuah jalanan perkampungan yang sepi entah kenapa mendadak sepeda motornya mati. Begitulah akhirnya kini dia harus berjuang diantara sengatan panas matahari. Padahal baginya jangankan mendorong sepeda motor, harus membawa tubuh gempalnya saja rasanya sudah sangat merepotkan.
(2)

Setelah berjalan cukup jauh dan merasa tak sanggup lagi bertahan melawan keringat yang membasahi hampir setengah kemeja lusuhnya, Bono akhirnya memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang lumayan rindang. Tenggorokannya terasa kering. Sambil mengibas-ngibaskan ujung kerah kemejanya, matanya berputar memandang sekitar mencoba menemukan seseorang yang bisa dia mintai pertolongan sampai akhirnya pandangannya berhenti pada sebuah arca yang berada tak jauh darinya. Sejenak dia mengernyitkan dahi sambil menyeka keringat yang mengucur di dahinya. "Sejak kapan arca itu ada disana? Seingatku tadi sewaktu aku sampai disini aku tidak melihat apapun." pikirnya sambil memandangi arca tersebut dari tempat duduknya. Arca itu adalah sebuah arca tua berbadan manusia dan berkepala gajah. Tubuhnya gemuk dengan posisi sedang duduk seperti seorang pertapa. Bahkan Bono sempat berpikir kalau ukuran tubuh arca tersebut hampir sama dengan tubuhnya. Nampak beberapa bagian dari arca itu sudah keropos dan hancur dimakan usia. "Ah, mungkin mataku saja yang belekan akibat batok kepalaku mendidih kepanasan sampai-sampai arca sebesar itu saja tidak kelihatan." Ujarnya seraya bangkit dari duduknya. Tadinya dia bermaksud untuk meneruskan perjalanan pulang ketika sebuah benda yang berada di dekat arca itu menarik perhatiannya. Ketika dia mendekat terlihat sebuah kendi terbuat dari tanah liat berada tepat di bawah kaki arca tersebut. "Ya ampun. Aku dari tadi kehausan dan kau disini tidak memberitahuku kalau kau punya arak." Bono tertawa sambil berjongkok di depannya. Diintipnya lubang kendi tersebut dan jelas terlihat kilatan air di dalamnya. Entah kenapa tiba-tiba rasa haus yang sudah mulai menghilang kini menjalari tenggorokannya sehingga mendorongnya untuk mengambil kendi tersebut. Dengan perasaan sedikit ragu Bono memperhatikan kendi itu. Walaupun kendinya agak kotor namun air di dalamnya sangat jernih dan terlihat menyegarkan, membuat Bono sampai menelan ludah membayangkan kesegarannya. Sambil tetap memegangi kendi Bono memandang sekeliling. Tak ada seorangpun yang lewat di tempat itu. Pandangannya kembali pada kilatan ari di dalam kendi yang terlihat semakin menggoda. Bono mendekatkan wajahnya pada arca tua tersebut. "Hey, gajah tua. Karena kau diam saja, tidak apa-apa kan kalau air ini ku minum?" Ujarnya sambil menyeringai yang kemudian tanpa pikir panjang, terdorong rasa haus yang amat sangat, Bono langsung meneguk air yang ada di dalam kendi itu. Namun alangkah terkejutnya dia ketika bukan kesegaran yang dirasakannya namun justru malah rasa pahit dan kecut. Beberapa saat kemudian tenggorokannya terasa panas dan gatal. "Bangsat! Air apa ini!?" teriak Bono seraya melemparkan kendi yang masih dipegangnya ke arah kepala arca. Kendi tanah liat itu hancur berkeping-keping. Sambil memegangi tenggorokannya yang terasa terbakar dia menghampiri arca tersebut. "Kurang ajar! Gajah sialan! Beraninya kau cari masalah denganku!" Beberapa kali ditendangnya arca itu. Namun arca tersebut nampak tidak bergeming. Lalu seperti orang kerasukan Bono mengambil sebatang kayu dan mulai memukulinya sampai kayu ditangannya patah menjadi dua. Bahkan dia berusaha menggulingkan arca itu namun tenaganya tidak cukup kuat. Dengan kekesalan memuncak, dia membuka resleting celananya dan mengencingi arca tersebut. "Nih, sekarang giliran kau yang minum air kencingku arca sialan! Rasakan! Sialan kau! Sial! Cuihh!" Bono memaki sambil beberapa kali meludah berusaha menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Sambil terus menggerutu akhirnya dia berjalan kelelahan meninggalkan arca tua itu. Namun ketika dia hendak mengambil sepeda motornya tiba-tiba rasa sakit menyentak kepalanya, membuat Bono menghentikan langkahnya. Telinganya berdengung. Nafasnya terasa sesak. Pandangannya berputar-putar. Setelah terjajar beberapa langkah, dia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.

(3)

"Dimana ini? Uh! Apa yang terjadi? Kepalaku pusing sekali!" rintih Bono saat tersadar dan membuka matanya. Terperanjat dia saat tahu bahwa kondisi tempat itu gelap gulita pertanda siang telah berganti malam. Dengan sedikit sempoyongan dia berusaha berdiri. Kepalanya masih terasa pening dan matanya berkunang-kunang. Sambil mengatur nafasnya dia berusaha duduk sambil mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya. Saat pikirannya mulai jernih, barulah dia menyadari sesuatu yang ganjil. Saat itu dia berada di tempat yang penuh bebatuan. Padahal seingatnya tadi dia berada di tempat yang penuh pepohonan. Dia tidak bisa menemukan sepeda motornya dan dia juga tidak lagi melihat arca tua berkepala gajah itu. Dengan masih sedikit sempoyongan dia mencoba berjalan dan berusaha mengenali sekitarnya. Namun sia-sia saja. Pekatnya malam memperburuk suasana hatinya. Hanya ada sedikit cahaya yang membantu penglihatannya, bias dari purnama yang tersembunyi dibalik awan. Angin malam yang menusuk kulit membuat Bono mau tidak mau harus beranjak dari tempat itu untuk meminta pertolongan. Tertatih dan meraba-raba Bono berjalan  tak tentu arah diantara gelap malam. Sesekali terdengar dia mengaduh ketika kakinya tersandung batu atau kulitnya tergores duri semak belukar. Berjalan cukup jauh Bono menghentikan langkahnya dan berusaha bersandar di sebuah pohon ketika dia merasakan kakinya terasa perih dan lecet. Baru disadarinya jika saat itu dia tidak lagi mengenakan sepatunya. Terpincang-pincang Bono berusaha mencari sedikit cahaya untuk melihat keadaan kakinya. KRAAKK!! Tiba-tiba sebuah suara keras mengagetkan Bono. Suara itu datang dari arah pepohonan di belakangnya disusul bunyi gemeretak pepohonan tumbang seperti sedang diamuk sesuatu yang besar. Tanah yang dipijak terasa bergetar keras. Bono tersurut mundur. Matanya membelalak memandang ke arah rapatnya pepohonan. Badannya menggigil, giginya saling beradu, sedangkan kedua lututnya terasa goyah dan kakinya laksana terpasung ke dalam tanah ketika dilihatnya sebuah bayangan hitam besar muncul diantara pepohonan. Ukurannya lebih besar dari rumah miliknya dengan sepasang bola mata berwarna merah yang memancarkan kilatan sinar menggidikkan. Semakin lama mahluk tinggi besar itu semakin mendekat dengan suara bergemuruh memekakkan telinga. Tanpa memikirkan lagi kondisi kakinya Bono mengumpulkan seluruh tenaga yang ada di tubuhnya lalu berlari menembus pekatnya malam tanpa menghiraukan apapun. Beberapa kali dia terjatuh dan menabrak, namun ketakutan di hatinya mendorongnya untuk terus berlari sampai kemudian kakinya tersandung sebuah batu besar yang membuat dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke arah sebuah tebing. Tubuh dan kepalanya beberapa kali terantuk bebatuan. Tubuhnya berguling menerobos semak belukar dan terlempar hingga akhirnya mendarat di sebuah gundukan tanah.

(4)

Bono mengerang kesakitan. Tubuhnya terasa remuk. Sekujur tubuhnya sakit dan perih. Untuk sesaat dia nampak tak bergerak sedikitpun. Seraya berusaha mengumpulkan tenaga dia memandang sekeliling. Dia tertegun ketika ternyata kini dia berada dekat sebuah perkampungan. Padahal dia yakin dari atas tebing tadi dia tidak melihat ada satu cahayapun di sekitar sana. Dengan terpincang-pincang dia berusaha mencapai jalanan terdekat. Namun suasana perkampungan begitu lenggang dengan kabut tipis yang menutupi pandangan. Tidak ada seorangpun yang terlihat. Begitu juga dengan kendaraan, belum ada satu pun yang lewat. Kampung itu rasanya seperti kampung tak berpenghuni. Sejenak Bono memandang ke arah tebing, bahkan mahluk mengerikan yang mengejarnya tadi kini sudah tidak terdengar suaranya sedikitpun. Setengah menyeret langkahnya dia berjalan menuju sebuah warung kecil yang nampaknya masih buka. Dia yakin disana pasti ada orang yang bisa dia mintai pertolongan, setidaknya pasti ada si pemilik warung, pikir Bono. "Permisi! Bu! Pak! Ada orang?" Berkali-kali Bono berusaha memanggil pemilik warung. Beberapa menit berlalu namun masih tak ada tanda-tanda orang di dalam warung tersebut. "Kemana mereka? Punya warung tapi malah ditinggal. Kalo ada maling nanti baru tahu rasa." Gerutu Bono sambil beranjak pergi meninggalkan warung itu. Dia mencoba mengetuk pintu setiap rumah yang dilaluinya, namun tetap saja tak ada satupun yang menjawab panggilannya. Sementara itu dinginnya angin malam terasa sangat menusuk sampai ke tulang. Belum lagi lukanya yang terasa semakin memburuk, Bono merasa hampir tak mampu berjalan lagi. Dia terus berjalan terseok-seok menyeret tubuhnya menyusuri jalan besar yang lenggang tersebut sambil sesekali berteriak meminta tolong sampai kemudian matanya terpaku melihat apa yang berada di depannya.

(5)

Sebuah rumah yang rasanya tak asing kini berada tepat di depan matanya. Dengan rasa tak percaya berulang kali dia menggosok matanya hingga akhirnya dia yakin bahwa itu adalah rumah yang sudah bertahun-tahun dia tinggali. "Aneh. Aku yakin itu adalah rumahku. Bentuknya, pagarnya, bahkan cat dan halamannya sama persis. Tapi bagaimana bisa rumahku ada disini, di kampung asing yang bahkan dalam mimpi pun belum pernah kulihat." Sambil bergumam Bono berjalan menuju rumahnya dengan perasaan tak menentu. Sebuah rumah semi permanen yang setiap hari dia tinggali bersama istri dan anaknya selama bertahun-tahun. Rumah warisan dari kedua orang tuanya yang berhasil dia dapatkan dengan cara yang lebih cepat daripada seharusnya. "Rita! Rita! Buka pintu!" Bono mengetuk pintu rumahnya sambil berteriak memanggil istrinya. "Rita, aku pulang! Suamimu pulang!" Sambil mondar-mandir dan sesekali mengintip lewat celah jendela Bono terus memanggil istrinya. Setelah hampir 15 menit berlalu Bono baru menyadari kalau pintu rumahnya tak dikunci saat dia tak sabaran menggoyang-goyangkan pegangan pintunya. "Dasar istri tolol! Kebiasaan. Pasti ketiduran lagi dan lupa mengunci pintu!" Sedikit tertatih Bono melangkahkan kaki ke dalam rumahnya. Dengan perasaan kesal dia membanting pintu rumahnya. Saat itulah terjadi hal yang mengerikan! Pintu yang baru saja dibantingnya tiba-tiba bergetar hebat. Disusul oleh dinding dan atap yang berderak. Lantai terguncang sangat keras sampai-sampai membuat Bono jatuh terduduk ketakutan. "Rita! Bangun Rita! Ada Gempa! Tolong! Tolong!" Dalam ketakutan yang luar biasa Bono berteriak-teriak memanggil istrinya sambil sesekali meminta tolong berharap seseorang datang menyelamatkannya. Namun teriakannya seketika terhenti ketika dilihatnya bagaimana dinding dan atap rumahnya bergerak sedikit demi sedikit menyusut mengecil! Pecahan kaca dan kayu berhamburan. Atap berjatuhan bahkan beberapa potongannya menimpa Bono. Namun tak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya, Bono hanya ternganga dengan mata melotot menyaksikan kengerian tersebut. Bagaimana tidak, rumah berukuran cukup besar tersebut kini bagaikan kertas yang diremas. Semakin menciut dan mulai menghimpit tubuh Bono, lalu secara perlahan menenggelamkan tubuhnya dalam gemuruh tanah dan debu yang berterbangan.

(6)

Angin berhembus membawa udara sejuk diantara teriknya panas matahari siang itu. Perlahan Bono terbangun dan membuka matanya yang menyipit melihat silaunya matahari. "Ya ampun, sepertinya aku tertidur dan bermimpi buruk. Sial! Sungguh mimpi yang mengerikan. Sampai-sampai rasa sakitnya terasa begitu nyata. Bahkan peningnya masih kurasa. Gila! Sepertinya aku tertidur cukup lama, sebaiknya aku cepat pulang." Bono berucap dalam hati sambil berusaha untuk bangkit. Namun alangkah terkejutnya dia sewaktu dia menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan tubuhnya. Ternyata dia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya. Bagaimanapun dia berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya namun tak ada respon apapun dari tubuhnya. Bahkan untuk mengedipkan matapun dia tak mampu. Seolah tubuhnya mengalami kelumpuhan total. Selagi diserang kepanikan yang luar biasa, tiba-tiba sudut matanya menangkap sesuatu. Seorang pria bertumbuh gemuk terlihat berjalan kelelahan sambil mendorong sebuah sepeda motor. Di bawah sebuah pohon rindang dia berhenti, bersandar sambil mengipasi tubuhnya dengan ujung kerah kemejanya. Sejenak kepanikan yang melanda hati Bono mereda ketika melihat ada orang lain yang bisa ia mintai pertolongan. Dia pun segera berteriak memanggil orang itu. "Hei, pak! Bisa tolong bantu saya?!" Dalam hati Bono bersyukur karena ternyata mulutnya tidak lumpuh seperti anggota badannya yang lain. Namun orang di bawah pohon tetap asyik mengipasi tubuhnya sambil memejamkan matanya. "Heran, dia tidak tidur kan? Tapi kenapa dia tidak menoleh. Padahal aku yakin aku berteriak cukup keras. Apa mungkin orang itu tuli?" Ujar Bono dalam hati. "Hei, pak! Yang duduk di bawah pohon! Saya mau minta tolong, pak! Hei, kamu pura-pura tuli atau memang tuli beneran!?" Setengah kesal Bono berteriak-teriak mulai kehilangan kesabaran. Tiba-tiba orang di bawah pohon berhenti menggerakkan tangannya, membuka mata dan perlahan memalingkan wajahnya ke arah Bono. "Akhirnya mau juga si gendut itu mendengarku." Gerutu Bono. "Pak, bisa datang kemari? Saya mau minta tolong!" Kembali Bono berteriak ke orang itu. Sejenak orang itu tak bergerak, hanya diam memperhatikan Bono dari kejauhan. Namun kemudian perlahan dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Bono. "Maaf saya mengganggu. Tapi saya perlu bantuan, pak." Ucap Bono ketika orang itu sudah berdiri tepat dihadapannya. "Tadi saya tertidur disini cukup lama. Dan ketika saya terbangun, saya tidak bisa..." ucapan Bono terhenti ketika dilihatnya orang itu seperti tidak memperdulikan ucapannya dan lebih memilih untuk memperhatikan Bono dari ujung kepala sampai kaki. Lalu dia terlihat memperhatikan sesuatu yang berada di dekat kaki Bono. Bono hanya bisa terheran-heran memperhatikan kelakuan orang itu. Namun rasa heran Bono segera berubah menjadi ketakutan yang luar biasa ketika orang itu kembali menatap Bono. "Hei, gajah tua. Tidak apa-apa kan kalau air di kendi ini aku minum?" Ujar orang itu. Bono terbelalak. 





- End -

Copyright © / CreepyBaka!

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger